Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Ini adalah kisah Shohnun dan murid terdekatnya. Dikisahkan Shohnun adalah seorang tabib, ahli pengobatan. Berbagai macam penyakit, mampu ia obati. Mulai dari penyakit sepele, sekelas sakit gigi hingga penyakit organ dalam kelas kakap.

Dari keahliannya itu, banyak orang yang berduyun-duyun, datang kepada tabib Shohnun untuk meminta diobati. Nahas, tak selang berapa lama, Shohnun meninggal dunia.

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)


Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Orang-orang pun kebingungan, akan kemana lagi mereka meminta pertolongan obat. Oh ya, mereka baru tersadar. Ternyata Shohnun memiliki murid terdekat. Ya, akhirnya orang-orang pun, bergegas menghampiri sang murid terdekat. Berharap sang murid mewarisi kehebatan gurunya.

Jalaludin Rumi

Setelah menerima kedatangan orang-orang yang sakit, sang murid pun mengiyakan permintaan mereka dengan begitu enteng dan semangat. Hal itu bukan tanpa sebab.

Ternyata, dahulu kala, semasa shohnun hidup, dalam terapi pengobatannya, shohnun hanya menuliskan huruf hijaiyah nun ( ) dalam cawan. Kemudian huruf nun tersebut ia hapus perlahan dengan air yang ia siramkan. Melalui secawan air hapusan huruf hijaiyah nun itulah, kemudian Shohnun meminumkannya kepada pasien. Dan, Manajur! Berbagai penyakit ia sembuhkan.

Tentunya, sang murid terdekat yang pada masa itu menjadi asistennya, dapat menghafal dengan mudah teknik pengobatan Shohnun. Dan atas dasar itu pula, bermodalkan pengamatan tak berizin, sang murid dengan yakin menerima permintaan pasien mendiang Shohnun untuk mengobati pasien.

Jalaludin Rumi

Satu persatu pasien pun telah ia obati. Masih dengan ritual sama, persis dengan yang dilakukan gurunya dahulu. Menuliskan huruf hijaiyah nun diatas cawan, menghapusnya perlahan dengan air, kemudian meminumkannya kepada pasien. Beres, dijamin manjur, karena tak ada satu pun langkah yang berbeda dari yang dilakukan gurunya. Batin sang murid.

Keesokan harinya, sang murid kaget bukan main. Klinik tabibnya dipenuhi keluarga pasien. Bukan apa, mereka datang berbondong-bondong untuk meminta pertanggung jawaban kepada sang murid. Ya, bukan kesembuhan yang pasien peroleh, malah penyakit semakin parah yang mereka peroleh.

Dengan gugup, sang murid pun meminta maaf. Memohon agar mereka beranjak meninggalkan klinik, untuk sementara waktu menunggu. Agar ia menemukan penyebab obatnya yang malah memperparah penyakit pasien.

Malam harinya, sang murid tertidur. Benar, ia mendapat petunjuk. Dalam mimpinya, ia dapati Hatif, suara tanpa rupa berujar:

Ini adalah (huruf) nun, namun dimanakah Shohnun?

Ia pun terjaga dari tidurnya. Ia pun tersadar, ia merasa bersalah. Betapa ia dengan berani mengamalkan "ilmu ilegal", ilmu tak berizin, ilmu yang hanya ia dapat dari hasil pengamatannya yang hanya seorang murid.

Ia abai terhadap sanad keguruan, ia tak peduli akan mata rantai keilmuan. Ia tak menghiraukan, apakah gurunya ikhlas akan ilmu yang ia curi? Dan, apakah cukup, ilmu yang sebegitu luhur hanya ia pelajari secara cur-curi lewat pengamatan tak berizinnya?

Ia pun tergugu, ia baru sadar, ada satu sisi yang yang terpenting dalam ilmu yaitu keberkahan. Dan sayangnya, keberkahan tak dapat ia peroleh melainkan dengan sanad. Ya, mata rantai keilmuan dari guru yang terpercaya, teruji kealiman serta keikhlasannya.

Maka tak mengherankan jika pasiennya bertambah parah. Adalah sebab keberkahan tak turun kepadanya. Karena sesuai definisi Ahlul Hukama, ulama-ulama ahli ilmu hikmah:

Keberkahan ialah tambahnya kebaikan.

Akhirnya, sang murid pun menyesal, tak sakali-kali lagi ia mengamalkan ilmu ilegal-nya.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita agar memilih guru yang terpercaya. Lebih-lebih dalam urusan agama. Karena jika salah beramal, bisa-bisa malah salah kejadiannya. Jangan hanya berguru pada syaikh google dan ustadz youtube saja. Hati-hati, di dunia maya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan KH Muhammad Shofi Al-Mubarok di sela-sela pengajian kilatan Bulan Rajab.

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77362/akibat-mengamalkan-ilmu-tak-berizin

Jalaludin Rumi

Senin, 13 Februari 2017

Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang

Jombang, Jalaludin Rumi. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang setelah mengalami kelelahan. Adik Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid ini sempat disambangi menteri BUMN Rini Soemarno, Selasa (30/8).

"Tadinya hanya ingin periksa, karena kemarin tiba tiba lemas. Tapi oleh dokter diminta menginap, ya sudah, akhirnya sementara istirahat," tutur Gus Sholah saat disambangi Jalaludin Rumi di ruang VVIP Upaya Waluya RSUD Jombang.

Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang

Meski terlihat masih berbaring, Gus Sholah mengaku kondisinya kini sudah agak baik dari sebelumnya. Bahkan rencananya akan segera minta untuk pulang. "Doakan besuk sudah bisa pulang, sekarang sudah baikan," imbuhnya.

Jalaludin Rumi

Sudah beberapa kali, putra ragil dari KH Wahid Hasyim ini dirawat di rumah sakit, mengingat kondisi usia dan kesehatannya yang sudah melemah.

Saat menjalani perawatan, Gus Sholah sempat disambangi Menteri BUMN Rini M Sumarno.

Rini yang mengenakan baju putih datang bersama rombongannya setelah sempat mampir di pesantren Tebuireng. Dengan didampingi dokter Mahfudz, dan istri, Gus Sholah menerima sejawatnya itu. "Alhamdulillah kondisi saya sudah membaik. Hanya kecapekan saja," ujar Gus Solah sambil berbaring.

Jalaludin Rumi

Kepada Menteri Rini, Gus Sholah menceritakan, di ruang yang ditempatinya sekarang inilah sempat digunakan presiden Gus Dur saat dirawat sepekan sebelum meninggal. "Disini dulu Gus Dur pernah dirawat, sama yang nangani dokternya," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Rini mengaku dirinya sengaja menjenguk Gus Sholah di RSUD Jombang setelah akan mampir di Pesantren Tebuireng untuk ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur usai me-launching kartu petani di PG Tjoekir. "Tadinya kepingin mampir di pesantren, namun mendengar beliau dirawat, kita langsung ke sini (RSUD). Alhamdulillah kondisi beliau sudah sehat, kita doakan segera pulih dan bisa beraktifitas kembali memimpin pesantren," ujarnya.

Rini mengaku dekat dengan Gus Sholah sejak lama, di samping sebagai senior dan tokoh NU yang sering diajak bertukar pikiran berbagai persoalan. "Beliau senior, kita sering berdiskusi jika ada persoalan, dan saya dekat sejak lama dengan beliau," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70858/gus-sholah-kembali-dirawat-di-rsud-jombang-

Jalaludin Rumi

Kamis, 01 Desember 2016

PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru

Bojonegoro, Jalaludin Rumi. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendesak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RSUD Sosodoro Djatikoesoemo bertaraf internasional yang baru rampung dibangun di Jalan Veteran, Bojonegoro, segera difungsikan.

Pasalnya, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro di Jalan Doktor Wahidin yang sudah lama beroperasi kini memiliki kapasitas terbatas dan kewalahan menampung pasien.

PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru

Dorongan itu muncul dalam diskusi terbatas di sekretariat PC PMII Bojonegoro, Senin (11/1),

terkait status RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang berada di Jalan Veteran yang masih belum difungsikan. Selain mahasiswa, forum ini juga dihadiri perwakilan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan LSM Gempur.

Jalaludin Rumi

Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Syahid mengatakan, bangunan yang sudah dibangun sejak tahun 2006 itu sampai saat ini masih terbengkalai. Pihaknya berjanji berada di garda terdepan dalam menyampaikan aspirasinya agar RSUD tersebut difungsikan. Terlebih saat ini bangunan itu telah menghabiskan ratusan miliar rupiah.

Jalaludin Rumi

"Tidak ada alasan yang rasional bila pemfungsian RSUD di Jalan Veteran ditunda lagi, sebab masyarakat sudah membutuhkan itu. Sedangkan RSUD (di Jalan Doktor Wahidin) saat ini sering overload," tutur pria asal Kabupaten Tuban itu.

Kader PMII lain, Khoirudin juga sangat menyayangkan kinerja Pemkab yang lamban mengoptimalkan anggaran. "Padahal DPU sudah menyatakan kalau pembangunan gedung sudah selesai dan siap dipakai. Maka Pemkab harus segera memfungsikan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang ada di Jalan Veteran. Jangan hanya janji dan omong saja, tapi berilah kami bukti," harapnya.

Sementara itu, perwakilan DPU Kabupaten Bojonegoro, Frika Dedi Sufyan mengaku sependapat dengan PMII terkait segera pemfungsian RSUD di Jalan Veteran. Pihaknya menuturkan, pembangunan fisik RSUD di Jalan Veteran sudah selesai, meskipun kemarin terjadi putus kontrak dengan pihak kontraktor. "Tinggal penuntasan isi alkes (alat kesehatan) dan perlengkapanya," ujarnya.

Sedangkan Direktur LSM Gempur Sunaryo Abu Main meminta agar pembangunan RSUD tersebut bisa ditinjau dari aspek politik dan sosial. Sebab, bangunan ditelantarkan hampir 9 tahun yang berarti penyalahgunaan aset daerah.

"Terima kasih PMII masih peduli kondisi sosial ini. Kami selaku aktivis sosial selalu menyuarakan untuk mengusut dugaan korupsi pembangunan RSUD dan segera pemfungsiannya," ujar Mbah Naryo, sapaan akrabnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64930/pmii-bojonegoro-desak-pemkab-fungsikan-rsud-baru

Jalaludin Rumi

Senin, 31 Agustus 2015

Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag

Jakarta, Jalaludin Rumi. Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-71 Kementerian Agama RI Tahun 2017 menyisakan sejumlah impian bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satunya ASN bernama Ahmad Damai, pegawai yang mengabdi di Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal Kemenag.

Damai berharap mampu melahirkan atlet bulutangkis yang akan mengharumkan nama bangsa dan negara, khususnya keluarga besar Kemenag. Putri sulungnya, Aida Damayanti, kini tercatat sebagai siswi kelas XI SMA Plus Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang Selatan. Sebuah sekolah yang khusus mencetak atlet berbagai cabang olahraga.

Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)


Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag

Kepada Aida, saya selalu memberi semangat untuk terus berlatih. Hormat kepada pelatih/guru dan orang yang lebih tua. Jangan putus asa, jangan tinggalkan shalat. Saya tekankan juga untuk selalu berdoa semoga apa yang dicita-citakan dikabul Allah SWT, ujar Damai usai mengikuti upacara HAB ke-71 Kemenag di lapangan banteng, Selasa (3/1).

Setiap malam, lanjut Damai, selain sholat malam ia juga menambah amalan membaca yasin, tahlil dan ratib al-Haddad. Ini semua demi keberhasilan anak saya yang ingin menjadi atlet internasional, tandasnya.

Jalaludin Rumi

Dukungan yang diberikan Damai kepada anaknya telah ia lakukan sejak Aida masih belia. Suatu ketika, ia pernah menyuruh anaknya berlari mulai dari GOR Ragunan hingga rumahnya di bilangan Kalibata.

Jalaludin Rumi

Hampir sepuluh kilometer anak saya lari. Agar fisiknya tetap sehat, ungkap Wakil Ketua LKKNU DKI Jakarta ini.

Sebagai aktivis Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama di Ibukota, Damai ingin memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Sebab saya juga suka olahraga. Khususnya bulutangkis, ujarnya bangga.

Dikonfirmasi terpisah, Aida Damayanti mengatakan motivasinya masuk sekolah bulutangkis hendak membanggakan kedua orang tua dan menggapai impiannya sejak kecil, yakni menjadi juara dunia di cabang bulutangkis.

Sejumlah kejuaraan di berbagai kota baik di Jawa maupun luar Jawa telah ia ikuti. Mulai Sirkuit Nasional (Sirnas) Jakarta, Semarang, Magelang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, hingga Bali, Manado, Makassar dan Palembang.

Gadis kelahiran Jakarta 29 Januari 2001 yang memiliki hobi mendengarkan musik, berenang, dan baca novel ini pada April 2016 silam, menyabet juara 2 di ajang Walikota Cup 2016 yang digelar di GOR Bima, Kota Cirebon. Saat itu, Aida turun di nomor ganda putri dengan pasangannya Dinda Dwi Nurcahya sukses masuki babak final.

Saat ditanya bagaimana perasaannya menghabiskan masa remaja di gelanggang olah raga, sementara anak-anak seusianya bisa leluasa bermain usai sekolah, Aida mengaku tidak masalah.

Soal kehilangan masa remaja sudah pasti yaa. Karena menghabiskan waktu untuk terus berlatih. Tapi buat saya, nggak masalah demi kebaikan dan untuk menggapai cita-cita saya ke depan, pungkas Aida. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74350/impian-damai-di-hari-amal-bakti-ke-71-kemenag

Jalaludin Rumi

Jumat, 17 Oktober 2014

Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib

Jakarta, Jalaludin Rumi. Nahdliyin masih mengalami sejumlah krisis dalam hal pengelolaan masjid. Selain aspek kepengurusan, kualitas khatib dinilai belum banyak yang memenuhi standar yang diidealkan. Karenanya, berbagai langkah perlu diterapkan demi pemecahan masalah ini.

Kebanyakan masjid-masjid Nahdliyin terjadi krisis khatib yang berkualitas, ujar Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Tamir Masjid Nahdlaul Ulama (LTMNU) Ibnu Hazen, Jumat (20/7), di Jakarta.

Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib

Menurut Ibnu, memiliki sumberdaya khatib yang bermutu bagi masjid merupakan keniscayaan. Mutu tersebut meliputi keilmuan agama yang luas, keluhuran akhlak, sanggup memotivasi, membimbing, dan komunikatif.

Isi khotbahnya pun menyentuh dan menjawab problem umat sehingga menarik untuk didengar dan disimak. Jamaah tidak ngantuk dan tertidur ketika khatib sedang khotbah, tambahnya.

Jalaludin Rumi

Sebab itu, lanjutnya, PP LTMNU berharap masjid Nahdliyin dapat menyelenggarakan program pengaderan khatib. Program tersebut dibidani pengurus dewan kemakmuran masjid setempat dengan mengadakan pelatihan dakwah, seleksi dai potensial, atau lainnya.

Jalaludin Rumi

Dari khotbah para khatib diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawab jamaah terhadap pemakmuran masjid, pungkasnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38870/masjid-nahdliyin-perlu-tingkatkan-kualitas-khatib

Jalaludin Rumi

Rabu, 13 Agustus 2014

KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat

Jakarta, Jalaludin Rumi. KH Maulana Kamal Yusuf, lahir Paseban Timur, Jakarta Pusat, 25 April 1949. Ayahnya, KH Muhammad Yusuf bin Adlin, seorang qori yang sering tampil di RRI Jakarta dan Istana Merdeka pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ibunya Hj Siti Rohmah adalah putri H Thabbrani, seorang ulama terkenal pada masanya, atau yang dikenal dengan nama Muallimin Thabbrani Paseban.

KH Maulana Kamal Yusuf, menempuh pendidikan dasar di Perguruan Rakyat. Mulai tahun 1962, ia belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, tetapi tidak sampai selesai karena memilih kembali ke Jakarta tahun 1965. Waktu itu orangtuanya khawatir setelah peristiwa 1965.

KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat

Sekembalinya ke Jakarta dan menamatkan pendidikan SMA, ia menempuh pendidikan D3 Jurusan Usluhuddin di Universitas Ibnu Khaldun Jakarta yang saat ini tempatnya beralih menjadi Plaza Atrium, Senen.

Jalaludin Rumi

KH Maulana Kamal Yusuf adalah sosok ulama yang tidak pernah berhenti belajar. Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta periode 2011-2016 ini pernah menjadi santri dari Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Darry, seorang ulama Betawi ahli Falak, pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren An-Nida Al-Islam, Bekasi.

Setelah Muallim Thabbrani Paseban wafat, KH Maulana Kamal Yusuf meneruskan pengajian yang dirintis sejak tahun 1930 tersebut. Puluhan kitab peninggalan para ulama terdahulu dikaji di majelis yang berlokasi di Masjid Jami An-Nur, Paseban, Jakarta Pusat.

Jalaludin Rumi

Selain di Masjid Jami An-Nur Paseban, kiai yang pernah menjadi anggota GP Ansor pada tahun 1969 ini, juga mengisi pengajian di berbagai tempat. Saat ini, ada sekitar empat puluh tempat pengajian per pekan yang ia mengisi sebagai penceramahnya, termasuk di Masjid Universitas Indonesia, Salemba.

Terhadap golongan di luar NU yang terkesan bersikap keras, ia menyikapi bahwa bila memang hal yang disampaikan tersebut adalah kebenaran, memang seharusnya disampaikan dengan tegas. Apalagi di Jakarta ini, bila memerintahkan sesuatu harus konkret.

Kalau tidak menegaskan sesuatu dengan jelas, masyarakat akan kurang mengerti, terangnya.

Kiai yang sewaktu muda menggemari berbagai macam olahraga seperti sepak bola, bola voli, bulu tangkis, lempar lembing, bahkan atletik dan sekarang masih suka jalan kaki ini sempat menjadi Dewan Penasihat MUI DKI Jakarta, tetapi memilih mundur dari jabatannya pada 2015.

Kepada anak muda NU, ia mengharapkan agar tetap menjaga ajaran NU seperti yang dicetuskan oleh pendirinya yaitu KH Hasyim Asyari. Oleh karena itu dalam talim yang ia sampaikan terutama di hadapan generasi muda, ia mengupas ajaran Aswaja dengan cara yang mudah diterima dengan mendasarkan diri pada kitab-kitab karya ulama klasik. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66740/kh-maulana-kamal-yusuf-sosok-pembelajar-sepanjang-hayat

Jalaludin Rumi

Senin, 20 Januari 2014

Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Jakarta, Jalaludin Rumi. Kegiatan bertajuk Ziarah Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (28/9), melengkapi peringatan 1000 hari wafatnya KH Abdurahman Wahid, (Gus Dur).

Ziarah budaya menyajikan beragam penampilan. Ada doa lintas iman, orasi, kesaksian, hingga pentas seni mulai dari baca puisi, monolog, marawis, barongsai, dan musik kolaborasi.

Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Sebelumnya telah digelar bedah buku, tahlilan akbar, pentas wayang kulit, khotmil Quran, shalawatan, hingga taushiyah dari pada ulama. Tema umum peringatan 1000 hari Gus Dur adalah Menggerakkan Tradisi, Meneguhkan Indonesia

Jalaludin Rumi

Dalam kegiatan ziarah budaya di TIM Jumat malam itu Alissa Qatrunnada, putri tertua Gus Dur, mengungkapkan, ayahnya telah mencapai puncak-puncak pranata sosial tinggi. Dia pernah jadi Ketua DKJ, Ketua Umum PBNU, ketua dewan juri film, esais bernas, bahkan jadi presiden. Di samping itu, sebagai bawaan lahir, dia adalah cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Tapi dia tidak gila hormat, ungkap Alissa mewakili ibundanya, Ny. Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid.

Jalaludin Rumi

Dikatakan Alissa, memperingati seribu hari kewafatan, bukan untuk memuja-muja karena Gus Dur tak suka dipuja. Juga bukan orang yang suka membanggakan apa yang sudah diraih.

Tapi untuk mendoakan, untuk belajar dari kehidupan beliau. Dan yang utama, mengambil inspirasi dari kehidupannya supaya bisa meneladani, melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, jelas puteri sulung Gus Dur tersebut.

Seribu hari yang lalu, sambung Alissa, jutaan orang mengantarkan jasad Gus Dur ke peristirahatan terakhir di Jombang, Tapi kata orang bijak, yang pulang bersama para peziarah, dan tidak ikut terkubur bersama jasad, adalah karakter dan potret perjalanan penuh inspirasi.

Gus Dur hanya pulang, tidak pergi! tegasnya.Ia masih tetap hidup bersama kita. Ketika melihat ketimpangan polah pemimpin, Gus Dur hadir. Melihat kekerasan dan penindasan, orang-orang mengingatnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40015/quotziarah-budayaquot-lengkapi-peringatan-1000-hari-gus-dur

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock