Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label NetizenNu. Tampilkan semua postingan

Minggu, 12 Maret 2017

Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Keadilan adalah watak natural manusia, juga watak khas agama Islam. Tulisan ini akan mengulas bagaimana konsep keadilan menurut KH Abdurrahman Wahid atau akrab disapa Gus Dur.

Dalam kumpulan tulisan tokoh-tokoh Islam yang diedit oleh Budhy Munawar Rahman berjudul Kontekstualisasi Doktrin Islam Dalam Sejarah (Mei: 1994), Gus Dur menulis tentang konsep keadilan menurut Islam. Menurut Gus Dur, konsep keadilan dalam Islam bermula dari Allah sebagai Tuhan Yang Maha Adil. Efek positif lanjutannya, al-Quran sebagai firman Allah juga menjadi sumber pemikiran tentang keadilan.

Apa yang dikatakan Gus Dur jelas kebenarannya. Sistem dan pola hidup adil adalah misi wahyu yang digariskan terhadap para nabi. Dalam surat al-Hadid ayat 57, al-Quran menegaskan bahwa keadilan merupakan sesuatu yang diturunkan bagi para rasul selain kitab suci. Dalam berbagai kitab tafsir ditegaskan bahwa keadilan dituntut al-Quran diterapkan sejak dari sikap batin, ucapan, sampai penyelesaian perselisihan. Alam rayapun, ditegakkan berdasar keadilan. Gus Dur menyebut ada beberapa wawasan keadilan dalam al-Quran sejak Qisth, Hukm sampai Adl sendiri.

Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Dur dan Keadilan Ideologis (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Dur dan Keadilan Ideologis

Gus Dur memaklumi karena begitu vitalnya keadilan sehingga keadilan dijadikan rukun iman oleh beberapa mazhab diluar sunni seperti Syiah dan Muktazilah. Disinilah sikap pluralis Gus Dur terlihat. Gus Dur menghormati eksistensi paham lain berdasar garis pandang vitalnya suatu konsep. Bagi Gus Dur, keadilan merupakan suatu perintah agama bukan hanya acuan etis atau dorongan moral belaka. Satu perintah agama yang netral politik. Dalam sebuah tulisannya di Kompas ketika meletus perang Teluk tahun 1991, Gus Dur menegaskan kritiknya terhadap dua kubu ulama Arab, pembela Saddam maupun pembela Raja Fadh. Gus Dur juga begitu antipati ketika seorang ulama Indonesia kala itu ikut mendudukkan Saddam sebagai bughat (pemberontak) hanya berdasar persepsi minor yang tak jelas.

Selain adl, keadilan juga disebut qisth. Konsep qisth menundukkan arah pada diri pribadi sebelum langkah besar transformasi masyarakat. Al-Quran berkata Hai orang beriman, jadilah kamu penegak keadilan (qisth), menjadi saksi karena Allah, walaupun terhadap dirimu sendiri (An-Nisa: 135). Secara tersirat ini menunjukkan penerapan keadilan untuk diri sendiri, atau pendidikan adab bagi pribadi sebelum menerapkan keadilan untuk masyarakat luas.

Gus Dur gusar jika keadilan yang sebenarnya murni watak agama menjadi satu keadilan berdasar ideologi tertentu. Bagi Gus Dur, keadilan ideologis memiliki pilar rapuh yang berbahaya karena keadilan ideologis akan membuahkan tirani. Watak keadilan justru akan menjadi sikap subversif apabila ideologi menyertai secara ketat. Di negeri ini, terdapat kelompok yang berjuang atas dasar ideologi keadilan namun justru watak keadilan yang didominasi ideologi cenderung untuk dikotomis, berpikir sepihak berdasar kepada garis anutan ideologinya.

Jalaludin Rumi

Keadilan menurut kelompok keadilan ideologis jatuh dalam lingkup orientasi kontestasi dan pemenangan kekuasaan. Ambil contoh konsep penerapan bernegara ala Ikhwanul Muslimin. Menurut Hasan Al Banna, risalah penegakan daulah Islamiyah dimulai dari tahap islahul afrad (perbaikan diri sendiri), takwinul baitul muslim (membentuk keluarga muslim), takwinul mujtamaul muslimin (membentuk masyarakat muslim), tahrirul wathan (pembebasan tanah air), islahul hukumah (perbaikan pemerintahan) dan terakhir iqamatud daulah (pembentukan negara Islam).

Di banyak negara, strategi ini diterapkan Ikhwanul Muslimin, namun sebagaimana kata Gus Dur pasti ada kelindan tak disangka manakala ideologisasi muncul mendominasi. Pada tahap islahul afrad, upaya penegakan keadilan pada pribadi individual bisa dilakukan. Namun, syahwat politik yang terlalu ambisius untuk menguasai pemerintahan justru akan mengorbankan keadilan sendiri. Sulit dipilah mana keadilan berdasar agama, mana pula berdasar kepentingan politik.

Menurut Gus Dur, keadilan juga berkait dengan kesejahteraan. Yatim piatu, kaum miskin, serta zawil qurba yang membutuhkan pertolongan merupakan pengejewantahan keadilan. Artinya, keadilan harus menjauhi sejauh mungkin korupsi karena korupsi pada dasarnya sejenis kezaliman massal terhadap seluruh rakyat utamanya rakyat kecil. Korupsi menyebabkan pemberdayaan kaum miskin dan anak yatim menjadi terhambat. Unsur transformasi sosial sedikit banyak yang merekatkan keadilan sebagai watak struktural. Hal ini menjelaskan hubungan kerangka keadilan untuk diri pribadi dengan keadilan untuk masyarakat. Artinya, keadilan akan mampu ditegakkan manakala sistem adil hidup mandiri di masyarakat.

Bagi Gus Dur, keadilan memiliki keterbatasan. Pertama, keterbatasan visi keadilan sendiri. Keadilan bisa dianggap selesai manakala keadilan diterapkan, tapi justru dengan melanggar wawasan keadilan. Demi agama islam, seseorang akan merasa absah jika harus merusak aset milik orang lain. Seseorang akan merasa menegakkan keadilan, meski dengan menghancurkan dan merusak. Padahal merusak adalah kegiatan yang bertentangan dengan wawasan keadilan. Atas nama keadilan, suap terpaksa dilakukan justru demi ideologisasi keadilan. Keadilan dan kesejahteraanpun dijual demi demokrasi padahal keadilan justru watak nomokrasi.

Jalaludin Rumi

Menurut Gus Dur, wawasan keadilan juga rentan karena terikat konsep berbalasan (kompensatoris). Demi keadilan ideologis, Islam berupaya diarahkan menjadi daulah justru dengan meminta kompensasi dari masyarakat. Keadilan ideologis terpaksa diperjuangkan dengan mengabaikan nilai agama. Menjelang pemilu, menyuap pemilih terpaksa dilakukan. Ongkos pemilu yang besar memaksa juga terjadinya korupsi. Keadilan dirusak demi kepentingan keadilan yang diideologisasi. Gus Dur pun dulu dijatuhkan oleh kelompok yang menyebut dirirnya pejuang keadilan. Padahal menjatuhkan Gus Dur dari kursi kepresidenan justru merupakan pelanggaran keadilan konstitutif. Hari ini, mengembalikan fitrah keadilan kepada kerangka dasar agama dan bukan ideologi politik terasa penting untuk dilakukan. Kita merindukan keadilan yang obyektif. Bukan keadilan ideologis.

*Alumni Hubungan Internasional FISIP Universitas Jember Pustakawan Buku dan Kitab Kuning

Dari (Opini) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/45413/gus-dur-dan-keadilan-ideologis

Sabtu, 11 Februari 2017

PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengucapkan selamat kepada Muslimat NU yang bakal menghelat Kongres XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 23-27 November 2016.

Sebagai forum tertinggi di Muslimat NU, kongres tersebut diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat baik bagi Muslimat NU sendiri maupun bangsa dan negara. PBNU secara khusus juga mengingatkan agar terjadi regenerasi dalam kepemimpinan Muslimat NU yang selama tiga periode dipimpin Khofifah Indar Parawansa.

PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat

"Saya menyampaikan bahwa sesuai hasil rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah pada 27 Oktober, PBNU mengingatkan Muslimat NU agar kembali kepada Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama Pasal 16 Ayat 3 yang menyatakan bahwa masa khidmah ketua umum pengurus badan otonom adalah dua periode, kecuali ketua umum pengurus badan otonom yang berbasis usia adalah satu periode," ujar Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Gus Yahya, panggilan akrabnya, mengatakan, rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah meminta Muslimat NU untuk menegakkan aturan yang berlaku demi kemajuan dan kelangsungan kaderisasi di tubuh badan otonom NU yang beranggotakan kaum ibu ini.

Jalaludin Rumi

"Tanpa mengurangi rasa hormat, (rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah) meminta Ibu Khofifah Indar Parawansa, saatnya pada kongres kali ini menyerahkan estafet kepemimpinan kepada kader lain," tambahnya.

PBNU, katanya, sudah menoleransi kepemimpinan Khofifah di Muslimat NU selama tiga periode. Namun, kali ini tidak, sebagai langkah mengantisipasi kemacetan yang lebih lama dalam proses kaderisasi.

Jalaludin Rumi

Imbauan agar ketua umum tak melebihi batas dua kali masa khidmah tersebut juga berlaku untuk sejumlah badan otonom NU lain, khususnya yang tidak bebasis usia, seperti Persatuan Guru NU (Pergunu), Pencak Silat NU Pagar Nusa, Ikatan Sarjana NU (ISNU), Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), dan lainnya. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72844/pbnu-harus-ada-regenerasi-ketum-muslimat

Kamis, 07 Januari 2016

Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego

Seorang Muslim Kamboja bernama No Sles, (dalam bahasa Indonesia dibaca Nuh Saleh) pernah berkunjung ke PBNU. Ia menyempatkan diri mampir ke kantor Redaksi Jalaludin Rumi yang terletak di lantai 5 gedung yang diresmikan KH Abdurrahman Wahid, semasa presiden.

Selama sejam ngobrol dengan Jalaludin Rumi. Ia menjelaskan keadaan muslim Kamboja; dari kebudayaan, pendidikan, dan sejarah. Pengantarnya bahasa Kamboja sehingga memerlukan seorang penerjemah.

Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego (Sumber Gambar : Nu Online)


Ketika Muslim Kamboja Membaca Arab Pego

Sebelum pamitan, sudut mata Nos Sles melihat tulisan Arab di salah satu dinding Jalaludin Rumi. Ia pun langsung mendekatinya. Kemudian membaca "Deklarasi Hubungan Pancasila dengan Islam" yang dikeluarkan NU tahun 1983 itu.

Di deklarasi yang ditulis Arab pego itu, ada logo burung garuda (Pancasila) di sebelah kanan dan NU di sebelah kiri.

Jalaludin Rumi

Pancasila sebagai dasar dan falsafah negara Republik Indonesia bukanlah agama, tidak dapat menggantikan agama, dan tidak dapat dipergunakan untuk menggantikan kedudukan agama, demikian bunyi deklarasi sila pertama itu.

Jalaludin Rumi

No Sles yang menjabat Director of Deparatment of Education and Human Resources Departemen di lembaga umat Islam Kamboja (Cambodian Muslim Development Foundation) itu membaca Arab pego dengan lancar. Ia menyebut tulisan itu "Arab Jawi".

Menurut sejarawan yang budayawan Agus Sunyoto, kita tidak perlu aneh jika Muslim Kamboja tak bisa bicara bahasa Indonesia, tapi bisa memahami dan membaca Arab pego, karena memang aksara itu digunakan dalam pengajaran di sana.

lebih jauh Agus menjelaskan kata "Jawi" yang dimaksud "Arab Jawi" Nos Sles. Kata "Jawi" adalah bahasa Jawa kuno. Sementara "Arab Jawi" adalah cara komunikasi jaringan ulama Nusantara. Aksara itu digunakan untuk wilayah Asia Tenggara.

Agus menjelaskan kaitan kata itu dengan pembagian wilayah kekuasaan Nusantara. Kira-kira abad 8 Masehi kekuasaan Mataram terbagi dua bagian; antara Sanjaya Wangsa dan Syailendra Wangsa. Nah, yang Syailendra Wangsa itu kekuasaannya disebut "Jawi", Sanjaya disebut "Jawa", katanya kepada Jalaludin Rumi, di gedung PBNU, Jakarta, (31/1) lalu.

"Jawi" itu maksudnya wilayah pedalaman, sementara "Jawa" itu disebut pesisir. Dalam istilah waktu itu, "Jawi" kepada kekuasaan Syailendra di wilayah barat, yaitu dari Jawa Tengah ke barat, hingga Campa. Sementara sebelah timurnya kekuasaan Sanjaya disebut "Jawa".

Karena saudagar-saudagar Muslim waktu itu "beroperasi" di wilayah barat (kekuasaan Syailendra), mereka menyebut "Jawi" untuk keseluruhan Nusantara. Nah, karena itu tulisan-tulisan Arab Pego, mereka sebut aksara Jawi.

Aksara Arab pego atau Arab Jawi, lanjut penulis Suluk Abdul Jalil (tujuh jilid) dan Atlas Walisongo ini, jauh sebelum zaman Walisongo. Tapi jelas itu kreativitas kalangan Muslim.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/43583/ketika-muslim-kamboja-membaca-arab-pego

Jalaludin Rumi

Rabu, 11 Februari 2015

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu

Malang, Jalaludin Rumi. Kebobrokan bangsa Indonesia dinilai sudah berada kondisi cukup akut yang memprihatinkan. Konstitusi tidak lagi menjadi pijakan. Korupsi menjadi tradisi yang tak terhindarkan. Cara berpikir dan prilaku bangsa dari level atas sampai pada level bawah sama sekali jauh dari fondasi nilai ideologi bangsa yang telah terbangun oleh para founding father bangsa.

Di sisi lain, generasi penerus masa depan bangsa, dari level pelajar sampai mahasiswa ternyata juga mengalami hal yang sama. Akibatnya, banyak kasus kekerasan, seks bebas, bahkan mental korup telah terjangkit dalam diri bibit-bibit pemimpin bangsa ini.

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)


Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu

Demikian salah satu poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan informal tujuh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selama dua hari, pada hari Sabtu hingga Ahad (3-4/11) di Hotel Victori, Batu Malang.

Jalaludin Rumi

"Organisasi mahasiswa seperti PMII juga demikian. Kita harus diakui di tubuh PMII sekarang telah terjadi degradasi pemikiran, moral dan spiritual. Lakon aktivis PMII saat ini sudah tidak lagi mencerminkan PMII yang sebenarnya,"kata Ketua Umum PKC PMII Jatim Fairouz Huda, Ahad (4/11) malam.

Fairouz menjelaskan, pertemuan tersebut bertujuan untuk merefleksi diri atas kondisi internal PMII. "Seperangkat aturan dan nilai ideologis paradigmatik PMII tidak lagi menjadi pedoman hidup dan organisasi,"tandas Fairouz prihatin.

Jalaludin Rumi

Selain persoalan internal, pertemuan tersebut untuk merespon berbagai persoalan bangsa. Pasalnya kondisi bangsa Indonesia saat ini berada dalam kubangan keprihatinan yang mendalam.

Kami menyatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan yang bobrok. Keadilan, kebhinekaan, penegakan hukum dalam kondisi yang memprihatinkan," kata pria kelahiran Madura ini.

Karena itu, Fairouz bersama 6 PKC PMII menyatakan, perlu dilakukan perubahan radikal di tubuh PMII. "Tentu saja dengan mendobrak PB PMII sebagai struktur yang memiliki tanggung jawab struktural atas semua ini,"tegasnya.

Dalam pertemuan yang diikuti tujuh PKC PMII se Indonesia yg terdiri dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan tersebut menghasilkan lima rumusan pikiran.

Lima point pemikiran yang disebut dengan "PETISI BATU" itu adalah sebagai berikut. Pertama, mendesak pemerintah untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Kedua, kondisi PB PMII dibawah kepemimpinan sahabat Adin Jauharudin sudah jauh banyak menyimpang dari tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII. Sehingga banyak menimbulkan kegelisahan di seluruh level struktur organisasi PMII.

Ketiga, menegaskan dan menghimbau kepada seluruh elemen keluarga besar PMII di seantero Nusantara untuk secara seksama dan bersama-sama menyelamatkan organisasi PMII.

Keempat, mendesak kepada sahabat Addin Jauharudin selaku pimpinan PB PMII untuk patuh terhadap segala tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII.

Kelima, jika hal-hal di atas tidak diperhatikan oleh PB PMII, maka kami berkomitmen untuk menempuh langkah-langkah konstitusional demi penyelamatan organisasi PMII.

Lima Petisi Batu tersebut di atas ditanda tangani oleh tujuh pimpinan PKC PMII. Yaitu, Fairouz Huda (Ketum PKC Jatim), Muhammad Zuyyin (Ketum PKC Jateng), Edi Rusyandi (PKC PMII Jabar), Sahril Ishak (Ketum PKC Kalbar), Eka (Ketum PKC PMII Lampung), Taufik Hidayat (Ketum PKC PMII NTB), Radini (Ketum PKC PMII Kalsel).

"Konsolidasi PKC PMII se Indonesia seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan secara bergiliran, sebagai ruang kritik, otokritik dan penyikapan atas berbagai persoalan kebangsaan,"tegas Fairouz yang juga mantan Ketua Umum PC PMII Malang ini.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40649/indonesia-kritis-tujuh-pkc-pmii-se-indonesia-keluarkan-quotpetisi-batuquot

Jalaludin Rumi

Kamis, 18 Desember 2014

NU Pringsewu Gelar Maulid dan Santunan Yatim

Pringsewu. Jalaludin Rumi

Ribuan Jamaah menghadiri pengajian akbar dan santunan anak yatim dalam rangka peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1434 H di halaman masjid Agung Jami Addawah Bandung Baru Adiluwih Pringsewu, Lampung, Ahad, 27/1/2013.

NU Pringsewu Gelar Maulid dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)
NU Pringsewu Gelar Maulid dan Santunan Yatim (Sumber Gambar : Nu Online)


NU Pringsewu Gelar Maulid dan Santunan Yatim

Jamaah tersebut terdiri dari Pengurus dan Anggota Organisasi Badan Otonom NU diantaranya Muslimat, Fatayat, GP Ansor, IPNU dan IPPNU serta kaum muslimin se Bandung Baru dan sekitarnya.

Ketua Panitia yang juga Ketua Ranting NU Bandung Baru Azis mengatakan bahwa acara tersebut diselenggarakan secara bersama oleh seluruh Organisasi Banom NU di Kecamatan Adiluwih.

Jalaludin Rumi

Kenapa kita lakukan secara bersama-sama? karena jika kita lakukan bersama pasti acara akan terlaksana jauh lebih baik dan lebih besar ketimbang dilakukan secara sendiri-sendiri, tegas Aziz.

Hadir pula dalam acara tersebut Camat Adiluwih dan segenap tamu undangan dari instansi pemerintah. Dalam sambutanya beliau mengapresiasi positif terhadap inisiatif panitia dalam menyelenggarakan kegiatan Maulid ini yang di barengi dengan Santunan Anak Yatim. Bahkan ia memerintahkan ke panitia untuk mendata semua anak yatim piatu di desa Bandung Baru dan berjanji akanmemberikan santunan setiap bulan.

Jalaludin Rumi

Redaktur: Mukafi Niam

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/42150/nu-pringsewu-gelar-maulid-dan-santunan-yatim

Jalaludin Rumi

Kamis, 22 Agustus 2013

Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS

Pasca bom Sarinah, sebuah telegram langsung dari pemimpin tertinggi ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi, secara rahasia berhasil dibongkar. Telegram itu ditujukan kepada Abu Wardah yang dikenal dengan nama Santoso, cabang ISIS di Poso.

Kami berhasil menterjemahkan surat tersebut dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Gerakan teror yang dilancarkan di Jakarta sebagai pemanasan untuk mengembangkan khilafah Daulah Islamiyah ternyata gagal di awal.

Saya meminta pada kelompok di Indonesia untuk menata ulang pola serangan dengan baik, supaya kesuksesan Daulah Islamiyah di Indonesia berhasil setahap demi setahap.

Saya tidak tahu apa penyebab kegagalan itu. Tetapi dari media sosial yang saya dapatkan ternyata orang Indonesia tidak takut dengan ISIS. Malah mereka mengejek kita dengan memanggil Sis. Memangnya kita dagang online apa? "Sis, cek harga di inbox... PM, ya say...."

Saya tahu itu, karena dulu saya jualan online. Malah re-seller saya sudah 12 orang. Ah, maaf saya ngelantur. Terkadang memori lama memang mengasyikkan.

Kembali pada pokok permasalahan. Data yang masuk kepada kami kurang akurat. Indonesia ternyata bukan Perancis. Kami melihat orang Indonesia tidak ada takutnya. Malah ketika tembak-tembakan, masih ada yang jual sate segala. Ini teror apa pasar kaget? Coba di teliti ulang.

Data yang masuk kepada kami di pusat, orang Indonesia hanya takut pada satu hal, yaitu emak-emak naik motor matic karena sein-nya ke kanan, dia-nya kekiri. Ini bisa menjadi masukan bagus. Strategi berikutnya kita akan menyamar jadi emak-emak naik motor matic. Coba telusuri bagaimana caranya dan infokan ke kami.

Kegagalan kemarin sangat mengecewakan. Kenapa kalian tidak mampu membunuh banyak orang? Saya sempat mau kirimkan Boko Haram menggantikan posisi kalian. Hanya ada staf saya yang mengingatkan, di Indonesia harus dapat sertifikat dari MUI dulu baru halal. Ini maksudnya apaan? Masak namanya berubah jadi Boko Halal?

Kami memang salah mengira bahwa Indonesia mudah ditaklukkan. Ketika sedang santai, saya membaca lagi komik Asterix. Ternyata Indonesia itu mirip desa Galia. Sejarahnya memang bangsa Indonesia keturunan dari kerajaan Majapahit atau dulu dikenal dengan nama Majapahitix.

Di sana pasti ada ramuan ajaib. Mereka meminum ramuan yang dulu dibuat dukun Panoramix. Coba teliti lagi, saya dengar disana ada beberapa orang yang perlu diwaspadai. Data yang saya dapat, namanya Fadli Zonix, Fahri Hamzahix dan Nikita Mirzanix. Yang terakhir itu wanita. Dia sekali operasi mahal bayarannya, sekitar 60 juta. Dekati dia dan tawar, bisa tidak diskon 20%, ini sudah dekat mau lebaran.

Saya juga mendapat surat cinta dari yang bernama Denny Siregar. Dia sebut-sebut dalam suratnya Sumber Kencono, Kopaja dan Metromini. Kedengarannya menakutkan sekali. Mereka terbiasa diteror dengan itu sampai sudah tidak takut lagi. Saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa arab "Rapat belakang.. Tareeek..." Tolong saya dibantu menterjemahkan. Siapa tahu itu senjata rahasia.

Yang berikut saya akan pakai bahasa sandi supaya telegram ini tidak bocor:

[Santoso.. So... Aku Suroto, so.. Nang arab ae jenengku Abu Bakar Al Baghdadi. Aku iki wong Jowo, podo karo awakmu so.. Yak opo kabare Birin? Sek ngangon kambing? Gabung ae karo awakmu, So.. Lumayan, de'e oleh penghasilan. Sakno, so... Emak'e wis mati..]

Semoga bahasa sandi itu tidak bisa diterjemahkan semisal telegram ini bocor.

Saya lanjutkan kembali, Susun kembali pola serangan dengan baik. Kemarin itu polanya 4-3-3. Coba 3-6-1 atau 3-5-2. Kurangi bek-nya, perkuat pertahanan di tengah. Gelandang kiri jangan selalu kosong. Tolong kode ini dipahami dengan baik.

Saya rasa cukup telegram ini dan kalau sudah selesai dibaca, telegram ini akan hancur sendiri. Iya, saya niru film Mission Impossible. Kalau gak hancur, bisa dibakar pake korek api. Tetap semangat berjuang saudaraku. Semoga cepat terlaksana janji Tuhan untuk memberikan kita 72 bidadari. Tegakkan khilafah! Tegakkan khilafah!

Big Hug and Love,

Abu Bakar Al Baghdadi NB: So, awakmu isok ngguyu karo split? Aku kok ora isok ya, so? Bokongku suwek. [ed]

#KamiTidakTakutTeroris #KamiLawanTeroris

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/ini-surat-ancaman-abu-bakar-isis.html

Senin, 22 Juli 2013

KH Marzuki Mustamar Umpamakan Orang Serakah dengan Bedes

Malang, Jalaludin Rumi. Di tengah kesibukan untuk mengisi pengajian di berbagai kota, di luar pulau, bahkan di luar negeri, Kiai Marzuki Mustamar selalu menyempatkan mbalang kitab untuk santri-santrinya secara istiqomah tiap harinya. Tepat bada Maghrib, Ahad (25/9) lalu adalah jadual santri-santrinya untuk mengaji Kitab Ibnu Aqil. Nadhom Alfiyah pun menggema di Masjid Nur Ahmad Pondok Pesantren Sabilurrosyad Gasek Malang.

Di tengah penjelasannya terkait bait-bait alfiyah, Abah, panggilan akrab para santri untuk kiai kelahiran Blitar ini berhenti sejenak dan kemudian bercerita. Ceritanya sangat sederhana, tapi mungkin bisa menjadi bahan renungan bagi kita semua. Tatkala Kiai Marzuki ada jadwal ngisi pengajian di daerah Pacet, kiai yang juga Syuriyah PWNU Jawa Timur ini berhenti sebentar untuk memberi makan monyet-monyet di pinggir jalan. Ada banyak monyet yang berebut untuk mendapatkan makanan.

KH Marzuki Mustamar Umpamakan Orang Serakah dengan Bedes (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Marzuki Mustamar Umpamakan Orang Serakah dengan Bedes (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Marzuki Mustamar Umpamakan Orang Serakah dengan Bedes

Kemudian, tiba-tiba datang monyet yang paling besar, mungkin bisa dibilang raja monyetnya lah, terang Abah, saat diberikan makanan itu, si raja monyet ini menghalang-halangi monyet-monyet kecil lainnya untuk mendapatkan makanan, padahal si monyet besar tadi di mulutnya sudah mengunyah banyak makanan.

Jalaludin Rumi

Bukan hanya itu, di tangan kanan-kirinya juga sudah memegang makanan. Melihat hal tersebut, akhirnya kiai 50 tahun ini mencoba memancing dengan memberikan makanan untuk kesekian kalinya, pikirnya, tidak mungkin lah si raja monyet ini mengambil makanan lagi, kan di tangan kanan-kirinya sudah full makanan. Setelah dilemparkan makanannya, tak disangka, ternyata si raja monyet ini tetap mengambil makanan tersebut yang dihimpit ketiaknya.

Tak pelak, hal ini membuat monyet-monyet kecil lainnya hanya dapat sisa-sisa bagian bahkan ada yang tidak dapat sama sekali. Inilah salah satu contoh dari sifat serakah. Kalau manusia seperti itu, berarti dia sama seperti bedes (monyet dalam bahasa jawa), ujar Kiai kelahiran 22 September 1966 ini.

Jalaludin Rumi

Siapapun pasti mengerti bahwa di dunia ini kita harus mencari kebahagiaan. Namun keberhasilan dalam memperolehnya tidak berarti kita harus mengorbankan kebenaran yang kita anut, bahkan menghalalkan segala cara. Manusia tidak boleh melanggar tapal batas moralitas dan taqwa demi meraih keuntungan material. Biasanya, kecenderungan material timbul dari keserakahan yang tak terkendali.

Orang serakah memang tak pernah puas dengan harta dunia, persis seperti api membakar semua bahan bakar yang diberikan. Ketahuilah, lanjut Kiai Marzuki, bila keserakahan telah menguasai diri kita, ia akan mengubah kehidupan sosial kita menjadi medan pertengkaran dan perpecahan sebagai ganti dari keadilan, keamanan, dan kedamaian.

Senada dengan KH Marzuki Mustamar, KH Musthofa Bisri atau yang biasa disapa Gus Mus di berbagai kesempatan juga sering menyampaikan bahwa korupsi bisa membudaya di negeri ini adalah karena baik pemimpin, para pejabat dan masyarakat Indonesia begitu cinta dengan harta duniawi. Dan jika hal itu terus terjadi, dia memprediksi, Indonesia akan rusak seperti bangsa-bangsa terdahulu.

Gus Mus mengungkapkan, andaikan kita semua bisa hidup sederhana, tidak terlalu tamak, serakah, itu cara kita menanggulangi korupsi antara lain dari kita masyarakat dengan merubah perilaku kita terhadap dunia dan materi. Jangan lagi menganggap dunia dan materi itu sebagai sesuatu yang sangat pokok. Meskipun tentu hal tersebut menurut Gus Mus adalah sangat sulit, tetapi harus di usahakan. Kita sendiri harus berusaha juga menghilangkan sebab-sebab awal dari korupsi itu, dengan cara mengurangi rasa keserakahan tersebut. (Muhammad Faishol/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71595/kh-marzuki-mustamar-umpamakan-orang-serakah-dengan-bedes

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock