Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Ini adalah kisah Shohnun dan murid terdekatnya. Dikisahkan Shohnun adalah seorang tabib, ahli pengobatan. Berbagai macam penyakit, mampu ia obati. Mulai dari penyakit sepele, sekelas sakit gigi hingga penyakit organ dalam kelas kakap.

Dari keahliannya itu, banyak orang yang berduyun-duyun, datang kepada tabib Shohnun untuk meminta diobati. Nahas, tak selang berapa lama, Shohnun meninggal dunia.

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)


Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Orang-orang pun kebingungan, akan kemana lagi mereka meminta pertolongan obat. Oh ya, mereka baru tersadar. Ternyata Shohnun memiliki murid terdekat. Ya, akhirnya orang-orang pun, bergegas menghampiri sang murid terdekat. Berharap sang murid mewarisi kehebatan gurunya.

Jalaludin Rumi

Setelah menerima kedatangan orang-orang yang sakit, sang murid pun mengiyakan permintaan mereka dengan begitu enteng dan semangat. Hal itu bukan tanpa sebab.

Ternyata, dahulu kala, semasa shohnun hidup, dalam terapi pengobatannya, shohnun hanya menuliskan huruf hijaiyah nun ( ) dalam cawan. Kemudian huruf nun tersebut ia hapus perlahan dengan air yang ia siramkan. Melalui secawan air hapusan huruf hijaiyah nun itulah, kemudian Shohnun meminumkannya kepada pasien. Dan, Manajur! Berbagai penyakit ia sembuhkan.

Tentunya, sang murid terdekat yang pada masa itu menjadi asistennya, dapat menghafal dengan mudah teknik pengobatan Shohnun. Dan atas dasar itu pula, bermodalkan pengamatan tak berizin, sang murid dengan yakin menerima permintaan pasien mendiang Shohnun untuk mengobati pasien.

Jalaludin Rumi

Satu persatu pasien pun telah ia obati. Masih dengan ritual sama, persis dengan yang dilakukan gurunya dahulu. Menuliskan huruf hijaiyah nun diatas cawan, menghapusnya perlahan dengan air, kemudian meminumkannya kepada pasien. Beres, dijamin manjur, karena tak ada satu pun langkah yang berbeda dari yang dilakukan gurunya. Batin sang murid.

Keesokan harinya, sang murid kaget bukan main. Klinik tabibnya dipenuhi keluarga pasien. Bukan apa, mereka datang berbondong-bondong untuk meminta pertanggung jawaban kepada sang murid. Ya, bukan kesembuhan yang pasien peroleh, malah penyakit semakin parah yang mereka peroleh.

Dengan gugup, sang murid pun meminta maaf. Memohon agar mereka beranjak meninggalkan klinik, untuk sementara waktu menunggu. Agar ia menemukan penyebab obatnya yang malah memperparah penyakit pasien.

Malam harinya, sang murid tertidur. Benar, ia mendapat petunjuk. Dalam mimpinya, ia dapati Hatif, suara tanpa rupa berujar:

Ini adalah (huruf) nun, namun dimanakah Shohnun?

Ia pun terjaga dari tidurnya. Ia pun tersadar, ia merasa bersalah. Betapa ia dengan berani mengamalkan "ilmu ilegal", ilmu tak berizin, ilmu yang hanya ia dapat dari hasil pengamatannya yang hanya seorang murid.

Ia abai terhadap sanad keguruan, ia tak peduli akan mata rantai keilmuan. Ia tak menghiraukan, apakah gurunya ikhlas akan ilmu yang ia curi? Dan, apakah cukup, ilmu yang sebegitu luhur hanya ia pelajari secara cur-curi lewat pengamatan tak berizinnya?

Ia pun tergugu, ia baru sadar, ada satu sisi yang yang terpenting dalam ilmu yaitu keberkahan. Dan sayangnya, keberkahan tak dapat ia peroleh melainkan dengan sanad. Ya, mata rantai keilmuan dari guru yang terpercaya, teruji kealiman serta keikhlasannya.

Maka tak mengherankan jika pasiennya bertambah parah. Adalah sebab keberkahan tak turun kepadanya. Karena sesuai definisi Ahlul Hukama, ulama-ulama ahli ilmu hikmah:

Keberkahan ialah tambahnya kebaikan.

Akhirnya, sang murid pun menyesal, tak sakali-kali lagi ia mengamalkan ilmu ilegal-nya.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita agar memilih guru yang terpercaya. Lebih-lebih dalam urusan agama. Karena jika salah beramal, bisa-bisa malah salah kejadiannya. Jangan hanya berguru pada syaikh google dan ustadz youtube saja. Hati-hati, di dunia maya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan KH Muhammad Shofi Al-Mubarok di sela-sela pengajian kilatan Bulan Rajab.

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77362/akibat-mengamalkan-ilmu-tak-berizin

Jalaludin Rumi

Jumat, 13 Mei 2016

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

Rembang, Jalaludin RumiTerkait serangkaian aksi terorisme menjelang hari raya Idul Fitri yang terjadi di Mapolresta Surakarta dan di Madinah, Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Rembang menggelar aksi damai bersama puluhan personel Banser di Bundaran Pasar Kota Rembang, Jawa Tengah, Selasa (12/7). Mereka mengecam aksi biadab tersebut.

Kepala Sekretariat Markas (Kasatma) Banser Rembang, Imam Syarifudin dalam orasinya mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk monolak aksi terorisme dalam bentuk apa pun. Ia juga menyebut, atas nama apa pun segala bentuk terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diperangi bersama.

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

"Terorisme dan radikalisme merupakan bentuk kejahatan yang harus kita lawan bersama-sama. Karena terorisme banyak sekali korban jiwa berjatuhan, ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Imam Syarifudin juga membacakan Pernyataan Sikap GP Ansor Rembang untuk menolak segala bentuk tindakan terorisme. Berikut teks lengkapnya:

Jalaludin Rumi

Kami kader Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang dengan ini,

Jalaludin Rumi

1. Menyatakan tekad menolak segala bentuk radikalisme dan terorisme, terutama yang mengatasnamakan agama, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

2. Menyatakan tekad menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Menyatakan tekad menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.

4. Menyatakan mendukung langkah cepat, tepat dan tanggap dari pemerintah dalam mengatasi segala aksi radikalisme dan terorisme serta organisasi anti Pancasila.

5. Mengimbau berbagai pihak agar bahu-membahu menangkal radikalisme dan terorisme melalui pemberian pemahaman kailmuan dan keislaman secara benar, yaitu Islam yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil alamin, serta menindak tegas pihak-pihak yang mengajarkan kebencian dan merongrong Pancasila.

Dalam aksi itu sejumlah ormas kepemudaan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) turut mendukung aksi yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, dan bersama-sama menolak dan mengecam aksi radikalisme dan terorisme yang ada di Indonesia dan dunia. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69683/aksi-damai-banser-rembang-suarakan-5-sikap-antiradikalisme

Jalaludin Rumi

Jumat, 20 November 2015

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Jalaludin Rumi - Beredar foto yang mencomot Tempo serta Metro TV dimana Ahok dalam judul berita ditulis menyatakan "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal | Target Anggaran Rp. 5 T Untuk Gereja". Judul itu dinisbatkan kepada Koran Tempo, tanpa keterangan tanggal dan tahun berapa berita itu ditulis.

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Jalaludin Rumi
Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Jalaludin Rumi


Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Metro TV pun dicomot dalam gambar broadcast tersebut dengan catatan caption berita "Ahok: Saya Ingin Jakarta Punya Gereja Seluas Vatikan Roma Bebas Masuk Untuk Semua Agama". Running teks Metro TV juga ditulis seolah senada dengan catatan berita yang sedang tayang, "Ahok mengaku jika menang di Pilgub DKI 2017 Akan Bangun Gereja Besar di Jakarta Pusat".

Bagi masyarakat awam, dua berita dari dua media yang dikliping dalam bentuk gambar dengan keterangan singkat tersebut akan menggiring orang untuk membenci. Seolah-olah judul berita itu memang ada dan fakta.

Padahal, dari segi konten, pernyataan itu justru akan membuat blunder Ahok jika dimuat di media yang bebas diakses oleh semua orang. Ia akan memperkeruh suasana jelang Pilkada pastinya. Ini menunjukkan kalau kebenaran kliping gambar judul berita dari dua media di atas sangat lemah kuadrat.

Penyebar foto di grup-grup WhatsApp, ketika diminta Jalaludin Rumi untuk mencari link sumber, tidak ada yang bisa menjawab. Akhirnya, redaksi melakukan Googling dengan kata kunci pas sesuai judul berita "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal".

Ternyata situs Tempo tidak ada yang memuat judul di atas. Metro TV juga tidak memuat judul tersebut. Yang ditemukan justru situs Kompas, Detik dan Viva. Tapi tidak ada judul berita sebagaimana ucapan Ahok. Itupun judul beritanya "Gereja Raksasa Berdiri Megah di Kemayoran", dimuat Detikcom tahun 2009.

Jika screenshoot kliping gambar berita itu di-zoom lebih lebar, Anda akan menemukan kalau gambar broadcast tersebut adalah editan. Terlihat ada ketidakserasian dalam teknik menempel antar gambar.

Jika sumber link berita tidak ada, analisis konten juga lemah, ditambah teknik tempel klipingnya yang tidak menemukan keserasian warna dan batas margin pas, maka, sudah bisa dipastikan kalau gambar itu adalah a-faktual, tidak merujuk fakta manapun, hoax.

Setelah doa Mbah Moen dimanipulasi, kini tim pasangan yang menggunakan isu agama juga main di wilayah hoax gambar tanpa referensi. Jika benar Ahok menyatakan demikian, bisa dibilang dia sableng kuadrat.

Untuk melengkapi keterangan, silakan Anda unduh gambar yang diulas editorial Jalaludin Rumi ini pada link Google Docs redaksi DI, di bawah. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/sableng-kuadrat-jika-benar-ahok-bilang-akan-bangun-gereja-tandingi-istiqlal.html

Selasa, 14 Juli 2015

IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia

Bojonegoro, Jalaludin Rumi. Tak dapat dipungkiri pendidikan merupakan tonggak utama sebuah negara untuk dapat berkembang dan maju. Kesadaran untuk mendapatkan pendidikan pun sudah sangat tinggi di masyarakat. Akan tetapi, sejauh ini dunia pendidikan Indonesia juga belum menemukan formula yang tepat untuk merancang sistem pendidikan yang baik.

Hal inilah yang dikaji oleh IPNU-IPPNU Kecamatan Sumberrejo dalam RTL Lakmud (Latihan Kader Muda) yang bertempat kantor PAC setempat (10/2).

IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia

Dian Imaduddin selaku koordinator acara mengatakan Dengan angota yang mayoritas pelajar, kami ingin mencermati apa sebenarnya yang menjadi problematika pendidikan Indonesia saat ini serta mengajak para kader untuk lebih berfikir kritis.

Kegiatan yang diikuti oleh 40 peserta ini mendatangkan H. Abdul Aziz selaku Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Sumberrejo. Pria yang juga menjadi dosen di STAI Attanwir ini memaparkan beberapa problematika Pendidikan di Indonesia saat ini di antaranya yaitu, Sistem pendidikan yang sering berubah-rubah dan budaya instan yang masih terjadi pada sebagian masyarakat dalam memperoleh gelar akademik.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Munawwar

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36298/ipnu-ippnu-kaji-problematika-pendidikan-indonesia

Jalaludin Rumi

Jumat, 10 April 2015

Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama!

Jalaludin Rumi - Bisa dikatakan mungkin saya di NU masih seumur jagung dan juga belum memberikan kontribusi apa-apa. Namun hati ini merasa yakin untuk saya ikut di organisasi ini, bukan karena faktor keturunan dari orangtua saya yang NU, tapi benar-benar saya memahami bahwa inilah organisasi di Indonesia yang dari dulu jaman penjajah mengawal sampai kemerdekaan RI.

Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama! - Jalaludin Rumi
Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama! - Jalaludin Rumi


Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama!

Dari dulu NU memberikan dukungan perjuangan kemerdekaan dan sampai sekarang tetap teguh mempertahankan NKRI. Penerimaan NU atas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah sebagai strategi untuk menjalankan ajaran Islam secara merdeka bagi umat Islam di Indonesia tanpa ada disintegrasi bangsa, tanpa perang, tanpa kekerasan.

Ketika Indonesia merdeka NKRI segera dikukuhkan sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan.

Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara, dan dari situlah 91 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu, NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan. Karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Semoga Jam’iyah kami, Nahdlatul Ulama (NU), sebagaimana mula-mula didirikan 91 tahun yang lalu, sebagai jam’iyah yang berkhidmah dan melayani umat, bangsa, dan Negara Indonsia. Jadikanlah Nahdlatul Ulama (NU) pelopor dalam menyiarkan Islam yang rahmatan lil’aalamiin dan meneladankan ajaran dan akhlak Rasulullah SAW.

Jadikanlah Nahdlatul Ulama (NU) rahmat dan bukan beban bagi umat, bangsa dan Negara Indonesia. Anugerahilah kekuatan lahir-batin kepada para pemimpin dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di semua jajaran untuk memikul amanat, mengurusi dan tidak malah menjauhi warga mereka. Bukalah mata hati dan pikiran mereka; agar mereka dapat berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai Khittah Nahdlatul Ulama (NU).

Anugerahilah mereka sikap qana’ah, tidak tamak dan mudah silau terhadap materi duniawi. Jangan biarkan kepentingan sesaat membelokkan mereka dari tujuan mulia jam’iyyah mereka: melayani umat, berkhidmah kepada bangsa dan negara, demi mendapatkan ridha-Mu. Duta Islam di Indonesia adalah NU. [Jalaludin Rumi]

Abdul Adhim, Netizen NU Kota Santri Pekalongan 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/duta-islam-di-indonesia-ya-nahdlatul-ulama.html

Senin, 16 Desember 2013

Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan

Jalaludin Rumi - Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) melaporkan Imam Besar FPI Habib Rizieq ke Polda Metro Jaya. Habib Rizieq dilaporkan karena ceramahnya dalam video yang beredar di media sosial dianggap menistakan agama Kristen.

"Kami melaporkan Habib Rizieq, Fauzi Ahmad, dan Saya Reza terkait penistaan agama," kata Ketua Umum PP PMKRI Angelo Wake Kako kepada wartawan di Gedung Palayanan Satu Atap, Polda Metro Jaya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Senin (26/12/2016).

Laporan polisi PP PMKRI itu bernomor TBL/6344/XII/2016/PMJ/Ditreskrimsus. Pada laporan itu, PP PMKRI melaporkan Habib Rizieq. Ketiga orang tersebut dilaporkan karena penistaan agama melalui media elektronik dengan Pasal 156 dan 156a KUHP serta UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Barang bukti yang dilampirkan adalah softcopy video.

Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan - Jalaludin Rumi
Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan - Jalaludin Rumi


Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan

Video tersebut diambil dari ceramah Rizieq di Pondok Kelapa pada Minggu (25/12/2016). Dalam video yang berdurasi 21 detik itu, Rizieq tampak tengah berbicara di depan massa. Dia membahas mengenai ucapan selamat Natal.

Jalaludin Rumi

"Pada ceramah beliau di Pondok Kelapa pada tanggal 25 kemarin yang menyatakan bahwa 'Kalau tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?' dan di situ kita temukan banyak gelak tawa dari jemaat terhadap apa yang disampaikan dari Habib Rizieq tersebut. Jujur sebagai Ketua Umum PP-PMKRI, kami merasa terhina, merasa tersakiti dengan ucapan yang disampaikan oleh Saudara Habib Rizieq Shihab ini," ujar Angelo.

PP PMKRI datang sekitar pukul 12.00 WIB. Memakai atribut organisasi, mereka langsung masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Mereka keluar pukul 15.50 WIB.

Jalaludin Rumi

Mereka meminta proses penanganan kasus ini dilakukan secara cepat. Angelo mengatakan pihak PMKRI akan membentuk kuasa hukum dari alumnus PMKRI. "Semua alumni PMKRI akan kita kumpulkan untuk jadi lawyer. Sampai saat ini ada 25," kata Angelo.

Habib Rizieq belum berkomentar mengenai pelaporan ini. Ketua FPI DKI Novel Bamukmin mengatakan apa yang disampaikan Rizieq tersebut bukanlah suatu pernyataan yang menistakan agama.

"Jauh itu dari penistaan agama. Apa yang disampaikan Habib Rizieq itu memiliki landasan fatwa MUI yang dikeluarkan pada 7 Maret 1981 bahwa mengucapkan selamat Natal itu haram hukumnya," ujar Novel. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mempertanyakan-bidan-yang-melahirkan-anak-tuhan-habib-rizieq-dipolisikan.html

Minggu, 01 Desember 2013

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Jember, Jalaludin Rumi. Kiai Umar selain sebagai ulama dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono, Jember, Jawa Timur, juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Bahkan rumahnya yang menyatu dengan asrama santri pada zaman revolusi itu menjadi markas berkumpulnya para pejuang, khususnya di Jember bagian timur.

Hal tersebut diungkap oleh penulis buku "Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan" KH Sholeh Hayat saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Bedah Buku Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan di auditorium IAIN Jember, Sabtu (29/10).

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Menurutnya, jasa Kiai Umar dalam merebut kemerdekaan Indonesia juga tidak kecil. Bersama Kiai Asad Syamsul Arifin, ia bahu-membahu mengusir penjajah. Oleh karena itu, Kiai Sholeh berharap kepada pemerintah agar rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya. Sudah selayaknya rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya, karena punya nilai historis, lebih-lebih terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia, ucapnya.

Sepenggal cerita sempat dikuak oleh Kiai Sholeh. Katanya, suatu ketika rumah Kiai Umar dikepung oleh serdadu Belanda. Mereka curiga bahwa rumah tersebut menjadi tempat persembunyian para pejuang. Dengan pongahnya, mereka memasuki pekarangan rumah ayahanda Kiai Khotib itu. Namun Kiai Umar tak kurang akal. Semua pejuang dan tentara, disuruh ganti baju dan pakai kopiah layaknya santri. Sehingga Belanda tidak menemukan apa yang mereka cari, urainya.

Jalaludin Rumi

Harapan serupa juga dilontarkan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN. Harisudin. Menurutnya, apa yang diharapkan Kiai Sholeh tidaklah berlebihan. Sebab, Kiai Umar memang figur pejuang yang menjadi penggerak rakyat untuk melawan penjajah. Dan rumahnya difungsikan sebagai markas, yang menjadi sentral perjuangan di wilayah tersebut, ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Jalaludin Rumi

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72536/bekas-markas-pejuang-rumah-kiai-jember-ini-diusulkan-jadi-cagar-budaya

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock