Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pesantren. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Juli 2016

Dosen STAINU Antusias Ikuti PKL Ansor Lampung

Way Kanan, Jalaludin Rumi. Dosen Bahasa Arab Sekolah Tinggi Agama Islam Nahdlatul Ulama (STAINU) Kotabumi, Lampung Utara, Miftalif Albar antusias meningkatkan kapasitas diri dengan mengikuti Pendidikan Kepemimpinan Lanjutan (PKL) digelar PW GP Ansor Lampung di Pesantren Darus Sholihin Kabupaten Tulang Bawang Barat.

"Kegiatan ini memotivasi, menambah wawasan tentang keaswajaan, keorganisasian dan lain-lain. Materi diberikan pembicara mantap," ujar Ketua Ansor Way Tawar, Pakuan Ratu, Way Kanan itu di Panaragan, Kamis (20/10).

Dosen STAINU Antusias Ikuti PKL Ansor Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)
Dosen STAINU Antusias Ikuti PKL Ansor Lampung (Sumber Gambar : Nu Online)


Dosen STAINU Antusias Ikuti PKL Ansor Lampung

Alumnni PKD V GP Ansor Way Kanan itu menambahkan, tugas kader pemuda NU antara lain berperan aktif dalam menyosialisasikan ajaran agama kepada masyarakat sekitar. Mengajak para pemuda menyibukkan diri pada hal yang positif dan setidaknya bisa menjadi benteng dirinya.

Jalaludin Rumi

"Kami tentu berbangga hati, kader Ansor di beberapa anak cabang bergerak tepat untuk organisasi mendatang dengan merangkul sejumlah sarjana agar berhimpun dalam NU. Selanjutnya, peningkatan kapasitas individu bagi kader harus terus didorong mengingat tantangan zaman mendatang semakin beragam dan pelik," ujar Ketua GP Ansor Way Kanan Gatot Arifianto.

Jalaludin Rumi

Kepala Satuan Koordinator Wilayah (Satkorwil) Banser Lampung Tatang Sumantri mengharapkan pengkaderan berjalan sesuai target sehubungan kegiatan tersebut bertujuan menciptakan kepemimpinan berkualitas dengan kepemimpinan, sumber daya manusianya juga menjadi lebih maju.

GP Ansor Lampung menggelar PKL dan Susbalan sebagai upaya peningkatan kapasitas kader organisasi pemuda NU di salah satu provinsi di Sumatera itu. Materi kegiatan antara lain, Kepemimpinan Efektif, Manajemen Organisasi, Ke-GP Ansoran II, Aswaja II, Ke-NUan II.

Kegiatan diikuti 15 utusan dari kabupaten/kota se-provinsi Lampung, yaitu Way Kanan, Pringsewu, Tulang Bawang, Tulang Bawang Barat, Lampung Tengah, Lampung Utara, Lampung Barat, Lampung Selatan, Lampung Timur, Mesuji, Pesawaran, Tanggamus, Pesisir Barat, Kota Madya Bandar Lampung, dan Kota Madya Metro.

GP Ansor Way Kanan mengutus empat peserta PKL, yakni Ketua PAC Ansor Negara Batin Hozin Munir, Ketua PAC Ansor Gunung Labuhan Raden Hermawan Pamungkas, Triyono Ketua Ranting Ansor Purwa Negara, Negara Batin dan Miftalif Albar. Adapun untuk Kursus Banser Lanjutan (Susbalan), Bambang Setiyo, Kasatkorcab Banser Way Kanan dan Suyanto anggota Banser Satkoryon Pakuan Ratu, keduanya alumni Diklatsar Banser I Way Kanan. Kemudian Arif Makhfudin Ketua PAC Ansor Rebang Tangkas, alumni Dikltasar Banser IV. (Disisi Saidi Fatah/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72185/dosen-stainu-antusias-ikuti-pkl-ansor-lampung

Jalaludin Rumi

Minggu, 01 Desember 2013

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Jember, Jalaludin Rumi. Kiai Umar selain sebagai ulama dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono, Jember, Jawa Timur, juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Bahkan rumahnya yang menyatu dengan asrama santri pada zaman revolusi itu menjadi markas berkumpulnya para pejuang, khususnya di Jember bagian timur.

Hal tersebut diungkap oleh penulis buku "Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan" KH Sholeh Hayat saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Bedah Buku Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan di auditorium IAIN Jember, Sabtu (29/10).

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Menurutnya, jasa Kiai Umar dalam merebut kemerdekaan Indonesia juga tidak kecil. Bersama Kiai Asad Syamsul Arifin, ia bahu-membahu mengusir penjajah. Oleh karena itu, Kiai Sholeh berharap kepada pemerintah agar rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya. Sudah selayaknya rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya, karena punya nilai historis, lebih-lebih terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia, ucapnya.

Sepenggal cerita sempat dikuak oleh Kiai Sholeh. Katanya, suatu ketika rumah Kiai Umar dikepung oleh serdadu Belanda. Mereka curiga bahwa rumah tersebut menjadi tempat persembunyian para pejuang. Dengan pongahnya, mereka memasuki pekarangan rumah ayahanda Kiai Khotib itu. Namun Kiai Umar tak kurang akal. Semua pejuang dan tentara, disuruh ganti baju dan pakai kopiah layaknya santri. Sehingga Belanda tidak menemukan apa yang mereka cari, urainya.

Jalaludin Rumi

Harapan serupa juga dilontarkan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN. Harisudin. Menurutnya, apa yang diharapkan Kiai Sholeh tidaklah berlebihan. Sebab, Kiai Umar memang figur pejuang yang menjadi penggerak rakyat untuk melawan penjajah. Dan rumahnya difungsikan sebagai markas, yang menjadi sentral perjuangan di wilayah tersebut, ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Jalaludin Rumi

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72536/bekas-markas-pejuang-rumah-kiai-jember-ini-diusulkan-jadi-cagar-budaya

Jalaludin Rumi

Jumat, 22 November 2013

Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang menjadi hebat karena di belakangnya ada orang hebat. Pernyataan ini dibenarkan oleh khalayak. Hal ini mirip dengan pepatah Arab:



Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang yang tenar karena di belakangnya ada orang tersembunyi di belakangnya.

KH Aziz Mansur, Paculgowang, Jombang pernah bercerita, Pesantren Lirboyo Kediri yang hebat seperti sekarang inidengan ribuan santri dan alumni serta ilmu yang tersebar di berbagai pelosok negeri initak terlepas dari jasa dan peran seorang ibu.

Jalaludin Rumi

Alkisah, pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim yang mempunyai nama kecil Manab ditinggal wafat ayahnya dalam usia 6 tahun. Lalu ibunya dinikahi orang lain yang mempunyai latar belakang keluarga biasa (bukan dari kalangan kiai) dan hidup dalam balutan kekurangan dalam sisi ekonomi.

Jalaludin Rumi

Ibunda Manab yang bernama Salamah ini setiap hari membantu sang suami berdagang di pasar. Namun sayang, setiap kali ke pasar, acap kali ia melihat jarik bermotif batik tulis dengan harga selangit yang otomatis tidak terjangkau dalam kantong Ibu Salamah.

"Kapan ya aku bisa membeli jarik yang sedemikian bagusnya," kata Salamah dalam hati sembari mengelus-elus batik yang ia maksud.

Tiga tahun kemudian, dagangan yang ia jajakan laris sehingga Salamah mampu membeli batik yang sudah mengendap dalam angan-angannya selama ini.

Baru dipakai sekitar satu hingga dua bulan, saat berjalan menuju pasar, Salamah melewati satu rumah di mana terdengar suara tangisan dari dalam sana.

"Ada apa, Yu?" Tanyanya yang kemudian disahut sang pemilik rumah.

"Aku ini habis melahirkan, namun aku hanya memiliki satu helai pakaian saja. Andai pakaianku ini kupakaikan untuk anakku, aku pasti akan menjadi telanjang, namun jika tetap aku gunakan sendiri, anakku pasti akan kedinginan."

Mendengar aduan yang sedemikian menyayat hati, Salamah kemudian segera pulang. Jarik yang ia impikan tiga tahun silam dan baru dipakai sekitar satu bulan diambil, diberikan kepada wanita itu.

"Sudah, Yu, jarik yang masih bagus ini engkau gunakan, yang sudah lama punya kamu ini kau gunakan untuk popok anak kamu."

Sontak, wanita yang baru saja melahirkan menangis haru. Ia kemudian berdoa, "Semoga Allah memberikan kegembiraan kepadamu melalui perantara anak sebagaimana sekarang ini engkau membahagiakanku sebab aku bersedih karena urusan anak."

Akhirnya, karena hal-hal yang demikian itulah, di kemudian hari, muncul Pesantren Lirboyo atas segala nama kebesarannya.

Artinya, dalam kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa:

1. Bersedekah yang bernilai sangat tinggi adalah menyedekahkan sesuatu yang menjadi kesayangan kita. Dalam kalam hikmah disebutkan:

Bukan dinamakan orang yang pemurah kalau ia memberikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, kecuali kalau kamu memberikan apa yang kamu sukai dan tinggal sedikit saja yang ada di tanganmu.

Dalam Al-Quran juga disebutkan:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Ali Imran: 92)

2. Sayangilah anak kecil, tolonglah orang yang lemah, dan sedekahlah pada ahli ilmu. Pada pribadi mereka terdapat doa yang tulus yang tembus kepada Allah Taala sehingga kita mendapatkan berkah manfaatnya. (Mundzir)

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76246/kisah-keberkahan-sedekah-ibunda-kh-abdul-karim-lirboyo

Jalaludin Rumi

Senin, 17 Desember 2012

Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak

Jalaludin Rumi - Imsak berasal dari bahasa Arab amsaka yumsiku imsak yang berarti menahan. Secara istilah yang umum dipahami adalah saat seseorang sebaiknya memulai untuk berhenti makan sahur agar tidak terlewat hingga masuk Subuh.

Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak - Jalaludin Rumi
Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak - Jalaludin Rumi


Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ashim berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Tsabit telah menceritakan kepadanya, bahwa mereka pernah sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku bertanya, Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh? Dia menjawab, antara lima puluh hingga enam puluh ayat. (HR Bukhari 541 )

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah mengabarkan kepada kami Waki’ dari Hisyam dari Qatadah dari Anas dari Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu, ia berkata; Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sesudah itu kami beranjak untuk menunaikan shalat. Saya bertanya, kira-kira berapa lama jarak antara makan sahur dan shalat. Ia menjawab, kira-kira selama pembacaan lima puluh ayat. (HR Muslim 1837).

Hadis-hadits ini menunjukkan bahwa jarak menahan (imsak) antara bersahurnya Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan sholat Subuh adalah sekitar pembacaan 50 ayat dan jumhur ulama sepakat sekitar 10 menit sebelum azan Subuh.

Mereka yang melarang atau mengharamkan waktu Imsak adalah akibat pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir terhadap riwayat-riwayat sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu terhalang dari makan sahur karena adzan Bilal”. Padahal adzan Bilal bukanlah adzan Subuh.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah sekali-laki adzan Bilal menghalangi kalian untuk makan dan minum. Atau beliau bersabda: Adzan Bilal pada waktu sahur. Sesungguhnya ia adzan hanya untuk membangunkan kalian (HR Bukhari 4887)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimi dari Abu ‘Utsman Al Hindi dari ‘Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Adzannya Bilal tidaklah menghalangi seorang dari kalian, atau seseorang dari makan sahur nya, karena dia mengumandangkan adzan saat masih malam, supaya orang yang masih shalat malam dapat pulang dan untuk mengingatkan mereka yang masih tidur. Dan Bilal adzan tidak bermaksud memberitahukan masuknya waktu fajar atau subuh. (HR Bukhari 586)

Jelaslah makna “Janganlah kamu terhalang dari makan sahur karena adzan Bilal” adalah adzan pertama sebelum waktu Subuh untuk membangunkan mereka yang masih tidur.

Oleh karenanya, sebagian ulama berpendapat untuk menghilangkan kesalahpahaman, menggantikan adzan pertama sebelum adzan Subuh dengan pengingat waktu sahur atau sekedar pembacaan shalawat. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/salah-paham-menafsiri-hadits-imsak.html

Kamis, 09 Agustus 2012

Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir

Orang sekitar Desa Cangkring Ngrandu Perak Jombang Jawa Timur, tentu tidak asing dengan masjid besar dan megah yang berdiri kokoh di tengah sawah ini. Bagi sebagian sales sejumlah produk dan mereka yang melangsungkan perjalanan melelahkan seharian menuju rumah, beristirahat di masjid ini seakan menambah stamina baru.

Sederet motor dan mobil terparkir rapi. Mereka beristirahat sejenak untuk memulihkan stamina setelah seharian berkeliling. Secara bergiliran, mereka melaksanakan shalat Ashar atau Dhuhur dan dilanjutkan dengan bercengkrama sejenak.

Masjid ini menjadi semacam rest area usai menaklukkan perjalanan yang melelahkan. Lokasinya yang berada di pinggiran jalur utama yang menghubungkan Ngrandu dengan desa sebelah, membuatnya menjadi jujugan. Pemandangan sekitar berupa persawahan dan pepohonan rindang kian memanjakan mereka yang berkenan berhenti sejenak.

Fasilitas masjid yang bisa dinikmati secara gratis kian memanjakan sejumlah orang untuk singgah. Toilet dengan ketersediaan air yang melimpah, demikian juga bangunan masjid yang luas serta bersih juga menjadi alasan mereka mampir.

Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid Cangkring, Pelepas Lelah para Musafir

Dan bila waktu menjelang Ashar, para musafir disuguhkan dengan pemandangan anak-anak yang tengah sibuk mengaji. Tidak hanya itu, para ibu yang mengantar turut dalam kegiatan mengaji. Para ibu muda dan mereka yang telah berumur, tidak merasa risih apalagi malu untuk belajar membaca al-Quran, bersaing dengan anak-anak mereka yang masih belia.

Setidaknya, inilah nuansa berbeda dari masjid tengah sawah di wilayah Cangkring Ngrandu ini. Sang pengasuh, Syaifullah Hidayat. LC, MHi dengan tiada henti menyapa dan memperhatikan perkembangan para santrinya dengan penuh kebanggan.

Adalah bapak H Nur Hasan, tokoh masyarakat di desa ini yang merasa prihatin dengan perkembangan masyarakat yang jauh dari nilai agama. Orang boleh banga dan mengklaim Jombang sebagai kota Santri, tandas Gus Syaiful, sapaan kesehariannya. Tapi untuk daerah ini, justru nuansa abangan yang lebih mengemuka, lanjut pria kelahiran Jember tahun 1976.

Jalaludin Rumi

Singkat cerita, H Nur Hasan yang juga penghulu di era tahun 1990-n memasrahkan tanahnya seluas satu hektar untuk dijariyahkan kepada KH Djamaluddin Ahmad yang lebih akrab disapa dengan Kiai Jamal. Sebelum dipasrahkan, itikad baik ini dikonsultasikan kepada guru Kiai Jamal yakni KH Jalil di Tulungagung. Atas saran sang guru, hendaknya di wilayah tersebut dibangun masjid yang lebih besar dari Masjid Muhibbin yang dimiliki Pesantren Tambakberas.

Memboyong Tambakberas

Jalaludin Rumi

Mendapatkan tanah seluas itu tentu membanggakan. Namun tantangan selanjutnya adalah merealisasikan lahan sesuai harapan H Nur Hasan. Dan Kiai Jamal akhirnya membiayai seluruh biaya pembangunan masjid sehinga tahun 2005 bisa berdiri megah seperti sekarang. Berdirinya baitullah seakan membawa pesan bahwa akan ada perhatian dan sejumlah kegiatan bagi warga sekitar khususnya dalam masalah keagamaan yang selama ini jarang mereka terima.

Pertimbangan lain, masjid ini menjadi solusi dari sejumlah masjid setempat yang tidak mampu lagi menampung jamaah, tandas suami dari Ny Zuhrotul Makiyah binti Kiai Jamal ini. Dan kepercayaan tersebut dilanjutkan dengan didirikannya Madrasah Ibtidaiyah Al-Anwar setahun berikutnya. Untuk pembangunan dan pembiayaan operasional madrasah kembali menjadi tangungjawab penuh Kiai Jamal. Bangunan madrasah terletak di selatan kediaman alumnus Fakultas Syariah Al-Ahgaff University Yaman ini yang juga arah selatan masjid.

Kini madrasah mendapatkan kepercayaan masyarakat dan telah berdiri juga Madrasah Tsanawiyah, tandas alumnus Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas. Ya, sejumlah kepercayaan dibayar dengan langkah nyata. Bahkan telah mulai dipikirkan mendirikan asrama dan pesantren bagi para siswa dan warga sekitar yang hendak memperdalam pemahaman dan praktik keagamaan. Mohon doanya, pinta alumnus pasca sarjana Universitas Islam Malang ini.

Yang membedakan madrasah ini dengan sejumlah sekolah dan madrasah di daerah sekitar adalah berusaha mempertahankan ciri khas Pesantren Tambakberas. Yang kental adalah adanya penulisan arab pego, tandas putra pasangan H Mohammad Subtoni-Hj Munjidah ini. Dengan demikian, para siswa akan mengenal huruf hijaiyah secara baik serta mampu menuliskan dengan benar. Produk Tambakberas lain yang diboyong adalah hafalan kosa kata bahasa Arab, pelajaran tajwid dan sejenisnya. Dengan demikian ciri Tambakberas juga ada di madrasah kami, kata ayah tiga anak ini.

Dengan sejumlah kelebihan yang dimiliki, diharapkan akan lahir para siswa dan santri yang memiliki pemahaman keagamaan kuat dengan diramu kemampuan dalam menerima ilmu baru demi khidmat kepada masyarakat.

Ya. Tantangan jaman semakin berat. Jalan terbaik adalah membekali generasi muda dan masyarakat dengan pemahaman keagamaan sebagaimana diwarisi salafus shalih. Tidak ada salahnya belajar ke kampung Cangkring. (Saifullah)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49536/masjid-cangkring-pelepas-lelah-para-musafir

Minggu, 20 November 2011

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pada hari lahir (harlah) NU ke-89, akun Twitter Jalaludin Rumi (@NU_Online) dibanjiri ucapan selamat dari berbagai kalangan yang disertai beragam ungkapan. Kemudian Jalaludin Rumi menginisiasi tagar #Harlah89NU. Tagar tersebut sempat jadi trending topic Indonesia.

Merk kaos 1926 kemudian mengapresiasi netizen yang ngetwitt #Harlah89NU dengan tambahan peran #AnakMudaNU juga mention @NU_Online. Apresiasi ditunjukkan 1926 dengan menghadiahkan dua kaos bagi yang ngetwitt terbaik.

Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)
Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU (Sumber Gambar : Nu Online)


Apresiasi 1926 Bagi Twitt Peran #AnakMudaNU

Dua pemenang telah diumumkan hari ini Selasa (3/2) di Twitter Jalaludin Rumi pukul 19.00. Dua pemenang yaitu akun @lailiynurul dan @Ysrnrfq.

Menurut @lailiynurul, anak muda NU hari ini tak hanya bergelut di bidang dakwah dan aktivis, tapi banyak juga yang berkarir dalam bidang hubungan internasional, kedokteran, teknik. Itu yang dia saksikan di Universitas Brawijaya.

Jalaludin Rumi

Ia juga menilai anak muda NU tidak mendikotomikan ilmu umum dan agama. Lebih jauh ia mengapresiasi anak muda NU yang lebih arif dalam hal keberagaman.

Jalaludin Rumi

Sementara @Ysrnrfq berpendapat, organisasi pemuda NU seperti IPNU-IPPNU, PMII, KMNU juga harus bersinergi untuk membangun negeri. Anak muda NU harus bersaing dalam era globalisasi saat ini. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/57394/apresiasi-1926-bagi-twitt-peran-anakmudanu

Jalaludin Rumi

Minggu, 02 Oktober 2011

Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja

Jalaludin Rumi - Sebutlah Anda seorang koruptor atau pelaku kejahatan keuangan yang masih tradisional. Anda tak tahu apa bagaimana cara mencuci uang lewat perusahaan cangkang di Panama, atau mencucinya lewat crypto currency. Uang Anda ini bisa berasal dari berbagai sumber: korupsi, penjualan narkoba atau senjata, penggelapan, atau menghindari pajak. Istilahnya 'black money' atau 'uang gelap'.

Anda tak bisa menyetorkan uang ke bank, karena pasti akan ketahuan aparat dan petugas pajak. Selain itu Anda perlu mendistribusikan uang tersebut ke pihak lain secara sederhana, sedikit demi sedikit tanpa menimbulkan kecurigaan. Maka yang paling mungkin adalah anda tumpuk dan timbun uang itu, di satu tempat atau tempat terpisah. Jumlahnya sudah tak karuan lagi.

Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja - Jalaludin Rumi
Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja - Jalaludin Rumi


Uang Palu Arit Ditarik, Uang Hasil Korupsi Ditimbun Saja

Pada suatu hari, kepala negara dan otoritas bank sentral negara anda mengumumkan: menarik semua mata uang pecahan lama, dan menggantinya dengan pecahan baru. Anda hanya diberikan waktu 50 hari untuk menukar. Lebih dari itu, uang lama tidak akan berlaku lagi.

Pastilah Anda panik. Bagaimana pula cara menukarkan uang tunai sebanyak itu dalam waktu singkat dan tidak terdeteksi otoritas? Kalau Anda bawa uang tunai Rp 1 miliar ke bank untuk ditukarkan ke mata uang baru, pastilah dimintai identitas minimal KTP. Sukur-sukur bukan NPWP.

Jalaludin Rumi

Kalau timbunan uang anda hanya Rp 1 miliar sih tidak masalah. Tapi kalau sudah puluhan atau ratusan miliar, atau bahkan triliunan, bila digabung dengan para sejawat Anda yang lain, Anda pasti frustasi. Apalagi makin hari makin canggih sistem dan teknologi pelacakan uang menggunakan nomor seri.

Jalaludin Rumi

Itulah yang terjadi di India akhir tahun kemarin ketika PM India Narendra Modi hendak memberangus tindak pidana pencucian uang, penggelapan, korupsi, penggelapan pajak dan peredaran uang palsu. Pecahan 500 dan 1.000 rupee dinyatakan tidak berlaku lagi. Istilahnya demonetisasi.

Tentu menimbulkan gejolak dan protes, karena hanya diberi waktu 50 hari untuk penukaran. Orang-orang kaya mengakalinya lewat kerjasama dengan orang miskin agar bisa meminjam rekening sebagai perantara. Banyak juga yang bergegas ke toko perhiasan dan butik, memohon agar uang pecahan lama mereka bisa diterima.

Ada juga yang mengakali dengan cara membayar upah pekerja atau layanan jasa di depan secara sekaligus untuk satu tahun. Tak sedikit pula yang pasrah dan menerima uang mereka tak lebih berharga dibanding tisu toilet. Bahkan di Sungai Gangga ditemukan banyak uang 1.000 rupee mengambang.

Banyak orang marah dan melawan. Terutama mereka yang menimbun 'black money'. Bahkan langkah ini harus dibayar oleh India dengan menurunnya pertumbuhan ekonomi 2016 dan diprediksikan masih akan turun lagi di 2017.

Di Indonesia belakangan juga banyak yang marah dan menuntut penarikan mata uang baru. Ada lambang palu arit, katanya. Tapi ini bukan kisah palu arit, melainkan black money. Di India, bukan Indonesia. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/uang-palu-arit-ditarik-uang-hasil-korupsi-ditimbun-saja.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock