Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Dalil. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Maret 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Quran sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Quran menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Quran diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Quran sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Quran berkata Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Jalaludin Rumi

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtamaul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Jalaludin Rumi

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45413/gus-dur-dan-keadilan-ideologis

Senin, 13 Februari 2017

Cara Sholat Dhuha, Lengkap Dengan Niat dan Doanya

Jalaludin Rumi - Tata cara Sholat Dhuha hampir sama dengan sholat sunat lainnya. Syarat dan rukunnya pun sama. Harus bersih dari hadats kecil dengan melakukan wudlu. Yang menjadi perbedaan adalah batas waktu Sholat Dhuha, bacaan niat Sholat Dhuha, surat yang dibaca ketika berdiri dan bacaan doanya. Kita bahas satu-satu yah.

Cara Sholat Dhuha, Lengkap Dengan Niat dan Doanya - Jalaludin Rumi
Cara Sholat Dhuha, Lengkap Dengan Niat dan Doanya - Jalaludin Rumi


Cara Sholat Dhuha, Lengkap Dengan Niat dan Doanya

Niat Sholat Dhuha Niat dilakukan di dalam hati. Namun untuk memudahkan kita menata niat Sholat Duha itu, disunatkan untuk melafalkannya secara lisan. Ini artinya, ketika mengucapkan niat tersebut, harus terdengar oleh telinga kita, tidak harus dilisankan keras-keras hingga terdengar orang lain di samping atau di luar ruangan. Itu terlalu pamer, bukan syiar namanya.

Berikut ini adalah niat Sholat Duha, sebagaimana kami kutip dari kitab-kitab salaf.

اُصَلِّيْ سُنَّةَ الضُّحَى رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ اْلقِبْلَةِ اَدَاءً لِلَّهِ تَعَالَى

Cara pengucapan: usholli sunnatad dhuhaa rok'ataini mustaqbilal qiblati adaa-an lillaahi ta'aala.

Artinya: "Aku niat melakukan shalat sunat dhuha dua rakaat, menghadap qiblat, saat ini, karena Allah ta'ala."

Jika masih belum bisa, silakan download atau dengarkan pengucapan Sholat Dhuha di Souncloud Duta Islam. Klik di bawah ini!

Kalau ingin mengerjakan Sholat Dhuha lebih dari dua rakaat, maka, niat yang Anda lafalkan tetap sama seperti di atas. Mengapa, karena dalam Sholat Dhuha, Anda harus harus menutup dengan salam setiap dua rakaat selesai dikerjakan. Mau target 12 rakaat pun, tiap 2 rakaat, Anda harus salam, lalu mulai niat kembali seperti dilafalkan di atas.

Membaca Surat Pendek Khusus Sholat Dhuha Setelah niat Allahu Akbar (tangan diangkat ke atas seperti sholat fardhu), selanjutnya Anda membaca doa iftitah, al-Fatihah dan juga surat-surat pendek. Pada Sholat Dhuha, surat-surat pendek yang dibaca ada kekhususan tersendiri. Sebaiknya mengikuti yang sudah ada keterangan dari ulama salaf.

Menurut pendapat Imam Jalaluddin As Suyuthi dalam Hawsyil Khothiib, surat pendek yang dibaca setelah membaca surat al-Fatihah dalam Sholat Dhuha adalah surat Asy Syamsi pada rakaat pertama dan surat Ad-Dhuha pada rakaat kedua.

Jika tidak hafal, Anda bisa membaca surat pendek khusus Sholat Dhuha lainnya, yakni Al Kafirun (pada rakaat pertama) dan surat al-Ikhlash (rakaat kedua). Ini mengikuti pendapat Ibnu Hajar dan Imam Ramli.

Jika Anda mengerjakan lebih dari dua rakaat, maka, para ulama menganjurkan untuk membaca surat Asy Syams dan Ad-Dhuha pada dua rakaat pertama, kemudian membaca al-Kafirun dan al-Ikhlash pada rakaat ke-3 dan ke-4 dan seterusnya hingga maksimal 12 rakaat.

Setelah Membaca Surat Pendek Khusus Sholat Dhuha Selanjutnya, lakukan gerakan Sholat Dhuha sebagaimana sholat fardhu (bukan sholat idul fitri dan sholat mayit lo yah...heheh) seperti ruku, i'tidal, sujud, duduk antara dua sujud dan seterusnya sampai membaca tasyahud dan salam.

Doa Setelah Sholat Dhuha Setelah selesai Sholat Dhuha, bacalah doa yang khusus untuk Sholat Dhuha. Hafalkan doanya, resapi maknanya, angan-angan artinya. Insyaallah itu bagian dari cara berdoa untuk melapangkan rizki.

Dalam doa Sholat Dhuha di bawah ini, ada adab yang mengajarkan kepada kita untuk bertawassul dengan Hakikat Waktu Dhuha Allah (bi haqqi dhuhaika), yang diriwayakan dari hadits shahih. Jadi, ketika berdoa usai Sholat Dhuha, artinya Anda sedang melakukan perintah Nabi untuk bertawassul kepada Allah melalui wasilah waktu Dhuha.

Bacalah Doa Sholat Dhuha di bawah ini.

اَللّهُمَّ اِنَّ الضُّحَاءَ ضُحَاءُكَ وَالْبَهَاءَ بَهَائُكَ وَالْجَمَالَ جَمَالُكَ وَالْقُوَّةَ قُوَّتُكَ وَالْقُدْرَةَ قُدْرَتُكَ وَالْعِصْمَةَ عِصْمَتُكَ اَللّهُمَّ اِنْ كَانَ رِزْقِى فِى السَّمَاءِ فَاَنْزِلْهُ وَاِنْ كَانَ فِى اْلاَرْضِ فَاَخْرِجْهُ وَاِنْ كَانَ مُعَسِّرًا فَيَسِّرْهُ وَاِنْ كَانَ حَرَامًا فَطَهِّرْهُ وَاِنْ كَانَ بَعِيْدًا فَقَرِّبْهُ بِحَقِّ ضُحَائِكَ وَبَهَائِكَ وَجَمَالِكَ وَقُوَّتِكَ وَقُدْرَتِكَ اَتِنِى مَااَتَيْتَ عِبَادَكَ الصَّالِحِيْنَ

ALLAAHUMMA INNADH DHUHAA A DHUHAAUKA, WAL BAHAA A BAHAA UKA, WAL JAMAALA JAMAALUKA, WAL QUWWATA QUWWATUKA, WAL QUDRATA QUDRATUKA, WAL 'ISHMATA 'ISHMATUKA. ALLAAHUMA INKAANA RIZQII FIS SAMMA-I FA ANZILHU, WA INKAANA FIL ARDHI FA-AKHRIJHU, WA INKAANA MU’ASSARAN FAYASSIRHU, WAINKAANA HARAAMAN FATHAHHIRHU, WA INKAANA BA’IIDAN FA QARRIBHU, BIHAQQI DUHAA-IKA WA BAHAA-IKA, WA JAMAALIKA WA QUWWATIKA WA QUDRATIKA, AATINII MAA ATAITA ‘IBAADAKASH SHOOLIHIIN.

“Wahai Tuhanku, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu, Wahai Tuhanku, apabila rezekiku berada di atas langit maka turunkanlah, apabila berada di dalam bumi, maka keluarkanlah, apabila sukar mudahkanlah, apabila haram sucikanlah, apabila jauh dekatkanlah dengan kebenaran dhuha-Mu, kekuasaan-Mu (Wahai Tuhanku), datangkanlah padaku apa yang Engkau datangkan kepada hamba-hambaMu yang soleh.”

Jika Anda masih kurang lancar membaca doa Sholat Dhuha di atas, silakan dengarkan pengucapan doa Sholat Dhuha di atas dengan klik audio di Souncloud Duta Islam.

Demikian Cara Sholat Dhuha yang disajikan oleh Redaksi Duta Islam untuk memenuhi beberapa permintaan pembaca tentang tata cara sholat dan bentuk ibadah lainnya. Semoga ini bagian dari amal jariyah kami yang dirodloi Allah. Amin [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/cara-sholat-dhuha-lengkap-dengan-niat-dan-doanya-bisa-download.html

Kamis, 07 Januari 2016

Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego

Seorang Muslim Kamboja bernama No Sles, (dalam bahasa Indonesia dibaca Nuh Saleh) pernah berkunjung ke PBNU. Ia menyempatkan diri mampir ke kantor Redaksi Jalaludin Rumi yang terletak di lantai 5 gedung yang diresmikan KH Abdurrahman Wahid, semasa presiden.

Selama sejam ngobrol dengan Jalaludin Rumi. Ia menjelaskan keadaan muslim Kamboja; dari kebudayaan, pendidikan, dan sejarah. Pengantarnya bahasa Kamboja sehingga memerlukan seorang penerjemah.

Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego (Sumber Gambar : Nu Online)


Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego

Sebelum pamitan, sudut mata Nos Sles melihat tulisan Arab di salah satu dinding Jalaludin Rumi. Ia pun langsung mendekatinya. Kemudian membaca "Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam" yang dikeluarkan NU tahun 1983 itu.

Di deklarasi yang ditulis Arab pego itu, ada logo burung garuda (Pancasila) di sebelah kanan dan NU di sebelah kiri.

Jalaludin Rumi

Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama, demikian bunyi deklarasi sila pertama itu.

Jalaludin Rumi

No Sles yang menjabat Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja (Cambodian Muslim Development Foundation) itu membaca Arab pego dengan lancar. Ia menyebut tulisan itu "Arab Jawi".

Menurut sejarawan yang budayawan Agus Sunyoto, kita tidak perlu aneh jika Muslim Kamboja tak bisa bicara bahasa Indonesia, tapi bisa memahami dan membaca Arab pego, karena memang aksara itu digunakan dalam pengajaran di sana.

lebih jauh Agus menjelaskan kata "Jawi" yang dimaksud "Arab Jawi" Nos Sles. Kata "Jawi" adalah bahasa Jawa kuno. Sementara "Arab Jawi" adalah cara komunikasi jaringan ulama Nusantara. Aksara itu digunakan untuk wilayah Asia Tenggara.

Agus menjelaskan kaitan kata itu dengan pembagian wilayah kekuasaan Nusantara. Kira-kira abad 8 Masehi kekuasaan Mataram terbagi dua bagian; antara Sanjaya Wangsa dan Syailendra Wangsa. Nah, yang Syailendra Wangsa itu kekuasaannya disebut "Jawi", Sanjaya disebut "Jawa", katanya kepada Jalaludin Rumi, di gedung PBNU, Jakarta, (31/1) lalu.

"Jawi" itu maksudnya wilayah pedalaman, sementara "Jawa" itu disebut pesisir. Dalam istilah waktu itu, "Jawi" kepada kekuasaan Syailendra di wilayah barat, yaitu dari Jawa Tengah ke barat, hingga Campa. Sementara sebelah timurnya kekuasaan Sanjaya disebut "Jawa".

Karena saudagar-saudagar Muslim waktu itu "beroperasi" di wilayah barat (kekuasaan Syailendra), mereka menyebut "Jawi" untuk keseluruhan Nusantara. Nah, karena itu tulisan-tulisan Arab Pego, mereka sebut aksara Jawi.

Aksara Arab pego atau Arab Jawi, lanjut penulis Suluk Abdul Jalil (tujuh jilid) dan Atlas Walisongo ini, jauh sebelum zaman Walisongo. Tapi jelas itu kreativitas kalangan Muslim.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43583/ketika-muslim-kamboja-membaca-arab-pego

Jalaludin Rumi

Jumat, 06 November 2015

Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui

Jalaludin Rumi - Suatu ketika, Mbah Hamid memondokkan putranya (Gus Nu'man) di Pesantren Darul Hadis Malang yang diasuh oleh ulama besar pakar Hadis Prof. Dr. Habib Abdulloh Bilfaqih.

Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui - Jalaludin Rumi
Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui - Jalaludin Rumi


Kiai Hamid Pasuruan Menangis Karena Malu Kelebihannya Diketahui

Namanya juga anak muda, pasti ada nakalnya. Begitu juga dengan Nu'man, Nampaknya kenakalannya terdengar sampai ke telinga Habib. Lalu Nu'man dipanggil oleh sang pengasuh. Dia diberi pengarahan dan nasehat-nasehat agar tidak nakal lagi. Ia dinasehati, tapi tidak sampai di ta'zir.

Satu dua kali, dia dipanggil, namun tetap saja belum ada perubahan. Akhirnya untuk yang ketiga kali panggilan, dia dihukum langsung oleh pengasuh. Nu'man dipukul berkali-kali dengan penjalin (bambu kuning yang masih muda).

Hingga pada suatu malam al Habib Abdullah ditegur abahnya, Al Qutb al Habib Abdul Qodir Bilfaqih, lewat sebuah mimpi. Abahnya berkata, "nak koen ndak wero tah, ana'e sopo seng koen tandangi iku? Iku putrone Kiai Hamid, kyai seng dadi wali abdal, opo koen gak wedi kualat/ Nak, kamu tidak tahu, anak siapa yang kamu pukuli itu? Itu adalah anak Kiai Hamid, kiai yang menjadi wali abdal, apa kamu tidak takut kualat?".

Beberapa hari kemudian, Habib Abdullah juga mimpi bertemu Kiai Hamid sedang menuju pintu surga, dan sang Habib tersebut berusaha menggapai kiai Hamid, tapi tidak bisa. Mimpi yang sama terulang beberapa hari.

Setelah mendapat teguran dari sang ayahanda, dan bermimpi bertemu Kiai Hamid, beliau merasa sangat bersalah kepada Kiai Hamid. Lalu beliau mendatangi kediaman Kiai Hamid untuk meminta maaf atas perilakunya terhadap sang anak, Gus Nukman.

Kebetulan waktu itu bertepatan hari Ahad, dimana pengajian umum rutinan di ndalem Kiai Hamid sedang diadakan. Begitu Kiai Hamid melihat kedatangan Al Habib, beliau menyongsong dan mempersilakan Habib Abdullah untuk memimpin pengajian rutin tersebut.

Tak dinyana, dalam pengajiannya, Sang Habib justru menceritakan apa yang beliau perbuat kepada Gus Nu'man dan mimpi-mimpinya itu kepada para jamaah pengajian yang jumlahnya puluhan ribu.

Mendengar apa yang dituturkan oleh Sang Habib, tanpa terasa air mata Mbah Hamid mengalir deras, Menurut sumber, Kiai Hamid tidak pernah menangis sampai parah seperti itu sebelumnya. Beliau malu kalau kelebihannya diceritakan di muka umum. Ya Allah kariim. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/kiai-hamid-pasuruan-menangis-karena-kelebihannya-diketahui.html

Senin, 15 Desember 2014

Riyanto Banser NU Gugur Memeluk Bom Saat Mengamankan Jamaat Gereja

Jalaludin Rumi - Kisah pengorbanan Riyanto, anggota Barisan Anshor Serbaguna (Banser) dari Mojokerto saat ditugaskan GP Anshor membantu polisi mengamankan perayaan Natal pada 24 Desember 2000 silam, hingga kini masih tetap dikenang dari berbagai kalangan masyarakat.

Dalam rangka mengenang jasa-jasanya, nama Riyanto telah dibuat sebagai nama jalan di Prajurit Kulon, Kota Mojokerto. Bahkan Pemerintah Kota Mojokerto juga telah membangun gapura megah di Jalan Riyanto.

Riyanto Banser NU Gugur Memeluk Bom Saat Mengamankan Jamaat Gereja - Jalaludin Rumi
Riyanto Banser NU Gugur Memeluk Bom Saat Mengamankan Jamaat Gereja - Jalaludin Rumi


Riyanto Banser NU Gugur Memeluk Bom Saat Mengamankan Jamaat Gereja

Kisah inspiratif yang dilakukan oleh Riyanto terjadi saat bom meledak di Gereja Eben Haezer, Mojokerto pada malam Natal. Banyak orban berjatuhan, dan yang paling menyita perhatian adalah sosok Riyanto.

Pria berusia 25 tahun itu meninggal di tempat kejadian dengan kondisi jenazah yang sangat mengenaskan. Namun bukan karena kondisi tubuhnya yang jadi bahan perbincangan bagi kebanyakan orang, namun statusnya yang sebagai anggota Banser yang banyak menyita perhatian.

Pada malam Natal itu, Riyanto merupakan salah satu dari empat orang Banser NU yang dikirim GP Ansor Mojokerto untuk menjaga perayaan Natal di gereja Eben Haezer, Mojokerto. Lelaki kelahiran Kediri, 23 November 1975 itu ditugaskan oleh GP Ansor Mojokerto untuk serta mengamankan perayaan malam Natal.

Semula, Misa Malam Natal itu berlangsung dengan khusyuk seperti tahun-tahun sebelumnya, tetapi ternyata hanya berlangsung separuh jalan. Sekitar pukul 20.30 WIB, seorang jemaat menaruh curiga pada sebuah bingkisan yang tergeletak tak bertuan di depan pintu masuk gereja.

Riyanto pun memberanikan diri membuka bingkisan itu. Ia membongkar kantong plastik hitam itu di hadapan petugas pengamanan gereja Eben Haezer lainnya, termasuk seorang polisi Polsek setempat. Di dalamnya tampak menjulur sepasang kabel. Tiba-tiba muncul percikan api. Riyanto langsung berteriak sigap, “Tiaraaaapp!” dan kemudian terjadi kepanikan dalam Gereja.

Riyanto segera keluar ruangan dan melemparkan bungkusan bom itu ke tong sampah, namun terpental. Ia kemudian berinisiatif mengamankan bom dengan memungut kembali untuk dilemparkan ke tempat yang lebih jauh lagi dari jemaat. Namun, Allah SWT berkehendak lain, bom mendadak dalam pelukan Riyanto sebelum sempat dilempar.

Tubuh pria itu terpental, berhamburan. Sekitar 3 jam kemudian, sisa-sisa tubuh Riyanto baru ditemukan di sebelah utara kompleks gereja, sekitar 100 meter dari pusat ledakan. Jari dan wajahnya hancur, Riyanto pun meninggal seketika.

Bom ini tampaknya tidak main-main. Ledakannya membuat roboh pagar tembok di seberang gereja. Bahkan kaca-kaca lemari dan etalase Studio Kartini yang tepat di depan gereja Eben Haezer hancur semua. Ledakan ini bukan satu-satunya. Pada saat yang hampir sama, beberapa gereja yang lain juga terkena bom dan menelan korban jiwa.

Pria Muslim yang lahir dari pasangan Sukarnim dan Katinem ini banyak dipuji orang. Seorang Muslim sejati yang rela mengorbankan nyawanya demi menyelamatkan orang lain yang sedang merayakan. Gus Dur pernah berujar, “Riyanto telah menunjukkan diri sebagai umat beragama yang kaya nilai kemanusiaan. Semoga dia mendapatkan imbalan sesuai pengorbanannya.”

Kini, setelah 15 tahun peristiwa itu berselang, nama Riyanto hampir tidak pernah disebut, apalagi untuk diteladani semangat perjuangan dan rasa kemanusiaan Riyanto. Sungguh hal ini sangat ironis, bila dibandingkan dengan keteguhan jiwa Riyanto yang muslim, mau mengorbankan jiwa dan raganya untuk menyelamatkan ratusan nyawa jemaat gereja Eben Haezer.

Di tengah banyaknya aksi kekerasan mengatasnamakan agama seperti yang belakangan ini sering terjadi, sosok dan pengorbanan Riyanto, patut menjadi teladan bagi kita semua, tanpa membeda-bedakan agama dan kepercayaan, suku, ras maupun golongan. Salam Bhinneka Tunggal Ika! [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/riyanto-banser-nu-gugur-memeluk-bom-saat-mengamankan-jamaat-gereja.html

Sabtu, 29 November 2014

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Jalaludin Rumi - Awal Ramadhan, empat tahun yang lalu ceramah malam pertama tarawih diberikan oleh Mohammad Mahfud Md., yang waktu itu masih Ketua MK. Ia bercerita mengenai sejumlah hal, namun yang paling mengesankan adalah cerita ini:

Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi
Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya - Jalaludin Rumi


Ini Dzikir Tukang Becak Hingga Mampu Menyekolahkan Anaknya

Ceritanya adalah mengenai seorang lelaki tua tukang becak yang sanggup menyekolahkan anak-anaknya hingga menjadi orang. Di atas kertas, sebenarnya muskil bagi tukang becak untuk bisa mengantarkan anak-anaknya sekolah hingga perguruan tinggi. Namun kemustahilan itu toh terlampaui juga.

Mahfud, yang mengenal lelaki itu, tentu saja penasaran. "Bagaimana bisa Bapak sanggup melakukan semua itu, apa yg sudah Bapak lakukan untuk anak-anak?" Kurang lebih, begitu pertanyaannya pada lelaki itu. (Baca Jalaludin Rumi: Amalan Asyuro Bukan Bid'ah)

Dengan bahasa Jawa halus, lelaki itu menjawab tatag, "Saya hanya berusaha menjalankan pekerjaan saya dengan sebaik-baiknya, Pak."

"Mosok hanya itu, Pak?" Mahfud masih penasaran. Ia berharap ada rahasia lain yang disimpan oleh lelaki itu.

Karena didesak, dengan wajah malu-malu, akhirnya lelaki sepuh itu menjawab, "Sejak masih muda, saya rutin mengamalkan sebuah doa, Pak," ujarnya.

"Wah, doa apa itu?" Mahfud jadi kian penasaran. (Baca Jalaludin Rumi: Kisah Pemandu Amalan Tarekat Para Sufi)

"Nganu, Pak, doanya cuma pendek saja. Lha wong saya saja tidak banyak belajar agama," aku si lelaki pengayuh becak, sembari tersipu.

"Panjang dan pendeknya doa itu tidak masalah, Pak. Wah, tapi doanya bagaimana ya, itu?!" Pokoknya Mahfud semakin penasaran.

"Setiap kali saya mengayuh becak, sejak muda dulu, pada setiap kayuhan saya selalu membaca doa ini, 'lawala wala kuwata'. Nggih, ming mekaten," ujar si pengayuh becak. Kali ini raut mukanya penuh kebanggaan. (Baca Jalaludin Rumi: Keutamaan Membaca Surat Al-Kahfi)

Mahfud Md. kontan tercenung. Sebagai lulusan pondok, ia tahu bahwa yang dimaksud oleh lelaki tua pengayuh becak itu sebenarnya adalah bacaan hauqalah, yang aslinya berbunyi "laa haula wala quwwata illa billah". Hanya, karena lelaki tua itu tak pernah belajar mengaji, maka ia hanya mengingat bacaan itu dalam redaksi yang lain, semampu yang didengarnya saja.

Tapi bayangkan, sungguh Allah memang Maha Pemurah dan Maha Pengasih. "Bahkan sebuah dzikir yang redaksinya keliru pun diijabah-Nya," kelakar Mahfud dalam ceramahnya.

Dan memang, bukankah nilai sebuah doa tak terletak pada susunan redaksionalnya? Bukankah Yang Kuasa tak mungkin keliru mendengar atau memahami maksud hambaNya?

Tapi kita, yang fakir ini, masih saja gemar mempertengkarkan soal kemasan dan redaksional, sehingga sering jadi kehilangan esensi (niat dan ketulusan hati, terbebas dari riya, sombong).

Sadarlah Allah di atas segalanya, termasuk dalam hal diterimanya/tidak suatu amal ibadah. Yang tidak sesuai di mata kita belum tentu tidak sesuai di mata Allah. Bersihkan hati kita dari perasangka buruk dan mudah menghakimi orang lain, baiknya kita lebih was was apakah amalan yang Allah beri kekuatan untuk kita lakukan sudah diterima atau belum daripada kita sibuk memikirkan amalan orang lain. [Jalaludin Rumi/ab]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/04/ini-dzikir-tukang-becak-hingga-mampu-menyekolahkan-anaknya.html

Sabtu, 08 Februari 2014

Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop!

Jalaludin Rumi - Di Jepara, pada November 2016, atraksi penggila bus mania yang meminta bunyi klakson khas telolet-telolet di sepanjang jalan raya antara Ngabul hingga Pecangaan, Jepara, dilarang oleh Polres setempat.

Alasannya, permintaan ratusan (bahkan ribuan) anak-anak, remaja, bapak-bapak, ibu-ibu dan juga kakek nenek yang berkumpul menunggu hadirnya bus telolet lewat, dianggap mengganggu lalulintas. Para penggila telolet bahkan ada yang datang dari Demak, Kudus dan sekitarnya, hanya untuk menyaksikan ramainya anak-anak meminta ke awak bus dengan spanduk "Om Telolet Om".

Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop! - Jalaludin Rumi
Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop! - Jalaludin Rumi


Sumbu Pendek: Om Telolet Adalah Akal-Akalan Yahudi. Stop!

Bunyi klakson bus yang awalnya digunakan oleh pengendara mobil di Arab untuk mengusir unta yang acap menghadang lalulintas perjalanan pengendara itu, ternyata disebut sebagai penyalahgunaan oleh kepolisian jika dialihkan fungsinya sebagai hiburan di pinggir jalan.

Anehnya, ketika di Jepara sudah tidak diperkenankan sebagai hiburan petang di pinggir jalan, di Amerika sana telolet malah menjadi trending topic. Bahkan Jalaludin Rumi mendapatkan kiriman video adanya 3 pemuda bule yang beraksi teriak-teriak ke truk sambil mengatakan dengan fasih, "Om Telolet Om".

Jalaludin Rumi

Om, artinya paman. Panggilan kehormatan buat pria, "pak". Tapi di kubu sana, ada-ada saja cara untuk mengkritik sesuatu yang bukan substansi. Di antara mereka ada yang menyebar BC yang isinya, kata "Om" berasal dari bahasa Bali kuno yang berati Tuhan, "telolet Adalah bahasa Swahili yang berarti Yahweh," tulisnya.

Ada lagi yang membuat status tuduhan di Facebook kalau Om Telolet adalah akal-akalan tokoh Yahudi Nelson Mandela yang dipolulerkan pada abad 20 SM, yang berarti "Setan Adalah Segalanya". Hahaha

Om Telolet Setan Adalah Segalanya Jadi, menurut pembuat BC itu, menyebut Om Telolet sama dengan menyebut Yahweh tuhan Yahudi. Wkwkwk. "Kalian sedang di yahudinisasi!", sarkasnya tegas. Padahal, orang bule yang berbahasa Inggris saja bingung maknanya sampai harus membuat tweet yang akhirnya viral. Mereka bertanya, "What is Om Telolet Om?". Ini salah satu screen shoot pertanyaan mereka.

Jalaludin Rumi

Telolet Om Om Telolet Om pun akhirnya dituduh sebagai pengalihan isu dan sekaligus pendangkalan akidah kepada akhi-akhi yang lemah iman karena sumbunya pendek, mudah digesek. Padahal itu hanya kalimat anak-anak yang bergembira meminta supir bus klakson telolet agar dibunyikan.

Wajah Indonesia yang harusnya damai dengan telolet menjadi sedikit muram dengan asumsi ngawur para sumbu pendek yang sedikit-sedikit langsung disebut pengalihan isu Ahok, Al Maidah 51 hingga pendangkalan akidah. Memang kok yah, paling bertauhid adalah mereka. Telolet sik Om, Telolet! [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/sumbu-pendek-om-telolet-adalah-akal-akalan-yahudi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock