Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ubudiyah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 14 Oktober 2016

Gandeng Remaja Masjid, Ranting NU Kadu Gelar Pengajian Aswaja

Tangerang, Jalaludin Rumi. Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama Desa Kadu Kec. Curug Kab. Tangerang bersama Ikatan Remaja Masjid se-Desa Kadu menggelar pengajian Aswaja Nahdlatul Ulama sekaligus buka bersama di Masjid Komplek Pondok Pesantren Baitussaadah.

Junaedi, ketua panitia sekaligus ketua Ikatan Remaja Masjid Baitussaadah (Irmabas) menjelaskan kegiatan ini dilaksanakan untuk menyatukan remaja masjid dalam satu visi dan misi, yaitu menjaga masjid Nahdlatul Ulama. Ia menambahkan, hal ini dilakukan agar masjid-masjid tidak diambil alih oleh orang-orang Wahabi.

Gandeng Remaja Masjid, Ranting NU Kadu Gelar Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Gandeng Remaja Masjid, Ranting NU Kadu Gelar Pengajian Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)


Gandeng Remaja Masjid, Ranting NU Kadu Gelar Pengajian Aswaja

Arifin, koordinator remaja Masjid Desa Kadu menambahkan, kegiatan ini menjadi ajang ukhuwah nahdliyah kader NU di Tangerang, remaja masjid harus bersatu menyelamatkan masjid-masjid yang menjadi basis NU.

Jalaludin Rumi

Harits Syahrastani, ketua Ranting NU desa Kadu menjelaskan kegiatan ini bertema "Remaja Sebagai Benteng Termuda Aswaja NU".

Dengan kita tahu (anak muda) tentang sejarah NU dan sejarah aswaja akan memperkuat posisi NU, maka tidak ada jalan organisasi transnasional mengambil masjid masjid NU.

Ia menambahkan, pasca Lebaran diagendakan deklarasi generasi muda NU untuk mengawal Pancasila dan UUD 1945.

Jalaludin Rumi

H. Muhamad Qustulani, pembantu bidang akademik STISNU Nusantara yang menjadi narasumber kegiatan tersebut menjelaskan, sejatinya generasi muda harus konsisten menjadi kader muda yang aktif membentengi ajaran Aswaja NU.

Dengan kita tahu sejarah NU dan Ahlussunnah wal Jamaah, bahwa kita yakin ajaran yang diajarkan oleh guru, kiai dan ulama NU adalah kebenaran yang dapat menghantarkan kita kesuksesan duniawi-ukhrowi, katanya. (Quslutani Muhamad/Mukafi Niam)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/60861/gandeng-remaja-masjid-ranting-nu-kadu-gelar-pengajian-aswaja

Jalaludin Rumi

Senin, 23 Februari 2015

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Ternate, Jalaludin Rumi. Pimpinan Wilayah Muslimat NU Maluku Utara memperingati hari lahir yang ke-71 dengan berbagai kegiatan sosial mulai pemeriksaan kesehatan hingga bantuan bagi keluarga miskin tidak mampu .

Ketua PW Muslimat NU Maluku Utara Rosita Alting mengatakan, kegiatan-kegiatan tersebut adalah upaya ibu-ibu NU untuk menumbuhkan nilai solidaritas dan kepekaan terhadap masalah-masalah kemasyarakatan.

Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat NU Malut Peringati Harlah dengan Ragam Kegiatan Sosial

Menurut dia, kegiatan pemeriksaan kesehatan dini kanker payudara merupakan kerja sama NU dengan klinik Nur Armein Santiong. Kegiatan itu melibatkan ibu-ibu majelis taklim dan masyarakat kota Ternate.

Ini upaya memberikan informasi terhadap pentingnya kesehatan, katanya.

Jalaludin Rumi

Selain itu, lanjut dia, Muslimat Malut melakukan anjangsana ke panti jompo Himo-himo Ternate serta memberikan bantuan kepada keluarga miskin tidak mampu di Kelurahan Perumnas Jati. Juga menyalurkan bantuan sembako untuk korban kebakaran di Kelurahan Sulamadaha.

Jalaludin Rumi

Menurut Rosita Alting, kegiatan itu merupakan bagian dari penguatan kembali nilai-nilai sosial di masyarakat dalam membangun Indonesia.

Dalam membangun Indonesia, maka kesehatan dan kesejahteraan harus menjadi tumpuan gerak sosial di masyarakat sesuai dengan tema secara nasional harlah Muslimat NU Satu Langkah Membangun Negeri dan Menjaga NKRI, jelasnya.

Kegiatan yang dimulai sejak 1 April 2017 itu merupakan rangkaian memeriahkan peringatan hari lahir Muslimat NU yang ke-71. Puncaknya akan dilaksanakan pada 9 April 2017 di Taman Nukila Ternate bersama dengan seluruh keluarga besar NU Maluku Utara.

Muslimat NU adalah banom NU yang berdiri pada 29 Maret 1946. Muslimat didirikan bertujuan mengangkat harkat dan martabat perempuan Indonesia melalui bidang ekonomi, kesehatan, pendidikan, dawah, dan sosial. (Abdu Haris Doa/Abdullah Alawi)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/76727/muslimat-nu-malut-peringati-harlah-dengan-ragam-kegiatan-sosial

Jalaludin Rumi

Selasa, 26 Agustus 2014

Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon

Jalaludin Rumi - Nama K.H. Makhtum Hannan tidak asing lagi bagi kalangan masyarakat dan santri sekitar Cirebon, Indramayu, Kuningan, dan Majalengka. Nama beliau semakin menjadi sorotan media saat menjelang Muktamar NU pada Agustus 2015 lalu. Pasalnya, beliau terpilih menjadi salah satu anggota Ahlul Halli wal ‘Aqdi (AHWA). Pesantrenpedia.org melansir bahwa K.H. Makhtum Hannan dilahirkan di Cirebon pada 13 Juni 1938 dari pasangan KH Abdul Hannan dan Nyai Solihah.

Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon - Jalaludin Rumi
Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon - Jalaludin Rumi


Karomah dan Istiqamah KH Makhtum Hannan Ciwaringin Cirebon

Kiai yang masih memilik nasab hingga Sunan Giri ini, pernah nyantri di berbagai pesantren di Pulau Jawa, di antaranya di Pondok Pesantren Kaliwungu pada Kiai Abu Khaer Pasarean, Kiai Subki, dan Ustaz Fadhil.

Selain itu, beliau juga pernah nyantri di Pondok Pesantren Lasem di bawah asuhan Syekh Masduki dan Syekh Mansur bin Khalil, sebagaimana dikutip dari Nu.or.id, banyak teladan yang dapat dipetik dari sosok ulama yang biasa dipanggil oleh santrinya dengan panggilan "Mama Makhtum" ini. Paling tidak, 5 teladan di bawah ini dapat ditiru oleh para santri:

1. Tawadlu' dan telaten mendidik santri

Sewaktu saya nyantri di Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon, Kiai Makhtum tidak mau mengajar kitab yang besar-besar pada para santrinya. Saya mengaji kitab al-‘Asymawi, syarah Jurumiyah, yang diulang sebanyak tujuh kali pada beliau. Sekelas Kiai Makhtum tentu tidak mungkin tidak mampu membaca kitab-kitab gramatika Arab besar sekelas Al-Fiyah, Mughni al-Labib, ‘Uqud al-Juman, atau kitab-kitab fikih besar sekelas al-Umm, Mughnil Muhtaj, dan kitab-kitab fikih mazhab Syafi’i lainnya.

Beliau lebih memilih kitab-kitab kecil untuk membekali santrinya di kemudian hari membaca kitab-kitab besar tersebut. Beliau sangat telaten mengajari kitab tersebut pada para santrinya. Satu bab saja bisa dibahas dalam beberapa kali pertemuan. Selain telaten mendidik santri, beliau juga sosok ulama yang sangat tawadlu' dan hati-hati. Prof. Dr. Nadirsyah Hosen pernah menceritakan dalam facebooknya, saat Kiai Makhtum diminta untuk berdoa menutup acara pertemuan kiai-kiai yang tergabung dalam AHWA, beliau sempat menolak dan tidak mau. Begitulah sosok Kiai Makhtum di mata para santrinya.

2. Hidmah kepada masyarakat

Hampir setiap hari, Kiai Makhtum selalu kedatangan tamu, baik dari masyarakat tingkat ekonomi bawah, atau ekonomi ke atas. Beliau terkenal sebagai Kiai ahli hikmah. Karenanya, para tamu yang datang ke Kiai Makhtum kebanyakan mengeluh masalah ekonomi. Ada tamu yang curhat dagangannya bangkrut, sedang mencari jodoh, ingin mendaftar PNS, meminta wasilah dagangannya laris, dan lain sebagainya. Kiai Makhtum selalu men-support mereka dengan bacaan-bacaan zikir dan doa yang harus dibaca secara berkesinambungan.

Beliau juga terkenal sebagai sosok yang dermawan. Tidak jarang santri ndalem, dan tamu yang membutuhkan bantuan ekonomi, beliau bantu dengan sukarela. Kiai Makhtum selalu menganjurkan para tamunya untuk menggeluti berdagang mandiri, daripada kerja di perkantoran. Ini bukan karena kerja di perkantoran jelek, tapi titik tekannya agar para tamunya yang datang itu mandiri secara ekonomi, tidak mengandalkan gaji dari kantor.

3. Teguh pendirian

Kiai Makhtum merupakan sosok ulama yang sangat teguh pendiriannya. Kalau beliau sudah berkata A, ya harus A, tidak boleh B. Suatu saat pada tahun 2008, pemerintah berencana membangun tol Cipali yang saat itu ingin “menabrak” lingkungan Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon. Konon, pemerintah juga bersedia menggelontorkan uang yang jumlahnya tidak sedikit untuk masyarakat dan kiai-kiai yang pesantrennya terkena gusuran.

Namun hal itu ditolak mentah-mentah oleh sesepuh Pesantren Babakan Ciwaringin Cirebon tersebut. Kiai Makhtum bukanlah sosok ulama yang cinta duniawi. Karena hatinya yang bersih tersebut, tidak jarang analisa-analisanya terhadap suatu permasalahan sehari-sehari, negara, selalu tepat. Pada waktu itu, saat Gus Solah mencalonkan diri sebagai Wakil Presiden mendampingin Wiranto diprediksikan tidak akan jadi. Faktanya demikian.

4. Kuat tirakat

Menurut penuturan santri senior dan masyarakat sekitar, Kiai Makhtum sudah senang tirakat sejak beliau muda. Ayahanda beliau, Kiai Abdul Hannan terkenal sebagai sosok wali yang sangat disegani pada masanya. Konon, ada seorang penjahat yang tobat sebab kesaktian Kiai Abdul Hannan. Suatu saat, Kiai Abdul Hannan sedang berjalan di tempat yang sepi dan mengerikan, tiba-tiba datang sekelompok begal yang ingin menodong beliau. Karena para penodong tersebut menginginkan harta, Kiai Abdul Hannan “menyulap” pohon pisang menjadi emas.

Tentu karamah yang dimiliki Kiai Abdul Hannan ini didapatkan karena melalu proses tirakat yang begitu panjang. Kegemaran bertirakat ini menurun dalam diri Kiai Makhtum Hannan. Konon, beliau puasa sampai sempat tidak bisa jalan. Kemungkinan karena kekurangan cairan dalam tubuh beliau. Tentu niat beliau tirakat ini untuk “membunuh” nafsu-nafsu yang bergejolak dalam jiwa beliau. Hasilnya, beliau menjadi sosok ulama yang sangat hati-hati dalam menyikapi permasalahan yang dihadapinya.

5. Istiqomah

Sosok Kiai Makhtum Hannan sangat menekankan istikamah dalam hidup beliau. Dalam rumah beliau tertulis untaian pesan dalam bahasa Arab, al-istiqamah khairun min alfi karamah, Tsubutl karamah fi dawâmil istiqamah, ‘Istikamah itu lebih baik daripada seribu karamah. Terjaganya karamah karena melakukan istikamah secara sinambung. Istikamah itu macamnya banyak. Bila Anda suka menulis, istikamahlah dalam menulis. Tekuni bidang Anda. Namun perlu diingat juga, bahwa seorang santri harus memiliki wiridan yang dibaca secara istiqomah.

Nah, kembali ke Kiai Makhtum. Beliau setiap seminggu sekali selalu memimpin istighastah di maqbarah Kiai Abdul Hannan beserta para santri dan jamaahnya. Dua bulan sekali, beliau memimpin istigasah kubra di tempat yang sama. Semoga para santri dan masyarakat pada umumnya dapat meneladani 5 pendirian Kiai Makhtum ini.

Dan kini semua kehilangan sosok mulia sepertia beliau, semoga Allah juga memberikan tempat yang mulia di sisinya dan diterima segala amalnya. Al-fatihah. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/karomah-dan-istiqamah-kh-makhtum-hannan-ciwaringin-cirebon.html

Selasa, 08 Juli 2014

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari

Jalaludin Rumi - Mungkin mereka bertanya "Jika Asya'iroh adalah ahlussunnah, lalu orang sebelum Asya'iroh itu di mana?". Muslimin sebelah menjawab pertanyaan ini bahwa penyebutan ahlus sunnah hanya kepada pengikut madzhab Asy'ary adalah politik belaka. Mereka pun akhirnya menyimpulkan bahwa mengikuti orang sebelum Imam Asy'ari (tentu dengan penafsiran nafsunya) adalah jalan yang lebih selamat. Duh.

Jawaban atas pertanyaan itu sebetulnya sudah diungkapkan oleh Syaih Anas Asyurofawi di Naskah Mu'tamar Chech-Nya. beliau pernah menjadi dosen STAI Imam Syafi' Cianjur tahun 2011-2013. Ini naskah aslinya, di bawahnya ada tarjamahnya.

Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari - Jalaludin Rumi
Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari - Jalaludin Rumi


Penjelasan Tentang Madzhab Orang Islam yang Hidup Sebelum Imam Asyari

أين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري؟

الجواب من بحث الأستاذ أنس الشرفاوي حفظه الله تعالى: [لا يقال: وأين هم أهل السنة قبل أبي الحسن الأشعري شيخ المذهب؛ لأن المقصود من الأشعرية أنها منهجٌ في الدفاع والحفاظ على عقائد السلف، ونفْيِ ما داخَلَها من زيغ وبدع، وهذا غير متصوَّر بوجود حضرة النبيِّ صلى الله عليه وسلم كما لا يخفى، وكذلك فهو نادرٌ جداً في عصر أصحابه وهم متكاثرون ومتناصرون، وإنما هو متصوَّرٌ مع يسيرِ غلبةٍ لغير أهل السنة؛ لعوارض سياسية أو مصلحية دنيوية، أو غيبوبة وبُعدٍ عن نهج السداد وغلبة أهل الباطل، وكان هذا جلياً بعد القرون الثلاثة الفاضلة، وهو لا يعني أبداً عدمَ ظهور بدعٍ وضلالات فيها، بل إن رؤوس المبتدعين لأكبر الفرق الإسلامية المنحرفة قد وقعت ضمن هذه القرون، ولكنَّها لما فشَتْ كلمتُها.. دعَتِ الحاجة للردِّ عليها بلغتها.

وهنا يجب التمييز بين المتابعة والموافقة، فالأشاعرةُ بعد أبي الحسن الأشعري إلى اليوم متابعون له ومناضلون عن طريقه، ومن قبل أبي الحسن الأشعري موافقون له، ففرق بين الموافقة والمتابعة.

قال الإمام ابن السبكي: (قال الشيخ الإمام – يعني: والده تقي الدين - فيما يحكيه لنا: ولقد وقفت لبعض المعتزلة على كتاب سماه: «طبقات المعتزلة»، وافتتح بذكر عبد الله بن مسعود رضي الله عنه ظناً منه أنه - برأه الله – منهم على عقيدتهم، قال: وهذا نهاية في التعصب؛ فإنما ينسب إلى المرء من مشى على منواله.

قلت أنا للشيخ الإمام: ولو تمَّ هذا لهم.. لكان للأشاعرة أن يعدُّوا أبا بكر وعمر رضي الله عنهما في جملتهم؛ لأنهم عن عقيدتهما وعقيدة غيرهما من الصحابة فيما يدعون يناضلون، وإياها ينصرون، وعلى حماها يحومون؛ فتبسَّم وقال: أتباعُ المرء من دان بمذهبه وقال بقوله على سبيل المتابعة والاقتفاء الذي هو أخصُّ من الموافقة؛ فبين المتابعة والموافقة بونٌ عظيم) انظر «طبقات الشافعية الكبرى» (3/365).]

Di mana Ahlus sunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari?

Jawaban dari Syaih Anas Assyrofawi-semoga Allah menjaganya-:

Jangan katakan di mana Ahlussunnah sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, Sheikh Madzhab, karena yang dimaksud-kan dari paham Asy'ariyah adalah suatu manhaj (Metode) atau pola pemahaman untuk membela dan melestarikan Ediologi Ulama' Salaf, membantah penyimpangan dan ajaran sesat yang menyusupinya.

Tentu hal ini tidak dirasakan atau tergambarkan pada saat adanya Nabi SAW, sebagaimana diketahui. Serta sangat langka bila terjadi di era para sahabat, karena mereka saling memperbanyak dan saling menolong, namun tergambarkan sedikit dominasi terhadap selain Ahlussunnah disebabkan faktor-faktor politik, kepentingan dunia atau ketiadaan, dan sebab (di masa para sahanat) jauh sekali dari cara yang tidak benar dan dominasi pemahaman sesat.

Dan ini (politik, kepentingan dunia, dan ketiadaan) terbukti tampak jelas setelah tiga abad. Tidak berarti dimasa para sahabat tidak ada bid'a-bid'ah (akidah) dan aliran sesat kemudian. Bahkan para pemimpin bid'ah dari sekte Islam terbesar itu lahir di abad itu. Akan tetapi, pada saat aliran sesat itu menyebar luas, dibutuhkan untuk menanggapi mereka dengan bahasa (cara) mereka sendiri.

Dari sini kita harus membedakan antara kata "mengikuti" dan "mencocoki". Jadi orang-orang setelah Abu al-Hasan al-Asy'ari sampai hari ini itu di sebut dengan "mutaba'ah (mengikuti)", sedang orang-orang (di tiga abad) sebelum Abu al-Hasan al-Asy'ari, yang mencocoki dengan dia, disebut dengan "muwafaqoh (mencocoki/bersesuai)". Maka, bedakanlah antara "mencocoki" dan "mengikuti".

Imam Ibnu Sabki mengatakan: (Sheikh Al Imam -ayahnya Taqi al-Din-, bercerita kepada saya: saya telah mengkaji sebagian Mu'tazilah pada buku yang berjudul Thobaqot Al Mu'tazilah, dia mengawali (kitab-Nya) dengan menyebutkan Abdullah bin Mas'ud r.a, seraya mengira bahwa ia -Allah membebaskan dia- adalah bagian dari akidah mereka. Ia (ayah) berkata: ini adalah puncak dari fanatisme, sebab seseorang itu dikaitkan dengan salah satu (akidah) orng lain bila dia menapaki jalan orang itu.

Saya berkata kepada Sheikh Al Imam: andai hal ini telah sempurna bagi mereka maka bagi Asya'iroh sangat pantas menghitung Abu Bakar dan Umar sebagai bagian dari mereka (Asya'iroh), sebab mereka dari akidah mereka berdua dan akidah para sahabat dalam sesuatu yang mereka klaim telah menguatkannya, menolong, dan melindungi akidah mereka.

Ayah-Nya tersenyum dan mengatakan: seorang pengikut itu dekat dengan pandangan yang diikuti, berkata sebagaimana ia katakan, dan bersesuai, yang mana lebih sepesifik daripada sekedar mencocoki (muwaafaqoh). Maka jelaslah perbedaan yang sangat besar antara maksud dari kata "mutaaba'ah dan muwaafaqoh". Lihatlah Muthobaqoh Syafi'iyah Al Kubro (3/365). [Jalaludin Rumi]

Kesimpulan:

Sebelum Asya'ri dikatakan muwafaqoh atau sesuai dengan paham Asy'ari.

Setelah Asy'ari dikatakan mutaaba'ah atau mengikuti paham Asy'ari yang kemudian di sebut Asya'iroh. Sebelum dan sesudah Asy'ari adalah ahlussunnah. Tolok ukur akidah ahlussunnah sebelum Asy'ari adalah kesesuaiannya dengan paham Asy'ari, sedang setelah Asy'ari adalah yang mengikuti paham Asy'ari.

Paham Asy'ari dalam akidah adalah mengcover paham ahlul hadist yang memilih tafwidh (ta'wil ijmali), ta'wil tafshili tanpa ta'thil, dan paham ahli tashawwuf yang benar.

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/09/penjelasan-tentang-madzhab-orang-islam-yang-hidup-sebelum-imam-asyari.html

Jumat, 20 Juni 2014

Assad Pernah Peringatkan Perancis

Karma. Anda tahu apa itu karma? Karma itu apa yang terjadi di Perancis kemarin. Insiden terorisme di sebuah Hall konser di Timur Paris, ratusan tewas. Presiden Perancis Francois Hollande menyatakan setidaknya 127 warga sipil tewas dan puluhan disandera.

Apa belum pernah ada yang memperingatkan kalian soal ini? Dialah Bashar al Assad, Presiden Suriah yang hendak kalian gulingkan itu. Ia sudah berkali-kali memperingatkan agar dunia tidak mensponsori para teroris asing yang "berjihad" di negaranya.

Eropa tidak menggubrisnya ketika pada 28 November 2014 ia berkata: "Prosentase terbesar dari para teroris Eropa yang datang ke negeri kami berasal dari Perancis. Dan kalian punya beberapa insiden terorisme di Perancis. Terorisme di Eropa tidak lagi tertidur, mereka telah dibangkitkan (oleh pemerintahnya sendiri)." Assad sudah berkali-kali memperingatkan bahwa ribuan teroris asal Eropa yang "berjihad" di Suriah dan mendapat sokongan dari Rezim-rezim NATO itu suatu saat akan pulang dan membuat ulah di negaranya masing-masing. Masih ingat kan pada 20 Januari 2014 Assad berkata: "Negara-negara Barat telah kehilangan kredibilitasnya.

Mereka telah menjual prinsip-prinsip mereka demi kepentingan semata. Saya tidak mempercayai Eropa, khususnya Perancis, kecuali ia mengubah kebijakan luar negerinya." Masih ingat kan saat Assad mengatakan ini? "Kami telah menyeru Barat agar mereka tidak menyokong Terorisme (di negeri kami) dan memberikannya perlindungan politik. Karena ini pasti akan berdampak pada negara kalian dan rakyat kalian sendiri. Mereka tidak mendengarkan kami." Eropa mengetahui industri Takfirisme dan Radikalisme itu sangat potensial. Demi menggulingkan Rezim Assad, NATO bersama USA dan Rezim-rezim Teluk menyirami bibit itu, menghabiskan Milyaran dollar untuk membesarkannya, menyokongnya, mempersenjatainya dan menyediakan kamp-kamp pelatihan untuknya di Jordania, Turki, Qatar dll lalu melepasnya di Suriah guna menggulingkan Rezim.

Tapi mereka lupa satu hal! Resiko Beternak anjing gila sang majikan pun bisa kena gigitannya. Karena hakikatnya anjing gila hanya tahu mengamuk. Para monster ini menganggap kafir, thoghut dan layak mati semua orang yang tak sejalan, meski terhadap tangan yang selama ini memberinya makan sekalipun. Siapa yang menyuruh kalian memelihara teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian dengan kalimat berikut: "Terorisme bukanlah sebuah kartu yang bisa anda mainkan dan masukan kembali ke dalam kantong. Seperti kalajengking, ia akan menyengat setiap saat." Masih ingat saat Assad mengatakan ini. "Barat telah menghabiskan 10 tahun untuk memerangi Terorisme. Mereka telah membunuh jutaan manusia dengan dalih ini. Dan kini mereka menyokong para teroris yang sama di Suriah. Dan kini aku yang jadi penjahatnya?" Siapa yang menyuruh kalian beternak teroris? Bukankah Assad sudah memperingatkan kalian! Assad juga pernah berkata: "Barat telah bersepakat dengan para teroris dengan cara yang paling munafik. Mereka menyebutnya Terorisme jika aksi tersebut menghantam mereka, namun menyebutnya Revolusi, pembebasan, Demokrasi dan HAM jika itu menghantam kami (Suriah)." Apa yang ingin kalian katakan sekarang wahai Hipokrit? Dengarkan! sekali lagi dengarkan wahai Rezim-rezim yang menghabiskan uangnya di jalan setan, apa yang lagi-lagi pernah dikatakan Pemimpin Syam ini. "Para teroris hanya memiliki satu pesan.

Yang mana dari ideologi gelap yang mereka bawa, bagi mereka semua siapapun yang tidak berpikir seperti mereka tidak layak untuk hidup." Jangan menangis! Terlambat untuk menangis. Assad sudah 4,5 tahun menghadapi puluhan ribu teroris bersenjata binaan kalian dan sampai hari ini ia tetap tegar. Sedangkan kalian baru menghadapi beberapa teroris yang kalian biayai sendiri sudah kelabakan. Jangan sampai setelah ini kalian kembali menyalahkan Rusia (seperti yang biasanya NATO lakukan) dengan berkata "Gara-gara Rusia mengamuk di Suriah, akhirnya para teroris binaan kami kabur pulang kampung ke Eropa dan membuat ulah." Siapa suruh ternak anjing gila?

Assad Pernah Peringatkan Perancis - Jalaludin Rumi
Assad Pernah Peringatkan Perancis - Jalaludin Rumi


Assad Pernah Peringatkan Perancis

Para monster itu akan kembali ke negara masing2 dan pastinya akan berbuat ulah. Siap2 saja.

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/assad-pernah-peringatkan-perancis.html

Jumat, 28 Februari 2014

Kamus Al-Munawwir Dibuat di Zaman Serbarepot

Yogyakarata, Jalaludin Rumi. Sejak diterbitkan secara massal pertama kali pada 1980-an, baru kali ini kamus fenomenal Al-Munawwir dibedah. Acara bedah kamus yang menjadi pembuka rangkaian Harlah XX Kopontren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta ini adalah salah satu upaya menjaga karya besar peninggalan sesepuh.

Demikian disampaikan Gus Kholid Rozaq selaku penasihat Kopontren Al-Munawwir Krapyak yang juga menantu penyusun kamus tersebut, KH Ahmad Warsun Munawwir.

Kamus Al-Munawwir Dibuat di Zaman Serbarepot (Sumber Gambar : Nu Online)
Kamus Al-Munawwir Dibuat di Zaman Serbarepot (Sumber Gambar : Nu Online)


Kamus Al-Munawwir Dibuat di Zaman Serbarepot

Dalam acara yang digelar, Ahad (26/10), di Yogyakarta ini hadir dua narasumber seagai pembedah Kamus Al-Munawwir, yakni penyusun Kamus Al-Bisri, KH Munawwir Abdul Fattah; serta KH Ali Asad, pengasuh Pesantren Nailul Ula Plosokuning yang telah masyhur kehandalannya dalam dunia penerjemahan Bahasa Arab.

Kamus Al-Munawwir disusun oleh almarhum Mbah Warsun selama kurang lebih sepuluh tahun, demikian ungkap KH Munawwir Abdul Fattah yang pernah menjadi sekretaris KH A. Warsun Munawwir.

Jalaludin Rumi

Jalaludin Rumi

Kiai yang akrab disapa Pak Awing ini menambahkan, pada masa itu penyusunan kamus sangatlah repot. Bukan hanya proses pengetikan yang masih manual, tetapi juga penyetakkan dan pemasaran yang masih digarap sendiri dari pintu ke pintu. Saat itu belum ada penerbit yang berani menggarap kamus setebal seribuan halaman lebih itu, tuturnya.

Sebelum era Kamus Al-Munawwir, belum ada kamus yang cukup memadai untuk memenuhi kebutuhan dunia penerjemahan di Nusantara. Baru ada Kamus Marbawi Arab-Melayu dan Kamus Abdullah bin Nuh yang masih sangat minim kosakata bahasa. Atas dasar kebutuhan zaman dan niat nasyrul ilmi, KH Ahmad Warsun Munawwir mulai menyusun kamus lengkap itu ketika ia berusia 26-an tahun di bawah pengawasan guru satu-satunya, KH Ali Maksum.

Setelah Pak Awing mengisahkan tentang seluk beluk kelahiran Kamus Al-Munawwir, KH Ali Asad membedah kamus yang tiap tahun dicetak 20.000 eksemplar ini dari segi penyusunan, baik kelebihan dan kekurangannya.

Menurutnya, kamus terlengkap di Indonesia tersebut bukan kamus bagi orang awam karena secara alfabetis disusun dengan pola akar kata. Untuk mengetahui akar suatu kata, tentu seseorang setidaknya harus dibekali dasar-dasar ilmu nahwu dan sharaf.

Meskipun penyusunan Kamus Al-Munawwir harus tetap bertahan pada makna dasar suatu kata, namun pengembangan kamus ini harus terus diupayakan, kata beliau. Adanya fasilitas komputerisasi bisa menjadi batu loncatan Kamus Al-Munawwir agar penggunaannya bisa meluas, sehingga diharapkan bisa menggeser kemasyhuran Kamus Munjid karya Louis Malouf di dunia internasional.

Kedua narasumber memancing gairah menulis 150-an hadirin yang siang itu memenuhi Aula G Pondok Pesantren Al-Munawwir dengan berbagai motivasi. Keberadaan Kamus Al-Munawwir bisa menjadi pemantik bagi lahirnya kamus-kamus lain dalam tema dan warna yang berbeda-beda. Kabar terbaru, saat ini sedang berlangsung proyek penerbitan Kamus Al-Munawwir edisi luks dan Kamus Al-Munawwir Mini yang mudah dibawa kemana-mana. (Zia Ul Haq/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/55362/kamus-al-munawwir-dibuat-di-zaman-serbarepot

Jalaludin Rumi

Kamis, 21 November 2013

Cinta Islam oleh Ibnu Arabi Jangan Disalah Arti

Jalaludin Rumi - Selama ini, pemikiran Ibn ‘Arabi sering disalah tafsirkan dalam perdebatan tentang khazanah Islam klasik, khususnya di Indonesia. Hal ini bukan tanpa sebab, tetapi karena minimnya informasi yang tepat dan akurat terhadap pemikiran Syaikh al-Akbar ini. Ibn ‘Arabi dikenal sebagai salah satu ulama terbesar dalam khazanah pengetahuan Islam, yang menulis ratusan karya dengan pemahaman mendalam atas sufisme dan filsafat.

Ibn ‘Arabi, bernama asli Muhammad Ali Ibn Muhammad ibn ‘Arabi al-Tha’i al-Hatimi. Ia lahir pada 17 Ramadhan 560 H/28 Juli 1165, di Mursia, Spanyol bagian Tenggara. Pemikiran Ibn ‘Arabi yang luas dan mendalam dengan pendekatan filsafat dan serta sufisme, menjadikan pemikirannya sering disalahpahami. Perdebatan tentang pemikiran Ibn ‘Arabi seolah menjadi selubung untuk menutup cahaya-cahaya pemikiran dari Syaikh al-Akbar.

Cinta Islam oleh Ibnu Arabi Jangan Disalah Arti - Jalaludin Rumi
Cinta Islam oleh Ibnu Arabi Jangan Disalah Arti - Jalaludin Rumi


Cinta Islam oleh Ibnu Arabi Jangan Disalah Arti

Dalam catatan Azam Bahtiar (2015), ada 125 judul karya yang memuat perdebatan pemikiran tentang Ibn ‘Arabi. Sebanyak 114 karya menjadi pendukung Syaikh Akbar, 81 sebagai syarahnya, selebihnya sebagai pembelaan sang murid. Sedangkan, hanya 11 karya yang berseberangan terhadap pemikiran Ibn ‘Arabi. Dengan demikian, tidak sah kiranya hanya melihat kontroversi Ibn ‘Arabi sebagai alat untuk merajamkan kekafiran atas dirinya.

Sejauh ini, belum ada satu buku lengkap yang ditulis oleh cendekiawan Indonesia yang menjadi pengantar atas pemikiran Ibn Arabi. Sebagian besar, wacana tentang Ibn Arabi disarikan dari intelektual Timur Tengah dan sarjana-sarjana Barat, semisal William Chittick, Toshihiko Isutzu dan beberapa pemikir lainnya. Buku “Semesta Cinta: Pengantar Kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi” merupakan buah karya Dr. Haidar Bagir, untuk mengenalkan sosok Syaikh al-Akbar dalam narasi yang mudah dipahami.

Jalaludin Rumi

Dalam pandangan Haidar Bagir, irfan merupakan suatu bentuk tasawuf yang bersifat filosofis, atau disebut sebagai filsafat sufistik. Sebagai filsafat, ia mensyaratkan pemahaman filosofis atas subject matter-nya. Sebagai tasawuf, ia mensyaratkan pemahaman tentang tata laku sebagai wahana peraihan pengetahuan yang hendak dikuasai. Irfan mencakup pemerian filosofis pengalaman sufistik, sebagai sebuah metamistisisme yang mewacanakan laku tasawuf.

Jalaludin Rumi

Tujuan utama penciptaan manusia adalah untuk mengenal Tuhan. Dengan kata lain, ibadah adalah sarana makhluk untuk mengenal Sang Penciptanya. Pengenalan ini disebut sebagai ma’rifah. Sedangkan, wacana atau ilmu tentang peraihan ma’rifah ini disebut sebagai ‘irfan. Karya-karya Syaikh al-Akbar Ibn ‘Arabi menjadi referensi dari tradisi ‘irfan dalam pengetahuan Islam.

Pemikiran Ibn ‘Arabi, dalam beberapa karya pentingnya, dikenal sulit dipahami. Lapisan-lapisan konstruksi pemikiran Ibn ‘Arabi, membutuhkan kesabaran dan ketelatenan untuk dapat masuk dalam inti terdalam dari korpus pengetahuannya. Tercatat Ibn ‘Arabi menulis tak kurang dari 363 buku dan risalah. Di antara karya-karya utamanya, yakni al-Futuhat al-Makiyyah (Penyingkapan-penyingkapan di Makkah) dan Fushush al-Hikam (Permata-permata kebijaksanaan). Al-Futuhat al-Makiyyah adalah karya ensiklopedis yang merangkum kekayaan pemikiran irfani. Edisi kritis paling baru atas karya ini, meliputi tak kurang dari 17.000 halaman.

Bagi orang awam, bahasa-bahasa metaforik Ibn ‘Arabi jika tidak direnungkan dengan khusyu’, akan mendorong kesalahpahaman. Menurut Ibn ‘Arabi, al-Futuhat al-Makiyyah bukanlah karya pemikirannya, akan tetapi langsung dari Allah. Dalam pengakuan Ibn ‘Arabi, Allah menggerakkan tangannya untuk menulis. Sedangkan, karya Fushush al-Hikam, meskipun hanya satu jilid, akan tetapi menjadi karya yang paling sulit dipahami karena merupakan saripati samudra yang amat luas dan dalam dari pemikiran Ibn ‘Arabi, yang disusun secara sistematik yang berdasarkan hikmah-hikmah dari Nabi Adam sampai Nabi Muhammad. Karya lainnya, yakni Tarjuman al-Asywaq, buku kumpulan syair cinta spiritual. Serta, Syajarah al-Kaun, karya kosmologi yang menerangkan tentang khazanah simbolisme dalam al-Qur’an (hlm. 95-6)

Islam Cinta

Menurut Haidar Bagir, narasi terpenting dari pemikiran Ibn ‘Arabi adalah menghadirkan pesan cinta dalam memahami Islam. Aspek kebenaran dan kebaikan baru sempurna dengan keindahan. Dalam pemahaman Islam, menurut ‘Irfan, kebenaran dan kebaikan tidak terpisahkan dari keindahan. Ringkasnya, sesuatu dapat disebut kebaikan dan kebenaran jika pada saat yang sama ia indah, memiliki daya pesona yang melahirkan rasa cinta dan kerinduan untuk mengalaminya.

Keindahan pada hakikatnya merupakan aspek keilahiahan. Manunia memang membutuhkan ilmu yang mengurusi benar salah, tentu juga moral yang mengurusi baik buruk. Tapi, suatu kehidupan yang membahagiakan hanya bisa dikembangkan jika tabiat manusia yang cinta dan rindu pada keindahan bisa terpuasi (hlm. 322-3).

Pemusatan perhatian pada Ibn ‘Arabi dan madzhab pemikirannya, dalam setiap pembahasan tentang Irfan didasarkan pada kenyataan bahwa Ibn ‘Arabi adalah benar-benar memformulasikan pahamnya secara filosofis dalam puluhan ribu halaman yang ditulis dalam bahasa analitik prosais, sedangkan para sufi sealiran umumnya mengungkapkan pada puisi-puisi ringkas. Ibn ‘Arabi juga perintis dan pengembang doktrin wahdah al-wujud, atau tawhid maujudi, yang memberikan pengaruh besar dalam peradaban dan tradisi pengetahuan Islam.

Dalam pemikiran Ibn ‘Arabi, jadilah seluruh kehidupan manusia dan makluk-Nya di muka bumi sebagai sepenuhnya cerita cinta, dan tidak ada satupun di dalamnya yang dapat dipahami dengan tepat sekaligus benar, tanpa menggunakan perspektif cinta (hlm.30-31). Buku karya Haidar Bagir ini, seakan menuntun kita untuk menelusuri lorong-lorong panjang pemikiran Ibn ‘Arabi dengan lentera cinta. Ia menghadirkan narasi cinta untuk memahami Islam. Dengan demikian, Islam yang dipahami adalah Islam yang membawa rahmat, Islam yang menghadirkan kerahaman, bukan kemarahan. Jalaludin Rumi

Info Buku:

Dr. Haidar Bagir | Semesta Cinta: Pengantar Kepada Pemikiran Ibn ‘Arabi

Noura Mizan | I, November 2015 | ISBN: 978-602-385-039-6

Munawir Aziz, Alumnus Pascasarjana UGM, Jaringan Gus Durian & editor in-chief di Islami.co

Ibnu Arabi "Cinta Islam"

Oleh Munawir Aziz

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/menyelami-islam-cinta-ibn-arabi.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock