Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Jalaludin Rumi - Suatu ketika KH. Zainal Arifin, pengasuh PP. Al-Arifiyyah, Medono, Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia menjemput KH. Abdurrahman Wachid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di kota Pekalongan.

Waktu itu panitia minta didampingi Kyai Zainal untuk menjemput Gus Dur karena sedang mengisi pengajian di Semarang Jawa Tengah. Seusai acara dan ramah tamah dengan para tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongan Kyai Zainal dan panitia ke Kota Pekalongan. Waktu menunjukkan pukul 01.00 atau 02.00 dini hari.

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran



Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur, Kyai Zainal dan panitia mempersilakan Gus Dur istirahat di mobil yang melaju dengan tenang. Jalur pantura pada jam segitu juga sudah lengang.

Kita tahu Gus Dur kondisi fisiknya terbatas, kesehatannya juga mulai menurun, serta jadwal juga padat. Tentu saja sesuai logika normal, aktivitas ini akan menguras tenaga dan pikiran Gus Dur. Tapi, alih-alih istirahat di dalam mobil yang melaju dengan tenang tersebut, Gus Dur malah masih membaca Al Qur'an secara bil ghoib (hapalan tanpa teks).

Justru Kyai Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat dibanding Gus Dur sudah kecapekan duluan dan hampir terlelap. Mereka kaget mendengar Gus Dur dengan suara yang lamat-lamat mendaras Al Qur'an secara lisan.

Mendengarnya, kontan rasa kantuk Kyai Zainal dan panitia lainnya, hilang. Mereka menyimak hafalan Gus Dur. Tak terasa satu jam lewat, sampailah rombongan itu di Pekalongan. Air mata Kyai Zainal beserta panitia lainnya tumpah ruah.

Ia membayangkan orang yang selama ini sering di salahpahami pelbagai pihak, dicaci maki, dikutuk, dikafirkan, difitnah, dicemooh, dan seterusnya, malam itu dengan kondisi kesehatan yang terbatas dengan kelelahan yang luar biasa ternyata masih menyempatkan membaca Al Qur'an dengan hapalan sampai lima juz lebih!

Inilah salah satu kebiasaan Gus Dur ketika dalam perjalanan. Masyaallah, alih-alih baca Al-Qur'an, kita berdoa saja kadang lupa, malah memilih mendengarkan musik. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/menuju-acara-kebiasaan-gus-dur-di-mobil-adalah-membaca-alquran.html

Rabu, 15 Juni 2016

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Wonosobo, Jalaludin Rumi. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) memberikan modal usaha kepada 120 fakir miskin. Pemberian secara simbolis dilakukan pada Istighosah dan Pengajian sebagai salah satu rangkaian Rapat Pleno PBNU di kampus Unsiq, Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat malam (6/9).

Menurut Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Maruf, total sumbangan kepada mereka adalah 120 juta rupiah. Sumbangan didapat PP LAZISNU dari dana kebajikan CIMB Niaga Syariah di Jakarta pada akhir Ramadhan lalu.

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)


PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Penerima tidak hanya warga di Wonosobo, tapi di beberapa LAZISNU cabang pulau Jawa, Cabang Kalimantan dan Sumatera, jelasnya.

Jalaludin Rumi

Amir menjelaskan, kriteria warga yang diberi sumbangan adalah, tergolong fakir miskin dan mereka memiliki potensi pembangunan usaha. Supaya duit itu tidak konsumtif, tapi untuk modal usaha.

Kemudian, kata Amir, LAZISNU tidak melepas begitu saja. Supaya sesuai dengan tujuan, LAZISNU mendampingi mereka di bidang marketing, manajemen, dan pendampingan rohani, Problem pemberdayaan umat itu tidak hanya pada modal, tapi soal pendampingan yang tiga itu, katanya.

Manajemen diperlukan untuk mendorong mempu mengelola modalnya. Marketing , supaya mereka mampu memasarkan produknya. Pendampingan rohani dilakukan karena fakir itu dekat dengan kekufuran, dan dekat dengan kepasrahan dan menyerah.

Jalaludin Rumi

Yang jelas, kata Amir, LAZISNU berpandangan bahwa mereka tidak cukup diberi modal usaha, tapi didampingi, ditongkrongin.

Kemudian nanti dilakukan evaluasi pada forum-forum bulanan yang dikemas pada saat pengajian, sharing persoalan, dan pemecahan masalah. Di samping tim lazisnu melakukan monitoring langsung.

Penyerahan modal usaha tersebut diberikan secara simbolis oleh Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil SIroj dan perwakilan CIMB Niaga Cabang; kepada Slamet Sugiyarto dari Kalibeber dan Darsinah dari Jaraksari. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46887/pp-lazisnu-beri-modal-usaha-120-fakir-miskin

Jalaludin Rumi

Jumat, 13 Mei 2016

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

Rembang, Jalaludin RumiTerkait serangkaian aksi terorisme menjelang hari raya Idul Fitri yang terjadi di Mapolresta Surakarta dan di Madinah, Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Rembang menggelar aksi damai bersama puluhan personel Banser di Bundaran Pasar Kota Rembang, Jawa Tengah, Selasa (12/7). Mereka mengecam aksi biadab tersebut.

Kepala Sekretariat Markas (Kasatma) Banser Rembang, Imam Syarifudin dalam orasinya mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk monolak aksi terorisme dalam bentuk apa pun. Ia juga menyebut, atas nama apa pun segala bentuk terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diperangi bersama.

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

"Terorisme dan radikalisme merupakan bentuk kejahatan yang harus kita lawan bersama-sama. Karena terorisme banyak sekali korban jiwa berjatuhan, ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Imam Syarifudin juga membacakan Pernyataan Sikap GP Ansor Rembang untuk menolak segala bentuk tindakan terorisme. Berikut teks lengkapnya:

Jalaludin Rumi

Kami kader Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang dengan ini,

Jalaludin Rumi

1. Menyatakan tekad menolak segala bentuk radikalisme dan terorisme, terutama yang mengatasnamakan agama, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

2. Menyatakan tekad menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Menyatakan tekad menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.

4. Menyatakan mendukung langkah cepat, tepat dan tanggap dari pemerintah dalam mengatasi segala aksi radikalisme dan terorisme serta organisasi anti Pancasila.

5. Mengimbau berbagai pihak agar bahu-membahu menangkal radikalisme dan terorisme melalui pemberian pemahaman kailmuan dan keislaman secara benar, yaitu Islam yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil alamin, serta menindak tegas pihak-pihak yang mengajarkan kebencian dan merongrong Pancasila.

Dalam aksi itu sejumlah ormas kepemudaan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) turut mendukung aksi yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, dan bersama-sama menolak dan mengecam aksi radikalisme dan terorisme yang ada di Indonesia dan dunia. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69683/aksi-damai-banser-rembang-suarakan-5-sikap-antiradikalisme

Jalaludin Rumi

Selasa, 26 April 2016

ISNU: Clerics knowledge could affect social changes

Yogyakarta, Jalaludin Rumi. Broad knowledge of clerics (kiai) in Indonesia has become one of the fundamental instruments in addition to the politicians access to power and the investors wealth affecting social change in the country. Unlike the last two, the first instrument could not be obtained instantly instad of being purchased.

Member of the Expert Council of Nahdlatul Ulama Scholars Association (ISNU) Yudi Latif made the remarks at a national workshop that takes up issues on "Pesantren Ulema and Intellectuals" the Yogyakartas Hajj Dormitory Haryono on Tuesday (6/5).

ISNU: Clerics knowledge could affect social changes (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Clerics knowledge could affect social changes (Sumber Gambar : Nu Online)


ISNU: Clerics knowledge could affect social changes

"The capital of culture or knowledge of clerics is not obtained with much material capital. Kiai becoming a cleric is not easy. Day after day they used to study and practice their knowledge," Yudi Latif said.

Jalaludin Rumi

According to him, the pesantren ulema have great power in society thanks to their wisdom and piety. Therefore, they have a strong social power to control and provide directions to possible changes.

"The capital of power is very effective for monitoring the government in addition to advocating for the rights of citizens," Yudi added.

Jalaludin Rumi

Therefore, Yudi continued, the clerics of NU in the Indonesianess context were expected to be capable of voicing criticism to maintain the balance of influences brought by politicians, financiers, or the pressure of the majority.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51844/isnu-clerics039-knowledge-could-affect-social-changes

Jalaludin Rumi

Selasa, 09 Februari 2016

Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL

Bismillahirrahmanirrahim. Kami dari Perguruan Ilmu-Ilmu Sunan Kalijogo, mengamati dan terus menerus ber-tadabbur tentang perkembangan organisasi pewaris para Walisongo, yang namanya NU. Kami menyadari bahwa para penganut ilmu-ilmu Sunan Kalijogo yang notabene peletak dasar Islam Jowo di sekitar pedalaman pulau Jawa, merasa harus turun gunung, setelah melihat kondisi NU akhir-akhir ini. Kami merasa peduli terhadap NU, karena NU adalah “sebagian” dari pewaris dari para ilmu para Walisongo ini, yang sekarang mengalami pengirisan dan pembelahan dari dalam. Ihwal itu, banyak orang menyebutnya NUGL, yang telah kami amati secara seksama.

Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL - Jalaludin Rumi
Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL - Jalaludin Rumi


Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL

Turun gunung kami ini adalah bentuk kepedulian kami kepada NU dan para pewaris para Walisongo di organisasi yang tengah mengalami cobaan dari kejumawaan anak-anak muda, yang mengklaim diri sebagai NUGL. Beberapa cobaan NU telah bisa dilalui, berkaitan dengan organisasi tandingan sejak zaman dulu hingga sekarang. Tapi cobaan NUGL ini bagi organisasi NU, sungguh akan menjadi api besar yang menyulut fitnah: ngaku NU, tapi tidak menggunakan akhlak NU. Kami diperintahkan oleh guru kami, khusus untuk menangani NUGL. Rekan-rekan lain, dari Perguruan Ilmu-Ilmu Sunan Kalijogo menangani hal-hal lain.

Kami ingin membicarakan satu sosok penebar fitnahnya, sehingga nama NU yang didirikan para masyayikh dan memperoleh ridha dari para wali, kini telah menjadi bahan ejekan dimana-mana. Nama sosok ini adalah KH. Luhfi Bashori yang tinggal di Malang. Dia adalah orang yang dianggap oleh situs NUGL sebagai Imam Besar NUGL, sebagai tandingan maya dari jam'iyyah yang didirikan KH. Hasyim Asyari, bernama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.

Tokoh ini yang memopulerkan nama NU Garis Lurus dalam situs pribadinya, Pejuang Islam Sejati NU Garis Lurus (sekarang diubah menjadi Pejuang Islam Sejati Aswaja Garis Lurus). Nama NUGL ini kemudian menjadi perhatian orang banyak, dan menjadikan NU sebagai bahan ejekan. Yang mengikuti garisnya adalah NUGL, dan mukhalafah-nya, yang lain adalah tidak GL. Beginilah akhlak seorang mengaku Aswaja tetapi masih mentah. Tidak cukup diingatkan orang-orang yang dianggap tidak disetujuinya. Tetapi pengirisan justru dilakukannya terhadap organisasi NU yang didirikan Mbah Hasyim Asyari. Tradisi yang dibuatnya kemudian diikuti oleh berbagai orang yang tidak suka terhadap NU, baik yang dari kalangan Syafi`iyah-Asy`ariyah atau di luar Syafi`iyah-Asy`ariyah, yang dipenuhi kemarahan meluap-luap. Hadits Nabi man sanna sunnatan sayyiatan telah dirintisnya. Nama NUGL kemudian berentek, menjadi mesiu yang mengotori jam`iyyah NU. Padahal nama NU-lah semata yang diberikan Mbah Hasyim dan para sesepuh pendiri NU untuk nama organisasi ini. Bukan NUGL.

------------ Baca juga bukti ngawurnya situs NUGL yang membuat berita hoax, terbukti, tapi tidak mau minta maaf, klik Berita Hoax NUGL dan PKS Piyungan -------------

Memang jelas, KH. Luthfi Bashori tidak suka dengan pemikiran dan orang tertentu di kalangan NU, itu adalah syah, tetapi yang digerus-gerus justru simbol nama jam`iyyah, dengan mengiris NU menjadi NUGL, menjadi sangat jelas. Ini adalah sejenis karya dari seorang anak muda yang belum mengalami kematangan dalam dunia batin Aswaja dan dunia batin ilmu-ilmu para wali. Nama yang dilansirnya sekarang menjadi alat untuk menertawakan NU oleh orang yang tidak suka NU. Bahkan dieksploitasi sedemikian rupa di situs NUGL. Dialah perintis sunnatan sayyiatan.

Orang ini, memang anak seorang kyai hebat di NU, namanya KH. Bashori Alwi dari Malang. Tetapi akhlaknya jauh berbeda dengan ayahnya yang santun dan tidak serampangan dalam berdakwah. Ini dikarenakan, salah satunya karena persahabatan dan silaturahmi yang dibangunnya bukan kepada kyai-kyai dan tokoh-tokoh NU (kami tidak menyebut Syafi`iyah-Asy`ariyah, karena Syafi`iyah-Asyariyah itu banyak dan tidak semuanya ikut NU, dan di antara mereka mendirikan FPI), tetapi justru kepada tokoh-tokoh di luar NU yang beraspirasi Daulah Islamiyah.

Coba lihat dengan bangganya, di situsnya, yang sekarang telah diganti namanya menjadi Pejuang Islam Sejati Aswaja Garis Lurus (sebelumnya Pejuang Islam Sejati NU Garis Lurus). Dalam bagian riwayat kiprah dia disebutkan banyak bersentuhan dengan grup mereka yang sering berjuang untuk daulah islamiyah di luar arus jam`iyyah NU: menjadi anggota FUUI, penasehat MMI (salah satu tokohnya, Abu Jibril menganggap Pancasila itu thaghut), dan penasehat FPI.

Meme KH Luthfi Bashori Lebih-lebih dia kurang suka bergaul dengan para pecinta NU, yang bisa saja orang-orang yang tidak disetujuinya itu belum sempurna, tetapi karena sikapnya yang demikian itu menjadikannya ada yang hilang dalam dirinya kalau mengklaim sebagai bagian dari pejuang NU. Silaturahmi, guyon, dan ngekek bareng, kalau perlu ngrokok bareng, dengan para kyai-kyai NU yang berbeda, dengan para anak muda yang berbeda, enggan dilakukan. Paling tidak, kesanggupan damai untuk mendengar pandangan orang lain dan kyai lain dari kalangan NU yang beraspirasi lain, kurang dimiliki.

Ini buah juga dari pendakuannya sendiri. Dari namanya saja, coba diperhatikan “Pejuang Islam Sejati”. Pendakuan dirinya sebagai Pejuang Islam Sejati adalah pengumuman dari dirinya sendiri, yang mencerminkan kematangannya belum tampak dalam membawakan diri. Pengakuan itu alangkah eloknya dari masyarakat, khirqah wushul dan suluk saja diberikan dari para mursyid-guru kepada murid, dan perkenan ridha pun hanya dimiliki Allah. Ini sesuatu yang fundamental, diumumkan ke publik, sebagai Pejuang Islam Sejati muncul dari dirinya sendiri.

Cobalah lihat, seorang yang dianggap orang ilmunya tinggi, faham kitab-kitab kuning, seorang penghafal al-Quran, dan seorang yang katanya telah nyucup ilmunya Sayyid Muhammad al-Maliki, tetapi tidak malu-malu, mengagungkan dirinya sendiri dengan sebutan Pejuang Islam Sejati. Subhanallah Astaghfirullah.

Apakah sepanjang waktu detik perdertik dia seorang pejuang sejati di hadapan Allah, hudhur dan wushul? Apakah dalam qalbu dan sirr-nya setiap saat telah menjadi pejuang sejati di hadapan Allah, hudhur dan wushul? Bukankah ilmunya setetes saja tidak ada bandingannya dengan ilmu-Nya Allah, dan ilmunya Kanjeng Nabi Muhammad? Bukankah dia tidak maksum dan suci, yang sangat mungkin terjatuh detik perdetik tidak hudhur dan wushul.

Klaimnya sebagai Pejuang Sejati Islam sungguh jelas. Kalau dalam satu detik saja alfa dan belok tidak hudhur kepada Allah, alangkah ngerinya bagi seorang yang telah mengalami kematangan jiwa suluk: terjatuh ke dalam martabat munafik dan kadzab. Subhanallah astaghfirullah. Karena pengumuman yang dipajang di situsnya itu perdetik persaat.

Gusti Allah kito sampun padang bileh tiyang meniko, tiyang engkang nggadah kepinteran, ananging matenge akhlak dereng dipun ugemi. Paringono Gusti Allah, kanti fadhilahe Kanjeng Nabi Muhammad lan Sunan Kalijogo, pituduh dumateng tiyang meniko, KH. Luthfi Bashori. Paringono wushul lan pari ngono marifat , setetes sangking ilmu rohani-ni pun Kanjeng Nabi Muhammad lan poro wali songo, khususipun Sunan Kalijogo. Kersane umat meniko, angsal pepadhang. Ya mujibassailin. Alfatihah. Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/surat-cinta-untuk-imam-besar-nu-gl.html

Sabtu, 29 November 2014

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Jalaludin Rumi - Awal Ramadhan, empat tahun yang lalu ceramah malam pertama tarawih diberikan oleh Mohammad Mahfud Md., yang waktu itu masih Ketua MK. Ia bercerita mengenai sejumlah hal, namun yang paling mengesankan adalah cerita ini:

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi
Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi


Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil bagi tukang becak untuk bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak-anak?" Kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu. (Baca Jalaludin Rumi: Amalan Asyuro Bukan Bid'ah)

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu-malu, akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran. (Baca Jalaludin Rumi: Kisah Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi)

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan. (Baca Jalaludin Rumi: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi)

Mahfud Md. kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan hauqalah, yang aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah". Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Dan memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya? Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?

Tapi kita, yang fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati, terbebas dari riya, sombong).

Sadarlah Allah di atas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal ibadah. Yang tidak sesuai di mata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah. Bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, baiknya kita lebih was was apakah amalan yang Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum daripada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. [Jalaludin Rumi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/ini-dzikir-tukang-becak-hingga-mampu-menyekolahkan-anaknya.html

Kamis, 27 November 2014

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Transparansi (keterbukaan) menjadi hal yang cukup serius dan krusial di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya transparani informasi, tetapi juga anggaran. Dunia sudah berubah. Dulu, institusi dan lembaga negara bisa melakukan manuver anggaran. Tapi sekarang itu tidak bisa lagi. Apalagi setelah disahkan dan diimplementasikannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Semua badan publik harus memberikan transparansi anggaran dan informasi kepada khalayak umum.

Kasus terhangat terkait transparansi adalah hak angket yang dilayangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi III- kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Konon, sebab digulirkannya hak angket adalah tidak adanya transparansi pada KPK. Sejumlah anggota DPR menilai bahwa KPK tidak transparan dalam hal informasi.

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Selain itu, masalah transparansi juga mendera kasus Alfamart-Mustholih. Mustholih, konsumen dan donatur donasi yang galang Alfamart menuntut retail tersebut untuk memberikan informasi terkait dengan jumlah, tujuan, dan penerima donasi. Alfamart tidak bersedia dan menggugat balik Mustholih ke pengadilan. Tanggal 18 April, Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan menolak gugatan Alfamart. Dengan demikian, Alfamart harus memberikan informasi terkait donasi yang digalangya apabila ia tidak melakukan kasasi.

Memang, persoalan transparansi cukup pelik di negeri ini. Oleh karena itu, Ahmad Muchlishon dari Jalaludin Rumi berhasil mewawancarai salah satu Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Rumadi Ahmadyang juga Ketua Lakpesdam PBNU untuk menjelaskan seperti apa dan seharusnya bagaimana praktik transparansi di Indonesia ini. Berikut hasil wawancaranya:

Jalaludin Rumi

Perkembangan transparansi informasi di Indonesia seperti apa, pak?

Jalaludin Rumi

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi adalah Undang-Undang yang menandai berubahnya era pengelolaan negara. Sebelum ada UU No. 14 ini, hampir dalam seluruh sektor pengelolaan negera kulturnya itu gelap, tidak transparan, dan tidak akuntabel. Akibatnya, banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang disebabkan oleh sistem yang tidak transparan. Masyarakat juga tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan informasi yang dikuasai oleh lembaga-lembaga negara seperti berapa anggaran kementerian ini, untuk apa saja, dan laporannya bagaimana. Masyarakat tidak memiliki akses ini.

Sejak kapan UU keterbukaan Informasi itu digulirkan hingga kemudian disahkan dan diterapkan?

Sejak tahun 2001, masyarakat sipil mendorong adanya Undang-Undang yang menjamin keterbukaan informasi. Kemudian sampai pada tahun 2008, Undang-Undang Nomor 14 tentang keterbukaan informasi berhasil disahkan. Undang-Undang ini ingin merubah mindset pengelolaan negara. Dari kultur yang serba gelap dan tertutup menjadi kultur yang terbuka, transparan, dan akuntabel.

Tetapi merubah cara berpikir itu bukan sesuatu yang gampang. Ini menjadikan banyak orang tergagap. Tidak semua badan publik siap untuk melaksanakan Undang-Undang ini. Bahkan mereka lebih senang untuk hidup dalam kultur yang gelap, karena mereka bebas melakukan manuver keuangan.

Oleh karena itu, ada kesepakatan antara DPR dan pemerintah untuk menunda implementasi Undang-Undang ini selama dua tahun. Undang-Undang ini baru diimplementasikan secara efektif dua tahu setelah disahkan. Disahkannya itu 30 April 2008, baru dilaksanakan secara efektif pada 30 April 2010.

Transparansi yang ada di Indonesia saat ini seperti apa?

Kita sudah lumayan bagus. Survei-survei yang dilaksanakan oleh sejumlah lembaga seperti Open Budget Index menunjukkan Indonesia menempati urutan kedua se-Asia di bawah Korea Selatan dan pertama se-Asia Tenggara sebagai negara yang transparan dalam hal anggaran pada tahun 2012.

Survei-survei dalam negeri seperti Fitra juga menunjukkan transparansi Indonesia mengalami perkembangan yang baik. Pemeringkatan yang dilakukan Komisi Informasi Pusat juga menunjukkan ada progres. Ada kemajuan-kemjuan pada level transparansi. Meskipun transparansi belum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks persepsi korupsi. Transparansi kita baik tetapi indeks persepsi korupsi kita tidak naik-naik.

Tahun 2016, indeks perspepsi korupsi kita di angka 38 dari skor 100. Tahun 2015 di angka 36, tahun 2014 di angka 34, dan tahun sebelumnya di angka 32. Ada kenaikan-kenaikan tetapi sangat pelan jika dibanding dengan keterbukaan informasi yang tampaknya lebih baik.

Berarti ada hubungan yang erat antara transparansi dan indeks persepsi korupsi?

Iya, tantangannya adalah memastikan bagaimana transparansi yang sudah mulai baik memiliki kontribusi yang positif terhadap indeks persepsi korupsi kita. Karena sebenarnya keterbukaan informasi atau transparansi itu hanya sebagian kecil dari upaya untuk pencegahan korupsi. Kalau orang hidup di dalam kultur yang transparan dan akuntabel, maka mereka akan memiliki keengganan untuk melakukan tindakan koruptif.

Kalau di daerah bagaimana?

Daerah situasinya lebih memprihatinkan. Ada tren di level kementerian itu baik tapi begitu turun semakin ke bawah kecenderungan untuk transparansi itu semakin rendah. Di provinsi, di kabupaten itu semakin rendah transparansinya. Ini salah satu tantangan terberat kita bagaimana transparansi bisa masuk ke birokrasi paling bawah.

Banyak orang yang merasa keterbukaan informasi itu sesuatu yang membebani. Sebenarnya tidak. Keterbukaan informasi itu justru meringankan langkah birokrat di dalam pengelolaan keuangan.

Bagaimana agar praktik transparansi bisa berjalan baik di daerah?

Kabupaten Batang pernah melaksanakan festival anggaran. Semua dinas-dinas di bawah bupati dibuatkan festival dan mereka diminta untuk menayangkan semua anggaran yang mereka miliki. Dan masyarakat dipersilahkan datang melihat dan bertanya apa saja. Itu menumbuhkan kepercayaan pada publik. Apa yang dilakukan di Batang seperti ini bisa dikopi oleh pemerintah daerah yang lain.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan revolusi mental. Mengubah cara berfikir bahwa anggaran harus dikekepin dan tidak boleh orang tahu itu harus dihilangkan. Bahkan, anggaran itu harus dibuka seluas-luasnya dan biarkan masyarakat melihat. Kalau masyarakat melihat maka akan timbul partisipasi. Kalau masyarakat tidak tahu maka yang muncul adalah kecurigaan. Kalau sudah timbul kecurigaan, maka masyarakat tidak akan ikut berpartisipasi dalam program-program yang digagas oleh pemerintah.

Isu terkini, KPK dinilai tidak transparan. Bagaimana pendapat bapak?

Menurut saya, DPR salah dan terlalu memaksakan kehendak. DPR harus paham kalau KPK memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberika informasi. Tetapi ini tidak bisa sembarangan. Kalau KPK mau merahasiakan informasi maka dia harus memiliki argumen kenapa informasi itu ditahan.

Kalau dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi KPK harus melakukan uji konsekuensi. Uji konsekuensi adalah argumentasi kenapa informasi tidak diberikan. Apakah bertentangan dengan Undang-Undang tertentu ataukah akan mengganggu proses penegakan hukum. Kalau itu memang mengganggu proses penegakan hukum, sebenarnya KPK dilindungi oleh Undang-Undang untuk tidak memberikan informasi itu.

Lalu, seharusnya DPR bagaimana?

DPR tidak usah memaksakan kehendak. DPR bisa menempuh melalui mekanisme permohonan informasi sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi. Misalnya, secara formal DPR melayangkan surat ke KPK untuk menanyakan informasi terkait. Itu ada prosedurnya. Kalau KPK tidak mau memberikan informasi, DPR bisa mengadukan ke Komisi Informasi. Dan Komisi Informasi yang menilai apakah informasi yang diminta DPR bisa diberikan atau tidak.

Sayangnya, DPR tidak menempuh prosedur itu sebagaimana yang dijamin oleh Undang-Undang tetapi lebih mengedepankan aspek politiknya seperti membuat angket. Menurut saya, DPR terlalu berlebihan.

Kalau masalah transparansi Alfamart?

Masing-masing pihak kan sudah menjalani prosedur hukum. Kalau Alfamart tidak melakukan kasasi ke Mahkamah Agung, maka Alfamart menerima putusan pengadilan negeri dan dia harus menjalankan putusan itu. Kalau tidak mau menjalankan putusan, ada aspek hukum lain yang dilanggar.

Kasus ini sebenarnya kecil. Tapi sepertinya Alfamartnya yang ketakutan atau input-input yang diberikan pengacaranya menakut-nakuti Alfamart sehingga Alfamart mengajuka gugatan ke pengadilan.

Itu akan sangat mudah diselesaikan kalau Alfamart memiliki itikad baik. Kalau tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi Alfamart dan memberika laporan donasi ke Mustholih sebenarnya selesai. Publik justru menaruh curiga. Alfamart kok sampai menyewa pengacara yang mahal itu sebenarnya apa yang ditutupi.

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77619/kikis-korupsi-dengan-keterbukaan-informasi

Jalaludin Rumi

Sabtu, 06 September 2014

Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pengurus Pusat (Idarah Aliyah) Jamiyyah Ahlith Thariqah Al-Mutabarah An-Nahdliyyah (Jatman) mengimbau kepada segenap para tokoh tarekat, ulama, serta bangsa Indonesia secara umum untuk berdoa dengan harapan pemilihan umum (Pemilu) 2014 berjalan aman dan damai.

Seruan ini disampaikan Mudir Aam Idarah Aliyah Jatman KH Abdul Muthy Nurhadi dalam siaran pers yang diterima Jalaludin Rumi, Kamis (20/3).

Badan otonom NU yang beranggotakan jamaah tarekat ini berharap pemilu tahun ini dapat terhindar dari bencana perpecahan antarbangsa, sebagaimana kasus di Aceh dan daerah lain yang telah memakan korban.

Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)
Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus (Sumber Gambar : Nu Online)


Sukseskan Pemilu, Jatman Serukan Mursyid Beri Amalan Khusus

KH Abdul Muthy menginstruksikan kepada jajaran pengurus Jatman se-Indonesia dari tingkat wilayah, kota, dan kabupaten agar menggelar doa bersama. Ia juga meminta kepada mursyid tarekat untuk memberi amalan khusus kepada jamaahnya demi kedamian dan keamanan rakyat Tanah Air dalam menjalankan proses demokrasi.

Jalaludin Rumi

KH Muthy mengingatkan bangsa Indonesia bahwa rasa aman dan damai lebih penting daripada pemilu itu sendiri. Dengan aman maka penyelenggaraan pemilu dapat berjalan dengan baik.

Ia menambahkan, aparat Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Polri harus netral dan berkomitmen menjaga NKRI dengan serius agar tidak terjadi kerusuhan. Dia juga berpesan kepada partai politik (parpol) peserta pemilu untuk menjaga kader dan simpatisannya agar turut berperilaku tertib dan tidak melanggar aturan.

Jalaludin Rumi

Menurutnya, kesuksesan pemilu kali ini menentukan hasil wakil dan pemimpin rakyat di masa mendatang. "Makanya semua harus berdoa agar pemilu berjalan adil dan aman, menghasilkan pemimpin yang amanah," ujar KH Muthy. (Red: Mahbib Khoiron)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/50909/sukseskan-pemilu-jatman-serukan-mursyid-beri-amalan-khusus

Jalaludin Rumi

Minggu, 02 Februari 2014

Kisah Abu Bakar Digigit Ular

Tulisan ini adalah lanjutan dialog Kontributor Jalaludin Rumi Moh Yasir Alimi dengan Syaikh Mustafa Masud al-Naqsabandi al-Haqqani. Pada bagian pertama, telah diartikan apa itu thariqat, getar di dada, dan kisah tentang Sahabat Abu Bakar. Berikut ini lanjutannya, bagian kedua.

Kisah Abu Bakar selanjutnya bagaimana, Syaikh?

Kisah Abu Bakar Digigit Ular (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Abu Bakar Digigit Ular (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Abu Bakar Digigit Ular

Nabi Muhammad berjalan. Sayidina Abu Bakar mengikuti. Ketika akan sampai, 8 km dari arah Masjidil Haram, baru Sayidina Abu Bakar sadar. "Ooo Mau istirahat ke Gua Tsur, karena sudah mendekati Gunung Tsur. Ketika Rasulullah naik, Ooookesimpulan Sayidina Abu Bakar. With no curiousity, tidak dengan rewel, tidak dengan mempertanyakan, memaklumi.

Pertama-tama, dalam Islam yang kita butuhkan bukan`ngerti syariat, tapi cinta terhadap yang mengajarkannya dan Dzat Maha Suci yang menurunkannya. Tanpa kacamata tersebut, tanpa rasa cinta tersebut, kita tidak akan mengerti Islam. Islam hanya menjadi "The Matter of Transaction", tawar menawar. Itu tidak terjadi pada Abu Bakar. Begitu Rasulullah mau naik ke arah gua, di Jabal Tsur itu, maka kemudian Beliau (Abu Bakar) menarik kesimpulan, "Oooo Rasulullah mau istirahat di Gua Tsur."

Jalaludin Rumi

Beliau (Abu Bakar) mengerti sebagai orang gurun, tidak akan pernah ada lubang bebatuan di gunung, pasti ada ular berbisanya. Itu reason, pikiran digunakan sesudah cinta, sesudah tulus, sesudah bersedia untuk patuh. Itu namanya pikiran yang well enlighted, pikiran yang tercerahkan, bukan pikiran yang cluthak (tidak senonoh), yang bisa bertingkah macam-macam, menimbulkan problem.

Jalaludin Rumi

Lantas, apa yang kemudian dilakukan Abu Bakar?

Beliau kemudian mendekati Rasulullah, kasih aku kesempatan masuk. Rasulullah dan Abu Bakar, interespecting, saling menghargai. Sayidina Abu Bakar masuk gua. Gua itu kecil kalau diisi 3. Barangkali sudah kruntelan di situ, kayak bako susur yang dijejel-jejelkan (dimasukkan) ke mulut. Sayidina Abu Bakar masuk, beliau cari, bener ada lubang di situ. Beliau buka sandalnya, ditaruhnya kaki kanannya di mulut lubang itu. Dengan cinta, Beliau korbankan kakinya untuk Rasulullah. Beliau tidak mau Rasulullah digigit ular.

Akhirnya kakinya dicatel (digigit) oleh ular. Kemudian Beliau bilang, Silakan masuk Rasulullah dengan penuh cinta, dengan penuh pengorbanan dan husnudzon. Rasul masuk dan berbaring dipaha Abu Bakar. Rupanya Rasulullah terkena angin sepoi-sepoi pagi. Beliau tertidur. Ketika Beliau tertidur, ketika itu pulalah Abu Bakar menahan bisa dari ular yang sudah mulai menjalar ke seluruh tubuh. Abu Bakar berkeringat, dan diriwiyatkan bahwa keringatnya sudah berisi darah. Tetesan keringat Abu Bakar mengenai Rasulullah.

Bagaimana respon Rasulullah, Syaikh?

"Nangis Sampean? tanya Rasulullah.

"Tidak, jawab Abu Bakar, kakiku digigit ular."

There was something happen. Ditariknya kaki Abu Bakar dari lubang itu, maka kemudian Rasulullah berkata pada ular.

" Hai Tahu nggak Kamu? Jangankan daging, atau kulit Abu Bakar, rambut Abu Bakar pun haram Kamu makan?"

Dialog Rasulullah dengan Ular itu didengar pula oleh Abu Bakar as-Shidiq, berkat mukjizat Beliau.

"Ya aku ngerti Kamu, bahkan sejak ribuan tahun yang lalu ketika Allah mengatakan Barang siapa memandang kekasih-Ku, Muhammad, fi ainil mahabbah atau dengan mata kecintaan. Aku anggap cukup untuk menggelar dia ke surga, kata ular.

Ya Rabb, beri aku kesempatan yang begitu cemerlang dan indah. Aku (ular) ingin memandang wajah kekasih-Mu fi ainal mahabbah, lanjut ular.

Apa kata Allah?

"Silakan pergi ke Jabal Tsur, tunggu disana, kekasihKu akan datang pada waktunya, jawab Allah.

Ribuan tahun aku menunggu disini. Aku digodok oleh kerinduan untuk jumpa Engkau, Muhammad. Tapi sekarang ditutup oleh kaki Abu Bakar, maka kugigitlah dia. Aku tidak ada urusan dengan Abu Bakar, aku ingin ketemu Engkau, Wahai Muhammad. "

Lihatlah ini. Lihatlah wajahku, kata Rasulullah. (Bersambung)

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38934/kisah-abu-bakar-digigit-ular

Jalaludin Rumi

Jumat, 22 November 2013

Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang menjadi hebat karena di belakangnya ada orang hebat. Pernyataan ini dibenarkan oleh khalayak. Hal ini mirip dengan pepatah Arab:



Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang yang tenar karena di belakangnya ada orang tersembunyi di belakangnya.

KH Aziz Mansur, Paculgowang, Jombang pernah bercerita, Pesantren Lirboyo Kediri yang hebat seperti sekarang inidengan ribuan santri dan alumni serta ilmu yang tersebar di berbagai pelosok negeri initak terlepas dari jasa dan peran seorang ibu.

Jalaludin Rumi

Alkisah, pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim yang mempunyai nama kecil Manab ditinggal wafat ayahnya dalam usia 6 tahun. Lalu ibunya dinikahi orang lain yang mempunyai latar belakang keluarga biasa (bukan dari kalangan kiai) dan hidup dalam balutan kekurangan dalam sisi ekonomi.

Jalaludin Rumi

Ibunda Manab yang bernama Salamah ini setiap hari membantu sang suami berdagang di pasar. Namun sayang, setiap kali ke pasar, acap kali ia melihat jarik bermotif batik tulis dengan harga selangit yang otomatis tidak terjangkau dalam kantong Ibu Salamah.

"Kapan ya aku bisa membeli jarik yang sedemikian bagusnya," kata Salamah dalam hati sembari mengelus-elus batik yang ia maksud.

Tiga tahun kemudian, dagangan yang ia jajakan laris sehingga Salamah mampu membeli batik yang sudah mengendap dalam angan-angannya selama ini.

Baru dipakai sekitar satu hingga dua bulan, saat berjalan menuju pasar, Salamah melewati satu rumah di mana terdengar suara tangisan dari dalam sana.

"Ada apa, Yu?" Tanyanya yang kemudian disahut sang pemilik rumah.

"Aku ini habis melahirkan, namun aku hanya memiliki satu helai pakaian saja. Andai pakaianku ini kupakaikan untuk anakku, aku pasti akan menjadi telanjang, namun jika tetap aku gunakan sendiri, anakku pasti akan kedinginan."

Mendengar aduan yang sedemikian menyayat hati, Salamah kemudian segera pulang. Jarik yang ia impikan tiga tahun silam dan baru dipakai sekitar satu bulan diambil, diberikan kepada wanita itu.

"Sudah, Yu, jarik yang masih bagus ini engkau gunakan, yang sudah lama punya kamu ini kau gunakan untuk popok anak kamu."

Sontak, wanita yang baru saja melahirkan menangis haru. Ia kemudian berdoa, "Semoga Allah memberikan kegembiraan kepadamu melalui perantara anak sebagaimana sekarang ini engkau membahagiakanku sebab aku bersedih karena urusan anak."

Akhirnya, karena hal-hal yang demikian itulah, di kemudian hari, muncul Pesantren Lirboyo atas segala nama kebesarannya.

Artinya, dalam kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa:

1. Bersedekah yang bernilai sangat tinggi adalah menyedekahkan sesuatu yang menjadi kesayangan kita. Dalam kalam hikmah disebutkan:

Bukan dinamakan orang yang pemurah kalau ia memberikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, kecuali kalau kamu memberikan apa yang kamu sukai dan tinggal sedikit saja yang ada di tanganmu.

Dalam Al-Quran juga disebutkan:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Ali Imran: 92)

2. Sayangilah anak kecil, tolonglah orang yang lemah, dan sedekahlah pada ahli ilmu. Pada pribadi mereka terdapat doa yang tulus yang tembus kepada Allah Taala sehingga kita mendapatkan berkah manfaatnya. (Mundzir)

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76246/kisah-keberkahan-sedekah-ibunda-kh-abdul-karim-lirboyo

Jalaludin Rumi

Rabu, 14 Agustus 2013

Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan!

Jalaludin Rumi - Akhir-akhir ini, situs online dan iklim media sosial kian panas dan ramai dengan tema-tema keislaman, namun banyak yang berbau SARA dan menghasud. Ironisnya, banyak yang menshare tanpa tahu kalau konten ternyata isinya hoax.

Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan! - Jalaludin Rumi
Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan! - Jalaludin Rumi


Marak Ujaran Kebencian di Medsos, Cyber Jateng: Siap Lawan!

Demikian dikatakan oleh Hasan Habibie dalam Workshop Digital Literasi bertema "Deradikalisasi Dunia Maya Berbasis Pendidikan Damai", yang diselenggarakan oleh Lakpesdam NU Kota Semarang, di Aula Perpustakaan Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT) Semarang, Sabtu (30/12/2016) pagi.

Menurut Hasan, jumlah netizen yang kini ada 87 juta orang (Indonesia) mudah terprovokasi dan mudah emosi dengen gesekan isu SARA sedikit, "beda pandangan sedikit soal demo 212, sudah berani dengan kiai," ujar Hasan di sesi pertama acara,

Dalam provokasi dunia maya, yang dipentingkan saat ini bukanlah kebenaran, tapi memoles kebohongan sehingga terkesan memiliki kebenaran, "itulah hoax," lanjut Hasan, "dalam bahasa lain, internet sekarang akhirnya bisa hidup bila kebohongan bisa dipoles jadi kebenaran, post truth era istilahnya," imbuhnya di hadapan puluhan mahasiswa dan santri se Semarang.

Atas fenomena busuk itulah, Hasan Habibie yang juga dari Pustekkom Kemendikbud itu, hanya menginginkan supaya para santri melek literasi digital, "santri bisa searching internet dengan benar, that is enaught," bebernya. Itu sangat stategis bagi santri mengingat selama ini musuh bersama kelompok pembuat hoax adalah Nahdlatul Ulama (NU).

Untuk alasan tersebut, peserta sepakat untuk membentuk poros melek digital di wilayah Jawa Tengah dengan nama Aswaja Cyber Jateng, yang dideklarasikan langsung bersama sekretaris Lakpesdam NU Semarang, Rikza Chamami, tepat pukul 15.30 WIB.

Agus Fathuddin, jurnalis senior dan Sekjen PCNU Kota Semarang yang hadir dalam pembukaan mengharapkan kepada gerakan Cyber Aswaja Jateng itu bisa membantu para kiai yang selama ini, menurutnya, merasakan kegundahan sejak ada perseturuan antara GNPF dan Ahok di Jakarta. "Kita ini diserang, tapi tidak terasa," papar Agus.

Acara yang berlangsung hingga sore hari tersebut didukung juga oleh Jalaludin Rumi bersama pembicara yang juga aktif sebagai admin website aswaja, antara lain Sholahuddin Ahmad (Ansorjateng.net), Abdullah Hamid (Ayomondok.com), Munawir Aziz (Islami.co) dan M Abdullah Badri (Nujepara.or.id). [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/marak-ujaran-kebencian-di-medsos-cyber-jateng-siap-lawan.html

Jumat, 14 Desember 2012

Beredar Video Anak Salah Sebut Ikan Tongkol, KPAI: Polisi Perlu Usut Penyebar Pertama

Jalaludin Rumi - Soal beredarnya video seorang anak yang salah sebut nama ikan Tongkol dengan Khont0L, ketika ditanya oleh Presiden Jokowi, Asrorun Niam Sholeh, Ketua Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) merasa sangat keberatan. Hal itu dianggapnya tidak pantas dijadikan bahan tertawaan.

Dalam siaran pers yang diterima Jalaludin Rumi, Jumat (27/01/2017) pagi, KPAI menyayangkan peredaran materi video anak yang sedang bersama Presiden dan viral secara massif. "KPAI minta segera hentikan peredaran, karena hal itu masuk kategori bully pada anak," kata Asrorun.

Beredar Video Anak Salah Sebut Ikan Tongkol, KPAI: Polisi Perlu Usut Penyebar Pertama - Jalaludin Rumi
Beredar Video Anak Salah Sebut Ikan Tongkol, KPAI: Polisi Perlu Usut Penyebar Pertama - Jalaludin Rumi


Beredar Video Anak Salah Sebut Ikan Tongkol, KPAI: Polisi Perlu Usut Penyebar Pertama

Bagi KPAI, video tersebut bukan lelucon. "Saatnya kita memiliki sensitifitas terhadap perlindungan anak. Dengan peredaran video tersebut, si anak pasti akan tertekan secapa psikis. Belum lagi akan jadi bahan olok-olok temannya. Ini harus dicegah," jelasnya.

Kepada Kominfo, Asrorun sudah melakukan koordinasi. KPAI merasa perlu mendorong Menkominfo melakukan take down video yang sudah kadung beredar di media sosial itu. "Saya sudah komunikasi dengan Menkominfo agar konten itu di take down," ungkapnya.

"Saya rasa polisi perlu juga mengusut siapa yang pertama kali mengedarkan hingga jadi bahan tertawaan untuk ambil langkah hukum. Agar hal semacam ini tidak dianggap lumrah, sehingga menjadi mati rasa perlindungan anak," tandasnya.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

Asrorun juga berharap bahwa kegiatan itu hanya spontanitas dan karena keluguan anak, bukan kesengajaan oleh orang dewasa. Penyebaran video tersebut, menurut Asrorun, bisa berakibat tidak baik bagi tumbuh kembang anak. "Anak merasa dipermalukan dan bisa melahirkan stigma buruk pada anak," tegasnya. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/beredar-video-anak-salah-sebut-ikan-tongkol-kpai-polisi-perlu-usut-penyebar-pertama.html

Kamis, 09 Agustus 2012

Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir

Orang sekitar Desa Cangkring Ngrandu Perak Jombang Jawa Timur, tentu tidak asing dengan masjid besar dan megah yang berdiri kokoh di tengah sawah ini. Bagi sebagian sales sejumlah produk dan mereka yang melangsungkan perjalanan melelahkan seharian menuju rumah, beristirahat di masjid ini seakan menambah stamina baru.

Sederet motor dan mobil terparkir rapi. Mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina setelah seharian berkeliling. Secara bergiliran, mereka melaksanakan shalat Ashar atau Dhuhur dan dilanjutkan dengan bercengkrama sejenak.

Masjid ini menjadi semacam rest area usai menaklukkan perjalanan yang melelahkan. Lokasinya yang berada di pinggiran jalur utama yang menghubungkan Ngrandu dengan desa sebelah, membuatnya menjadi jujugan. Pemandangan sekitar berupa persawahan dan pepohonan rindang kian memanjakan mereka yang berkenan berhenti sejenak.

Fasilitas masjid yang bisa dinikmati secara gratis kian memanjakan sejumlah orang untuk singgah. Toilet dengan ketersediaan air yang melimpah, demikian juga bangunan masjid yang luas serta bersih juga menjadi alasan mereka mampir.

Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir

Dan bila waktu menjelang Ashar, para musafir disuguhkan dengan pemandangan anak-anak yang tengah sibuk mengaji. Tidak hanya itu, para ibu yang mengantar turut dalam kegiatan mengaji. Para ibu muda dan mereka yang telah berumur, tidak merasa risih apalagi malu untuk belajar membaca al-Quran, bersaing dengan anak-anak mereka yang masih belia.

Setidaknya, inilah nuansa berbeda dari masjid tengah sawah di wilayah Cangkring Ngrandu ini. Sang pengasuh, Syaifullah Hidayat. LC, MHi dengan tiada henti menyapa dan memperhatikan perkembangan para santrinya dengan penuh kebanggan.

Adalah bapak H Nur Hasan, tokoh masyarakat di desa ini yang merasa prihatin dengan perkembangan masyarakat yang jauh dari nilai agama. Orang boleh banga dan mengklaim Jombang sebagai kota Santri, tandas Gus Syaiful, sapaan kesehariannya. Tapi untuk daerah ini, justru nuansa abangan yang lebih mengemuka, lanjut pria kelahiran Jember tahun 1976.

Jalaludin Rumi

Singkat cerita, H Nur Hasan yang juga penghulu di era tahun 1990-n memasrahkan tanahnya seluas satu hektar untuk dijariyahkan kepada KH Djamaluddin Ahmad yang lebih akrab disapa dengan Kiai Jamal. Sebelum dipasrahkan, itikad baik ini dikonsultasikan kepada guru Kiai Jamal yakni KH Jalil di Tulungagung. Atas saran sang guru, hendaknya di wilayah tersebut dibangun masjid yang lebih besar dari Masjid Muhibbin yang dimiliki Pesantren Tambakberas.

Memboyong Tambakberas

Jalaludin Rumi

Mendapatkan tanah seluas itu tentu membanggakan. Namun tantangan selanjutnya adalah merealisasikan lahan sesuai harapan H Nur Hasan. Dan Kiai Jamal akhirnya membiayai seluruh biaya pembangunan masjid sehinga tahun 2005 bisa berdiri megah seperti sekarang. Berdirinya baitullah seakan membawa pesan bahwa akan ada perhatian dan sejumlah kegiatan bagi warga sekitar khususnya dalam masalah keagamaan yang selama ini jarang mereka terima.

Pertimbangan lain, masjid ini menjadi solusi dari sejumlah masjid setempat yang tidak mampu lagi menampung jamaah, tandas suami dari Ny Zuhrotul Makiyah binti Kiai Jamal ini. Dan kepercayaan tersebut dilanjutkan dengan didirikannya Madrasah Ibtidaiyah Al-Anwar setahun berikutnya. Untuk pembangunan dan pembiayaan operasional madrasah kembali menjadi tangungjawab penuh Kiai Jamal. Bangunan madrasah terletak di selatan kediaman alumnus Fakultas Syariah Al-Ahgaff University Yaman ini yang juga arah selatan masjid.

Kini madrasah mendapatkan kepercayaan masyarakat dan telah berdiri juga Madrasah Tsanawiyah, tandas alumnus Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Ya, sejumlah kepercayaan dibayar dengan langkah nyata. Bahkan telah mulai dipikirkan mendirikan asrama dan pesantren bagi para siswa dan warga sekitar yang hendak memperdalam pemahaman dan praktik keagamaan. Mohon doanya, pinta alumnus pasca sarjana Universitas Islam Malang ini.

Yang membedakan madrasah ini dengan sejumlah sekolah dan madrasah di daerah sekitar adalah berusaha mempertahankan ciri khas Pesantren Tambakberas. Yang kental adalah adanya penulisan arab pego, tandas putra pasangan H Mohammad Subtoni-Hj Munjidah ini. Dengan demikian, para siswa akan mengenal huruf hijaiyah secara baik serta mampu menuliskan dengan benar. Produk Tambakberas lain yang diboyong adalah hafalan kosa kata bahasa Arab, pelajaran tajwid dan sejenisnya. Dengan demikian ciri Tambakberas juga ada di madrasah kami, kata ayah tiga anak ini.

Dengan sejumlah kelebihan yang dimiliki, diharapkan akan lahir para siswa dan santri yang memiliki pemahaman keagamaan kuat dengan diramu kemampuan dalam menerima ilmu baru demi khidmat kepada masyarakat.

Ya. Tantangan jaman semakin berat. Jalan terbaik adalah membekali generasi muda dan masyarakat dengan pemahaman keagamaan sebagaimana diwarisi salafus shalih. Tidak ada salahnya belajar ke kampung Cangkring. (Saifullah)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49536/masjid-cangkring-pelepas-lelah-para-musafir

Kamis, 19 Mei 2011

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

Karanganyar, Jalaludin Rumi. Para pengurus MWC NU serta banom-banom NU se-kecamatan Mojogedang mengikuti karnaval seni budaya yang digelar pemerintah daerah setempat. Acara tersebut dimulai dengan berjalan kaki dari lapangan Bendo dan berakhir di lapangan Mojogedang, Selasa (19/8).

Sebelumnya telah dilaksanakan koordinasi dengan Ketua Ranting NU dan banom NU yang ada di kecamatan Mojogedang guna mempersiapkan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya ini dan inilah pertama kalinya NU terlibat dalam kegiatan tersebut, ungkap Ahmad salah satu pengurus Ranting NU kepada Jalaludin Rumi, Rabu (20/8).

MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


MWCNU Mojogedang Ikuti Karnaval Seni Budaya

Jadi selain pengurus MWC, pengurus Ranting NU masing-masing diminta untuk mengirimkan sepuluh orang untuk mengikuti kegiatan tersebut. Sementara dari Muslimat dan Fatayat sudah dikoordinasi langsung oleh ibu Umi Kultsum selaku ketua PAC Muslimat.

Meskipun dalam kegiatan antara banyak Fatayat yang bergabung ke Muslimat, namun dalam karnaval kali ini dipisahkan agar ada keterwakilan antara keduanya, ungkap Musyarofah salah satu kader Fatayat yang memilih merapa ke Muslimat.

Jalaludin Rumi

Sedangkan Danang selaku Ketua GP Ansor Mojogedang memilih untuk menampilkan group shalawat yang dipimpinnya. Mungkin masyarakat sudah sangat kental dengan beberapa pertunjukkan seni seperti kroncongan, klenengan, dan campursari, namun sedikit diantaranya yang mengenal rebana. Oleh sebab itu ini merupakan kesempatan emas bagi kami untuk memperkenalkan shalawat kepada masyarakat, ungkapnya.

Jalaludin Rumi

Sementara tujuan keikutsertaan NU dalam karnaval budaya kali ini adalah sebagai salah satu wujud ikut melestarikan seni nusantara yang ada di kecamatan Mojogedang, mendorong kreativitas insan seni, serta sebagai wadah silaturahmi antar warga, sehingga NU semakin dikenal luas oleh masyarakat setempat. (Ahmad Rosyidi/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/53956/mwcnu-mojogedang-ikuti-karnaval-seni-budaya

Jalaludin Rumi

Senin, 02 Mei 2011

Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu

Bogor, Jalaludin Rumi. Harga cabai yang sempat mencapai kisaran Rp130.000 menyebabkan masyarakat menjerit. Hal ini membuat Menteri Pertanian Amran Sulaiman melakukan beberapa langkah untuk menekan harga setinggi langit itu.

Menurutnya, penurunan harga cabai ini dikarenakan meningkatnya produksi cabai di sentra-sentra produksi cabai rawit merah. Hal ini menyebabkan jumlah cabai tersebut melimpah sehingga masyarakat pun tidak terlalu sulit untuk mendapatkannya.

Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu (Sumber Gambar : Nu Online)
Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu (Sumber Gambar : Nu Online)


Mentan Amran Sebut Harga Cabai Turun karena Peran Ibu-ibu

Saya sampaikan kepada ibu-ibu di seluruh Indonesia untuk menanam cabai. Jadi ini berkat peranan ibu-ibu semua. Saya percaya ibu-ibu adalah tiangnya negara, kata Amran saat memberikan materi di Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) Muslimat Nahdlatul Ulama (NU), Ahad (26/3) di Hotel Lor-In Sentul, Bogor, Jawa Barat.

Jalaludin Rumi

Amran mengakui, jika 120 juta perempuan Indonesia menanam cabai dan memelihara ayam yang hasilnya 2 juta per hari, itu bisa menghasilkan 120 triliun setiap bulannya, sedangkan jika 1 tahun bisa 1000 triliun.

Luar biasa dahsyatnya dan saya yakin akan terjadi swasembada terbaik atas kontribusi besar ibu-ibu Muslimat NU, jelas Amran yang menyebut harga cabai saat ini dikisaran Rp40.000-Rp50.000 per kilogram.

Ia mengakui jika swasembada pangan muncul dari peran tangguh para ibu. Sebab itu menurutnya, jika lahir pemimpin yang tangguh, itu pasti lahir dari peran ibu-ibu.

Jalaludin Rumi

Sementara itu, Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muslimat NU Hj Khofifah Indar Parawansa berupaya mewujudkan inovasi produk pertanian. Hal ini tidak terlepas dari peran ibu-ibu Muslimat yang sebagian besar juga petani di desanya masing-masing.

Saya mendorong kepada ibu-ibu Muslimat untuk memperbarui langkah. Saya tekankan agar hasil panen tidak hanya sekadar petik dan jual, tetapi petik, olah, kemas, dan jual, terang Khofifah.

Inovasi ini, lanjut dia, tentu akan menghasilkan profit lebih sehingga usaha mewujudkan kesejahteraan masyarakat desa akan tercapai. Dia tidak memungkiri, hal ini memerlukan keterampilan khusus yang bisa disinergikan dengan pemerintah.

Kita kerja sama dengan Menteri Desa dan Menteri Pertanian dalam Rapimnas ini. Mereka mempunyai balai-balai latihan yang bisa dimanfaatkan ibu-ibu Muslimat di wilayah dan cabang untuk meningkatkan keterampilan olah dan kemas tadi, tandas Khofifah. (Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76425/mentan-amran-sebut-harga-cabai-turun-karena-peran-ibu-ibu

Jalaludin Rumi

Selasa, 19 Oktober 2010

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

KH. Maimun Zubair Jalaludin Rumi - Berikut ini adalah nasihat bijak kepada guru dari KH. Maimun Zubair yang bisa Anda renungkan dan juga bisa disebarkan kepada para guru sebagai pengingat sekaligus menata niat ketika mengajar kepada para murid:

Baca: Meneladani Nasionalisme Guru Tua Habib Idrus Al-Jufri

“Jadi guru itu tidak usah punya niat bikin pintar orang. Nanti kamu hanya marah-marah ketika melihat muridmu tidak pintar. Ikhlasnya jadi hilang. Yang penting niat menyampaikan ilmu dan mendidik yang baik. Masalah muridmu kelak jadi pintar atau tidak, serahkan kepada Allah. Didoakan saja terus penerus agar muridnya mendapat hidayah.”

Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Jalaludin Rumi
Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru - Jalaludin Rumi


Nasehat Kyai Maimun Zubair Kepada Guru

Jalaludin Rumi

Selain yang telah dipesankan oleh Kiai Maimoen di atas, pesan bijak berikut juga patut direnungkan untuk para guru:

“Yang paling hebat bagi seorang guru adalah mendidik, dan rekreasi yang paling indah adalah mengajar. Ketika melihat murid-murid yang menjengkelkan dan melelahkan, terkadang hati teruji kesabarannya, namun hadirkanlah gambaran bahwa di antara satu dari mereka kelak akan menarik tangan kita menuju surga”.

Selamat berjuang wahai para pahlawan ilmu. Semoga dari tanganmu akan lahir generasi tangguh, berilmu dan berakhlak. Aamiin. [Jalaludin Rumi]

Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/nasehat-kyai-maimun-zubair-kepada-guru.html

Selasa, 13 Juli 2010

Publik Heboh Atas Usulan Pemindahan Makam Nabi

Jakarta, Jalaludin Rumi. Berita tentang usulan Saudi untuk memindahkan makam Nabi Muhammad dari masjid Nabawi di Medinah menjadi trending di media sosial.

Laporan di harian koran The Independent berjudul Saudi menghadapi risiko perpecahan baru dengan usulan memindahkan makam Nabi Muhammad itu mengutip usulan dalam dokumen oleh seorang akademisi yang beredar di antara para pengawas Masjid Nabawi, seperti dilaporkan oleh BBC Indonesia.

Publik Heboh Atas Usulan Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)
Publik Heboh Atas Usulan Pemindahan Makam Nabi (Sumber Gambar : Nu Online)


Publik Heboh Atas Usulan Pemindahan Makam Nabi

Namun rencana itu diangkat akademisi lain yang mengkritik dirusaknya tempat-tempat suci dan artefak di Mekah.

Jalaludin Rumi

Makam Nabi Muhammad terletak di kubah hijau di dalam masjid dan dikunjungi jutaan jemaah haji dan merupakan tempat suci kedua bagi umat Islam.

Jalaludin Rumi

Ulama Saudi garis keras atau Wahabi telah lama memfatwakan melarang penyembahan benda atau "orang suci", sebuah praktek yang dianggap "syirik" atau berhala.

Dr Alawi, direktur Islamic Heritage Research Foundation, seperti Jalaludin Rumi kutip dari The Independent mengatakan : "Orang-orang mengunjungi ruangan keluarga Nabi hidup, dan kemudian menuju tempat pemakaman untuk berdoa.

"Sekarang mereka ingin mencegah peziarah mengunjungi dan menghormati makam karena mereka percaya bahwa ini adalah syirik, atau penyembahan berhala. Tapi satu-satunya untuk menghentikan Muslim mengunjungi Nabi adalah membawa makam tersebut keluar (dari masjid) dan memasukkannya ke pemakaman (umum). "

Dr Alawi juga mengatakan rencana tersebut meliputi penghancuran kubah hijau yang menutupi makam Nabi.

Nabi dihormati oleh kedua cabang Islam, Sunni dan Syiah. Sekte Wahabi merupakan cabang dari Sunni, namun membongkar makam Nabi dapat mengobarkan ketegangan antara kedua kelompok tersebut.

Muslim Sunni mainstream akan sama terkejutnya atas upaya pembongkaran makam nabi sebagaimana kelompok Syiah, kata Dr Alawi.

The Independent sebelumnya melansir bagaimana ekspansi bernilai miliaran pound sterling Masjidil Haram, menyebabkan kerusakan hingga 95 persen bangunan tua berusia lebih dari seribu tahun dan digantikan dengan hotel mewah, apartemen dan pusat perbelanjaan.

Raja Abdullah telah menunjuk ulama Wahabi terkemuka dan imam dari Masjidil Haram, Abdul Rahman al-Sudais, untuk mengawasi proyek perluasan yang diperlukan untuk menambah jumlah kapasitas perziarah yang terus meningkat setiap tahunnya.

Dr Alawi mengatakan dokumen konsultasi untuk Masjid al-Nabawi di Madinah dibuat oleh akademisi terkemuka Saudi Dr Ali bin Abdulaziz al-Shabal dari Imam Muhammad bin Saud Islamic University di Riyadh, telah diedarkan kepada Komite Kepresidenan.

Beberapa halaman dari dokumen konsultasi baru saja dipublikasikan dalam jurnal kepresidenan. Mereka menyerukan penghancuran kamar sekitar makam - yang digunakan oleh istri dan anak perempuan Nabi, dan dihormati oleh Syiah karena hubungan mereka dengan putri bungsunya, Fatimah.

Dokumen itu juga menyerukan penghancuran kubah hijau, yang meliputi makam dan tempat tinggal dan pengangkatan kerangka tubuh Nabi ke pemakaman di dekatnya, al Baqi.

Al-Baqi merupakan area pemakaman yang sudah banyak berisi kerangka tubuh keluarga Nabi, termasuk ayahnya yang dipindahkan ke sana pada 1970-an, kata Dr Alawi. Pada tahun 1924 semua nisan telah dihapus, sehingga jamaah tidak akan tahu siapa yang dimakamkan di sana, dan jadi tidak bisa berdoa kepada mereka.

"Nabi akan anonim," tambah Dr Alawi. "Segala sesuatu di sekitar masjid Nabi telah hancur oleh buldoser. Begitu mereka telah menghapus segala sesuatunya, mereka bisa bergerak menuju masjid. Imam masjid mungkin mengatakan ada kebutuhan untuk memperluas masjid dan melakukannya dengan cara itu, sementara mata dunia berada di Irak dan Suriah. Kuburan Nabi Muhamad dihormati oleh Sunni aliran utama, yang tidak pernah akan melakukannya. Hal ini sama pentingnya bagi Syiah juga, yang memuliakan putri Nabi, Fatimah.

"Saya yakin akan ada kejutan di seluruh dunia. Ini akan menyebabkan kemarahan. "

The Independent tidak dapat menghubungi kedutaan Arab Saudi, tapi dalam sebuah pernyataan tahun lalu mengatakan: "Perkembangan Masjid Suci Makkah al Mukarramah-[Mekah] merupakan subjek yang sangat penting dan dalam kapasitasnya sebagai penjaga dua masjid suci tersebut, akan melakukan langkah yang sangat serius. Peran ini merupakan inti dari prinsip-prinsip Arab Saudi didirikan." (mukafi niam)

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54222/publik-heboh-atas-usulan-pemindahan-makam-nabi

Jalaludin Rumi

Kamis, 23 April 2009

Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI)

 Jalaludin Rumi - Banyak masyarakat awam yang tidak tahu menahu apa fungsi dan kedudukan fatwa yang telah dikeluarkan oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI). Faktanya, sampai hari ini, fatwa-fatwa yang telah dikeluarkan MUI kerap kali menuai kontroversi.

Empat tahun silam, wartawan Tempo pernah mewawancarai almarhum KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz, yang notabene pernah menjabat sebagai ketua MUI. Kiai Sahal menyatakan bahwa "Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat."

Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI) - Jalaludin Rumi
Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI) - Jalaludin Rumi


Mbah Sahal: Kita Juga Tidak Tahu Apakah Allah Menerima atau Tidak Hasil Fatwa Itu (MUI)

Berikut ini transkrip wawancara bersama KH. Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz-Kajen-Pati, pada tanggal 30 Juli 2012, yang telah diterbitkan oleh Tempo edisi 22/41.

"Tak Perlu Fatwa Tentang Korupsi"

Jalaludin Rumi

Selama Ramadan ini, pada pukul 8-10 pagi, ruang tamu dan teras rumah KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz penuh sesak oleh santri dan masyarakat yang mengikuti ngaji pasaran. Ini adalah tradisi mengkaji kitab kuning di pesantren yang dibacakan oleh kiai. Hampir 400 orang mengikuti ngaji pasaran Kiai Sahal. Pada bulan puasa ini, yang dikaji adalah kitab Minhajul ‘Abidin karya Imam Ghazali.

Jalaludin Rumi

Selama dua jam tanpa henti, kiai yang juga Rais Am Syuriah (ketua umum lembaga permusyawaratan) Pengurus Besar Nahdlatul Ulama itu membaca kitab dan menerjemahkannya kata demi kata dalam bahasa Jawa. Suaranya masih lantang, meski sesungguhnya dalam beberapa tahun terakhir kesehatan kiai 75 tahun ini sering terganggu. Ngaji posonan tersebut juga disiarkan secara live streaming oleh situs resmi NU.

Sore hari selepas ashar, duduk di kursi malas di ruang tengah rumahnya, Kiai Sahal menghabiskan waktu menjelang berbuka sambil menerima tamu. Mengenakan baju lengan panjang abu-abu kotak-kotak, dipadu dengan sarung putih dan peci putih, kesehatan kiai yang dikenal dengan gagasan fiqh sosial ini terlihat menurun. Namun gaya bicara dan bahasa tubuhnya tetap tegas. Gaya bicara seperti ini juga yang muncul tatkala dia berbicara dengan Sohirin dan fotografer Budi Purwanto dari Tempo.

Mbah Sahal menyampaikan keprihatinannya atas kondisi umat Islam Indonesia, tentang intoleransi dan kekerasan, peran ulama, serta fatwa Majelis Ulama Indonesia. Namun dia enggan berbicara tentang politik. "Politik itu sensitif. Kita diskusi selain politik saja," ujarnya sambil merebahkan punggung pada sandaran kursi.

Islam di Indonesia belakangan terkesan garang karena tindakan beberapa organisasi kemasyarakatan yang mengatasnamakan Islam.

Sangat disayangkan. Mereka mengatasnamakan Islam tapi belum mengerti apa sesungguhnya Islam. Islam hanya dimaknai secara sepotong-sepotong. Saya menduga keberadaan mereka karena didorong oleh kepentingan tertentu, bisa kepentingan politik, ekonomi, dan sebagainya. Sebenarnya kelompok semacam itu sudah lama ada. Hanya, dulu tidak semencolok sekarang. Sebelumnya, keberadaannya tidak pernah dipikirkan.

Lalu kenapa para ulama besar tidak mengecam mereka kalau memang tidak setuju? Panggil pemimpinnya, minta mereka membubarkan diri.

Agak susah. Selama ada kepentingan tertentu yang mendukungnya, mereka akan tetap ada. Tapi, jangan khawatir, masyarakat saat ini cukup kritis dan bisa menilai mana yang betul-betul berjuang untuk agamanya, mana yang hanya bertindak untuk kepentingan pribadi.

Selain garang, umat Islam Indonesia belakangan terkesan tidak toleran. Tidak toleran pada agama lain, juga pada orang Islam sendiri yang berbeda paham.

Saya sudah lama berpikir dan prihatin akan hal ini. Tapi sesungguhnya masalah kerukunan antarumat beragama dan antarumat seagama itu terletak pada umatnya, bukan pada agamanya. Ajaran agamanya tetap bagus. Jadi, problemnya ada pada orangnya, bukan ajarannya.

Tentu saja begitu, tapi kenapa hal tersebut terjadi?

Gerakan yang mengarah pada intoleransi disebabkan oleh lemahnya pemahaman terhadap agama. Hal ini diperkuat oleh budaya setempat. Misalnya kasus yang menimpa penganut Syiah di Madura. Pangkal soalnya bukan ajaran agama, melainkan karena masalah keluarga dan kultur setempat yang memang keras.

Kalau soalnya adalah pemahaman agama yang lemah, bukannya di antara yang memerintahkan kekerasan itu justru habib dan ustad?

Intoleransi dan kekerasan hanya dilakukan oleh orang yang belum mampu memahami agama Islam secara utuh. Tidak ada kiai yang mudah menuduh seseorang kafir, karena mengafirkan orang lain tanpa alasan yang kuat juga dosa. Jangan sampai menyalahkan orang lain karena dilandasi rasa benci. Jangan pula mudah menyalahkan orang lain karena menuduh perbuatan orang lain tidak sesuai dengan Al-Quran dan hadis. Biasanya justru orang yang belum paham tentang Al-Quran dan hadislah yang mudah menyalahkan yang lain dan cenderung menyalahkan pihak-pihak yang tak sepaham dengannya.

Selain itu, ada beberapa pihak terjebak pada pemaksaan pemurnian ajaran Islam. Bagi mereka, Islam harus kembali pada Al-Quran dan hadis. Pertanyaannya, sejauh mana mereka memahami Al-Quran dan hadis.

Bagaimana dalam soal Ahmadiyah, yang kerap menjadi korban kekerasan?

Beberapa ulama menyarankan agar penganut Ahmadiyah keluar dari Islam, karena ajarannya dianggap menyimpang dari Islam. Jadi, Ahmadiyah menjadi agama sendiri. Tentunya pengikut Ahmadiyah enggan menerimanya. Yang penting adalah janganlah perbedaan pendapat itu berujung pada kekerasan, karena justru bertentangan dengan ajaran Islam itu sendiri yang rahmatan lil 'alamiin.

Selain soal intoleransi, apa problem terbesar umat di Indonesia?

Muslim di Indonesia memang terbesar di dunia. Sayangnya, masih sebatas kuantitas, belum kualitas. Belum ada usaha bersama untuk menciptakan umat yang lebih berkualitas.

Penyebab kualitas yang buruk?

Pendidikan. Kunci utama untuk memperbaiki kualitas adalah perbaikan pendidikan. Pendidikan yang tak hanya sesuai dengan kurikulum, tapi mengajari manusia menjadi pribadi yang utuh. Pendidikan di sekolah sekarang hanya mengejar kurikulum dan ijazah. Semestinya, tugas guru adalah mengajarkan sesuatu yang komprehensif.

Siapa yang salah?

Jangan salahkan orang lain, salahkanlah diri sendiri. Sekarang orang cenderung pada perilaku hubbu ad-dunya, yakni mengejar kemewahan dunia secara berlebihan. Karena sibuk mengejar kemewahan, kita melupakan pendidikan keluarga.

Apa pengaruh pendidikan yang buruk pada kualitas beragama?

Jelas berpengaruh. Orang kemudian beragama karena faktor budaya. Misalnya, orang kaya pergi haji dan umrah berkali-kali tapi dia tak pernah bersedekah bagi tetangganya yang fakir. Beragama hanya karena sanjungan orang, belum memahami esensi agama yang sesungguhnya. Jika agama dipahami secara benar, dan pendidikan disampaikan secara benar, kita tak akan terjebak pada krisis yang multidimensi.

Apakah lemahnya pemahaman agama itu artinya peran ulama juga melemah?

Di kampung-kampung, ulama tetap menjadi tokoh sentral. Kalau Anda lihat di daerah atau desa, ulama atau kiai sangat repot. Itu karena hampir semua urusan umat menjadi urusan kiai. Itu yang benar. Makanya tak benar jika ada anggapan ulama atau kiai hanya mengurusi ngaji. Memang tidak semua urusan bisa diselesaikan oleh kiai, karena ulama juga mempunyai keterbatasan.

Anda sendiri?

Selain mengurusi pendidikan, saya memikirkan perekonomian dan kesehatan masyarakat. Kami mendirikan bank perkreditan rakyat sebagai solusi permodalan masyarakat yang tidak memberatkan. Kami juga mendirikan rumah sakit. Jadi, idealnya kiai tak hanya memberikan pengajian, tapi juga harus terlibat menyelesaikan problem masyarakat.

Tapi, sebagai Ketua MUI, Anda tentu tahu banyak orang tak lagi menuruti fatwa yang dikeluarkan oleh ulama di organisasi itu.

Fatwa MUI itu bukan satu-satunya fatwa. MUI juga bukan lembaga operasional seperti NU atau Muhammadiyah, yang bisa menggerakkan anggotanya. Jadi, fatwa MUI tidak mengikat.

Kalau tidak mengikat, kenapa difatwakan?

Pertanyaannya, kenapa harus mengikat? Mengikat dan tidak itu soal keyakinan. Kita juga tidak tahu apakah Allah menerima atau tidak hasil fatwa itu, ha-ha-ha.… Jadi, fatwa MUI hanya bersifat imbauan moral.

Atau mungkin fatwa MUI kurang bergigi karena tidak menyentuh persoalan umat yang lebih penting. Misalnya, tak adanya fatwa tentang korupsi.

Tak perlu ada fatwa tentang korupsi. Sudah banyak yang memberi fatwa dan komentar mengenai bahaya korupsi. Kalau MUI mengeluarkan fatwa tentang korupsi, itu ketinggalan dan keterlaluan. Sama halnya MUI memberi fatwa tentang hukum mencuri. Mau dikatakan apa pun, maling ya tetap saja maling.

Fatwa MUI yang melarang pluralisme, sekularisme, dan liberalisme Islam juga mengundang banyak reaksi?

Plural adalah sunatullah yang tak bisa dihindari. Dengan pluralisme, kita banyak belajar. Tapi jangan terlalu plural. Sejak zaman Nabi, plural itu beda, tapi kalau terlalu beda juga tidak baik. Jangan lupa, sebelum kita berbicara banyak tentang pluralisme, fondasi kita tentang pemahaman agama dan kebangsaan sudah harus kokoh. Jika tidak, kita akan terbawa arus yang kebablasan. Seperti halnya demokrasi itu bagus, tapi kalau terlalu liberal, tidak bagus.

Omong-omong, Pak Kiai kemarin mulai puasa hari apa?

Saya tak pernah menentukan sendiri. Saya selalu ikut pemerintah. Enak, ada yang tanggung jawab.

KH Muhammad Ahmad Sahal Mahfudz Tempat dan tanggal lahir: Pati, Jawa Tengah, 17 Desember 1937 Pendidikan: Pesantren Bendo, Kediri, Jawa Timur, Pesantren Sarang, Rembang, Jawa Tengah, Tiga tahun belajar di Mekah. Pada 1951-1953 mengikuti kursus ilmu umum. Selain sebagai Pengasuh Pesantren Maslakhul Huda Kajen-Pati, semasa hidupnya, Kiai Sahal Penah Menjabat sebagai Rais Am PB NU dan Ketua MUI. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mbah-sahal-kita-juga-tidak-tahu-apakah-allah-menerima-atau-tidak-hasil-fatwa-mui.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock