Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Habib. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Jalaludin Rumi - Suatu ketika KH. Zainal Arifin, pengasuh PP. Al-Arifiyyah, Medono, Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia menjemput KH. Abdurrahman Wachid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di kota Pekalongan.

Waktu itu panitia minta didampingi Kyai Zainal untuk menjemput Gus Dur karena sedang mengisi pengajian di Semarang Jawa Tengah. Seusai acara dan ramah tamah dengan para tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongan Kyai Zainal dan panitia ke Kota Pekalongan. Waktu menunjukkan pukul 01.00 atau 02.00 dini hari.

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran



Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur, Kyai Zainal dan panitia mempersilakan Gus Dur istirahat di mobil yang melaju dengan tenang. Jalur pantura pada jam segitu juga sudah lengang.

Kita tahu Gus Dur kondisi fisiknya terbatas, kesehatannya juga mulai menurun, serta jadwal juga padat. Tentu saja sesuai logika normal, aktivitas ini akan menguras tenaga dan pikiran Gus Dur. Tapi, alih-alih istirahat di dalam mobil yang melaju dengan tenang tersebut, Gus Dur malah masih membaca Al Qur'an secara bil ghoib (hapalan tanpa teks).

Justru Kyai Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat dibanding Gus Dur sudah kecapekan duluan dan hampir terlelap. Mereka kaget mendengar Gus Dur dengan suara yang lamat-lamat mendaras Al Qur'an secara lisan.

Mendengarnya, kontan rasa kantuk Kyai Zainal dan panitia lainnya, hilang. Mereka menyimak hafalan Gus Dur. Tak terasa satu jam lewat, sampailah rombongan itu di Pekalongan. Air mata Kyai Zainal beserta panitia lainnya tumpah ruah.

Ia membayangkan orang yang selama ini sering di salahpahami pelbagai pihak, dicaci maki, dikutuk, dikafirkan, difitnah, dicemooh, dan seterusnya, malam itu dengan kondisi kesehatan yang terbatas dengan kelelahan yang luar biasa ternyata masih menyempatkan membaca Al Qur'an dengan hapalan sampai lima juz lebih!

Inilah salah satu kebiasaan Gus Dur ketika dalam perjalanan. Masyaallah, alih-alih baca Al-Qur'an, kita berdoa saja kadang lupa, malah memilih mendengarkan musik. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/menuju-acara-kebiasaan-gus-dur-di-mobil-adalah-membaca-alquran.html

Rabu, 15 Juni 2016

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Wonosobo, Jalaludin Rumi. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) memberikan modal usaha kepada 120 fakir miskin. Pemberian secara simbolis dilakukan pada Istighosah dan Pengajian sebagai salah satu rangkaian Rapat Pleno PBNU di kampus Unsiq, Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat malam (6/9).

Menurut Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Maruf, total sumbangan kepada mereka adalah 120 juta rupiah. Sumbangan didapat PP LAZISNU dari dana kebajikan CIMB Niaga Syariah di Jakarta pada akhir Ramadhan lalu.

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)


PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Penerima tidak hanya warga di Wonosobo, tapi di beberapa LAZISNU cabang pulau Jawa, Cabang Kalimantan dan Sumatera, jelasnya.

Jalaludin Rumi

Amir menjelaskan, kriteria warga yang diberi sumbangan adalah, tergolong fakir miskin dan mereka memiliki potensi pembangunan usaha. Supaya duit itu tidak konsumtif, tapi untuk modal usaha.

Kemudian, kata Amir, LAZISNU tidak melepas begitu saja. Supaya sesuai dengan tujuan, LAZISNU mendampingi mereka di bidang marketing, manajemen, dan pendampingan rohani, Problem pemberdayaan umat itu tidak hanya pada modal, tapi soal pendampingan yang tiga itu, katanya.

Manajemen diperlukan untuk mendorong mempu mengelola modalnya. Marketing , supaya mereka mampu memasarkan produknya. Pendampingan rohani dilakukan karena fakir itu dekat dengan kekufuran, dan dekat dengan kepasrahan dan menyerah.

Jalaludin Rumi

Yang jelas, kata Amir, LAZISNU berpandangan bahwa mereka tidak cukup diberi modal usaha, tapi didampingi, ditongkrongin.

Kemudian nanti dilakukan evaluasi pada forum-forum bulanan yang dikemas pada saat pengajian, sharing persoalan, dan pemecahan masalah. Di samping tim lazisnu melakukan monitoring langsung.

Penyerahan modal usaha tersebut diberikan secara simbolis oleh Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil SIroj dan perwakilan CIMB Niaga Cabang; kepada Slamet Sugiyarto dari Kalibeber dan Darsinah dari Jaraksari. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46887/pp-lazisnu-beri-modal-usaha-120-fakir-miskin

Jalaludin Rumi

Senin, 24 Agustus 2015

Pejabat FIFA: Qatar Batal Jadi Penyelenggara Piala Dunia 2022

Jakarta, Jalaludin Rumi. Piala Dunia 2022 tidak jadi diadakan di Qatar karena suhu terik di negara Timur Tengah tersebut, kata anggota Komite Eksekutif FIFA Theo Zwanziger, Senin seperti dilansir oleh Reuters.

"Saya pribadi berpikir bahwa pada akhirnya Piala Dunia 2022 tidak akan berlangsung di Qatar," katanya kepada Sport Bild, Senin.

Pejabat FIFA: Qatar Batal Jadi Penyelenggara Piala Dunia 2022 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pejabat FIFA: Qatar Batal Jadi Penyelenggara Piala Dunia 2022 (Sumber Gambar : Nu Online)


Pejabat FIFA: Qatar Batal Jadi Penyelenggara Piala Dunia 2022

"Petugas medis mengatakan bahwa mereka tidak dapat bertanggung jawab dengan Piala Dunia jika dilangsungkan dengan kondisi ini," kata mantan kepala sepak bola Jerman (DFB), yang kini menjadi anggota badan dunia sepak bola FIFA. Qatar ditetapkan sebagai tempat turnamen pada tahun 2010.

Meskipun Qatar telah menegaskan bahwa Piala Dunia musim panas layak diselenggarakan berkat teknologi pendingin untuk stadion, tapi masih ada permasalahan yang menjadi perhatian, khususnya untuk area pelatihan dan zona untuk para suporter.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

"Mereka mungkin dapat mendinginkan stadion tapi Piala Dunia tidak hanya terjadi di sana," kata Zwanziger.

"Fans dari seluruh dunia akan datang dan bepergian dalam panas dan kasus yang mengancam jiwa akan memicu penyelidikan oleh jaksa.

"Itu bukan sesuatu yang anggota Exco FIFA ingin jawab."

FIFA ingin menggeser turnamen ke tanggal musim dingin Eropa untuk menghindari musim panas terik di mana suhu secara rutin meningkat lebih dari 40 Celsius.

Namun, pembicaraan tentang potensi perubahan dari yang biasa tanggal Juni-Juli telah mengakibatkan banyak oposisi dari liga domestik di seluruh dunia, khawatir perubahan jadwal akan mengganggu mereka.

Baik FIFA dan penyelenggara Piala Dunia Qatar telah menangkis pertanyaan adanya korupsi sejak mereka ditunjuk sebagai penyelenggara turnamen pada tahun 2010. Qatar juga telah dikritik atas kondisi para pekerja migran yang membangun para stadion di negara Teluk kecil tapi kaya itu. (mukafi niam) foto: reuters

Dari (Internasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/54654/pejabat-fifa-qatar-batal-jadi-penyelenggara-piala-dunia-2022

Jalaludin Rumi

Kamis, 01 Agustus 2013

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Oleh Rhenald Kasali Jalaludin Rumi - Dalam perjalanan pulang ke Jakarta dari Frankfurt, duduk di sebelah saya salah seorang CEO perusahaan terkemuka Indonesia. Pria berkebangsaan India yang sangat berpendidikan itu bercerita tentang karir dan perusahannya.

Gerakan keduanya (karir dan perusahaannya) begitu lincah. Tidak seperti kita, yang masih rigid, terperangkap pola lama, seakan-akan semua layak dipagari, dibuat sulit. Perusahaan sulit bergerak, impor-ekspor bergerak lambat, dwelling time tidak konsisten. Sama seperti karier sebagian kita, terkunci di tempat. Akhirnya hanya bisa mengeluh.

Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - Jalaludin Rumi
Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng - Jalaludin Rumi


Penyebar Berita Kebencian Itu Mestinya Lebih Rajin Jalan-Jalan ke Luar Negeri Biar Tidak Cengeng

Pria itu dibesarkan di India, kuliah S-1 sampai selesai di sana, menjadi alumni Fullbright, mengambil S-2 di Amerika Serikat, lalu berkarir di India sampai usia 45 tahun. Setelah itu menjadi CEO di perusahaan multinasional dari Indonesia.

Perusahaannya baru saja mengambil alih sebuah pabrik besar di Frankfurt. Namun karena orang di Frankfurt masih kurang yakin dipimpin eksekutif dari emerging countries, ia membujuk pemasoknya dari Italia agar ikut memiliki saham minoritas di Frankfurt. Dengan kepemilikan itu, pabrik di Frankfurt dikelola eksekutif dari Eropa (Italia).

Solved!

Jalaludin Rumi

Itu adalah gambaran dari agility. Kelincahan bergerak yang lahir dari fenomena borderles world. Anehnya juga kita mendengar begitu banyak orang yang cemas menghadapi perubahan. Dunia sudah lebih terbuka, mengapa harus terus merasa sulit? Susah di sini, bisa bergeser ke benua lain. Tak ada lagi yang sulit. Ini tentu harus disyukuri.

Serangan Tenaga Kerja

Belum lama ini kita membaca berita tentang kegusaran seseorang yang tulisannya diforward kemana-mana melalui media sosial. Mulai dari berkurang agresifnya angka pertumbuhan, sampai serangan tenaga kerja dari China.

Berita itu di-forward kesana – kemari, sehingga seakan-akan tak ada lagi masa depan di sini. Yang mengherankan saya, mengapa ia tidak pindah saja bekerja dan berimigrasi ke negara yang dipikirnya hebat itu?

Bekerja atau berkarir di luar negri tentu akan menguntungkan bangsa ini. Pertama, Anda akan memberi kesempatan kerja pada orang lain yang kurang beruntung. Dan kedua, Anda akan mendapatkan wisdom, bahwa hal serupa, komplain yang sama ternyata juga ada di luar negri.

Rekan saya, CEO yang saya temui di pesawat Lufthansa tadi mengeluhkan tentang negerinya. “Orang Indonesia baik-baik, bekerja di Indonesia menyenangkan. Kalau diajari sedikit, bangsa Anda cepat belajar. Pikiran dan tindakannya terstruktur. India tidak! Di India politisi selalu mengganggu pemerintah. Irama kerja buruh tidak terstruktur. Pertumbuhan ekonomi terlalu cepat, membuat persaingan menggila. Rakyatnya makin konsumtif dan materialistis.” Kalimat itu ia ucapkan berkali-kali.

Susah? Kerja Lebih Profesional!

Di Italia, guide saya, seorang kepala keluarga berusia muda mengantar saya melewati ladang-ladang anggur di Tuscany, menolak menemani makan siang yang disajikan mitra kerja Rumah Perubahan di rumahnya yang indah. “Biarkan saya hanya makan salad di luar. Saya dilarang makan enak saat mengemudi,” ujarnya.

Kepada putra saya ia mengajari. "Saat bekerja kita harus bekerja, harus profesional, gesit dan disiplin. Cari kerja itu sulit, mempertahankannya jauh lebih sulit. Kita harus lebih kompetitif dari orang lain kalau tetap ingin bekerja," ujarnya.

Di dalam vineyard-nya yang indah, rekan saya menyajikan aneka makanan Italia yang lezat, lengkap dengan demo masak dan ritual mencicipi wine yang dianggap sakral. Di situ mereka berkeluh kesah tentang perekonomian Eropa yang terganggu Yunani belakangan ini. Dan lagi-lagi mereka menyebutkan kehidupan yang nyaman itu ada di Pulau Dewata, Bali dan Pulau Jawa.

Ketika saya ceritakan bahwa kami di Indonesia juga sedang susah, dia mendengarkan baik-baik. “Dari dulu kalian terlalu rendah hati, selalu merasa paling miskin dan paling susah. Ketika kalian sudah menjadi bangsa yang kaya, tetap merasa miskin. Tetapi, saya tak pernah melihat bangsa yang lebih kaya, lebih merdeka, lebih bahagia, dari pada Indonesia.” Saya pun terdiam.

Di Singapura, saya mengirim berita tentang komplain terhadap masalah dollar AS dan ancaman kesulitan pada rekan lain yang sudah lima tahun ini berkarir di sana. Ia pun menjawab ringan, “Suruh orang-orang itu kerja di sini saja.”

Tak lama kemudian ia pun meneruskan. “Kalau sudah kerja di sini baru tahu apa artinya kerja keras dan hidup yang fragile.”

Saya jadi teringat curhat habis-habisan yang ia utarakan saat saya berobat ke negeri itu. “Mana bisa konkow-konkow, main Facebook, nge-tweet di jam kerja? Semua harus disiplin, berani maju, kompetitif, dan siap diberhentikan kalau hasil kerja buruk. Di negeri kita (Indonesia), saya masih bisa bersantai-santai, karyawan banyak, hasil kerja tidak penting, yang penting bos tidak marah saja,” ujarnya.

Saat itu ia tengah menghadapi masa probation atau percobaan. Sungguh khawatir kursinya akan direbut pekerja lain dari India, Turki, dan Prancis yang bahasa Inggrisnya lebih bagus, dan ritme kerjanya lebih cepat. Ternyata bekerja di negeri yang perekonomiannya bagus itu juga tidak mudah. Padahal di sana mereka lihat kerja yang enak itu ya di sini.

Bangsa Merdeka Jangan Cengeng

Saya makin terkekeh membaca berita yang disebarluaskan para haters melalui grup-grup WA, bahwa pemerintah sekarang tidak perform, membiarkan sepuluh ribuan buruh dari China merangsek masuk ke negeri ini. Sungguh, saya tak gusar dengan serangan tenaga kerja itu. Yang membuat saya gusar adalah kalau hal serupa dilakukan bangsa-bangsa lain terhadap tenaga kerja asal Indonesia di luar negeri.

Penyebar berita kebencian itu mestinya lebih rajin jalan-jalan ke luar negeri. Bukankah dunia sudah borderless, tiket pesawat juga sudah jauh lebih murah. Cara menginap juga sangat mudah dan murah. Kalau saja ia rajin, maka ia akan menemukan fakta-fakta ini: Sebanyak 300.000 orang tenaga kerja Indonesia bekerja di Taiwan. 250.000 lainnya di Hongkong. Lebih dari 100.000 orang ada di Malaysia. Selain itu, perusahaan-perusahaan kita sudah mulai mengepung Nigeria, Myanmar, dan Brazil. Bahkan juga canada dan Amerika.

Jadi bagaimana ya? Kok baru dikepung 10.000 saja kita sudah rasis? Ini tentu mengerikan. Lalu dari grup WA para alumnus sekolah, belakangan ini saja juga mendapat kiriman teman-teman yang kini berkarir di manca negara. Delapan keluarga teman kuliah saya ada di Kanada, beberapa di Jerman dan Eropa, puluhan di Amerika Serikat, dan yang terbanyak tentu saja di Jakarta. Semakin banyak orang kita yang berkarier bebas di mancanegara. Karir mereka tidak rigid.

Jadi, janganlah kita cengeng. Beraninya hanya curhat dan komplain, tapi tak berbuat apa-apa. Bahkan beraninya hanya menyuarakan kebencian. Atau paling-paling cuma mengajak berantem dan membuat akun palsu bertebaran. Kita juga jangan mudah berprasangka.

Syukuri yang sudah didapat, hanya mungkin diatasi dengan berkomitmen untuk bekerja lebih jujur, lebih keras, lebih respek, lebih profesional, dan memberi lebih.

Kalau Anda merasa Indonesia sudah “berbahaya” ya belain dong. Kalau Anda merasa tak senang dengan orang lain, ya sudah, pindah saja ke luar negri. Mudah kok. Di sana Anda akan mendapatkan wisdom, atas kata-kata dan perbuatan sendiri. Di sana kita baru bisa merasakan kayanya Indonesia. Di sana kita baru tahu bahwa tak ada hidup yang mudah.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/penyebar-berita-kebencian-itu-mestinya-lebih-sering-jalan-ke-luar-negeri.html

Senin, 28 Januari 2013

Etika Mengeluarkan Fatwa: Hati-Hati, Verifikasi, Konfirmasi dan Klarifikasi (Tabayun)

Jalaludin Rumi - Fatwa menempati kedudukan penting dalam masyarakat Islam. Untuk itulah para ulama telah menyusun seperangkat etika (code of conduct) bagi mereka yang memberi fatwa. Literatur klasik menyebutnya dengan istilah adabul fatwa wal mufti wal mustafti.

Kode etik ini dibuat sampai terinci seperti cara menuliskan fatwa di lembaran kertas, tidak boleh berganti pena, memulai dengan kalimat hamdalah, mengakhiri dengan kalimat Wa Allahu a'lam, menulis nama mufti, dan seterusnya.

Etika Mengeluarkan Fatwa: Hati-Hati, Verifikasi, Konfirmasi dan Klarifikasi (Tabayun) - Jalaludin Rumi
Etika Mengeluarkan Fatwa: Hati-Hati, Verifikasi, Konfirmasi dan Klarifikasi (Tabayun) - Jalaludin Rumi


Etika Mengeluarkan Fatwa: Hati-Hati, Verifikasi, Konfirmasi dan Klarifikasi (Tabayun)

Selain hal-hal teknis, kode etik juga mengatur cara mufti menjawab. Misalnya, berbeda dengan masa sekarang yang banyak meminta penjelasan dalil dengan detil, kode etik justru menyarankan untuk menjawab singkat dan jelas dengan kalimat: iya, hukumnya mubah atau haram, benar atau salah.

Di bawah ini saya petik penjelasan Imam Nawawi dari muqaddimah kitab al-Majmu' mengenai kode etik berfatwa tersebut. Mari kita ngaji bersama yuk.

‎اعْلَمْ أَنَّ هَذَا الْبَابَ مُهِمٌّ جِدًّا فَأَحْبَبْتُ تَقْدِيمَهُ لِعُمُومِ الْحَاجَةِ إلَيْهِ وَقَدْ صَنَّفَ فِي هَذَا جَمَاعَةٌ مِنْ أَصْحَابِنَا مِنْهُمْ أَبُو الْقَاسِمِ الصَّيْمَرِيُّ شَيْخُ صَاحِبِ الْحَاوِي ثُمَّ الْخَطِيبُ أَبُو بَكْرٍ الْحَافِظُ الْبَغْدَادِيُّ ثُمَّ الشَّيْخُ أَبُو عَمْرِو بن الصلاح وكل منهم ذكر نفايس لَمْ يَذْكُرْهَا الْآخَرَانِ: وَقَدْ طَالَعْتُ كُتُبَ الثَّلَاثَةِ وَلَخَّصْتُ مِنْهَا جُمْلَةً مُخْتَصَرَةً مُسْتَوْعِبَةً لِكُلِّ مَا ذَكَرُوهُ مِنْ الْمُهِمِّ وَضَمَمْتُ إلَيْهَا نَفَائِسَ مِنْ مُتَفَرِّقَاتِ كَلَامِ الْأَصْحَابِ وَبِاَللَّهِ التَّوْفِيقُ

Jalaludin Rumi

Artinya: Ketahuilah bab ini sangat penting. Saya [Imam Nawawi] ingin mendahulukannya karena kebutuhan umum menghendaki demikian dan sejumlah kolega sudah menuliskan tentang ini [kode etik fatwa] diantaranya Abul Qasim al-Shaymari pengarang kitab al-Hawi; al-Khatib Abu Bakr al-Hafiz al-Baghdadi; dan Syekh Abu Amr bin al-Shalah. Masing-masing dari mereka telah menyebutkan hal-hal penting yang belum pernah dibahas sebelumnya. Saya telah mempelajari ketiga karya mereka dan saya akan mengutip ringkasannya dan menambahkan dari ucapan kolega yang lain, wa billahi taufiq.

‎* اعْلَمْ أَنَّ الْإِفْتَاءَ عَظِيمُ الْخَطَرِ كَبِيرُ الْمَوْقِعِ كَثِيرُ الْفَضْلِ لِأَنَّ الْمُفْتِيَ وَارِثُ الْأَنْبِيَاءِ صَلَوَاتُ اللَّهِ وَسَلَامُهُ عليهم وقائم بفرض الكفاية لكنه مُعَرِّضٌ لِلْخَطَأِ وَلِهَذَا قَالُوا الْمُفْتِي مُوقِعٌ عَنْ اللَّهِ تَعَالَى: وَرَوَيْنَا عَنْ ابْنِ الْمُنْكَدِرِ قَالَ العالم بين الله تعالى وخلقه فينظر كَيْفَ يَدْخُلُ بَيْنَهُمْ.

Jalaludin Rumi

Artinya: Ketahuilah bahwa memberi fatwa adalah perkara yang sangat penting, posisi yang besar dan utama karena mufti itu adalah pewaris Nabi SAW, dan mufti ini posisi yang fardhu kifayah tapi dia juga bisa mengandung kesalahan. Itulah sebabnya dikatakan mufti itu memiliki kedekatan posisi dengan Allah. Riwayat dari Ibn Munzir, "orang alim itu antara Allah dan makhlukNya, maka lihatlah bagaimana ia masuk diantara mereka."

‎وَرَوَيْنَا عَنْ السَّلَفِ وَفُضَلَاءِ الْخَلْفِ مِنْ التَّوَقُّفِ عَنْ الْفُتْيَا أَشْيَاءَ كَثِيرَةً: مَعْرُوفَةً نَذْكُرُ مِنْهَا أَحْرُفًا تَبَرُّكًا:

Artinya: setelah menguraikan posisi penting seorang mufti, Imam Nawawi mengutip keterangan betapa hati-hatinya para sahabat dan ulama salaf mengeluarkan fatwa. Berikut petikannya....

‎ وَرَوَيْنَا عَنْ عبد الرحمن ابن أَبِي لَيْلَى قَالَ أَدْرَكْتُ عِشْرِينَ وَمِائَةً مِنْ الْأَنْصَارِ مِنْ أَصْحَابِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وسلم يسئل أَحَدُهُمْ عَنْ الْمَسْأَلَةِ فَيَرُدُّهَا هَذَا إلَى هَذَا وَهَذَا إلَى هَذَا حَتَّى تَرْجِعَ إلَى الْأَوَّلِ.

Artinya: Kami meriwayatkan dari Abdurrahman bin Abi Layla yang berkata: "saya bertemu dengan 120 sahabat Ansar radhiyallah 'anhum. Salah satu dari mereka ditanya suatu masalah, dan dia meminta yang lain menjawab, yang diminta kemudian meminta yang lain lagi menjawab, sampai akhirnya balik lagi ke orang pertama."

‎وَعَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ وَابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ مَنْ أَفْتَى عَنْ كل ما يسئل فَهُوَ مَجْنُونٌ. ‎وَعَنْ الشَّعْبِيِّ وَالْحَسَنِ وَأَبِي حَصِينٍ بفتح الحاء التابعين قَالُوا إنَّ أَحَدَكُمْ لَيُفْتِي فِي الْمَسْأَلَةِ وَلَوْ وَرَدَتْ عَلَى عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ لجمع لها أن أَهْلَ بَدْرٍ:

Artinya: Dari Ibn Mas'ud dan Ibn Abbas: "siapa yang memberi fatwa mengenai setiap masalah, maka ia orang gila (majnun)." Dari Tsa'bi, al-Hasan dan Abi Hashayn (tabi'in): "jika salah seorang dari kalian memberi fatwa dan perkara itu sampai ke Umar bin Khattab, beliau akan kumpulkan para ahli badr [untuk melawannya]."

‎وَعَنْ الشَّافِعِيِّ وَقَدْ سُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَلَمْ يُجِبْ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ حَتَّى أَدْرِيَ أَنَّ الْفَضْلَ فِي السُّكُوتِ أَوْ فِي الْجَوَابِ. ‎وَعَنْ الْأَثْرَمِ سَمِعْتُ أَحْمَدَ بْنَ حَنْبَلٍ يُكْثِرُ أَنْ يَقُولَ لَا أَدْرِي وَذَلِكَ فِيمَا عُرِفَ الْأَقَاوِيلُ فِيهِ. ‎وَعَنْ الْهَيْثَمِ بْنِ جَمِيلٍ شَهِدْتُ ‎مَالِكًا سُئِلَ عَنْ ثَمَانٍ وَأَرْبَعِينَ مَسْأَلَةً فَقَالَ في ثنتين وَثَلَاثِينَ مِنْهَا لَا أَدْرِي.

Artinya: Imam Syafi'i ketika ditanya satu masalah dan beliau tidak menjawabnya. Pas ditanya mengapa diam saja, beliau menjawab, "sampai saya tahu apakah lebih baik diam atau memberi jawaban". Dari Al-Atsram bahwa ia mendengar Ahmad bin Hambal seringkali berkata 'saya tidak tahu'. Dari al-Haytsam: saya meyaksikan Imam Malik ditanya 48 masalah, dan beliau menjawab saya "tidak tahu" dalam 32 masalah [hanya sedikit sekali yang beliau jawab].

‎وَعَنْ مَالِكٍ أَيْضًا انه ربما كان يسئل عَنْ خَمْسِينَ مَسْأَلَةً فَلَا يُجِيبُ فِي وَاحِدَةٍ مِنْهَا وَكَانَ يَقُولُ مَنْ أَجَابَ فِي مَسْأَلَةٍ فَيَنْبَغِي قَبْلَ الْجَوَابِ أَنْ يَعْرِضَ نَفْسَهُ عَلَى الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَكَيْفَ خَلَاصُهُ ثُمَّ يُجِيبُ: وَسُئِلَ عَنْ مَسْأَلَةٍ فَقَالَ لَا أَدْرِي فَقِيلَ هِيَ مَسْأَلَةٌ خَفِيفَةٌ سَهْلَةٌ فَغَضِبَ وَقَالَ لَيْسَ فِي العلم شئ خَفِيفٌ.

Artinya: Diriwayatkan juga dari Imam Malik bahwa beliau ditanya 50 masalah dan tak satupun beliau memberi jawaban. Beliau sering berkata: "sesiapa yang suka memberi jawaban sebaiknya sebelum menjawab ia bayangkan dirinya berada di antara surga dan neraka, dan memikirkan bagaimana nasibnya kelak, baru kemudian ia memberi jawaban." Dalam satu kesempatan Imam Malik ditanya satu masalah dan ia menjawab 'saya tidak tahu'. Kemudian si penanya berkata, 'ini kan masakah ringan'. Imam Malik menjadi marah dan berkata: 'tidak ada hal ringan dalam ilmu pengetahuan!'

‎وقال أبو حنيفة لولا الْفَرَقُ مِنْ اللَّهِ تَعَالَى أَنْ يَضِيعَ الْعِلْمُ مَا أَفْتَيْتُ يَكُونُ لَهُمْ الْمَهْنَأُ وَعَلَيَّ الْوِزْرُ وَأَقْوَالُهُمْ فِي هَذَا كَثِيرَةٌ مَعْرُوفَةٌ

Artinya: Berkata pula Abu Hanifah: "jika karena tidak takut kepada Allah bahwa ilmu akan lenyap saya tidak akan memberi fatwa. Mereka yang bertanya dapat keuntungan sementara saya kena beban tanggungjawab." Pernyataan para ulama diatas [mengenai kehati-hatian memberi fatwa] sangat banyak dan sudah diketahui bersama.

[Sekarang tiba saatnya saya mengutip satu bagian penting dari kode etik berfatwa ini yang cukup relevan dengan situasi aktual]

‎قَالَ الصَّيْمَرِيُّ وَالْخَطِيبُ إذَا سُئِلَ عَمَّنْ قَالَ أَنَا أَصْدَقُ مِنْ مُحَمَّدِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَوْ الصَّلَاةُ لَعِبٌ وَشِبْهَ ذَلِكَ فَلَا يُبَادِرُ بِقَوْلِهِ هَذَا حَلَالُ الدَّمِ أَوْ عَلَيْهِ الْقَتْلُ بَلْ يَقُولُ إنْ صَحَّ هَذَا بِإِقْرَارِهِ أَوْ بِالْبَيِّنَةِ اسْتَتَابَهُ السُّلْطَانُ فَإِنْ تَابَ قُبِلَتْ تَوْبَتُهُ وَإِنْ لَمْ يَتُبْ فَعَلَ بِهِ كَذَا وَكَذَا وَبَالَغَ فِي ذَلِكَ وَأَشْبَعَهُ

Artinya: Berkata al-Shaymari dan al-Khatib: "jika seseorang berkata 'saya lebih jujur ketimbang Nabi Muhammad' atau 'shalat itu cuma permainan' atau ucapan sejenis [yang berupa penistaan agama] maka seorang mufti tidak seharusnya terburu-buru mengeluarkan fatwa 'darah orang ini halal' atau 'orang ini harus dibunuh'. Sebaiknya mufti berkata 'jika ucapan semacam itu sudah terverifikasi dan terkonfirmasi maka penguasa harus meminta orang tersebut bertaubat. Jika ia bertaubat/meminta maaf maka itu harus diterima. Tetapi kalau ia tidak mau bertaubat/memint amaaf maka penguasa dapat melakukan tindakan ini dan itu."

‎قَالَ وَإِنْ سئل عمن تكلم بشئ يَحْتَمِلُ وُجُوهًا يُكَفَّرُ بِبَعْضِهَا دُونَ بَعْضٍ قَالَ يسئل هَذَا الْقَائِلَ فَإِنْ قَالَ أَرَدْتُ كَذَا فَالْجَوَابُ كَذَا:

Artinya: Dan jika mufti ditanya mengenai seseorang yang mengucapkan kalimat yang bisa membawanya kepada kekufuran, mufti sebaiknya merespon: 'orang yang mengucapkan hal ini harus ditanya terlebih dahulu. Jikalau yang dimaksud dari kalimatnya adalah demikian maka hukumnya seperti demikian.'

Kawan,

Demikian petikan dari Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu'. Ini adalah salah satu kitab rujukan utama dalam fiqh. Seperti kita telah mengaji bersama di atas, seorang mufti bukan saja harus berhati-hati dalam mengeluarkan fatwa tapi juga harus melakukan verifikasi, konfirmasi dan klarifikasi akan ucapan seseorang sebelum kemudian mengeluarkan fatwa mengenai ucapan tersebut. Pendek kata, Imam Nawawi menghendaki tabayun dulu lah! [Jalaludin Rumi]

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/etika-mengeluarkan-fatwa-hati-hati-verifikasi-konfirmasi-dan-klarifikasi.html

Sabtu, 05 Januari 2013

Gelar Harlah NU ke 91, PCNU Semarang Akan Potong 91 Tumpeng. Ini Bidah Barokah

Share Rubrik: berita nu Terimakasih telah membaca. Kami menerima naskah artikel keislaman, opini, berita, sastra, kajian kitab, tarjamah kutub, biografi tokoh, pesantren dan lainnya. Kirim ke email: redaksidutaislam@gmail.com. Sertakan nomor HP dan akun rekening aktif. Keterangan lengkap klik Kirim Naskah. Cara berlangganan artikel, klik Feed Jalaludin Rumi

Share: Label: berita , nu BEBAS BERKOMENTAR: ‹‹ Posting Lebih Baru Posting Lama ›› Langganan: Poskan Komentar ( Atom ) Jeda Iklan Suka selfie? Pakai Ring Light donk sis!

Gelar Harlah NU ke 91, PCNU Semarang Akan Potong 91 Tumpeng. Ini Bidah Barokah - Jalaludin Rumi
Gelar Harlah NU ke 91, PCNU Semarang Akan Potong 91 Tumpeng. Ini Bidah Barokah - Jalaludin Rumi


Gelar Harlah NU ke 91, PCNU Semarang Akan Potong 91 Tumpeng. Ini Bidah Barokah

Bebas pilih aneka tongsis diskon 20%

http://dirozfashion.com/

Celengan Musik Anak Berkarakter Lucu

Biar anak betah nabung uang jajan

http://bit.ly/celengananak

Ini Dia Tas Cemera Milik Anda!

Diskon 20 % Tas Handy Cam. Tanpa syarat!

http://bit.ly/2lhdHOg

Outerwear Paling Laris Manis

Kami kirim 100 paket tiap harinya! Maklum lagi laris!

http://outerweardunia.com/

Tampil Seksi Lepas Bikini, Bisa Pasti

Faishon perempuan full tutup aurat.

http://seksisyari.com/

Iklan dari Jalaludin Rumi Slot Iklan Penuh div#banner a { text-decoration:none; color:#fff; text-align:center;}

div#banner { width:260px; margin:0 auto; }

#banner .iklan { display:block; width:125px; height:125px; border:2px solid #52e052; float:left; position:relative; }

#banner .iklan img{ display:block; width:125px; height:125px;}

#banner .iklan .caption { position:absolute; top:90px; left:2px; padding:3px; font:bold 10px arial; width:115px; display:none; background:#000; }

.clear { clear:both; }

.effect { box-shadow: 0 0 10px #52e052; } Minggu Ini

Baru Saja

Database Pekan Ini Ketum PBNU Tidak Tahu dan Tidak Hadir Acara Istighatsah dengan Ahok Malam Ini Isyarah Apa atas Foto Wan Sehan Duduk di Kursi yang Diangkat 2 Prajurit Ini, ya Allah? Wahabi Mengawal Fatwa MUI, Kiai Diseret ke Lingkaran. Netizen NU: Genosida Ulama Sunni? Gus Nuril Sebut Ngawur Sejarah Banser dan Kiai Maimoen, Gus Yaqut: Wong Iki Pancen Ngacau Ulama Wahabi Ini Tobat Setelah Melihat Karomah Syeikh Mutawalli Asy-Sya'rawi Baru Arsip Blog Februari (66) Januari (157) Desember (189) November (130) Oktober (101) September (103) Agustus (142) Juli (96) Juni (103) Mei (95) April (72) Maret (61) Februari (58) Januari (46) Desember (92) November (98) Untuk berlangganan Jalaludin Rumi, tulis email Anda di kotak ini dan aktifkan segera dengan buka email yang sudah Anda daftarkan tadi. Kutipan Gus Mus .mb-style-1 .mb-thumb {background: rgba(0, 0, 0, 0) url("https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEg9dkCv5lfpLf_lb4s5R297YBP4EP0mQajn8BqJ-NeoxnBC4XKPeY80Qyvho0a8FjSMquEAs0oJtT7vOm95Xkmj95s73ChG8XkCHXqRKR_tZA-AX3Hn_wXeL-hG_xMFuayAzvUbIcRP4u8y/s1600/nasehat+gus+mus.jpg") no-repeat scroll center center;} Janganlah setan terang-terangan engkau laknati, dan diam-diam engkau ikuti!KH Mustofa BisriSumber: Jalaludin Rumi Penting Dibaca Rubrik Pilihan opini sejarah amaliyah digital figur karomah fiqih trendingtopic teror ukhuwah hadits sufisme surat publik akhlaq makar inspirasi pesantren kitab al-qur'an doa sehat wanita tanyajawab buku seri kajian makam Santri Menara

Soeara Moeria

Gelang Step

Bawang Dayak

NU Jepara

Alat Ukir

WAWASANews © 2016 - Jalaludin Rumi. All Rights Reserved. Modifikasi oleh Admin Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/gelar-harlah-nu-ke-91-pcnu-semarang-akan-potong-91-tumpeng.html

Kamis, 27 September 2012

Dibuldoser, Disembunyikan Wahabi (Terlarang), Beginilah Kondisi Makam Ibunda Nabi

Makam Sayyidah Aminah sebelum diratakan wahabi dengan buldoser Dutaislam.Com - Dalam sebuah ceramah (bisa lacak di Yete), Habib Umar bin Hafidz dari Hadhramaut Yaman pernah menceritakan detik-detik wafatnya Ibunda Rasulullah shallallahu alaihi wa alihi wa shahbihi wa sallam. Habib begitu sedih menguraikan detik-detik itu hingga menangis, meneteskan air mata tersedu-sedu.

Beliau berkata, "jika Aminah tidak selamat, maka tak ada seorang pun di hari pembalasan yang akan selamat. Tidak ada seorang pun di hari pembangkitan akan selamat". Namun, bagi orang yang saklek memahami hadits tentang dilarangnya Nabi Muhammad mendoakan sang ibunda, Sayyidah Aminah adalah kafir dan mendapatkan neraka. Naudzubillah.

Kini, makam ibunda Nabi "tidak selamat". Makam Ibu yang melahirkan manusia paling mulia di jagad raya ini dan paling disayangi Allah (habib) tersebut, malah disebut seorang askar (polisi) sebagai makam orang Pakistan karena banyak orang Pakistan yang dulu pernah ziarah ke sana.

Dibuldoser, Disembunyikan Wahabi (Terlarang), Beginilah Kondisi Makam Ibunda Nabi - Jalaludin Rumi
Dibuldoser, Disembunyikan Wahabi (Terlarang), Beginilah Kondisi Makam Ibunda Nabi - Jalaludin Rumi


Dibuldoser, Disembunyikan Wahabi (Terlarang), Beginilah Kondisi Makam Ibunda Nabi

Cerita tersebut diutarakan oleh seorang sejahrawan asal Somalia bernama Dr. Hassan Sheikh Hussein Osman, yang pada 27 Agustus 2015 berhasil ziarah ke makam Sayyidah Aminah binti Wahab, ibunda Nabi. Banyak aral yang harus dihadapinya karena makam yang terletak di Desa Abwa, 230 kilometer di Utara Kota Makkah tersebut dimasukkan sebagai kawasan terlarang (restricted area). Naudzubilah.

Jalaludin Rumi

Dr. Hassan berhasil nyolong langkah menembus kawasan tersebut hingga ada seorang polisi Saudi menemuinya, menginterogasinya. Ini cerita Dr. Hasaan usai ziarah ke makam itu:

Aku melakukan pendakian terakhir dari gunung ini (kawasan Abwa) dimana makam Sayyidah Aminah berada, pada tanggal 12 Dzulqo’dah 1436 H (atau 27 Agustus 2015). Kami membersihkan sisa-sisa tumpahan minyak mesin yang terdapat pada makam dengan menggunakan semprotan air sebanyak 10 liter air.

Jalaludin Rumi

Kemudian kami menanam sebatang pohon (yang tahan dan tidak memerlukan air dalam jangka waktu sebulan). Aku menanam pohon tersebut pada bagian kiblat dari makam. Kami menyemprotkan 1 botol minyak wangi Attar (Kasturi) di atas makam.

Setelah itu, kami memperkenalkan diri kepada sayyidah Aminah, memberi salam kepadanya, dan berterima kasih kepadanya karena telah melahirkan junjungan yang mulia Nabi Muhammad Shollallohu ‘Alaihi wa Alihi wa Shohbihi wa Sallam. Kemudian kami membaca surat Yasiin, membaca surat al-Ikhlash 11 kali, Alhamdulillah, dan berdoa. Setelah itu kami pergi”.

Saat hendak pergi, seorang polisi berpangkat sersan beserta seorang warga sipil mendaki gunung dan mencari-cari keberadaan kami, lalu mereka menegur dan meminta informasi pribadi termasuk juga paspor kami.

Dengan wajah marah, Sersan yang pembohong itu mengatakan pada kami bahwa itu adalah makam seorang Pakistan. (Catatan: Berdasarkan literatur “backpack” saya, memang biasanya yang ‘bandel’ dan sering mengunjungi makam tersebut adalah orang Pakistan, jadi sepertinya Polisi tersebut sedang berusaha mengkamuflasekan makam Sayyidah Aminah sebagai makam orang Pakistan –red).

Warga sipil yang ikut dengan polisi tersebut juga banyak berbicara tentang "syirik" dan bertanya apa yang telah kami tinggalkan (lakukan) di makam tersebut, apalagi setelah mengetahui bahwa aku memiliki Attar. Tidak ada tanda-tanda umum pelarangan mengunjungi tempat ini, bagaimana seseorang akan tahu kalau tempat ini dilarang? Cukuplah pengalamanku dengan dua orang ini.

Ini foto makam Ibunda Nabi, yang berhasil diabadikan oleh Dr. Hasaan di atas:

Dr. Hassan di depan makam Ibunda Nabi yang sudah rata dengan tanah (gelap).

Foto lama makam Ibunda Nabi Muhammad, Siti Aminah.

Nampak beberapa warga Pakistan bandel nekad ziarah Jika Anda amati, tanah yang ada di belakang Dr. Hassan di atas, warnanya hitam gelap. Itu adalah sisa-sisa tumpahan minyak yang pernah disiramkan oleh kaum wahabi ke makam Sayyidah Aminah sebelum akhirnya diratakan dengan Buldoser.

Selain untuk menghinakan Siti Aminah, penumpahan minyak dimaksudkan kaum wahabi agar tidak nampak sebagai makam dan tidak ada yang menziarahi. Tragedi terlaknat terjadi terjadi tahun 1998. Namun, makam tersebut sudah didaftarkan posisinya di Google dengan kordinat GPS: 23°06′33″N 39°05′40″E. Anda bisa melacaknya sendiri di internet.

Kini, bukan hanya makam Ibunda Baginda Nabi Muhammad yang tidak terawat, keyakinan umat Islam tentang keselamatan orang tua Nabi juga sudah menjamur di negeri kita berkat ocehan ustadz-ustadz wahabi radikal lulusan Arab Saudi. Baca: Ketika Nabi Dilarang Memintakan Ampunan Untuk Ibunda Aminah. Allahummahdina sirathal mustaqim. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kondisi-makam-ibunda-nabi-yang-memprihatinkan.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock