Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Wawancara. Tampilkan semua postingan

Kamis, 02 Februari 2017

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Jalaludin Rumi - Suatu ketika KH. Zainal Arifin, pengasuh PP. Al-Arifiyyah, Medono, Kota Pekalongan, diminta tolong oleh panitia menjemput KH. Abdurrahman Wachid atau Gus Dur untuk mengisi sebuah acara akbar di kota Pekalongan.

Waktu itu panitia minta didampingi Kyai Zainal untuk menjemput Gus Dur karena sedang mengisi pengajian di Semarang Jawa Tengah. Seusai acara dan ramah tamah dengan para tamu, Gus Dur memutuskan untuk ikut rombongan Kyai Zainal dan panitia ke Kota Pekalongan. Waktu menunjukkan pukul 01.00 atau 02.00 dini hari.

Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran



Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi
Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran - Jalaludin Rumi


Menuju Acara, Kebiasaan Gus Dur di Mobil Adalah Membaca Quran

Setelah berbincang secukupnya dengan Gus Dur, Kyai Zainal dan panitia mempersilakan Gus Dur istirahat di mobil yang melaju dengan tenang. Jalur pantura pada jam segitu juga sudah lengang.

Kita tahu Gus Dur kondisi fisiknya terbatas, kesehatannya juga mulai menurun, serta jadwal juga padat. Tentu saja sesuai logika normal, aktivitas ini akan menguras tenaga dan pikiran Gus Dur. Tapi, alih-alih istirahat di dalam mobil yang melaju dengan tenang tersebut, Gus Dur malah masih membaca Al Qur'an secara bil ghoib (hapalan tanpa teks).

Justru Kyai Zainal dan panitia yang jelas secara fisik lebih sehat dibanding Gus Dur sudah kecapekan duluan dan hampir terlelap. Mereka kaget mendengar Gus Dur dengan suara yang lamat-lamat mendaras Al Qur'an secara lisan.

Mendengarnya, kontan rasa kantuk Kyai Zainal dan panitia lainnya, hilang. Mereka menyimak hafalan Gus Dur. Tak terasa satu jam lewat, sampailah rombongan itu di Pekalongan. Air mata Kyai Zainal beserta panitia lainnya tumpah ruah.

Ia membayangkan orang yang selama ini sering di salahpahami pelbagai pihak, dicaci maki, dikutuk, dikafirkan, difitnah, dicemooh, dan seterusnya, malam itu dengan kondisi kesehatan yang terbatas dengan kelelahan yang luar biasa ternyata masih menyempatkan membaca Al Qur'an dengan hapalan sampai lima juz lebih!

Inilah salah satu kebiasaan Gus Dur ketika dalam perjalanan. Masyaallah, alih-alih baca Al-Qur'an, kita berdoa saja kadang lupa, malah memilih mendengarkan musik. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/menuju-acara-kebiasaan-gus-dur-di-mobil-adalah-membaca-alquran.html

Rabu, 15 Juni 2016

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Wonosobo, Jalaludin Rumi. Pengurus Pusat Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) memberikan modal usaha kepada 120 fakir miskin. Pemberian secara simbolis dilakukan pada Istighosah dan Pengajian sebagai salah satu rangkaian Rapat Pleno PBNU di kampus Unsiq, Wonosobo, Jawa Tengah, Jumat malam (6/9).

Menurut Direktur Eksekutif LAZISNU Amir Maruf, total sumbangan kepada mereka adalah 120 juta rupiah. Sumbangan didapat PP LAZISNU dari dana kebajikan CIMB Niaga Syariah di Jakarta pada akhir Ramadhan lalu.

PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)
PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin (Sumber Gambar : Nu Online)


PP LAZISNU Beri Modal Usaha 120 Fakir Miskin

Penerima tidak hanya warga di Wonosobo, tapi di beberapa LAZISNU cabang pulau Jawa, Cabang Kalimantan dan Sumatera, jelasnya.

Jalaludin Rumi

Amir menjelaskan, kriteria warga yang diberi sumbangan adalah, tergolong fakir miskin dan mereka memiliki potensi pembangunan usaha. Supaya duit itu tidak konsumtif, tapi untuk modal usaha.

Kemudian, kata Amir, LAZISNU tidak melepas begitu saja. Supaya sesuai dengan tujuan, LAZISNU mendampingi mereka di bidang marketing, manajemen, dan pendampingan rohani, Problem pemberdayaan umat itu tidak hanya pada modal, tapi soal pendampingan yang tiga itu, katanya.

Manajemen diperlukan untuk mendorong mempu mengelola modalnya. Marketing , supaya mereka mampu memasarkan produknya. Pendampingan rohani dilakukan karena fakir itu dekat dengan kekufuran, dan dekat dengan kepasrahan dan menyerah.

Jalaludin Rumi

Yang jelas, kata Amir, LAZISNU berpandangan bahwa mereka tidak cukup diberi modal usaha, tapi didampingi, ditongkrongin.

Kemudian nanti dilakukan evaluasi pada forum-forum bulanan yang dikemas pada saat pengajian, sharing persoalan, dan pemecahan masalah. Di samping tim lazisnu melakukan monitoring langsung.

Penyerahan modal usaha tersebut diberikan secara simbolis oleh Ketua PP LAZISNU KH Masyhuri Malik disaksikan Ketua Umum PBNU KH Said Aqil SIroj dan perwakilan CIMB Niaga Cabang; kepada Slamet Sugiyarto dari Kalibeber dan Darsinah dari Jaraksari. (Abdullah Alawi)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46887/pp-lazisnu-beri-modal-usaha-120-fakir-miskin

Jalaludin Rumi

Jumat, 13 Mei 2016

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

Rembang, Jalaludin RumiTerkait serangkaian aksi terorisme menjelang hari raya Idul Fitri yang terjadi di Mapolresta Surakarta dan di Madinah, Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Rembang menggelar aksi damai bersama puluhan personel Banser di Bundaran Pasar Kota Rembang, Jawa Tengah, Selasa (12/7). Mereka mengecam aksi biadab tersebut.

Kepala Sekretariat Markas (Kasatma) Banser Rembang, Imam Syarifudin dalam orasinya mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk monolak aksi terorisme dalam bentuk apa pun. Ia juga menyebut, atas nama apa pun segala bentuk terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diperangi bersama.

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

"Terorisme dan radikalisme merupakan bentuk kejahatan yang harus kita lawan bersama-sama. Karena terorisme banyak sekali korban jiwa berjatuhan, ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Imam Syarifudin juga membacakan Pernyataan Sikap GP Ansor Rembang untuk menolak segala bentuk tindakan terorisme. Berikut teks lengkapnya:

Jalaludin Rumi

Kami kader Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang dengan ini,

Jalaludin Rumi

1. Menyatakan tekad menolak segala bentuk radikalisme dan terorisme, terutama yang mengatasnamakan agama, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

2. Menyatakan tekad menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Menyatakan tekad menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.

4. Menyatakan mendukung langkah cepat, tepat dan tanggap dari pemerintah dalam mengatasi segala aksi radikalisme dan terorisme serta organisasi anti Pancasila.

5. Mengimbau berbagai pihak agar bahu-membahu menangkal radikalisme dan terorisme melalui pemberian pemahaman kailmuan dan keislaman secara benar, yaitu Islam yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil alamin, serta menindak tegas pihak-pihak yang mengajarkan kebencian dan merongrong Pancasila.

Dalam aksi itu sejumlah ormas kepemudaan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) turut mendukung aksi yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, dan bersama-sama menolak dan mengecam aksi radikalisme dan terorisme yang ada di Indonesia dan dunia. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69683/aksi-damai-banser-rembang-suarakan-5-sikap-antiradikalisme

Jalaludin Rumi

Selasa, 26 April 2016

ISNU: Clerics knowledge could affect social changes

Yogyakarta, Jalaludin Rumi. Broad knowledge of clerics (kiai) in Indonesia has become one of the fundamental instruments in addition to the politicians access to power and the investors wealth affecting social change in the country. Unlike the last two, the first instrument could not be obtained instantly instad of being purchased.

Member of the Expert Council of Nahdlatul Ulama Scholars Association (ISNU) Yudi Latif made the remarks at a national workshop that takes up issues on "Pesantren Ulema and Intellectuals" the Yogyakartas Hajj Dormitory Haryono on Tuesday (6/5).

ISNU: Clerics knowledge could affect social changes (Sumber Gambar : Nu Online)
ISNU: Clerics knowledge could affect social changes (Sumber Gambar : Nu Online)


ISNU: Clerics knowledge could affect social changes

"The capital of culture or knowledge of clerics is not obtained with much material capital. Kiai becoming a cleric is not easy. Day after day they used to study and practice their knowledge," Yudi Latif said.

Jalaludin Rumi

According to him, the pesantren ulema have great power in society thanks to their wisdom and piety. Therefore, they have a strong social power to control and provide directions to possible changes.

"The capital of power is very effective for monitoring the government in addition to advocating for the rights of citizens," Yudi added.

Jalaludin Rumi

Therefore, Yudi continued, the clerics of NU in the Indonesianess context were expected to be capable of voicing criticism to maintain the balance of influences brought by politicians, financiers, or the pressure of the majority.

Editing by Sudarto Murtaufiq

Dari (National) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/51844/isnu-clerics039-knowledge-could-affect-social-changes

Jalaludin Rumi

Selasa, 09 Februari 2016

Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL

Bismillahirrahmanirrahim. Kami dari Perguruan Ilmu-Ilmu Sunan Kalijogo, mengamati dan terus menerus ber-tadabbur tentang perkembangan organisasi pewaris para Walisongo, yang namanya NU. Kami menyadari bahwa para penganut ilmu-ilmu Sunan Kalijogo yang notabene peletak dasar Islam Jowo di sekitar pedalaman pulau Jawa, merasa harus turun gunung, setelah melihat kondisi NU akhir-akhir ini. Kami merasa peduli terhadap NU, karena NU adalah “sebagian” dari pewaris dari para ilmu para Walisongo ini, yang sekarang mengalami pengirisan dan pembelahan dari dalam. Ihwal itu, banyak orang menyebutnya NUGL, yang telah kami amati secara seksama.

Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL - Jalaludin Rumi
Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL - Jalaludin Rumi


Surat Cinta untuk Imam Besar NU GL

Turun gunung kami ini adalah bentuk kepedulian kami kepada NU dan para pewaris para Walisongo di organisasi yang tengah mengalami cobaan dari kejumawaan anak-anak muda, yang mengklaim diri sebagai NUGL. Beberapa cobaan NU telah bisa dilalui, berkaitan dengan organisasi tandingan sejak zaman dulu hingga sekarang. Tapi cobaan NUGL ini bagi organisasi NU, sungguh akan menjadi api besar yang menyulut fitnah: ngaku NU, tapi tidak menggunakan akhlak NU. Kami diperintahkan oleh guru kami, khusus untuk menangani NUGL. Rekan-rekan lain, dari Perguruan Ilmu-Ilmu Sunan Kalijogo menangani hal-hal lain.

Kami ingin membicarakan satu sosok penebar fitnahnya, sehingga nama NU yang didirikan para masyayikh dan memperoleh ridha dari para wali, kini telah menjadi bahan ejekan dimana-mana. Nama sosok ini adalah KH. Luhfi Bashori yang tinggal di Malang. Dia adalah orang yang dianggap oleh situs NUGL sebagai Imam Besar NUGL, sebagai tandingan maya dari jam'iyyah yang didirikan KH. Hasyim Asyari, bernama Jam'iyyah Nahdlatul Ulama.

Tokoh ini yang memopulerkan nama NU Garis Lurus dalam situs pribadinya, Pejuang Islam Sejati NU Garis Lurus (sekarang diubah menjadi Pejuang Islam Sejati Aswaja Garis Lurus). Nama NUGL ini kemudian menjadi perhatian orang banyak, dan menjadikan NU sebagai bahan ejekan. Yang mengikuti garisnya adalah NUGL, dan mukhalafah-nya, yang lain adalah tidak GL. Beginilah akhlak seorang mengaku Aswaja tetapi masih mentah. Tidak cukup diingatkan orang-orang yang dianggap tidak disetujuinya. Tetapi pengirisan justru dilakukannya terhadap organisasi NU yang didirikan Mbah Hasyim Asyari. Tradisi yang dibuatnya kemudian diikuti oleh berbagai orang yang tidak suka terhadap NU, baik yang dari kalangan Syafi`iyah-Asy`ariyah atau di luar Syafi`iyah-Asy`ariyah, yang dipenuhi kemarahan meluap-luap. Hadits Nabi man sanna sunnatan sayyiatan telah dirintisnya. Nama NUGL kemudian berentek, menjadi mesiu yang mengotori jam`iyyah NU. Padahal nama NU-lah semata yang diberikan Mbah Hasyim dan para sesepuh pendiri NU untuk nama organisasi ini. Bukan NUGL.

------------ Baca juga bukti ngawurnya situs NUGL yang membuat berita hoax, terbukti, tapi tidak mau minta maaf, klik Berita Hoax NUGL dan PKS Piyungan -------------

Memang jelas, KH. Luthfi Bashori tidak suka dengan pemikiran dan orang tertentu di kalangan NU, itu adalah syah, tetapi yang digerus-gerus justru simbol nama jam`iyyah, dengan mengiris NU menjadi NUGL, menjadi sangat jelas. Ini adalah sejenis karya dari seorang anak muda yang belum mengalami kematangan dalam dunia batin Aswaja dan dunia batin ilmu-ilmu para wali. Nama yang dilansirnya sekarang menjadi alat untuk menertawakan NU oleh orang yang tidak suka NU. Bahkan dieksploitasi sedemikian rupa di situs NUGL. Dialah perintis sunnatan sayyiatan.

Orang ini, memang anak seorang kyai hebat di NU, namanya KH. Bashori Alwi dari Malang. Tetapi akhlaknya jauh berbeda dengan ayahnya yang santun dan tidak serampangan dalam berdakwah. Ini dikarenakan, salah satunya karena persahabatan dan silaturahmi yang dibangunnya bukan kepada kyai-kyai dan tokoh-tokoh NU (kami tidak menyebut Syafi`iyah-Asy`ariyah, karena Syafi`iyah-Asyariyah itu banyak dan tidak semuanya ikut NU, dan di antara mereka mendirikan FPI), tetapi justru kepada tokoh-tokoh di luar NU yang beraspirasi Daulah Islamiyah.

Coba lihat dengan bangganya, di situsnya, yang sekarang telah diganti namanya menjadi Pejuang Islam Sejati Aswaja Garis Lurus (sebelumnya Pejuang Islam Sejati NU Garis Lurus). Dalam bagian riwayat kiprah dia disebutkan banyak bersentuhan dengan grup mereka yang sering berjuang untuk daulah islamiyah di luar arus jam`iyyah NU: menjadi anggota FUUI, penasehat MMI (salah satu tokohnya, Abu Jibril menganggap Pancasila itu thaghut), dan penasehat FPI.

Meme KH Luthfi Bashori Lebih-lebih dia kurang suka bergaul dengan para pecinta NU, yang bisa saja orang-orang yang tidak disetujuinya itu belum sempurna, tetapi karena sikapnya yang demikian itu menjadikannya ada yang hilang dalam dirinya kalau mengklaim sebagai bagian dari pejuang NU. Silaturahmi, guyon, dan ngekek bareng, kalau perlu ngrokok bareng, dengan para kyai-kyai NU yang berbeda, dengan para anak muda yang berbeda, enggan dilakukan. Paling tidak, kesanggupan damai untuk mendengar pandangan orang lain dan kyai lain dari kalangan NU yang beraspirasi lain, kurang dimiliki.

Ini buah juga dari pendakuannya sendiri. Dari namanya saja, coba diperhatikan “Pejuang Islam Sejati”. Pendakuan dirinya sebagai Pejuang Islam Sejati adalah pengumuman dari dirinya sendiri, yang mencerminkan kematangannya belum tampak dalam membawakan diri. Pengakuan itu alangkah eloknya dari masyarakat, khirqah wushul dan suluk saja diberikan dari para mursyid-guru kepada murid, dan perkenan ridha pun hanya dimiliki Allah. Ini sesuatu yang fundamental, diumumkan ke publik, sebagai Pejuang Islam Sejati muncul dari dirinya sendiri.

Cobalah lihat, seorang yang dianggap orang ilmunya tinggi, faham kitab-kitab kuning, seorang penghafal al-Quran, dan seorang yang katanya telah nyucup ilmunya Sayyid Muhammad al-Maliki, tetapi tidak malu-malu, mengagungkan dirinya sendiri dengan sebutan Pejuang Islam Sejati. Subhanallah Astaghfirullah.

Apakah sepanjang waktu detik perdertik dia seorang pejuang sejati di hadapan Allah, hudhur dan wushul? Apakah dalam qalbu dan sirr-nya setiap saat telah menjadi pejuang sejati di hadapan Allah, hudhur dan wushul? Bukankah ilmunya setetes saja tidak ada bandingannya dengan ilmu-Nya Allah, dan ilmunya Kanjeng Nabi Muhammad? Bukankah dia tidak maksum dan suci, yang sangat mungkin terjatuh detik perdetik tidak hudhur dan wushul.

Klaimnya sebagai Pejuang Sejati Islam sungguh jelas. Kalau dalam satu detik saja alfa dan belok tidak hudhur kepada Allah, alangkah ngerinya bagi seorang yang telah mengalami kematangan jiwa suluk: terjatuh ke dalam martabat munafik dan kadzab. Subhanallah astaghfirullah. Karena pengumuman yang dipajang di situsnya itu perdetik persaat.

Gusti Allah kito sampun padang bileh tiyang meniko, tiyang engkang nggadah kepinteran, ananging matenge akhlak dereng dipun ugemi. Paringono Gusti Allah, kanti fadhilahe Kanjeng Nabi Muhammad lan Sunan Kalijogo, pituduh dumateng tiyang meniko, KH. Luthfi Bashori. Paringono wushul lan pari ngono marifat , setetes sangking ilmu rohani-ni pun Kanjeng Nabi Muhammad lan poro wali songo, khususipun Sunan Kalijogo. Kersane umat meniko, angsal pepadhang. Ya mujibassailin. Alfatihah. Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/02/surat-cinta-untuk-imam-besar-nu-gl.html

Sabtu, 29 November 2014

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Jalaludin Rumi - Awal Ramadhan, empat tahun yang lalu ceramah malam pertama tarawih diberikan oleh Mohammad Mahfud Md., yang waktu itu masih Ketua MK. Ia bercerita mengenai sejumlah hal, namun yang paling mengesankan adalah cerita ini:

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi
Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi


Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil bagi tukang becak untuk bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak-anak?" Kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu. (Baca Jalaludin Rumi: Amalan Asyuro Bukan Bid'ah)

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu-malu, akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran. (Baca Jalaludin Rumi: Kisah Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi)

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan. (Baca Jalaludin Rumi: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi)

Mahfud Md. kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan hauqalah, yang aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah". Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Dan memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya? Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?

Tapi kita, yang fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati, terbebas dari riya, sombong).

Sadarlah Allah di atas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal ibadah. Yang tidak sesuai di mata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah. Bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, baiknya kita lebih was was apakah amalan yang Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum daripada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. [Jalaludin Rumi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/ini-dzikir-tukang-becak-hingga-mampu-menyekolahkan-anaknya.html

Kamis, 27 November 2014

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Transparansi (keterbukaan) menjadi hal yang cukup serius dan krusial di beberapa negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya transparani informasi, tetapi juga anggaran. Dunia sudah berubah. Dulu, institusi dan lembaga negara bisa melakukan manuver anggaran. Tapi sekarang itu tidak bisa lagi. Apalagi setelah disahkan dan diimplementasikannya Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik. Semua badan publik harus memberikan transparansi anggaran dan informasi kepada khalayak umum.

Kasus terhangat terkait transparansi adalah hak angket yang dilayangkan oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) khususnya Komisi III- kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Konon, sebab digulirkannya hak angket adalah tidak adanya transparansi pada KPK. Sejumlah anggota DPR menilai bahwa KPK tidak transparan dalam hal informasi.

Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)
Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi (Sumber Gambar : Nu Online)


Kikis Korupsi dengan Keterbukaan Informasi

Selain itu, masalah transparansi juga mendera kasus Alfamart-Mustholih. Mustholih, konsumen dan donatur donasi yang galang Alfamart menuntut retail tersebut untuk memberikan informasi terkait dengan jumlah, tujuan, dan penerima donasi. Alfamart tidak bersedia dan menggugat balik Mustholih ke pengadilan. Tanggal 18 April, Pengadilan Negeri Tangerang memutuskan menolak gugatan Alfamart. Dengan demikian, Alfamart harus memberikan informasi terkait donasi yang digalangya apabila ia tidak melakukan kasasi.

Memang, persoalan transparansi cukup pelik di negeri ini. Oleh karena itu, Ahmad Muchlishon dari Jalaludin Rumi berhasil mewawancarai salah satu Komisioner Komisi Informasi Pusat (KIP) Rumadi Ahmadyang juga Ketua Lakpesdam PBNU untuk menjelaskan seperti apa dan seharusnya bagaimana praktik transparansi di Indonesia ini. Berikut hasil wawancaranya:

Jalaludin Rumi

Perkembangan transparansi informasi di Indonesia seperti apa, pak?

Jalaludin Rumi

Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi adalah Undang-Undang yang menandai berubahnya era pengelolaan negara. Sebelum ada UU No. 14 ini, hampir dalam seluruh sektor pengelolaan negera kulturnya itu gelap, tidak transparan, dan tidak akuntabel. Akibatnya, banyak terjadi kecurangan-kecurangan yang disebabkan oleh sistem yang tidak transparan. Masyarakat juga tidak memiliki akses yang cukup untuk mendapatkan informasi yang dikuasai oleh lembaga-lembaga negara seperti berapa anggaran kementerian ini, untuk apa saja, dan laporannya bagaimana. Masyarakat tidak memiliki akses ini.

Sejak kapan UU keterbukaan Informasi itu digulirkan hingga kemudian disahkan dan diterapkan?

Sejak tahun 2001, masyarakat sipil mendorong adanya Undang-Undang yang menjamin keterbukaan informasi. Kemudian sampai pada tahun 2008, Undang-Undang Nomor 14 tentang keterbukaan informasi berhasil disahkan. Undang-Undang ini ingin merubah mindset pengelolaan negara. Dari kultur yang serba gelap dan tertutup menjadi kultur yang terbuka, transparan, dan akuntabel.

Tetapi merubah cara berpikir itu bukan sesuatu yang gampang. Ini menjadikan banyak orang tergagap. Tidak semua badan publik siap untuk melaksanakan Undang-Undang ini. Bahkan mereka lebih senang untuk hidup dalam kultur yang gelap, karena mereka bebas melakukan manuver keuangan.

Oleh karena itu, ada kesepakatan antara DPR dan pemerintah untuk menunda implementasi Undang-Undang ini selama dua tahun. Undang-Undang ini baru diimplementasikan secara efektif dua tahu setelah disahkan. Disahkannya itu 30 April 2008, baru dilaksanakan secara efektif pada 30 April 2010.

Transparansi yang ada di Indonesia saat ini seperti apa?

Kita sudah lumayan bagus. Survei-survei yang dilaksanakan oleh sejumlah lembaga seperti Open Budget Index menunjukkan Indonesia menempati urutan kedua se-Asia di bawah Korea Selatan dan pertama se-Asia Tenggara sebagai negara yang transparan dalam hal anggaran pada tahun 2012.

Survei-survei dalam negeri seperti Fitra juga menunjukkan transparansi Indonesia mengalami perkembangan yang baik. Pemeringkatan yang dilakukan Komisi Informasi Pusat juga menunjukkan ada progres. Ada kemajuan-kemjuan pada level transparansi. Meskipun transparansi belum memiliki pengaruh yang signifikan terhadap indeks persepsi korupsi. Transparansi kita baik tetapi indeks persepsi korupsi kita tidak naik-naik.

Tahun 2016, indeks perspepsi korupsi kita di angka 38 dari skor 100. Tahun 2015 di angka 36, tahun 2014 di angka 34, dan tahun sebelumnya di angka 32. Ada kenaikan-kenaikan tetapi sangat pelan jika dibanding dengan keterbukaan informasi yang tampaknya lebih baik.

Berarti ada hubungan yang erat antara transparansi dan indeks persepsi korupsi?

Iya, tantangannya adalah memastikan bagaimana transparansi yang sudah mulai baik memiliki kontribusi yang positif terhadap indeks persepsi korupsi kita. Karena sebenarnya keterbukaan informasi atau transparansi itu hanya sebagian kecil dari upaya untuk pencegahan korupsi. Kalau orang hidup di dalam kultur yang transparan dan akuntabel, maka mereka akan memiliki keengganan untuk melakukan tindakan koruptif.

Kalau di daerah bagaimana?

Daerah situasinya lebih memprihatinkan. Ada tren di level kementerian itu baik tapi begitu turun semakin ke bawah kecenderungan untuk transparansi itu semakin rendah. Di provinsi, di kabupaten itu semakin rendah transparansinya. Ini salah satu tantangan terberat kita bagaimana transparansi bisa masuk ke birokrasi paling bawah.

Banyak orang yang merasa keterbukaan informasi itu sesuatu yang membebani. Sebenarnya tidak. Keterbukaan informasi itu justru meringankan langkah birokrat di dalam pengelolaan keuangan.

Bagaimana agar praktik transparansi bisa berjalan baik di daerah?

Kabupaten Batang pernah melaksanakan festival anggaran. Semua dinas-dinas di bawah bupati dibuatkan festival dan mereka diminta untuk menayangkan semua anggaran yang mereka miliki. Dan masyarakat dipersilahkan datang melihat dan bertanya apa saja. Itu menumbuhkan kepercayaan pada publik. Apa yang dilakukan di Batang seperti ini bisa dikopi oleh pemerintah daerah yang lain.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama yang harus dilakukan adalah melakukan revolusi mental. Mengubah cara berfikir bahwa anggaran harus dikekepin dan tidak boleh orang tahu itu harus dihilangkan. Bahkan, anggaran itu harus dibuka seluas-luasnya dan biarkan masyarakat melihat. Kalau masyarakat melihat maka akan timbul partisipasi. Kalau masyarakat tidak tahu maka yang muncul adalah kecurigaan. Kalau sudah timbul kecurigaan, maka masyarakat tidak akan ikut berpartisipasi dalam program-program yang digagas oleh pemerintah.

Isu terkini, KPK dinilai tidak transparan. Bagaimana pendapat bapak?

Menurut saya, DPR salah dan terlalu memaksakan kehendak. DPR harus paham kalau KPK memiliki hak untuk memberikan atau tidak memberika informasi. Tetapi ini tidak bisa sembarangan. Kalau KPK mau merahasiakan informasi maka dia harus memiliki argumen kenapa informasi itu ditahan.

Kalau dalam Undang-Undang Keterbukaan Informasi KPK harus melakukan uji konsekuensi. Uji konsekuensi adalah argumentasi kenapa informasi tidak diberikan. Apakah bertentangan dengan Undang-Undang tertentu ataukah akan mengganggu proses penegakan hukum. Kalau itu memang mengganggu proses penegakan hukum, sebenarnya KPK dilindungi oleh Undang-Undang untuk tidak memberikan informasi itu.

Lalu, seharusnya DPR bagaimana?

DPR tidak usah memaksakan kehendak. DPR bisa menempuh melalui mekanisme permohonan informasi sebagaimana yang diatur oleh Undang-Undang Keterbukaan Informasi. Misalnya, secara formal DPR melayangkan surat ke KPK untuk menanyakan informasi terkait. Itu ada prosedurnya. Kalau KPK tidak mau memberikan informasi, DPR bisa mengadukan ke Komisi Informasi. Dan Komisi Informasi yang menilai apakah informasi yang diminta DPR bisa diberikan atau tidak.

Sayangnya, DPR tidak menempuh prosedur itu sebagaimana yang dijamin oleh Undang-Undang tetapi lebih mengedepankan aspek politiknya seperti membuat angket. Menurut saya, DPR terlalu berlebihan.

Kalau masalah transparansi Alfamart?

Masing-masing pihak kan sudah menjalani prosedur hukum. Kalau Alfamart tidak melakukan kasasi ke Mahkamah Agung, maka Alfamart menerima putusan pengadilan negeri dan dia harus menjalankan putusan itu. Kalau tidak mau menjalankan putusan, ada aspek hukum lain yang dilanggar.

Kasus ini sebenarnya kecil. Tapi sepertinya Alfamartnya yang ketakutan atau input-input yang diberikan pengacaranya menakut-nakuti Alfamart sehingga Alfamart mengajuka gugatan ke pengadilan.

Itu akan sangat mudah diselesaikan kalau Alfamart memiliki itikad baik. Kalau tidak ada sesuatu yang ditutup-tutupi Alfamart dan memberika laporan donasi ke Mustholih sebenarnya selesai. Publik justru menaruh curiga. Alfamart kok sampai menyewa pengacara yang mahal itu sebenarnya apa yang ditutupi.

Dari (Wawancara) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77619/kikis-korupsi-dengan-keterbukaan-informasi

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock