Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Hikmah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Ini adalah kisah Shohnun dan murid terdekatnya. Dikisahkan Shohnun adalah seorang tabib, ahli pengobatan. Berbagai macam penyakit, mampu ia obati. Mulai dari penyakit sepele, sekelas sakit gigi hingga penyakit organ dalam kelas kakap.

Dari keahliannya itu, banyak orang yang berduyun-duyun, datang kepada tabib Shohnun untuk meminta diobati. Nahas, tak selang berapa lama, Shohnun meninggal dunia.

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)


Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Orang-orang pun kebingungan, akan kemana lagi mereka meminta pertolongan obat. Oh ya, mereka baru tersadar. Ternyata Shohnun memiliki murid terdekat. Ya, akhirnya orang-orang pun, bergegas menghampiri sang murid terdekat. Berharap sang murid mewarisi kehebatan gurunya.

Jalaludin Rumi

Setelah menerima kedatangan orang-orang yang sakit, sang murid pun mengiyakan permintaan mereka dengan begitu enteng dan semangat. Hal itu bukan tanpa sebab.

Ternyata, dahulu kala, semasa shohnun hidup, dalam terapi pengobatannya, shohnun hanya menuliskan huruf hijaiyah nun ( ) dalam cawan. Kemudian huruf nun tersebut ia hapus perlahan dengan air yang ia siramkan. Melalui secawan air hapusan huruf hijaiyah nun itulah, kemudian Shohnun meminumkannya kepada pasien. Dan, Manajur! Berbagai penyakit ia sembuhkan.

Tentunya, sang murid terdekat yang pada masa itu menjadi asistennya, dapat menghafal dengan mudah teknik pengobatan Shohnun. Dan atas dasar itu pula, bermodalkan pengamatan tak berizin, sang murid dengan yakin menerima permintaan pasien mendiang Shohnun untuk mengobati pasien.

Jalaludin Rumi

Satu persatu pasien pun telah ia obati. Masih dengan ritual sama, persis dengan yang dilakukan gurunya dahulu. Menuliskan huruf hijaiyah nun diatas cawan, menghapusnya perlahan dengan air, kemudian meminumkannya kepada pasien. Beres, dijamin manjur, karena tak ada satu pun langkah yang berbeda dari yang dilakukan gurunya. Batin sang murid.

Keesokan harinya, sang murid kaget bukan main. Klinik tabibnya dipenuhi keluarga pasien. Bukan apa, mereka datang berbondong-bondong untuk meminta pertanggung jawaban kepada sang murid. Ya, bukan kesembuhan yang pasien peroleh, malah penyakit semakin parah yang mereka peroleh.

Dengan gugup, sang murid pun meminta maaf. Memohon agar mereka beranjak meninggalkan klinik, untuk sementara waktu menunggu. Agar ia menemukan penyebab obatnya yang malah memperparah penyakit pasien.

Malam harinya, sang murid tertidur. Benar, ia mendapat petunjuk. Dalam mimpinya, ia dapati Hatif, suara tanpa rupa berujar:

Ini adalah (huruf) nun, namun dimanakah Shohnun?

Ia pun terjaga dari tidurnya. Ia pun tersadar, ia merasa bersalah. Betapa ia dengan berani mengamalkan "ilmu ilegal", ilmu tak berizin, ilmu yang hanya ia dapat dari hasil pengamatannya yang hanya seorang murid.

Ia abai terhadap sanad keguruan, ia tak peduli akan mata rantai keilmuan. Ia tak menghiraukan, apakah gurunya ikhlas akan ilmu yang ia curi? Dan, apakah cukup, ilmu yang sebegitu luhur hanya ia pelajari secara cur-curi lewat pengamatan tak berizinnya?

Ia pun tergugu, ia baru sadar, ada satu sisi yang yang terpenting dalam ilmu yaitu keberkahan. Dan sayangnya, keberkahan tak dapat ia peroleh melainkan dengan sanad. Ya, mata rantai keilmuan dari guru yang terpercaya, teruji kealiman serta keikhlasannya.

Maka tak mengherankan jika pasiennya bertambah parah. Adalah sebab keberkahan tak turun kepadanya. Karena sesuai definisi Ahlul Hukama, ulama-ulama ahli ilmu hikmah:

Keberkahan ialah tambahnya kebaikan.

Akhirnya, sang murid pun menyesal, tak sakali-kali lagi ia mengamalkan ilmu ilegal-nya.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita agar memilih guru yang terpercaya. Lebih-lebih dalam urusan agama. Karena jika salah beramal, bisa-bisa malah salah kejadiannya. Jangan hanya berguru pada syaikh google dan ustadz youtube saja. Hati-hati, di dunia maya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan KH Muhammad Shofi Al-Mubarok di sela-sela pengajian kilatan Bulan Rajab.

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77362/akibat-mengamalkan-ilmu-tak-berizin

Jalaludin Rumi

Jumat, 13 Mei 2016

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

Rembang, Jalaludin RumiTerkait serangkaian aksi terorisme menjelang hari raya Idul Fitri yang terjadi di Mapolresta Surakarta dan di Madinah, Satuan Koordinasi Cabang Barisan Ansor Serbaguna (Banser) Rembang menggelar aksi damai bersama puluhan personel Banser di Bundaran Pasar Kota Rembang, Jawa Tengah, Selasa (12/7). Mereka mengecam aksi biadab tersebut.

Kepala Sekretariat Markas (Kasatma) Banser Rembang, Imam Syarifudin dalam orasinya mengajak kepada segenap elemen masyarakat untuk monolak aksi terorisme dalam bentuk apa pun. Ia juga menyebut, atas nama apa pun segala bentuk terorisme merupakan kejahatan kemanusiaan yang harus diperangi bersama.

Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)


Aksi Damai, Banser Rembang Suarakan 5 Sikap Antiradikalisme

"Terorisme dan radikalisme merupakan bentuk kejahatan yang harus kita lawan bersama-sama. Karena terorisme banyak sekali korban jiwa berjatuhan, ujarnya.

Dalam kesempatan itu, Imam Syarifudin juga membacakan Pernyataan Sikap GP Ansor Rembang untuk menolak segala bentuk tindakan terorisme. Berikut teks lengkapnya:

Jalaludin Rumi

Kami kader Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang dengan ini,

Jalaludin Rumi

1. Menyatakan tekad menolak segala bentuk radikalisme dan terorisme, terutama yang mengatasnamakan agama, demi menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

2. Menyatakan tekad menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 dan bersendikan Bhinneka Tunggal Ika.

3. Menyatakan tekad menjaga dan melestarikan kebudayaan Nusantara sebagai jati diri bangsa Indonesia.

4. Menyatakan mendukung langkah cepat, tepat dan tanggap dari pemerintah dalam mengatasi segala aksi radikalisme dan terorisme serta organisasi anti Pancasila.

5. Mengimbau berbagai pihak agar bahu-membahu menangkal radikalisme dan terorisme melalui pemberian pemahaman kailmuan dan keislaman secara benar, yaitu Islam yang penuh kasih sayang dan rahmatan lil alamin, serta menindak tegas pihak-pihak yang mengajarkan kebencian dan merongrong Pancasila.

Dalam aksi itu sejumlah ormas kepemudaan dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) turut mendukung aksi yang dilakukan oleh Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Rembang, dan bersama-sama menolak dan mengecam aksi radikalisme dan terorisme yang ada di Indonesia dan dunia. (Ahmad Asmui/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/69683/aksi-damai-banser-rembang-suarakan-5-sikap-antiradikalisme

Jalaludin Rumi

Jumat, 20 November 2015

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Jalaludin Rumi - Beredar foto yang mencomot Tempo serta Metro TV dimana Ahok dalam judul berita ditulis menyatakan "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal | Target Anggaran Rp. 5 T Untuk Gereja". Judul itu dinisbatkan kepada Koran Tempo, tanpa keterangan tanggal dan tahun berapa berita itu ditulis.

Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Jalaludin Rumi
Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal - Jalaludin Rumi


Sableng Kuadrat Jika Benar Ahok Bilang Akan Bangun Gereja Tandingi Istiqlal

Metro TV pun dicomot dalam gambar broadcast tersebut dengan catatan caption berita "Ahok: Saya Ingin Jakarta Punya Gereja Seluas Vatikan Roma Bebas Masuk Untuk Semua Agama". Running teks Metro TV juga ditulis seolah senada dengan catatan berita yang sedang tayang, "Ahok mengaku jika menang di Pilgub DKI 2017 Akan Bangun Gereja Besar di Jakarta Pusat".

Bagi masyarakat awam, dua berita dari dua media yang dikliping dalam bentuk gambar dengan keterangan singkat tersebut akan menggiring orang untuk membenci. Seolah-olah judul berita itu memang ada dan fakta.

Padahal, dari segi konten, pernyataan itu justru akan membuat blunder Ahok jika dimuat di media yang bebas diakses oleh semua orang. Ia akan memperkeruh suasana jelang Pilkada pastinya. Ini menunjukkan kalau kebenaran kliping gambar judul berita dari dua media di atas sangat lemah kuadrat.

Penyebar foto di grup-grup WhatsApp, ketika diminta Jalaludin Rumi untuk mencari link sumber, tidak ada yang bisa menjawab. Akhirnya, redaksi melakukan Googling dengan kata kunci pas sesuai judul berita "Jika Kami Menang Gereja di Jakarta Harus Lebih Besar dari Istiqlal".

Ternyata situs Tempo tidak ada yang memuat judul di atas. Metro TV juga tidak memuat judul tersebut. Yang ditemukan justru situs Kompas, Detik dan Viva. Tapi tidak ada judul berita sebagaimana ucapan Ahok. Itupun judul beritanya "Gereja Raksasa Berdiri Megah di Kemayoran", dimuat Detikcom tahun 2009.

Jika screenshoot kliping gambar berita itu di-zoom lebih lebar, Anda akan menemukan kalau gambar broadcast tersebut adalah editan. Terlihat ada ketidakserasian dalam teknik menempel antar gambar.

Jika sumber link berita tidak ada, analisis konten juga lemah, ditambah teknik tempel klipingnya yang tidak menemukan keserasian warna dan batas margin pas, maka, sudah bisa dipastikan kalau gambar itu adalah a-faktual, tidak merujuk fakta manapun, hoax.

Setelah doa Mbah Moen dimanipulasi, kini tim pasangan yang menggunakan isu agama juga main di wilayah hoax gambar tanpa referensi. Jika benar Ahok menyatakan demikian, bisa dibilang dia sableng kuadrat.

Untuk melengkapi keterangan, silakan Anda unduh gambar yang diulas editorial Jalaludin Rumi ini pada link Google Docs redaksi DI, di bawah. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/sableng-kuadrat-jika-benar-ahok-bilang-akan-bangun-gereja-tandingi-istiqlal.html

Selasa, 14 Juli 2015

IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia

Bojonegoro, Jalaludin Rumi. Tak dapat dipungkiri pendidikan merupakan tonggak utama sebuah negara untuk dapat berkembang dan maju. Kesadaran untuk mendapatkan pendidikan pun sudah sangat tinggi di masyarakat. Akan tetapi, sejauh ini dunia pendidikan Indonesia juga belum menemukan formula yang tepat untuk merancang sistem pendidikan yang baik.

Hal inilah yang dikaji oleh IPNU-IPPNU Kecamatan Sumberrejo dalam RTL Lakmud (Latihan Kader Muda) yang bertempat kantor PAC setempat (10/2).

IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)


IPNU-IPPNU Kaji Problematika Pendidikan Indonesia

Dian Imaduddin selaku koordinator acara mengatakan Dengan angota yang mayoritas pelajar, kami ingin mencermati apa sebenarnya yang menjadi problematika pendidikan Indonesia saat ini serta mengajak para kader untuk lebih berfikir kritis.

Kegiatan yang diikuti oleh 40 peserta ini mendatangkan H. Abdul Aziz selaku Kepala UPTD Pendidikan Kecamatan Sumberrejo. Pria yang juga menjadi dosen di STAI Attanwir ini memaparkan beberapa problematika Pendidikan di Indonesia saat ini di antaranya yaitu, Sistem pendidikan yang sering berubah-rubah dan budaya instan yang masih terjadi pada sebagian masyarakat dalam memperoleh gelar akademik.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

Redaktur : Mukafi Niam

Kontributor: Munawwar

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/36298/ipnu-ippnu-kaji-problematika-pendidikan-indonesia

Jalaludin Rumi

Jumat, 10 April 2015

Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama!

Jalaludin Rumi - Bisa dikatakan mungkin saya di NU masih seumur jagung dan juga belum memberikan kontribusi apa-apa. Namun hati ini merasa yakin untuk saya ikut di organisasi ini, bukan karena faktor keturunan dari orangtua saya yang NU, tapi benar-benar saya memahami bahwa inilah organisasi di Indonesia yang dari dulu jaman penjajah mengawal sampai kemerdekaan RI.

Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama! - Jalaludin Rumi
Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama! - Jalaludin Rumi


Duta Islam di Indonesia ya Nahdlatul Ulama!

Dari dulu NU memberikan dukungan perjuangan kemerdekaan dan sampai sekarang tetap teguh mempertahankan NKRI. Penerimaan NU atas Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI dan UUD 1945 adalah sebagai strategi untuk menjalankan ajaran Islam secara merdeka bagi umat Islam di Indonesia tanpa ada disintegrasi bangsa, tanpa perang, tanpa kekerasan.

Ketika Indonesia merdeka NKRI segera dikukuhkan sebagai sebuah negara kesatuan berdasarkan ideologi Pancasila, yang merupakan warisan leluhur bangsa ini. Itulah sebabnya Pancasila diterima oleh bangsa ini dengan tangan terbuka karena memang sebelumnya telah hidup dan berkembang sebagai falsafah hidup bagi bangsa ini, sehingga walaupun berbeda budaya, berbeda suku dan berbeda agama, tetapi bisa hidup rukun dan bersatu saling tolong-menolong satu sama lain.

Nahdlatul Ulama (NU) lahir dari budaya Islam Nusantara dan berkembang dalam budaya Nusantara dengan segala gelombang yang terjadi di atasnya, ketika Nusantara dalam penjajahan NU dengan gigih mempertahankan identitas kenusantaraannya dan berjuang penuh melawan penjajah yang ingin melenyapkan kenusantaraan menjadi kebelandaan.

Pesantren berhasil menjaga tradisi Islam Nusantara, dan dari situlah 91 tahun yang lalu NU Lahir. Dalam keterjajahan itu, NU mengobarkan semangat revolusi dan perjuangan. Karena itu ketika Nusantara merdeka menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, tidak ragu lagi NU menjadi penjaga dan sekaligus penyangga serta perekat persatuan Indonesia, dalam menghadapi berbagai subversi, gerakan separatis dan pemberontakan yang menodai negeri ini.

Hadirnya Reformasi dengan semangat liberalisme yang tanpa batas menjadikan upaya merombak NKRI serta mengganti atau merevisi Pancasila terus berjalan, dengan menawarkan ideologi lain yang tidak sesuai dengan budaya bangsa Indonesia. Dari situlah ketegangan nasional mulai terjadi antara kelompok pembela NKRI dan pendukung Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara dengan kelompok yang ingin merombaknya. Berkat kegigihan pendukung NKRI dan Pancasila ini kedua hal tersebut tidak diubah.

Semoga Jam’iyah kami, Nahdlatul Ulama (NU), sebagaimana mula-mula didirikan 91 tahun yang lalu, sebagai jam’iyah yang berkhidmah dan melayani umat, bangsa, dan Negara Indonsia. Jadikanlah Nahdlatul Ulama (NU) pelopor dalam menyiarkan Islam yang rahmatan lil’aalamiin dan meneladankan ajaran dan akhlak Rasulullah SAW.

Jadikanlah Nahdlatul Ulama (NU) rahmat dan bukan beban bagi umat, bangsa dan Negara Indonesia. Anugerahilah kekuatan lahir-batin kepada para pemimpin dan pengurus Nahdlatul Ulama (NU) di semua jajaran untuk memikul amanat, mengurusi dan tidak malah menjauhi warga mereka. Bukalah mata hati dan pikiran mereka; agar mereka dapat berpikir, bersikap, dan bertindak sesuai Khittah Nahdlatul Ulama (NU).

Anugerahilah mereka sikap qana’ah, tidak tamak dan mudah silau terhadap materi duniawi. Jangan biarkan kepentingan sesaat membelokkan mereka dari tujuan mulia jam’iyyah mereka: melayani umat, berkhidmah kepada bangsa dan negara, demi mendapatkan ridha-Mu. Duta Islam di Indonesia adalah NU. [Jalaludin Rumi]

Abdul Adhim, Netizen NU Kota Santri Pekalongan 

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/duta-islam-di-indonesia-ya-nahdlatul-ulama.html

Senin, 16 Desember 2013

Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan

Jalaludin Rumi - Pimpinan Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia (PP PMKRI) melaporkan Imam Besar FPI Habib Rizieq ke Polda Metro Jaya. Habib Rizieq dilaporkan karena ceramahnya dalam video yang beredar di media sosial dianggap menistakan agama Kristen.

"Kami melaporkan Habib Rizieq, Fauzi Ahmad, dan Saya Reza terkait penistaan agama," kata Ketua Umum PP PMKRI Angelo Wake Kako kepada wartawan di Gedung Palayanan Satu Atap, Polda Metro Jaya, Jl. Gatot Subroto, Jakarta, Senin (26/12/2016).

Laporan polisi PP PMKRI itu bernomor TBL/6344/XII/2016/PMJ/Ditreskrimsus. Pada laporan itu, PP PMKRI melaporkan Habib Rizieq. Ketiga orang tersebut dilaporkan karena penistaan agama melalui media elektronik dengan Pasal 156 dan 156a KUHP serta UU No 11 Tahun 2008 tentang ITE. Barang bukti yang dilampirkan adalah softcopy video.

Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan - Jalaludin Rumi
Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan - Jalaludin Rumi


Tanya Bidan yang Melahirkan Anak Tuhan, Bib Riziq Dipolisikan

Video tersebut diambil dari ceramah Rizieq di Pondok Kelapa pada Minggu (25/12/2016). Dalam video yang berdurasi 21 detik itu, Rizieq tampak tengah berbicara di depan massa. Dia membahas mengenai ucapan selamat Natal.

Jalaludin Rumi

"Pada ceramah beliau di Pondok Kelapa pada tanggal 25 kemarin yang menyatakan bahwa 'Kalau tuhan itu beranak, terus bidannya siapa?' dan di situ kita temukan banyak gelak tawa dari jemaat terhadap apa yang disampaikan dari Habib Rizieq tersebut. Jujur sebagai Ketua Umum PP-PMKRI, kami merasa terhina, merasa tersakiti dengan ucapan yang disampaikan oleh Saudara Habib Rizieq Shihab ini," ujar Angelo.

PP PMKRI datang sekitar pukul 12.00 WIB. Memakai atribut organisasi, mereka langsung masuk ke ruang Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT). Mereka keluar pukul 15.50 WIB.

Jalaludin Rumi

Mereka meminta proses penanganan kasus ini dilakukan secara cepat. Angelo mengatakan pihak PMKRI akan membentuk kuasa hukum dari alumnus PMKRI. "Semua alumni PMKRI akan kita kumpulkan untuk jadi lawyer. Sampai saat ini ada 25," kata Angelo.

Habib Rizieq belum berkomentar mengenai pelaporan ini. Ketua FPI DKI Novel Bamukmin mengatakan apa yang disampaikan Rizieq tersebut bukanlah suatu pernyataan yang menistakan agama.

"Jauh itu dari penistaan agama. Apa yang disampaikan Habib Rizieq itu memiliki landasan fatwa MUI yang dikeluarkan pada 7 Maret 1981 bahwa mengucapkan selamat Natal itu haram hukumnya," ujar Novel. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/mempertanyakan-bidan-yang-melahirkan-anak-tuhan-habib-rizieq-dipolisikan.html

Minggu, 01 Desember 2013

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Jember, Jalaludin Rumi. Kiai Umar selain sebagai ulama dan pendiri Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Sumberwringin, Sukowono, Jember, Jawa Timur, juga dikenal sebagai pejuang kemerdekaan. Bahkan rumahnya yang menyatu dengan asrama santri pada zaman revolusi itu menjadi markas berkumpulnya para pejuang, khususnya di Jember bagian timur.

Hal tersebut diungkap oleh penulis buku "Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan" KH Sholeh Hayat saat menjadi pemateri dalam Seminar dan Bedah Buku Kyai dan Santri dalam Perang Kemerdekaan di auditorium IAIN Jember, Sabtu (29/10).

Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)
Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya (Sumber Gambar : Nu Online)


Bekas Markas Pejuang, Rumah Kiai Jember Ini Diusulkan Jadi Cagar Budaya

Menurutnya, jasa Kiai Umar dalam merebut kemerdekaan Indonesia juga tidak kecil. Bersama Kiai Asad Syamsul Arifin, ia bahu-membahu mengusir penjajah. Oleh karena itu, Kiai Sholeh berharap kepada pemerintah agar rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya. Sudah selayaknya rumah Kiai Umar dijadikan cagar budaya, karena punya nilai historis, lebih-lebih terkait dengan perjuangan bangsa Indonesia, ucapnya.

Sepenggal cerita sempat dikuak oleh Kiai Sholeh. Katanya, suatu ketika rumah Kiai Umar dikepung oleh serdadu Belanda. Mereka curiga bahwa rumah tersebut menjadi tempat persembunyian para pejuang. Dengan pongahnya, mereka memasuki pekarangan rumah ayahanda Kiai Khotib itu. Namun Kiai Umar tak kurang akal. Semua pejuang dan tentara, disuruh ganti baju dan pakai kopiah layaknya santri. Sehingga Belanda tidak menemukan apa yang mereka cari, urainya.

Jalaludin Rumi

Harapan serupa juga dilontarkan Katib Syuriyah PCNU Jember, Ustadz MN. Harisudin. Menurutnya, apa yang diharapkan Kiai Sholeh tidaklah berlebihan. Sebab, Kiai Umar memang figur pejuang yang menjadi penggerak rakyat untuk melawan penjajah. Dan rumahnya difungsikan sebagai markas, yang menjadi sentral perjuangan di wilayah tersebut, ungkapnya. (Aryudi A. Razaq/Mahbib)

Jalaludin Rumi

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72536/bekas-markas-pejuang-rumah-kiai-jember-ini-diusulkan-jadi-cagar-budaya

Jalaludin Rumi

Jumat, 22 November 2013

Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang menjadi hebat karena di belakangnya ada orang hebat. Pernyataan ini dibenarkan oleh khalayak. Hal ini mirip dengan pepatah Arab:



Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)
Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo (Sumber Gambar : Nu Online)


Kisah Keberkahan Sedekah Ibunda KH Abdul Karim Lirboyo

Banyak orang yang tenar karena di belakangnya ada orang tersembunyi di belakangnya.

KH Aziz Mansur, Paculgowang, Jombang pernah bercerita, Pesantren Lirboyo Kediri yang hebat seperti sekarang inidengan ribuan santri dan alumni serta ilmu yang tersebar di berbagai pelosok negeri initak terlepas dari jasa dan peran seorang ibu.

Jalaludin Rumi

Alkisah, pendiri Pesantren Lirboyo, KH Abdul Karim yang mempunyai nama kecil Manab ditinggal wafat ayahnya dalam usia 6 tahun. Lalu ibunya dinikahi orang lain yang mempunyai latar belakang keluarga biasa (bukan dari kalangan kiai) dan hidup dalam balutan kekurangan dalam sisi ekonomi.

Jalaludin Rumi

Ibunda Manab yang bernama Salamah ini setiap hari membantu sang suami berdagang di pasar. Namun sayang, setiap kali ke pasar, acap kali ia melihat jarik bermotif batik tulis dengan harga selangit yang otomatis tidak terjangkau dalam kantong Ibu Salamah.

"Kapan ya aku bisa membeli jarik yang sedemikian bagusnya," kata Salamah dalam hati sembari mengelus-elus batik yang ia maksud.

Tiga tahun kemudian, dagangan yang ia jajakan laris sehingga Salamah mampu membeli batik yang sudah mengendap dalam angan-angannya selama ini.

Baru dipakai sekitar satu hingga dua bulan, saat berjalan menuju pasar, Salamah melewati satu rumah di mana terdengar suara tangisan dari dalam sana.

"Ada apa, Yu?" Tanyanya yang kemudian disahut sang pemilik rumah.

"Aku ini habis melahirkan, namun aku hanya memiliki satu helai pakaian saja. Andai pakaianku ini kupakaikan untuk anakku, aku pasti akan menjadi telanjang, namun jika tetap aku gunakan sendiri, anakku pasti akan kedinginan."

Mendengar aduan yang sedemikian menyayat hati, Salamah kemudian segera pulang. Jarik yang ia impikan tiga tahun silam dan baru dipakai sekitar satu bulan diambil, diberikan kepada wanita itu.

"Sudah, Yu, jarik yang masih bagus ini engkau gunakan, yang sudah lama punya kamu ini kau gunakan untuk popok anak kamu."

Sontak, wanita yang baru saja melahirkan menangis haru. Ia kemudian berdoa, "Semoga Allah memberikan kegembiraan kepadamu melalui perantara anak sebagaimana sekarang ini engkau membahagiakanku sebab aku bersedih karena urusan anak."

Akhirnya, karena hal-hal yang demikian itulah, di kemudian hari, muncul Pesantren Lirboyo atas segala nama kebesarannya.

Artinya, dalam kisah tersebut dapat kita ambil pelajaran bahwa:

1. Bersedekah yang bernilai sangat tinggi adalah menyedekahkan sesuatu yang menjadi kesayangan kita. Dalam kalam hikmah disebutkan:

Bukan dinamakan orang yang pemurah kalau ia memberikan sesuatu yang tidak ia butuhkan, kecuali kalau kamu memberikan apa yang kamu sukai dan tinggal sedikit saja yang ada di tanganmu.

Dalam Al-Quran juga disebutkan:

Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah mengetahuinya. (QS Ali Imran: 92)

2. Sayangilah anak kecil, tolonglah orang yang lemah, dan sedekahlah pada ahli ilmu. Pada pribadi mereka terdapat doa yang tulus yang tembus kepada Allah Taala sehingga kita mendapatkan berkah manfaatnya. (Mundzir)

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76246/kisah-keberkahan-sedekah-ibunda-kh-abdul-karim-lirboyo

Jalaludin Rumi

Selasa, 19 Maret 2013

Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri

Jalaludin Rumi - Jika kita meneliti semua perang (ghazwah) yang dilakukan oleh Nabi Muhammad Saw, maka kita akan mendapatkan bahwa kabilah-kabilah yang memerangi Nabi Saw adalah: (1) Quraisy, (2) Bani Ghatafân dan Anmâr, (3) Bani Sulaim, (4) Bani Tsa'labah, (5) Bani Fazârah dan `Udzrah, (6) Bani Kilâb dan Bani Murrah, (7) `Udhal dan al-Qârah, (8) Bani Asad, (9) Bani Dzakwân, (10) Bani Lahyân, (11) Bani Sa`ad bin Bakr, (12) Bani Hawâzan, (13) Bani Tamîm, (14) Bani Tsaqîf.

Bila kita meneliti dan mengenal semua kabilah ini, maka kita akan menemukan fakta yang menarik, bahwa mereka semua adalah kabilah yang berasal dari Mudhar atau yang terhubung dengannya. Sementara Mudhar adalah kakek Nabi Muhammad Saw.

Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri - Jalaludin Rumi
Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri - Jalaludin Rumi


Atas Dasar Marah dan Benci, Kabilah yang Memerangi Nabi Ternyata Kerabat Sendiri

Ini menunjukkan bahwa seluruh perang ini dilandasi atas kebencian dan kemarahan kerabat-kerabat Nabi Muhammad Saw kepada beliau. Karena memang kecemburuan yang terjadi antar kerabat dari satu nasab sangat cepat membakar api perang. Apalagi kita tahu karakter orang Arab sangat berambisi menghancurkan orang yang menyainginya dalam kemuliaan atau kekuasaan.

Yang membuktikan hal ini juga adalah dialog antara al-Akhnas dan Abu Jahal berikut ini: Al-Akhnas berkata: Wahai Abul Hakam, apa pendapatmu tentang hal yang kamu dengar dari Muhammad?

Jalaludin Rumi

Abu Jahal menjawab: Apa yang kamu dengar!! Kami dan Bani Abdi Manaf saling bersaing menjadi yang paling mulia dan dihormati; Mereka memberi jamuan makanan, maka kami juga memberi jamuan makanan. Mereka melunasi hutang dan membiayai orang yang tidak mampu, maka kami juga melakukan hal yang sama. Mereka memberi, kami juga memberi. Kami saling bersaing, mendahului dan merebut posisi terdepan, hingga saat mereka berkata dengan bangga: Nabi terakhir yang diberi wahyu dari langit merupakan anggota keluarga kami! Sekarang dengan cara apa kami bisa menandingi atau mendapat kemulian nabi! Demi Allah kami tidak akan beriman kepada Muhammad!

Fakta ini menunjukkan bahwa Nabi Muhammad Saw tidak pernah bermaksud memerangi seluruh orang dan suku Arab atau memaksa mereka semua masuk agama Islam. Jika ini yang diinginkan oleh Nabi Saw, maka akan terjadi peperangan dengan seluruh suku dan kabilah Arab. Namun ternyata sejarah menulis bahwa semua kabilah yang memerangi Nabi Saw merupakan keturunan Mudhar, kakek Nabi Muhammad Saw. [Jalaludin Rumi]

Keterangan: Disarikan dari karya Maulana Syaikh Ali Jum'ah, Al-Jihad Fi Al-Islam, Hlm: 35 - 45

Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/atas-dasar-marah-dan-benci-kabilah-yang-memerangi-nabi-ternyata-kerabat-sendiri.html

Senin, 03 September 2012

Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri

Jalaludin Rumi - Gerakan Takfiri di Indonesia makin terang-terangan menunjukan dirinya serta pemihakannya terhadap gerombolan teroris Negara Islam Irak dan Syam (ISIS) dan al-Qaeda (yang sebenarnya merupakan produk, binaan, dan biaya AS-Arab Saudi). Menurut info, pada Januari 2014, dua organisasi gurem, FAKSI (Forum Aktivis Syariat Indonesia) dan KUIB (Komunitas Umat Islam Bekasi), mendelarasikan dukungan dan loyalitasnya pada gembong teroris ISIS.

Kedua organisasi abal-abal beranggotakan segelintir ekstrimis dan berorientasi teror-takfiri itu hadir menyusul beberapa organisasi senior lainnya yang senyatanya dijadikan kedok untuk mengusung misi takfiri dan menjalankan aksi-aksi teror. Salah satunya adalah organisasi HASMI (Harakah Sunniyyah Masyarakat Islami, atau Gerakan Sunni untuk Masyarakat Islami).

Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri - Jalaludin Rumi
Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri - Jalaludin Rumi


Ini Bukti Kalau Ormas HASMI Lumbung Kelompok Teroris Takfiri

Sekadar lebih mengenal dan menyegarkan ingatan, pada 7 Desember 2012, pasukan anti-teror Indonesia berhasil membekuk tiga terduga teroris di Jawa Tengah. Mereka disergap karena diduga menyimpan bahan peledak untuk Abu Hanifah, bos besar HASMI.

Jalaludin Rumi

Ketiga terduga teroris yang bernama Winduro bin Nur Hadi (28), Feri Susanto (23), dan Bambang Kurmanto (45), itu ditangkap di Desa Sroyo Kabupaten Karanganyar. Penangkapan itu menyusul operasi kontraterorisme di Jawa pada akhir Oktober 2012 yang berhasil membekuk 11 anggota HASMI, termasuk Abu Hanifah, berikut bom rakitan, bahan peledak, amunisi, dan petunjuk perakitan bom.

Menurut pengamat terorisme, al-Chaidar, HASMI berasal dari Tim Hisbah, suatu jaringan yang bertanggung jawab atas aksi bom bunuh diri baru-baru ini di Cirebon dan Solo, serta berakar pada kelompok Darul Islam era 1950-an. "Abu Hanifah memulihkan gerakan Tim Hisbah setelah kematian Sigit Qurdowi, pimpinan Tim Hisbah," katanya.

Lalu Abu Hanifah merekrut anggota baru yang bukan berasal dari anggota Jamaah Islamiyah, lanjut al-Chaidar. Tidak seperti kebanyakan kelompok teroris yang terhubung ke Jemaah Islamiyah, jaringan Hanifah terhubung ke Darul Islam, yang muncul ke permukaan pada 1950 sebagai pemberontak yang berusaha mendirikan negara Islam," paparnya.

Jalaludin Rumi

Target utama HASMI adalah pemerintah Indonesia yang dipandang menghambat upaya mendirikan negara Islam. "Jaringan Hanifah memiliki sekitar 70 anggota. Polisi telah menangkap 33 orang dari mereka," pungkas al-Chaidar. HASMI menjadikan Bogor sebagai basis dan sentra aktivitas takfirinya, di samping beberapa Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) dan Dewan Pimpinan Daerah (DPD).

Setelah penangkapan itu, polisi baru mengetahui bahwa jaringan Abu Hanifah telah melakukan pelatihan paramiliter di Gunung Wilis, Madiun--tidak seperti kelompok militan lain yang mendirikan kamp di daerah rawan konflik di luar Jawa, seperti Aceh dan Poso. Menurut Noor Huda Ismail, direktur eksekutif International Institute for Peace Building, jaringan teroris juga ada yang mendirikan kamp pelatihan paramiliter di Jawa karena Darul Islam telah melakukannya selama bertahun-tahun, seperti di Serang, Banten, juga Parangtritis, Yogyakarta.

Selain terlibat dalam sejumlah rencana dan aksi terorisme di tanah air, HASMI juga gencar memprovokasi konflik sektarian, Sunni-Syiah. Dalam serangkaian mobilisasi massa yang diklaim sepihak sebagai seminar atau diskusi ilmiah, HASMI yang mengatasnamakan dirinya perwakilan Sunni (yang sebenarnya menganut Saudisme bernama Wahhabi) itu mengangkat tema yang jelas-jelas memfitnah mazhab Islam Syiah dengan maksud memecah belah dan menghasut kaum Sunni agar membenci hingga memerangi saudara Muslimnya sendiri, yaitu kaum Syiah.

Berbeda dengan takfiri jihadi yang harus bertaruh nyawa dengan cara merampok untuk meraup "dana perjuangan", kelompok takfiri tablighi seperti HASMI yang didirikan pada 2006, justru menikmati kucuran dana tak terbatas dari sejumlah yayasan milik emir-emir Timur Tengah. Dari beberapa informasi kredibel yang diperoleh Islam Times, diketahui bahwa aktivitas dan kampanye takfiri HASMI selama ini, yang di kawasan Bogor dicorongkan radio mereka, Fajri FM dan Rodja FM (plus TV kabelnya), sepenuhnya didanai Muassasah (Yayasan) Jam’iyyah Ihya’ al-Turats yang berbasis Kuwait.

Dilaporkan dalam situs HASMI bahwa rombongan anggota organisasi ini yang dipimpin langsung ketua DPP-nya Muhammad Fatih Haidar al-Iltizam dan Muhammad Sarbini, pernah menemui Marzuki Alie pada 12 November 2013. Menurut pengakuan mereka, saat itu pihak HASMI yang diundang, bukan yang meminta bertemu dengan ketua DPR RI itu.

Menurut salah satu pentolan HASMI, Supendi, yang juga ikut dalam rombongan itu, Marzuki Alie (ketua DPR RI saat itu) sangat paham dan yakin bahwa Syiah merupakan aliran atau sekte sesat yang mengatasnamakan Islam. Fitnah pesanan apalagi wan badui? [Jalaludin Rumi/IT/rj]

Keterangan:

Tulisan diatas disalin edit Jalaludin Rumi dari situs islamtimes.org, dimuat pada 2 Maret 2014. 

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/ini-bukti-kalau-ormas-hasmi-lumbung-kelompok-teroris-takfiri.html

Senin, 14 Mei 2012

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

Jalaludin Rumi - Selama ini masyarakat melihat Gerakan Nasional Pengawal Fatwa (GNPF) selalu menempelkan nama Majelis Ulama Indonesia (MUI). Namun bila ditilik nama pengurus GNPF-nya, ternyata bukanlah pengurus MUI yang sedang menjabat. Masalahnya adalah kepentingan siapa yang menunggangi dan siapa ditunggangi? Siapa yang memanfaatkan dan siapa yang dimanfaatkan?

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Jalaludin Rumi
Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Jalaludin Rumi


Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

Berpikir ke depan, sebaiknya MUI minta secara resmi agar GNPF membubarkan diri. Kepolisian negara dapat mengawal permintaan MUI ini. Paling tidak, pembubaran dapat diagendakan setelah Pilgub DKI usai. Tidak ada alasan bagi MUI yang membiarkan GNPF hidup terus-menerus. Apalagi dibuat permanen.

Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Jalaludin Rumi
Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh! - Jalaludin Rumi


Bubarkan Saja GNPF, Biar Tidak Mengaduh Sampai Gaduh!

MUI harus berani tegas dengan pembubaran ini. Bila dibiarkan, mereka akan terus bawa-bawa nama MUI untuk kepentingan dan agendanya sendiri. Tarikan kepentingan yang dalam jangka panjang dapat menyulitkan MUI sendiri di lain waktu.

Bukan tidak mungkin, GNPF bisa tumbuh menjadi anak nakal yang sulit dikendalikan oleh MUI sendiri. Apalagi GNPF sampai tumbuh dan berkembang menjadi sel-sel perlawanan yang suka membuat gaduh kerukunan antar umat beragama sampai mengaduh-aduh.

MUI juga harus tegas tidak libatkan Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) yang anti Pancasila untuk ikut dalam setiap rapat dan kegiatan yang MUI adakan. Kehadiran mereka adalah citra buruk bagi MUI. Bila hal itu dibiarkan, akan membuat kecewa:

a). Ormas pendukung berdirinya MUI (NU, Muhammadiyah, dll),

b). Penyelenggara Negara, seperti Pemerintah, MPR, DPR, MK, dll,

c). Elemen masyarakat pendukung PBNU (Pancasila, Bhineka Tunggal Ika, NKRI, & UUD 1945) seperti Parpol, Ormas, dll.

Semua ini dimaksudkan untuk mengembalikan bangsa dan negara dalam keseimbangan hemeostasis. Terajut dan harmoni kembali setelah Gaduh Ahok. Tidak perlu terus berkembang menjadi gerakan massa aksi, apalagi sampai menjadi faktor yang dapat men-destabilisasi keamanan nasional. Bhinneka dalam keharmonisan kita damba. [Jalaludin Rumi/ hsg]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bubarkan-saja-gnpf-biar-tidak-mengaduh-sampai-gaduh.html

Selasa, 26 Juli 2011

Bantahan Telak Bagi Mereka yang Menuduh Habib Quraish Shihab Syiah

Jalaludin Rumi - Salah satu alasan Habib Prof Quraish Shihab dituduh beraliran Syi'ah adalah karena dalam kitab tafsir karyanya, yaitu al-Misbah (15 jilid) beliau sering merujuk kepada Tafsir al-Mizan karya Muhammad Hussein Thabathaba'i. Bagaimana ceritanya?

Di lemari buku almarhum Abah saya (Prof KH Ibrahim Hosen) ada satu set komplit (21 jilid) Tafsir al-Mizan. Sekitar tahun 1990 Abah saya berdecak kagum membaca ulasan dari kitab tafsir ini. Saat itu saya tanyakan kepada Abah kenapa membeli tafsir milik ulama Syi'ah. Abah menjawab, "Ini kitab tafsir bagus, Habib Quraish yang merokemendasikan dan ternyata beliau benar, isinya luar biasa". Saya bertanya, "kalau begitu saya juga boleh membacanya?" Abah mengangguk.

Jadi kekaguman Habib Prof Quraish Shihab terhadap karya Thabathaba'i itu sudah sejak dulu. Itu sebabnya kita tafsir al-Misbah banyak mengutip Tafsir al-Mizan. Tapi apakah fakta ini menjadikan Habib Prof Quraish seorang syi'ah? Saya berpendapat, "Tidak!"

Bantahan Telak Bagi Mereka yang Menuduh Habib Quraish Shihab Syiah - Jalaludin Rumi
Bantahan Telak Bagi Mereka yang Menuduh Habib Quraish Shihab Syiah - Jalaludin Rumi


Bantahan Telak Bagi Mereka yang Menuduh Habib Quraish Shihab Syiah

Jalaludin Rumi

Pertama, merupakan hal wajar seorang Profesor seperti Quraish Shihab dan juga Abah saya membaca kitab lintas mazhab. Di lemari buku Abah saya juga terdapat Tafsir al-Kasyaf karya Zamakhsyari yang beraliran Mu'tazilah. Juga ada kitab Nailul Authar karya Syaukani yang berasal dari tradisi Syi'ah Zaidiyah dan kabarnya kemudian beralih ke mazhab Zahiri. Karya Syaukani lainnya yang saya temukan di perpustakaan Abah saya adalah kitab Irsyadul Fuhul yang mengupas Ushul al-Fiqh. Jadi, para guru besar itu memang membaca dan mengoleksi literatur dalam berbagai mazhab. Kalau gak gitu, ya bukan guru besar dong.

Kedua, keliru besar kalau dikatakan Tafsir al-Misbah hanya merujuk pada Tafsir al-Mizan. Kalau kita baca dengan seksama, Habib Prof Quraish itu sangat mengagumi al-Biqa'i yang menulis kitab tafsir Nazm al-Durar. Karya al-Biqa'i ini menjadi bahan kajian disertasi Habib Prof Quraish Shihab di al-Azhar Cairo. Selain al-Biqa'i dan Thabathaba'i, beliau juga merujuk kepada Tafsir fi Zhilalil Qur'an karya Sayid Quthb dan al-Tahrir wa al-Tanwir karya Ibn Asyur. Jadi, paling tidak ada 4 kitab tafsir utama yang dirujuk oleh Tafsir al-Misbahnya Habib Prof Quraish Shihab: Thabathaba'i yang beraliran Syi'ah Imamiyah, al-Biqa'i yang bermazhab Syafi'i, Sayid Quthb ulama konservatif dari Ikhwanul Muslimin, dan Ibn Asyur ulama progresif bermazhab Maliki.

Selain keempat kitab tafsir utama di atas, Habib Prof Quraish Shihab juga merujuk kepada kitab tafsir lainnya semisal Tafsir al-Wasith karya Sayid Thantawi (mantan Grand Syekh al-Azhar) dan juga kitab tafsir klasik semisal Tafsir al-Qurtubi. Dengan kata lain, Tafsir al-Misbah tidak hanya merujuk kepada tafsir syi'ah karya Thabathaba'i, tapi juga kitab tafsir lainnya termasuk tafsir konservatif milik Sayid Quthb. Tentu menakjubkan karya tokoh syi'ah-sunni, progresif dan konservatif, klasik-modern semuanya diakomodir dalam Tafsir al-Misbah. Ini menunjukkan pendekatan beliau yang luas dan luwes.

Jalaludin Rumi

Ketiga, meskipun beliau mengutip Tafsir al-Mizan karya ulama Syi'ah, namun dalam beberapa pembahasan Habib Prof Quraish Shihab terang-terangan menunjukkan perbedaan pandangan beliau dengan Thabathaba'i. Ini sikap ilmiah beliau. Misalnya yang paling jelas dalam Surat 'Abasa. Sejak lama ulama Sunni berbeda pandangan dengan ulama Syi'ah mengenai apakah Nabi Muhammad yang mendapat teguran Allah dalam surat tersebut atau orang lain.

Setelah menguraikan pandangan Thabathaba'i, beliau menulis: "Hanya saja, alasan-alasan yang dikemukakannya tidak sepenuhnya tepat". Dengan kata lain, Habib Prof Quraish Shihab berpandangan sama dengan ulama Sunni dalam surat 'Abasa ini. Ini bukti yang teramat jelas bahwa beliau bukan seorang Syi'ah.

Perbedaan pandangan lainnya bisa terlihat saat membahas surat al-Hujurat ayat 12. Thabathaba'i menganggap larangan ghibah di ayat ini hanya berlaku jika yang digunjing itu seorang muslim sebagaimana diisyaratkan oleh kata "akh/saudara" dalam ayat ini.

Dengan merujuk pada QS al-Taubah: 9 yang menegaskan persaudaran seagama itu menggunakan redaksi "ikhwanukum fid din" Habib Prof Quraish Shihab tidak menyetujui pendapat Thabathaba'i di atas. Dengan demikian beliau berpendapat kata "akh/saudara" dalam al-Hujurat: 12 tidak hanya berlaku untuk sesama Muslim. Ini contoh bagaimana Tafsir al-Misbah berbeda pandangan dengan Tafsir al-Mizan. Dalam dunia ilmiah, hal ini wajar saja.

Dari ketiga point di atas terbantahlah mereka yang menganggap Habib Prof Quraish Shihab sebagai syi'ah dikarenakan beliau merujuk kepada Tafsir al-Mizan ulama syi'ah. Semoga ini bisa meluruskan fitnah keji yang terus menerus diedarkan oleh sementara pihak terhadap beliau. Semoga beliau selalu dikaruniai kesehatan dan dijaga oleh Allah dalam membina umat lewat keteladanan, kesantunan dan kedalaman ilmu beliau. [Jalaludin Rumi]

Nadirsyah Hosen, Rais Syuriah PCI Nahdlatul Ulama Australia - New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/bantahan-telak-bagi-mereka-yang-menuduh-habib-quraish-shihab-syiah.html

Senin, 21 Februari 2011

Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam

Jalaludin Rumi - Bareskrim Polri telah mengidentifikasi penyimpangan dana yang digalang dari masyarakat untuk membiayai Aksi 212 dan 411. Temuan penyidik Bareskrim menunjukkan adanya dana publik melalui Yayasan Justice For All yang diselewengkan untuk kepentingan pribadi.

"Kami tahu ada penghimpunan dana dari umat. Nah, kami sedang pastikan bahwa penyimpangan penggunaan dana itu. Ini kami sedang proses," kata Direktur Tindak Pidana Ekonomi Khusus Bareskrim Brigjen Agung Setya di kantor sementara Bareskrim di Kementerian Kelautan dan Perikanan, Jakarta Pusat, Rabu (8/2).

Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam - Jalaludin Rumi
Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam - Jalaludin Rumi


Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam

Agung mengaku memiliki banyak bukti sebagai bahan identifikasi penyimpangan dana. Namun, Agung merahasiakannya. "Banyak bukti, tapi tidak boleh disampaikan," kata dia sembari tertawa.

Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam - Jalaludin Rumi
Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam - Jalaludin Rumi


Bareskrim Polri Mengaku Punya Bukti GNPF-MUI Tilap Dana Aksi 212 dari Umat Islam

Dalam kasus itu, Bareskrim mencurigai adanya penyimpangan untuk menguntungkan individu atau kelompok. Karenanya, tambah Agung, pihaknya memerlukan keterangan Ketua Gerakan Nasional Pengawal Fatwa-Majelis Ulama Indonesia (GNPF-MUI) Bachtiar Nasir.

Menurut Agung, dugaan penyimpangan dana yang kini diusut Bareskrim itu bukan berdasar delik aduan. Bareskrim justru menindaklanjuti temuan Pusat Pelaporan dan Analisi Transaksi Keuangan (PPATK).

Jalaludin Rumi

"Data dari macam-macam. Dari PPATK juga ada. Kami dalami dulu, nanti disampaikan semua," tandas Agung. [Jalaludin Rumi]

Source: JPPN.com (Mg4/jpnn)

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/02/bareskrim-polri-mengaku-punya-bukti-gnpf-mui-tilap-dana-aksi-212-dari-umat-islam.html

Jumat, 09 Juli 2010

Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru

Habib Abdullah Asy Syathiri, Hadramaut, Yaman pernah mempunyai seorang murid yang cerdas, sajian ceramahnya indah. Setiap kali si murid ini akan menyampaikan ceramah di suatu tempat, ia pasti menghadap terlebih dahulu kepada Habib Abdullah untuk meminta izin dan restu.

"Iya, saya kasih izin, semoga engkau dilimpahi keberkahan," kata Habib Abdullah.

Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru (Sumber Gambar : Nu Online)


Akibat Tidak Mendapat Ridho Guru

Berbagai majelis didatangi oleh murid ini. Namun tiba satu waktu yang dilematis. Ia mendapat undangan mengisi ceramah dalam satu tempat, namun berbenturan dengan jadwal mengaji yang diasuh gurunya, Habib Abdullah.

Jalaludin Rumi

Timbul dalam hati si murid ini untuk membolos. "Ah, sesekaIi tak masalah lah kalau aku tidak masuk majelis taklim," pikirnya.

Namun tidak seperti biasa, dalam pengajian Ribath Tarim ini, tiba-tiba Sang Guru, Habib Abdullah Asy-Syathiri mengabsen satu persatu nama murid hingga sampai pada panggilan nama seorang murid yang bolos tadi.

Jalaludin Rumi

"Fulan bin Fulan," Panggil Habib Salim.

"Maaf, dia tidak hadir Tuan Guru," kata salah satu murid yang duduk di majelis.

"Lho, ke mana dia?" tanya sang guru.

"Dia mengisi ceramah di suatu tempat."

"Kenapa dia tidak izin terlebih dahulu kepadaku? Aku tidak ridho dunia akhirat," tegas Habib Abdullah.

Tiba-tiba si murid yang sedang memulai ceramah itu mendadak ia hanya bisa menyampaikan "amma badu, amma badu, amma badu", begitu terus tidak bisa menyampaikan ceramah satu patah kata pun sebagaimana biasanya.

Setelah kejadian itu, si murid di kemudian hari hidupnya selalu terlunta-lunta, miskin dan tidak bisa cemerlang sebagaimana sebelumnya di mana ceramah agamanya nikmat dan ditunggu banyak orang. Ini hilang semua karena dia tidak mendapat ridho guru.

(Ahmad Mundzir)

Cerita ini disampaikan oleh KH Agus Reza Ahmad Zahid (Gus Reza Imam Yahya) dalam acara Haul Akbar Ngroto di Komplek Pesantren Miftahul Huda, Ngroto, Gubug, Grobogan, Jawa Tengah, Rabu (18/1/2017).

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74760/akibat-tidak-mendapat-ridho-guru

Selasa, 14 Februari 2006

Pelajar NU Kota Tangerang Kembangkan Media Cetak dan Online

Tangerang, Jalaludin Rumi. Pelajar NU Kota Tangerang mengembangkan media cetak dan online untuk kalangan pelajar dan santri. Media ini diberi nama MAJAS (Media Pelajar dan Santri) Kota Tangerang yang diharapkan mampu memberikan informasi mengenai kegiatan pelajar dan santri di Kotanya serta sarana dakwah Ahlusunnah wal Jamaah di era teknologi.

Kehadiran MAJAS merupakan sarana untuk menginformasikan kegiatan pelajar dan santri Kota Tangerang dan sarana menjaga paham Ahlusunnah wal Jamaah di arus Teknologi dan Globalisasi yang semakin canggih, ujar Zulbiyadi Fadlan, Pemimpin Umum MAJAS Kota Tangerang juga Ketua PAC IPNU Neglasari Kota Tangerang, Selasa (17/11).

Pelajar NU Kota Tangerang Kembangkan Media Cetak dan Online (Sumber Gambar : Nu Online)
Pelajar NU Kota Tangerang Kembangkan Media Cetak dan Online (Sumber Gambar : Nu Online)


Pelajar NU Kota Tangerang Kembangkan Media Cetak dan Online

Sebelumnya Tim Redaksi MAJAS bertemu dan diberi arahan oleh Redaktur Jalaludin Rumi, Mahbib Khoiron dan Abdullah Alawi. Mereka berpesan untuk mengembangkan media baca dan tulis di era serba teknologi, saat bertemu Kantor Redaksi Jalaludin Rumi, Gedung PBNU lt. 5, Sabtu, 14 November 2015 lalu.

Pimpinan Redaksi MAJAS Kota Tangerang, Ayu Dahlia juga menjelaskan,MAJAS berupaya membuat tampilan beritanya semenarik mungkin dan kedepannya akan menambah media-media lain seperti Tabloid dan Majalah.

Jalaludin Rumi

Saat ini media yang dikembangkan baru Buletin, kedepannya Kami akan menambah media lain seperti Tabliod dan Majalah, jelas Ayu.

Siti Rosdiana selaku Redaktur MAJAS Kota Tangerang dan Pengurus PAC IPPNU Neglasari Kota Tangerang berharap, agar pelajar dan santri Kota Tangerang tumbuh jiwa baca dan tulis.

Jalaludin Rumi

Kami juga akan memberikan pelatihan jurnalistik kepada pelajar dan santri dengan masuk ke sekolah dan pesantren di Kota Tangerang dengan menyosialisasikan MAJAS sebagai sarana dakwah Aswaja, ujarnya.

Saat ini Kantor Redaksi MAJAS berada di Kantor PCNU Kota Tangerang, Jl Mayjend Soetoyo No16, Komplek Alun-alun Ahmad Yani, Kota Tangerang, Banten. (Red: Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/63655/pelajar-nu-kota-tangerang-kembangkan-media-cetak-dan-online

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock