Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Merdeka. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 November 2014

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Transparansi (keterbukaan) menjadi hal yang cukup serius dan krusial di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya transparani informasi, tetapi juga anggaran. Dunia sudah berubah. Dulu, institusi dan lembaga negara bisa melakukan manuver anggaran. Tapi sekarang itu tidak bisa lagi. Apalagi setelah disahkan dan diimplementasikannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Semua badan publik harus memberikan transparansi anggaran dan informasi kepada khalayak umum.

Kasus terhangat terkait transparansi adalah hak angket yang dilayangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi III- kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Konon, sebab digulirkannya hak angket adalah tidak adanya transparansi pada KPK. Sejumlah anggota DPR menilai bahwa KPK tidak transparan dalam hal informasi.

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Selain itu, masalah transparansi juga mendera kasus Alfamart-Mustholih. Mustholih, konsumen dan donatur donasi yang galang Alfamart menuntut retail tersebut untuk memberikan informasi terkait dengan jumlah, tujuan, dan penerima donasi. Alfamart tidak bersedia dan menggugat balik Mustholih ke pengadilan. Tanggal 18 April, Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan menolak gugatan Alfamart. Dengan demikian, Alfamart harus memberikan informasi terkait donasi yang digalangya apabila ia tidak melakukan kasasi.

Memang, persoalan transparansi cukup pelik di negeri ini. Oleh karena itu, Ahmad Muchlishon dari Jalaludin Rumi berhasil mewawancarai salah satu Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Rumadi Ahmadyang juga Ketua Lakpesdam PBNU untuk menjelaskan seperti apa dan seharusnya bagaimana praktik transparansi di Indonesia ini. Berikut hasil wawancaranya:

Jalaludin Rumi

Perkembangan transparansi informasi di Indonesia seperti apa, pak?

Jalaludin Rumi

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi adalah Undang-Undang yang menandai berubahnya era pengelolaan negara. Sebelum ada UU No. 14 ini, hampir dalam seluruh sektor pengelolaan negera kulturnya itu gelap, tidak transparan, dan tidak akuntabel. Akibatnya, banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang disebabkan oleh sistem yang tidak transparan. Masyarakat juga tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan informasi yang dikuasai oleh lembaga-lembaga negara seperti berapa anggaran kementerian ini, untuk apa saja, dan laporannya bagaimana. Masyarakat tidak memiliki akses ini.

Sejak kapan UU keterbukaan Informasi itu digulirkan hingga kemudian disahkan dan diterapkan?

Sejak tahun 2001, masyarakat sipil mendorong adanya Undang-Undang yang menjamin keterbukaan informasi. Kemudian sampai pada tahun 2008, Undang-Undang Nomor 14 tentang keterbukaan informasi berhasil disahkan. Undang-Undang ini ingin merubah mindset pengelolaan negara. Dari kultur yang serba gelap dan tertutup menjadi kultur yang terbuka, transparan, dan akuntabel.

Tetapi merubah cara berpikir itu bukan sesuatu yang gampang. Ini menjadikan banyak orang tergagap. Tidak semua badan publik siap untuk melaksanakan Undang-Undang ini. Bahkan mereka lebih senang untuk hidup dalam kultur yang gelap, karena mereka bebas melakukan manuver keuangan.

Oleh karena itu, ada kesepakatan antara DPR dan pemerintah untuk menunda implementasi Undang-Undang ini selama dua tahun. Undang-Undang ini baru diimplementasikan secara efektif dua tahu setelah disahkan. Disahkannya itu 30 April 2008, baru dilaksanakan secara efektif pada 30 April 2010.

Transparansi yang ada di Indonesia saat ini seperti apa?

Kita sudah lumayan bagus. Survei-survei yang dilaksanakan oleh sejumlah lembaga seperti Open Budget Index menunjukkan Indonesia menempati urutan kedua se-Asia di bawah Korea Selatan dan pertama se-Asia Tenggara sebagai negara yang transparan dalam hal anggaran pada tahun 2012.

Survei-survei dalam negeri seperti Fitra juga menunjukkan transparansi Indonesia mengalami perkembangan yang baik. Pemeringkatan yang dilakukan Komisi Informasi Pusat juga menunjukkan ada progres. Ada kemajuan-kemjuan pada level transparansi. Meskipun transparansi belum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks persepsi korupsi. Transparansi kita baik tetapi indeks persepsi korupsi kita tidak naik-naik.

Tahun 2016, indeks perspepsi korupsi kita di angka 38 dari skor 100. Tahun 2015 di angka 36, tahun 2014 di angka 34, dan tahun sebelumnya di angka 32. Ada kenaikan-kenaikan tetapi sangat pelan jika dibanding dengan keterbukaan informasi yang tampaknya lebih baik.

Berarti ada hubungan yang erat antara transparansi dan indeks persepsi korupsi?

Iya, tantangannya adalah memastikan bagaimana transparansi yang sudah mulai baik memiliki kontribusi yang positif terhadap indeks persepsi korupsi kita. Karena sebenarnya keterbukaan informasi atau transparansi itu hanya sebagian kecil dari upaya untuk pencegahan korupsi. Kalau orang hidup di dalam kultur yang transparan dan akuntabel, maka mereka akan memiliki keengganan untuk melakukan tindakan koruptif.

Kalau di daerah bagaimana?

Daerah situasinya lebih memprihatinkan. Ada tren di level kementerian itu baik tapi begitu turun semakin ke bawah kecenderungan untuk transparansi itu semakin rendah. Di provinsi, di kabupaten itu semakin rendah transparansinya. Ini salah satu tantangan terberat kita bagaimana transparansi bisa masuk ke birokrasi paling bawah.

Banyak orang yang merasa keterbukaan informasi itu sesuatu yang membebani. Sebenarnya tidak. Keterbukaan informasi itu justru meringankan langkah birokrat di dalam pengelolaan keuangan.

Bagaimana agar praktik transparansi bisa berjalan baik di daerah?

Kabupaten Batang pernah melaksanakan festival anggaran. Semua dinas-dinas di bawah bupati dibuatkan festival dan mereka diminta untuk menayangkan semua anggaran yang mereka miliki. Dan masyarakat dipersilahkan datang melihat dan bertanya apa saja. Itu menumbuhkan kepercayaan pada publik. Apa yang dilakukan di Batang seperti ini bisa dikopi oleh pemerintah daerah yang lain.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan revolusi mental. Mengubah cara berfikir bahwa anggaran harus dikekepin dan tidak boleh orang tahu itu harus dihilangkan. Bahkan, anggaran itu harus dibuka seluas-luasnya dan biarkan masyarakat melihat. Kalau masyarakat melihat maka akan timbul partisipasi. Kalau masyarakat tidak tahu maka yang muncul adalah kecurigaan. Kalau sudah timbul kecurigaan, maka masyarakat tidak akan ikut berpartisipasi dalam program-program yang digagas oleh pemerintah.

Isu terkini, KPK dinilai tidak transparan. Bagaimana pendapat bapak?

Menurut saya, DPR salah dan terlalu memaksakan kehendak. DPR harus paham kalau KPK memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberika informasi. Tetapi ini tidak bisa sembarangan. Kalau KPK mau merahasiakan informasi maka dia harus memiliki argumen kenapa informasi itu ditahan.

Kalau dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi KPK harus melakukan uji konsekuensi. Uji konsekuensi adalah argumentasi kenapa informasi tidak diberikan. Apakah bertentangan dengan Undang-Undang tertentu ataukah akan mengganggu proses penegakan hukum. Kalau itu memang mengganggu proses penegakan hukum, sebenarnya KPK dilindungi oleh Undang-Undang untuk tidak memberikan informasi itu.

Lalu, seharusnya DPR bagaimana?

DPR tidak usah memaksakan kehendak. DPR bisa menempuh melalui mekanisme permohonan informasi sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi. Misalnya, secara formal DPR melayangkan surat ke KPK untuk menanyakan informasi terkait. Itu ada prosedurnya. Kalau KPK tidak mau memberikan informasi, DPR bisa mengadukan ke Komisi Informasi. Dan Komisi Informasi yang menilai apakah informasi yang diminta DPR bisa diberikan atau tidak.

Sayangnya, DPR tidak menempuh prosedur itu sebagaimana yang dijamin oleh Undang-Undang tetapi lebih mengedepankan aspek politiknya seperti membuat angket. Menurut saya, DPR terlalu berlebihan.

Kalau masalah transparansi Alfamart?

Masing-masing pihak kan sudah menjalani prosedur hukum. Kalau Alfamart tidak melakukan kasasi ke Mahkamah Agung, maka Alfamart menerima putusan pengadilan negeri dan dia harus menjalankan putusan itu. Kalau tidak mau menjalankan putusan, ada aspek hukum lain yang dilanggar.

Kasus ini sebenarnya kecil. Tapi sepertinya Alfamartnya yang ketakutan atau input-input yang diberikan pengacaranya menakut-nakuti Alfamart sehingga Alfamart mengajuka gugatan ke pengadilan.

Itu akan sangat mudah diselesaikan kalau Alfamart memiliki itikad baik. Kalau tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi Alfamart dan memberika laporan donasi ke Mustholih sebenarnya selesai. Publik justru menaruh curiga. Alfamart kok sampai menyewa pengacara yang mahal itu sebenarnya apa yang ditutupi.

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77619/kikis-korupsi-dengan-keterbukaan-informasi

Jalaludin Rumi

Sabtu, 08 Februari 2014

Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop!

Jalaludin Rumi - Di Jepara, pada November 2016, atraksi penggila bus mania yang meminta bunyi klakson khas telolet-telolet di sepanjang jalan raya antara Ngabul hingga Pecangaan, Jepara, dilarang oleh Polres setempat.

Alasannya, permintaan ratusan (bahkan ribuan) anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu dan juga kakek nenek yang berkumpul menunggu hadirnya bus telolet lewat, dianggap mengganggu lalulintas. Para penggila telolet bahkan ada yang datang dari Demak, Kudus dan sekitarnya, hanya untuk menyaksikan ramainya anak-anak meminta ke awak bus dengan spanduk "Om Telolet Om".

Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop! - Jalaludin Rumi
Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop! - Jalaludin Rumi


Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop!

Bunyi klakson bus yang awalnya digunakan oleh pengendara mobil di Arab untuk mengusir unta yang acap menghadang lalulintas perjalanan pengendara itu, ternyata disebut sebagai penyalahgunaan oleh kepolisian jika dialihkan fungsinya sebagai hiburan di pinggir jalan.

Anehnya, ketika di Jepara sudah tidak diperkenankan sebagai hiburan petang di pinggir jalan, di Amerika sana telolet malah menjadi trending topic. Bahkan Jalaludin Rumi mendapatkan kiriman video adanya 3 pemuda bule yang beraksi teriak-teriak ke truk sambil mengatakan dengan fasih, "Om Telolet Om".

Jalaludin Rumi

Om, artinya paman. Panggilan kehormatan buat pria, "pak". Tapi di kubu sana, ada-ada saja cara untuk mengkritik sesuatu yang bukan substansi. Di antara mereka ada yang menyebar BC yang isinya, kata "Om" berasal dari bahasa Bali kuno yang berati Tuhan, "telolet Adalah bahasa Swahili yang berarti Yahweh," tulisnya.

Ada lagi yang membuat status tuduhan di Facebook kalau Om Telolet adalah akal-akalan tokoh Yahudi Nelson Mandela yang dipolulerkan pada abad 20 SM, yang berarti "Setan Adalah Segalanya". Hahaha

Om Telolet Setan Adalah Segalanya Jadi, menurut pembuat BC itu, menyebut Om Telolet sama dengan menyebut Yahweh tuhan Yahudi. Wkwkwk. "Kalian sedang di yahudinisasi!", sarkasnya tegas. Padahal, orang bule yang berbahasa Inggris saja bingung maknanya sampai harus membuat tweet yang akhirnya viral. Mereka bertanya, "What is Om Telolet Om?". Ini salah satu screen shoot pertanyaan mereka.

Jalaludin Rumi

Telolet Om Om Telolet Om pun akhirnya dituduh sebagai pengalihan isu dan sekaligus pendangkalan akidah kepada akhi-akhi yang lemah iman karena sumbunya pendek, mudah digesek. Padahal itu hanya kalimat anak-anak yang bergembira meminta supir bus klakson telolet agar dibunyikan.

Wajah Indonesia yang harusnya damai dengan telolet menjadi sedikit muram dengan asumsi ngawur para sumbu pendek yang sedikit-sedikit langsung disebut pengalihan isu Ahok, Al Maidah 51 hingga pendangkalan akidah. Memang kok yah, paling bertauhid adalah mereka. Telolet sik Om, Telolet! [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sumbu-pendek-om-telolet-adalah-akal-akalan-yahudi.html

Rabu, 01 Januari 2014

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Selamat Tahun Baru Kawan

Kawan, sudah tahun baru lagi

Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)
Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan (Sumber Gambar : Nu Online)


Puisi Gus Mus: Selamat Tahun Baru Kawan

Belum juga tibakah saatnya kita menunduk memandang diri sendiri

Bercermin firman Tuhan, sebelum kita dihisab-Nya

Kawan siapakah kita ini sebenarnya?

Jalaludin Rumi

Muslimkah, mukminin, muttaqin,

Jalaludin Rumi

kholifah Allah, umat Muhammadkah kita?

Khoirul ummatinkah kita?

Atau kita sama saja dengan makhluk lain atau bahkan lebih rendah lagi

Hanya budak perut dan kelamin

Iman kita kepada Allah dan yang ghaib rasanya lebih tipis dari uang kertas ribuan

Lebih pipih dari kain rok perempuan

Betapapun tersiksa, kita khusyuk didepan masa

Dan tiba tiba buas dan binal disaat sendiri bersama-Nya

Syahadat kita rasanya lebih buruk dari bunyi bedug,atau pernyataan setia pegawai rendahan saja.

Kosong tak berdaya.

Shalat kita rasanya lebih buruk dari senam ibu-ibu

Lebih cepat dari pada menghirup kopi panas dan lebih ramai daripada lamunan 1000 anak pemuda.

Doa kita sesudahnya justru lebih serius memohon enak hidup di dunia dan bahagia dis urga.

Puasa kita rasanya sekadar mengubah jadual makan minum dan saat istirahat, tanpa menggeser acara buat syahwat, ketika datang rasa lapar atau haus.

Kita manggut manggut, ooh...beginikah rasanya dan kita sudah merasa memikirkan saudara saudara kita yang melarat.

Zakat kita jauh lebih berat terasa dibanding tukang becak melepas penghasilanya untuk kupon undian yang sia-sia

Kalaupun terkeluarkan, harapan pun tanpa ukuran upaya-upaya Tuhan menggantinya lipat ganda

Haji kita tak ubahnya tamasya menghibur diri, mencari pengalaman spiritual dan material, membuang uang kecil dan dosa besar.

Lalu pulang membawa label suci asli made in saudi "HAJI"

Kawan, lalu bagaimana dan seberapa lama kita bersama-Nya

atau kita justru sibuk menjalankan tugas mengatur bumi seisinya,

mensiasati dunia khalifahnya,

Kawan, tak terasa kita semakin pintar, mungkin kedudukan kita sebagai khalifah mempercepat proses kematangan kita paling tidak kita semakin pintar berdalih

Kita perkosa alam dan lingkungan demi ilmu pengetahuan

Kita berkelahi demi menegakkan kebenaran,mengacau dan menipu demi keselamatan

Memukul, mencaci demi pendidikan

Berbuat semaunya demi kemerdekaan

Tidak berbuat apa apa demi ketenteraman

Membiarkan kemungkaran demi kedamaian pendek kata demi semua yang baik halallah sampai yang tidak baik.

Lalu bagaimana para cendekiawan, seniman, mubaligh dan kiai sebagai penyambung lidah Nabi

Jangan ganggu mereka

Para cendekiawan sedang memikirkan segalanya

Para seniman sedang merenungkan apa saja

Para mubaligh sedang sibuk berteriak kemana-mana

Para kiai sibuk berfatwa dan berdoa

Para pemimpin sedang mengatur semuanya

Biarkan mereka di atas sana

Menikmati dan meratapi nasib dan persoalan mereka sendiri

KH Ahmad Mustofa Bisri

Puisi ini terdapat dalam buku Antologi Puisi Tadarus karya Gus Mus, terbitan Adicita Karya Nusa Yogyakarta, 2003.

Dari (Puisi) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74295/puisi-gus-mus-selamat-tahun-baru-kawan

Jalaludin Rumi

Rabu, 04 Desember 2013

Persatuan Guru NU Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Honorer K2

Jombang, Jalaludin Rumi. Terkatung-katungnya nasib guru honorer Kategori 2 (K2) membuat Ketua PC Persatuan Guru Nahdlatul Ulama (PERGUNU) Jombang Jawa Timur Ahmad Faqih, angkat bicara. Ia mendesak pemerintah daerah untuk memerhatikan para honorer K2 yang sebelumnya gagal saat tes CPNS beberapa waktu lalu.

Menurut Ahmad Faqih, pengabdian panjang para guru honorer K2 perlu dihargai Pemkab Jombang. Salah satunya dengan memberikan kesempatan khusus dalam tes seleksi CPNS berikutnya, sebelum melakukan penerimaan CPNS pada jalur umum.

Persatuan Guru NU Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Honorer K2 (Sumber Gambar : Nu Online)
Persatuan Guru NU Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Honorer K2 (Sumber Gambar : Nu Online)


Persatuan Guru NU Desak Pemerintah Perhatikan Nasib Honorer K2

"Mereka yang tidak lulus tes kemarin, sekarang mau diapakan? Mau dibiarkan saja tanpa solusi? Itu yang perlu dipikirkan," ujarnya, Jumat (4/4).

Kebutuhan tenaga pendidik yang masih cukup banyak di Jombang, sambung Faqih, sebaiknya diprioritaskan kepada guru yang sudah masuk dalam data honorer K2. Tidak perlu berpikir melakukan rekrutmen CPNS lewat jalur umum sebelum persoalan honorer K2 tuntas.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

Sebagaimana diberitakan, Kamis (3/4) kemarin, ratusan honorer K2 dari sejumlah SKPD menduduki kantor Pemkab Jombang menuntut kejelasan nasib mereka setelah dinyatakan gagal dalam tes seleksi CPNS pada jalur honorer.

Kendati sudah ada pertemuan antara guru honorer, Badan Kepegawaian Daerah, dan PGRI Jombang, namun sebanyak 913 guru honorer K2 yang tersisa belum menemukan titik terang. (Syaifullah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51231/persatuan-guru-nu-desak-pemerintah-perhatikan-nasib-honorer-k2

Jalaludin Rumi

Selasa, 19 Maret 2013

Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri

Jalaludin Rumi - Jika kita meneliti semua perang (ghazwah) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, maka kita akan mendapatkan bahwa kabilah-kabilah yang memerangi Nabi Saw adalah: (1) Quraisy, (2) Bani Ghatafân dan Anmâr, (3) Bani Sulaim, (4) Bani Tsa'labah, (5) Bani Fazârah dan `Udzrah, (6) Bani Kilâb dan Bani Murrah, (7) `Udhal dan al-Qârah, (8) Bani Asad, (9) Bani Dzakwân, (10) Bani Lahyân, (11) Bani Sa`ad bin Bakr, (12) Bani Hawâzan, (13) Bani Tamîm, (14) Bani Tsaqîf.

Bila kita meneliti dan mengenal semua kabilah ini, maka kita akan menemukan fakta yang menarik, bahwa mereka semua adalah kabilah yang berasal dari Mudhar atau yang terhubung dengannya. Sementara Mudhar adalah kakek Nabi Muhammad Saw.

Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri - Jalaludin Rumi
Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri - Jalaludin Rumi


Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri

Ini menunjukkan bahwa seluruh perang ini dilandasi atas kebencian dan kemarahan kerabat-kerabat Nabi Muhammad Saw kepada beliau. Karena memang kecemburuan yang terjadi antar kerabat dari satu nasab sangat cepat membakar api perang. Apalagi kita tahu karakter orang Arab sangat berambisi menghancurkan orang yang menyainginya dalam kemuliaan atau kekuasaan.

Yang membuktikan hal ini juga adalah dialog antara al-Akhnas dan Abu Jahal berikut ini: Al-Akhnas berkata: Wahai Abul Hakam, apa pendapatmu tentang hal yang kamu dengar dari Muhammad?

Jalaludin Rumi

Abu Jahal menjawab: Apa yang kamu dengar!! Kami dan Bani Abdi Manaf saling bersaing menjadi yang paling mulia dan dihormati; Mereka memberi jamuan makanan, maka kami juga memberi jamuan makanan. Mereka melunasi hutang dan membiayai orang yang tidak mampu, maka kami juga melakukan hal yang sama. Mereka memberi, kami juga memberi. Kami saling bersaing, mendahului dan merebut posisi terdepan, hingga saat mereka berkata dengan bangga: Nabi terakhir yang diberi wahyu dari langit merupakan anggota keluarga kami! Sekarang dengan cara apa kami bisa menandingi atau mendapat kemulian nabi! Demi Allah kami tidak akan beriman kepada Muhammad!

Fakta ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah bermaksud memerangi seluruh orang dan suku Arab atau memaksa mereka semua masuk agama Islam. Jika ini yang diinginkan oleh Nabi Saw, maka akan terjadi peperangan dengan seluruh suku dan kabilah Arab. Namun ternyata sejarah menulis bahwa semua kabilah yang memerangi Nabi Saw merupakan keturunan Mudhar, kakek Nabi Muhammad Saw. [Jalaludin Rumi]

Keterangan: Disarikan dari karya Maulana Syaikh Ali Jum'ah, Al-Jihad Fi Al-Islam, Hlm: 35 - 45

Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/atas-dasar-marah-dan-benci-kabilah-yang-memerangi-nabi-ternyata-kerabat-sendiri.html

Selasa, 31 Juli 2012

Tidak Setuju NKRI dan Pancasila, Silakan Gugat Kiai-Kiai Sepuh NU

Jalaludin Rumi - Sejarah telah membuktikan, peran Nahdlatul Ulama dalam mempertahankan NKRI tidak perlu diragukan lagi. Para ulama dan santri telah berkorban jiwa raga sejak bangsa ini belum merdeka. Bahkan, sampai saat ini pun Nahdlatul Ulama tetap konsisten terhadap sikap tasamuh kebhinekaan yang terus digelorakan untuk menjaga keutuhan NKRI memlalui penerimaannya terhadap ideologi Pancasila yang sudah final. Artinya, NKRI bagi Nahdlatul Ulama sudah harga mati.

Akhir-akhir ini, ada sebagian kelompok Islam yang bernama HTI yang secara massif bercita-cita mendirikan Khilafah Islamiyah. Atau ada juga FPI melalui Imam Besarnya, yang Mulia Habib Rizieq Syihab yang sering menyebut konsep NKRI Bersyariah. Tentu hal ini tidak menjadi masalah sebagai bagian kebebasan berpendapat dan akan mewarnai dinamika berfikir masyarakat. Tetapi sekali lagi tentu dua konsep di atas, Khilafah dan NKRI Bersyariah bertentangan dengan cita-cita ulama sepuh NU.

Tidak Setuju NKRI dan Pancasila, Silakan Gugat Kiai-Kiai Sepuh NU - Jalaludin Rumi
Tidak Setuju NKRI dan Pancasila, Silakan Gugat Kiai-Kiai Sepuh NU - Jalaludin Rumi


Tidak Setuju NKRI dan Pancasila, Silakan Gugat Kiai-Kiai Sepuh NU

Khilafah versi HTI adalah kepemimpinan umum bagi seluruh kaum muslim di dunia, itu artinya HTI tidak mau menerima konsep yang saat ini sudah ada, bangsa Indonesia sebagai salah satu bagian dari negara di dunia harus melebur jadi satu dengan negara-negara Islam lainnya di dunia untuk mendirikan negara Islam dengan satu pimpinan.

Tidak jauh berbeda dengan FPI dengan NKRI bersyariahnya, silahkan lihat di web resmi FPI salah satu tulisan yang di upload 2015 lalu (http://www.fpi.or.id/2015/10/nkri-bersyariah-vs-islam-nusantara.html) yang mengatakan bahwa bagi NKRI Bersyariah bahwa sistem khilafah adalah sistem yang harus ditegakkan, apalagi sudah berhasil membuktikan diri selama tiga belas tahun abad lebih sebagai sistem terbaik yang sukses memimpin dunia.

Jalaludin Rumi

Jelas dua konsep tersebut bertentangan dengan Nahdlatul Ulama yang secara tegas mengatakan NKRI yang berdasarkan ideologi Pancasila adalah sudah final dan Harga Mati. Sebagaimana telah tertuang dalam dalam keputusan Munas Alim Ulama NU tahun 1983 No. 11/MANU/1404/1983. Keputusan ini dikuatkan kembali pada saat Muktamar NU tahun 1984 di Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukerojo Situbondo yang saat itu di asuh oleh Almaghfurlah KH As’ad Samsul Arifin.

Selain itu, kalau kita mengingat pesan Almaghfurlah KH Sahal Mahfudz dalam beberapa kesempatan, kiai kharismatik ini mengungkapkan bahwa NU sejak awal mengusung ajaran Islam tanpa melalui jalur formalistik, lebih-lebih dengan cara membenturkannya dengan realitas secara formal. NU memiliki keyakinan bahwa syariat Islam dapat diimplementasikan tanpa harus melalui isntitusi formal.

Jalaludin Rumi

NU lebih mengidealkan subtansi nilai-nilai syariah terimplementasi di dalam masyarakat dibandingkan dengan mengidealisasikan institusi. Kehadiran institusi formal bukan jaminan untuk terwujudnya nilai-nilai syariah di dalam masyarakat. Ini mempertegas posisi NU bahwa tidak akan memperjuangkan syariat Islam secara formal apalagi mendesak megara menggunakan asas Islam dan Peraturan-Peraturan Daerah (Perda) Syariat Islam.

Mudahnya begini, bangsa ini bisa merdeka berkat perjuangan dari berbagai macam golongan, suku, dan agama. Sebagaimana analogi yang sering disampaikan oleh Wakil Rois Syuriah PWNU Jawa Timur KH Marzuki Mustamar bahwa bagi yang suka es teh manis, minuman yang paling mantap ya es teh manis. Tapi yang tidak suka karena diabetes tentu tidak bisa meminumnya. Bagi yang suka cendol minuman yang paling ‘maknyus’ ya es cendol, tapi bagaimana bagi yang terkena tekanan darah tinggi tentu tidak akan mau meminumnya. Lain halnya dengan air putih, memang rasanya tawar, biasa saja, dan mungkin tidak bisa memuaskan dua orang penyuka minuman tadi. Tetapi, istimewanya air putih bisa diminum dua orang tadi. Bukankah Indonesia ini ada untuk menyatukan berbagai ras, suku, dan agama? Bhineka Tunggal Ika adalah konsep yang luar biasa.

Lalu apakah jika kita tidak sepakat dengan konsep khilafah dan NKRI Bersyariah, lalu kita disebut sebagai Anti Islam dan Anti Syariah? Tentu tidak, yang sedang kita bicarakan adalah miskonsepsi kita tentang Agama Islam, bukan Agama Islamnya.

Sebagaimana yang pernah disampaikan oleh Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang KH Sholahuddin Wahid (Gus Sholah) di Bandung pada tanggal 27 Januari 2017 lalu bahwa jika berbicara syariat Islam atau dalam istilahnya yang Mulia Habib Rizieq Syihab disebut NKRI Bersyariah sesungguhnya sudah dicoret para Founding Father kita pada 18 Agustus 1945 dan dalam tataran Undang-Undang Dasar (UUD) sudah tidak ada lagi.

Namun, dalam produk legislasi, beberapa syariat dapat dimasukkan seperti telah ditetapkannya UU Perkawinan, UU Perbankan Syariah, dan Instruksi Presiden tentang Kompilasi Hukum Islam. Dari situlah, sudah jelas kiai-kiai sepuh NU beranggapan bahwa tidak perlu mengganti konsep NKRI yang berdasarkan ideologi Pancasila dengan konsep lainnya.

Kalau Anda merasa NU, dan tidak setuju dengan NKRI dan Pancasila mungkin Anda bisa menggugat kiai-kiai sepuh NU yang tentu kapasitas keilmuannya tidak diragukan lagi. Dan yang terpenting konsep NKRI yang berdasarkan ideologi Pancasila tidak melanggar ayat dan hadits manapun.

Dengan berbagai pertimbangan memalui forum musyawarahnya para kiai sepuh NU terdahulu sudah menganggap final konsep NKRI. Bahkan Almaghfurlah KH Ahmad Shidiq Jember beranggapan bahwa sesungguhnya Pancasila itu adalah meneladani sikap Nabi Muhammad dengan Piagam Madinahnya. [Jalaludin Rumi]

Muhammad Faishol, buruh di Gubuk Lentera Kota Malang

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/tidak-setuju-nkri-dan-pancasila-silakan-gugat-kiai-kiai-sepuh-nu.html

Minggu, 08 Juli 2012

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

Jalaludin Rumi - Kiai Raden As'ad Syamsul Arifin lahir pada 1897 M/1315 H di Syi'ib Ali, Makkah dari pasangan Raden Ibrahim dan Siti Maemunah. Ketika As'ad kecil lahir, oleh ayahnya, bayi mungil itu langsung dipeluk untuk dibawa menuju Ka'bah. Jarak sejauh 200 meter antara Syi'ib Ali dan Ka'bah tidak menjadi halangan untuk membawa bayi ini mendekat ke pusaran suci umat muslim. Raden Ibrahim kemudian membisikkan adzan dan memberi bayi itu nama As'ad.

Ketika berusia 13 tahun, As'ad kecil mondok di Banyuanyar di bawah asuhan Kiai Abdul Majid dan KH. Abdul Hamid. Pada usia 16 tahun, As'ad dikirim ayahandanya mengaji ke Makkah, tanah suci di mana ia dilahirkan. Ia belajar di Madrasah Shaulatiyyah. Selain itu, ia juga berguru kepada Sayyid Abbas al-Maliki, Syekh Hasan al-Yamani, Syekh Hasan Masyath, Syekh Bakir dan Syekh Syarif asy-Syinqithi. Ketika belajar di Makkah, As'ad bersama kawan-kawannya yang berasal dari Nusantara, di antaranya: KH. Zaini Mun'im, KH. Ahmad Thoha, KH. Baidhawi Banyuanyar Pameksaan dan beberapa santri lainnya.

KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda - Jalaludin Rumi
KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda - Jalaludin Rumi


KHR. Asad Syamsul Arifin, Mengomando Jawara di Kawasan Tapal Kuda

Pada tahun 1924, setelah bertahun-tahun belajar di Makkah, As'ad kembali ke kampung halaman. Ia merasa masih belum memiliki keilmuan yang cukup, meski keahlian ilmu agamanya sudah tidak diragukan. Sebagaimana tradisi santri Nusantara, As'ad kemudian meneruskan langkahnya untuk melakukan perjalanan ilmiah (rihlah ilmiyyah) sebagai santri petualang ilmu, dari pesantren satu ke pesantren lainnya. Kiai As'ad mengaji tabarrukan di beberapa pesantren di tanah Jawa dan Madura, antara lain: Pesantren Sidogiri Pasuruan (asuhan KH. Nawawi), pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo (asuhan KH. Khazin), Pesantren an-Nuqayah Guluk-Guluk Sumenep Madura, Pesantren Kademangan Bangkalan (KH. Muhammad Cholil) dan Pesantren Tebu Ireng Jombang.

Pengalaman mengaji di Makkah dan beberapa pesantren di Jawa-Madura membuat karakter pribadi serta keilmuan Kiai As'ad menjadi mendalam. Akan tetapi, Pesantren Tebu Ireng lah yang paling membentuk kepribadian Kiai As'ad. Ketika menyebut Kiai Hasyim As'ari (1875-1947) dan Pesantren Tebu Ireng, Kiai As'ad menunjukkan ta'dzim yang sangat tinggi.

Di bawah asuhan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari, Kiai As'ad menemukan karakter, wawasan, perspektif hingga semangat perjuangan untuk kemerdekaan. Di Tebu Ireng, Kiai As'ad berkawan dengan para santri pejuang, yang kelak menjadi garda depan Nahdlatul Ulama dan perjuangan kemerdekaan Indonesia. Di antaranya, yakni KH. Wahab Chasbullah (1888-1971), KH. Bisri Syansuri (1886-1980), KH. Abbas Buntet (1879-1946), KH. Wahid Hasyim, dan beberapa kiai lainnya.

Jalaludin Rumi

Mediator Berdirinya NU

Jalaludin Rumi

Dalam proses pendirian Nahdlatul Ulama, peran Kiai As'ad Syamsul Arifin sangat besar. Hal ini, karena beliaulah yang menjadi mediator antara Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari dan Syaichona Chalil Bangkalan. Pada masa menjelang berdirinya NU, Kiai Chalil Bangkalan mengutus Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menemui Kiai Hasyim Asy'ari.

Pesan Syaichona Chalil kepada Kiai Hasyim Asy'ari berwujud perlambang-perlambang yang menggambarkan konteks dan filosofi di balik pentingnya kesatuan ulama. Kiai As'ad diutus oleh Syaichona Chalil untuk menyampaikan sebuah tasbih dan ucapan surat Thaha (17-23), yang menceritakan mukjizat Nabi Musa dan tongkatnya—kepada Kiai Hasyim Asy'ari.

Kemudian, peristiwa ini terulang kembali, ketika Syaichona Chalil mengirim Kiai As'ad ke Tebu Ireng, untuk menyampaikan pesan berupa wirid "Ya Jabbar Ya Qahhar". Pesan simbolik berupa tasbih, surah Thaha dan wirid-wirid tersebut mengandung maksud bahwa Syaichona Chalil merestui pendirian Nahdlatul Ulama dan Hadratus Syaikh Hasyim Asy'ari menjadi pemimpin spritual ulama Nusantara. Peran penting Kiai As'ad, menjadikan beliau sering disebut sebagai mediator berdirinya Nahdlatul Ulama.

Kiai As'ad juga mengomando Laskar Sabilillah dan Hizbullah. Sosok Kiai As'ad sangat disegani oleh ketiga laskar di kawasan Tapal Kuda, yakni anggota Laskar Sabilillah, Hizbullah dan Pelopor. Kharisma Kiai As'ad menjadikan para kiai yang tergabung dalam barisan Laskar Sabilillah mendengarkan seluruh nasihat, wejangan dan komando Kiai As'ad.

Para santri dan pemuda yang tergabung dalam barisan Laskar Hizbullah juga setia pada strategi dan komando yang diberikan Kiai As'ad. Bahkan, para band1t yang bergerak dalam Barisan Laskar Pelopor juga sendika dawuh (tunduk) dengan perintah Kiai As'ad. Kombinasi ketiga laskar inilah yang menjadi senjata ampuh untuk melawan penjajah di kawasan Tapal Kuda.

Kiai As'ad bersama Kiai Abdus Shomad (sepupunya, pemimpin Seinin dan Keibodan), pada zaman Jepang, pernah mendapat kursus militer di Jember. Teknik dasar militer inilah yang menjadi pondasi strategi Kiai As'ad dan beberapa kiai lainnya, dalam menyusun rencana perjuangan militer yang dipadukan dengan kekuatan santri (Hasan, 2003: 82-84).

Berjuang Mengawal Negeri

Sosok Kiai As'ad Syamsul Arifin menjadi inspirasi bagi santri masa kini. Beliau memiliki keilmuan, kemampuan dan visi perjuangan yang lengkap. Kiai As'ad memiliki kedalaman ilmu agama yang tidak diragukan, mengusai ilmu militer dan bela diri, serta berhasil mengomando para b4ndit agar membantu perjuangan santri dalam mengawal kemerdekaan Indonesia.

Dalam catatan Syamsul A Hasan (2003), salah satu kecerdikan Kiai As'ad adalah kemampuannya dalam mengorganisir para jawara yang sebagian besar berasal dari kawasan Tapal Kuda. Para b4ndit dan jawara dari Banyuwangi, Situbondo, Bondowoso, Probolinggo, Jember, Lumajang dan Pasuruan dikumpulkan untuk diajak berjuang melawan penjajah Belanda.

Barisan band!t ini, kemudian dihimpun sebagai dengan satu nama: "Pelopor". Barisan Pelopor ini, sering berpakaian serba hitam, mulai dari baju, celana, hingga tutup kepala. Mereka menggunakan senjata celurit, rotan dan keris. Uniknya, para jawara yang berada di barisan Pelopor ini, tunduk dan setia pada komando Kiai As'ad Syamsul Arifin.

Kiai As'ad memerintahkan para pejuang Pelopor bagian logistik untuk mengirim pejuang yang berada di hutan. Pasukan Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pasukan lain berjuang dengan strategi gerilya. Mereka masuk gunung dan keluar gunung, untuk menyerang pasukan Belanda, lalu mengamankan diri. Mereka menggunakan taktik: "serang dan lari"! Strategi ini dilakukan oleh para santri yang tergabung dalam pelbagai laskar, hingga Negara Republik Indonesia diakui kedaulatannya oleh Belanda, pada Desember 1949.

Kiai As'ad mengutus beberapa anggota pasukan Pelopor dan Sabilillah untuk mengambil senjata milik pasukan Belanda. Di kawasan Situbondo, tugas ini dikomando oleh Mawie dan Hamid, barisan Sabilillah. Menariknya, mereka merekrut para brandal yang siap berjuang untuk negara Indonesia. Pada malam hari, para brandal dan preman ini, mengambil senjata-senjata milik Belanda di beberapa Pabrik Gula (PG) kawasan Situbondo.

Pada masa penjajahan, Pabrik Gula memegang peran vital sebagai lumbung ekonomi Belanda, hingga mendapat akses langsung ke birokrasi pusat. Di PG, para pekerja keamanan diberi fasilitas senjata. Setelah senjata terkumpul, kemudian dibagikan kepada anggota Pelopor, Sabilillah, Hizbullah, dan pejuang-pejuang lainnya.

Jaringan pejuang di kawasan Bondowoso dan Jember juga melakukan hal yang sama, merebut senjata dari pasukan Belanda. Para anggota Pelopor mengirim senjata ke markas pejuang Kiai As'ad, dengan melewati hutan belantara. Strategi ini, agar misi ini tidak diketahui oleh pasukan Belanda. Setelah sampai di Sukorejo, senjata-senjata ini dikumpulkan, disimpan di bawah lumbung padi, dipendam di masjid, atau ditanam di kuburan (Hasan, 2003: 131-134).

Salah satu motivasi dan petuah penting Kiai As'ad tentang perjuangan adalah bagaimana niat menjadi utama: "Perang itu harus niat menegakkan agama dan 'arebbuk negere (merebut negara), jangan hanya 'arebbuk negere! Kalau hanya 'arebbuk negere, hanya mengejar dunia, akhiratnya hilang! Niatlah menegakkan agama dan membela negara sehingga kalau kalian mati, akan mati syahid dan masuk surga!" (Rahman, 2015: 138).

Pemikiran, strategi dan teladan yang diwariskan oleh Kiai As'ad Syamsul Arifin harus menjadi semangat bagi santri masa kini. Apa yang bisa dipetik dari kisah Kiai As'ad? Bahwa santri harus tetap menjaga jalur pengetahuan (sanad) dengan para kiai, mendalami ilmu-ilmu agama yang menjadi benteng kokohnya Islam, merawat Nahdlatul Ulama, serta membela negeri ini kelompok yang ingin merusaknya. Semangat KH. Raden As'ad Syamsul Arifin dapat menjadi pedoman bagi santri untuk menjaga negeri, mengawal kesatuan bangsa ini. [Jalaludin Rumi].

Munawir Aziz, periset Islam Nusantara, Wakil Sekretaris LTN PBNU

Referensi:

- Ahmad Sufiatur Rahman. KH. R. As'ad Syamsul Arifin, Ksatria Kuda Putih Pejuang Negeri. Solo: Tinta Medina. 2015.

- Syamsul A Hasan. Kharisma Kiai As'ad di Mata Umat. Yogyakarta: PP Salafiyyah Syafi'yyah dan LKIS. 2003.

- M. Hasan Basri dan Chairul Anam. KH.R As'ad Syamsul Arifin: Riwayat Hidup dan Perjuangannya. Sahabat Ilmu. 1994.

KH. Abdul Aziz Masyhuri. 99 Kiai Kharismatik Indonesia: Riwayat, Perjuangan dan Doa. Yogyakarta: Kutub. 2008.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/11/khr-asad-syamsul-arifin-mengomando-para-jawara-kawasan-tapal-kuda.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock