Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Santri. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Juli 2016

Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam

Kudus, Jalaludin Rumi. Hampir semua stasiun televisi dinilai terlalu banyak menayangkan acara yang kurang mendidik dan tidak ramah anak. Sebagian besar tayangan televisi cenderung memberikan hiburan semata yang bisa memengaruhi perilaku keluarga terutama anak-anak.

Penilaian ini disampaikan Ana Shofawati yang pernah diamanahi sebagai Ketua IPPNU Kabupaten Kudus kepada Jalaludin Rumi, Kamis (28/7).

Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam (Sumber Gambar : Nu Online)


Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam

Ia prihatin atas tayangan televisi yang lebih menonjolkan hiburan tanpa ada unsur pendidikannya.

Ana Shofawati mengatakan bahwa dirinya resah terhadap tayangan hiburan televisi berupa sinetron dan film yang terdapat unsur percintaan, kekerasan dengan diwarnai kata-kata kurang sopan (umpatan). Hiburan semacam itu tidak baik bagi perkembangan anak.

Jalaludin Rumi

"Bayangkan, anak usia 4 tahun sudah kenal pacaran karena tayangan sinetron ada adegan percintaan. Anak tahu bagaimana caranya berkelahi, membentak dan berkata kasar juga berasal dari TV," ujarnya.

Jalaludin Rumi

Ana yang juga menjadi ibu rumah tangga ini menilai gaya hidup tayangan (sinetron) TV sangat jauh dari budaya timur. Ia mencontohkan anak sekolah maupun remaja berhura-hura nongkrong berpakaian mini dan memakai motor mewah.

"Bahkan kartun yang katanya untuk konsumsi anak-anak juga banyak mempertontonkan cerita kekerasan. Ini jelas bisa merusak moral anak-anak atau remaja," tegasnya.

Melihat kondisi demikian, ia mengajak para orang tua supaya selalu selektif dan mendampingi anak-anak menonton televisi. Bila memungkinkan, orang tua menyiapkan video-video islami yang berisi kisah-kisah Nabi dan sejenisnya guna mengalihkan perhatian anak dari hiburan televisi.

"Meskipun sangat susah, coba kita batasi anak menonton tv. Kalau sudah terlanjur menonton, arahkan pada tontonan yang mendidik," ujarnya.

Kepada pemerintah dan Komisi Penyiaran dan Informasi (KPI), Ana mengharapkan mereka menegur atau menindak stasiun televisi yang menayangkan acara-acara yang mengumbar kekerasan, percintaan, dan tidak ramah anak.

"KPI sebagai lembaga yang berwenang, jangan menunggu aduan atau laporan dari masyarakat, baru melakukan peringatan penindakan," harapnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70043/tayangan-televisi-cenderung-tidak-mendidik-pemerintah-jangan-diam

Jalaludin Rumi

Jumat, 16 Oktober 2015

Muslimat NU Jember Berikan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia

Jember, Jalaludin Rumi. Dalam rangka memperingati harlah Muslimat ke-71 NU sekaligus peringatan Isra Miraj, PC Muslimat NU Jember, Jawa Timur memberikan santunan berupa sembako kepada 70 anak yatim dan 30 wanita lanjut usia (lansia).

Pemberian santunan tersebut dilakukan di sela-sela acara peringatan Isra Miraj di halaman rumah Ketua Ranting Muslimat NU, Desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Jember, Nyai Nur Fadhilah Ahmad, Kamis (27/4).

Muslimat NU Jember Berikan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)
Muslimat NU Jember Berikan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia (Sumber Gambar : Nu Online)


Muslimat NU Jember Berikan Santunan kepada Anak Yatim dan Lansia

Dalam sambutannya, Ketua PC Muslimat NU Jember, Nyai Hj Emi Kusminarni menegaskan bahwa sembako tersebut dikumpulkan dari para donatur, baik di internal pengurus Muslimat NU, warga bahkan juga dari seorang wanita muallaf.

Ia juga mengajak para kader NU, khususnya pengurus Muslimat NU di semua tingkatan untuk selalu memberi contoh, baik dalam soal ibadah, akhlak maupun kepedulian sosial. "Kalau namanya Muslimat NU, harus lebih dari yang lain, agar bisa dijadikan contoh," katanya.

Jalaludin Rumi

Ia menambahkan, pengurus Muslimat NU akan selalu menjadi sorotan masyarakat, sehingga perlu hati-hati dalam bertutur kata dan bertingkah laku. Dikatakannya, sejak lama warga NU dikenal dengan tingkah lakunya yang sopan, elegan dan suka kerukunan dengan siapapun dan penganut agama apapun.

Jalaludin Rumi

"Jadi ciri-ciri toleransi dan moderat warga NU itu sejak awal memang dicontohkan oleh para ulama kita," ucapnya.

Sementara itu, pengasuh Pondok Pesantren Ashri Jember, KH Ayub Saiful Rijal dalam ceramahnya mengapresiasi kepedulian Muslimat NU Jember terhadap anak yatim dan kaum lansia.

Menurutnya, apa yang dilakukan Muslimat NU tersebut patut dihargai dan ditiru oleh lembaga lain. Saat ini, katanya, di tengah kehidupan yang serba pragmatis, begitu banyak orang yang membutuhkan perhatian dan kepedulian sesama.

Namun sayangnya, pada saat yang sama, kepedulian sosial seakan kian memudar, bahkan cenderung hilang dari tengah-tengah kehidupan masyarakat modern. Sebab, sebagian orang sudah berpikir nafsi-nafsi. Sementara di sisi lain, orang-orang yang papa kian nestapa.

"Karena itu, saya berharap agar Muslimat NU menjadi pelopor aksi sosial untuk peduli kepada sesama," ujarnya. (Aryudi A. Razaq/Fathoni)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77466/muslimat-nu-jember-berikan-santunan-kepada-anak-yatim-dan-lansia

Jalaludin Rumi

Jumat, 20 Februari 2015

Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru

Jalaludin Rumi - Isu tentang logo PKI (Palu-Arit) yang dihembuskan kencang sejak awal dikabarkan akan ada uang baru, menurut sumber Jalaludin Rumi, penuh dengan misteri politik tingkat tinggi yang sulit terdeteksi karena super rumit dan rahasia.

Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru - Jalaludin Rumi
Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru - Jalaludin Rumi


Antara Dimas Kanjeng, Habib Rizieq dan Isu Logo PKI di Cetakan Uang Kertas Baru

Kata sumber Jalaludin Rumi yang tidak berkenan disebutkan nama dan identitasnya tersebut, jika asumsi logo PKI digunakan untuk menggoyang beredarnya cetakan uang kertas baru Rp. 100.000,-, maka itu adalah "isu ora mutu" yang sangat mengada-ada.

Menurutnya, pemerintah sengaja mencetak uang kertas baru untuk "menarik kembali" cetakan uang lama yang beredar di masyarakat dengan target ingin mengetahui siapa saja para elite ber-uang di negeri ini yang punya kuburan rupiah tunai menggunung.

Jika sudah ada uang baru, pilihan bagi mereka hanya ada dua: laporkan atau investasikan. Itu saja. Jika terlalu lama menyimpan, sementara uang cash yang sudah dipegang itu dinyatakan pemerintah tidak akan berlaku lagi untuk transaksi sah, maka, ia akan terancam bangkrut dan sia-sia saja apa yang selama ini ingin disusun untuk mengatur negara.

Mungkin, alasan inilah yang bisa jadi, melahirkan ide tentang pengampunan pajak (tax amnesty), yakni memancing raja-raja duit keluar dari bungker simpanan kekayaan, -sebelum akhirnya ada keputusan cetak uang baru,-.

Padepokan Dimas Kanjeng, sebagaimana laporan Jalaludin Rumi berjudul "Adakah Keterkaitan Dimas Kanjeng dengan Krisis Moneter dan Tragedi Ninja" pada 8 Oktober 2016 itu, konon adalah tempat aman menyimpan uang kertas tunai sejak reformasi (dengan kedok penggandaan berbasis agama), yang sangat berjasa terhadap "pencucian uang" atau "penimbunan uang kertas gelap" dari beberapa elit berduit.

Uang baru yang sudah dipublish desainnya itu, oleh kalangan anti PKI, lalu dipermasalahkan mulai dari pemilihan tokoh pahlawan yang katanya tidak pas , tokoh muslimah yang dicopot jilbabnya , hingga logonya yang dianggap berbau cina-komunis.

Uang cetak baru sengaja ditunda beredar luas karena menunggu kuburan uang tunai yang selama disimpan (mungkin salah satunya di bungker Dimas Kanjeng) bisa dimunculkan sendiri oleh debitur atau pemilik asal-usul. Sepertinya, BI hingga saat ini masih setia menunggu uang lawasnya masuk ke brangkas dulu, sebelum yang terbaru didistribusikan.

Kini, antara pemerintah dan pemilik uang, kata sumber Jalaludin Rumi, sedang beradu kuat menahan dan "bertarung" di tingkat wacana. "Banyak yang tidak rela uangnya terdeteksi," kata sumber yang memang dirahasikan Jalaludin Rumi tersebut.

Pertarungan itu, jika analisis ini benar, konon menggunakan tokoh ormas yang memiliki pendukung loyal atas munculnya isu PKI di Indonesia. Ideologi disalahkan (dijadikan alasan politik menarik kembali uang baru) karena logonya itu ada di desain uang cetak terbaru.

Sangat disayangkan jika yang digunakan mereka untuk menekan (menarik) peredaran uang kertas baru berlogo palu arit (asumsi) itu adalah Habib Rizieq Shihab dan FPI serta alumni 212-nya. Innalillah. .

Karena apapun itu, uang kertas tunai, dalam sejarah pemberontakan dan penggulingan bersenjata, selalu digunakan sebagai pelumas gerakan. Uang tunai juga bisa digunakan untuk kepentingan mobilisasi politik langsung seperti di Indonesia. Bukankah ini musim Pilkada serentak akhi?

Semoga saja analisis sumber Jalaludin Rumi di atas tidak benar sehingga tidak akan terjadi adanya pemilik simpanan uang tunai yang sengaja membuang uang kertasnya ke sungai, laut, dan lobang-lobang sempit bawah tanah seperti pernah terjadi di India, hanya karena cash simpanannya itu sudah tidak bernilai tukar lagi dimana-mana.

Kalau demikian, cucu-cucu kita, pada puluhan tahun mendatang, akan mudah menemukan harta karun tidak bermanfaat ketika menggali tanah bumi pertiwi ini. Harusnya, warisan penting untuk generasi mendatang adalah persatuan, bukan perseteruan. Wallahu a'lam. [Jalaludin Rumi/ redaksi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/antara-dimas-kanjeng-habib-rizieq-dan-isu-logo-pki-di-cetakan-uang-kertas-baru.html

Kamis, 22 Agustus 2013

Ini Surat Ancaman Abu Bakar ISIS

Pasca bom Sarinah, sebuah telegram langsung dari pemimpin tertinggi ISIS Abu Bakar Al-Baghdadi, secara rahasia berhasil dibongkar. Telegram itu ditujukan kepada Abu Wardah yang dikenal dengan nama Santoso, cabang ISIS di Poso.

Kami berhasil menterjemahkan surat tersebut dari bahasa Arab ke bahasa Indonesia. Gerakan teror yang dilancarkan di Jakarta sebagai pemanasan untuk mengembangkan khilafah Daulah Islamiyah ternyata gagal di awal.

Saya meminta pada kelompok di Indonesia untuk menata ulang pola serangan dengan baik, supaya kesuksesan Daulah Islamiyah di Indonesia berhasil setahap demi setahap.

Saya tidak tahu apa penyebab kegagalan itu. Tetapi dari media sosial yang saya dapatkan ternyata orang Indonesia tidak takut dengan ISIS. Malah mereka mengejek kita dengan memanggil Sis. Memangnya kita dagang online apa? "Sis, cek harga di inbox... PM, ya say...."

Saya tahu itu, karena dulu saya jualan online. Malah re-seller saya sudah 12 orang. Ah, maaf saya ngelantur. Terkadang memori lama memang mengasyikkan.

Kembali pada pokok permasalahan. Data yang masuk kepada kami kurang akurat. Indonesia ternyata bukan Perancis. Kami melihat orang Indonesia tidak ada takutnya. Malah ketika tembak-tembakan, masih ada yang jual sate segala. Ini teror apa pasar kaget? Coba di teliti ulang.

Data yang masuk kepada kami di pusat, orang Indonesia hanya takut pada satu hal, yaitu emak-emak naik motor matic karena sein-nya ke kanan, dia-nya kekiri. Ini bisa menjadi masukan bagus. Strategi berikutnya kita akan menyamar jadi emak-emak naik motor matic. Coba telusuri bagaimana caranya dan infokan ke kami.

Kegagalan kemarin sangat mengecewakan. Kenapa kalian tidak mampu membunuh banyak orang? Saya sempat mau kirimkan Boko Haram menggantikan posisi kalian. Hanya ada staf saya yang mengingatkan, di Indonesia harus dapat sertifikat dari MUI dulu baru halal. Ini maksudnya apaan? Masak namanya berubah jadi Boko Halal?

Kami memang salah mengira bahwa Indonesia mudah ditaklukkan. Ketika sedang santai, saya membaca lagi komik Asterix. Ternyata Indonesia itu mirip desa Galia. Sejarahnya memang bangsa Indonesia keturunan dari kerajaan Majapahit atau dulu dikenal dengan nama Majapahitix.

Di sana pasti ada ramuan ajaib. Mereka meminum ramuan yang dulu dibuat dukun Panoramix. Coba teliti lagi, saya dengar disana ada beberapa orang yang perlu diwaspadai. Data yang saya dapat, namanya Fadli Zonix, Fahri Hamzahix dan Nikita Mirzanix. Yang terakhir itu wanita. Dia sekali operasi mahal bayarannya, sekitar 60 juta. Dekati dia dan tawar, bisa tidak diskon 20%, ini sudah dekat mau lebaran.

Saya juga mendapat surat cinta dari yang bernama Denny Siregar. Dia sebut-sebut dalam suratnya Sumber Kencono, Kopaja dan Metromini. Kedengarannya menakutkan sekali. Mereka terbiasa diteror dengan itu sampai sudah tidak takut lagi. Saya tidak bisa menemukan padanan kata yang tepat dalam bahasa arab "Rapat belakang.. Tareeek..." Tolong saya dibantu menterjemahkan. Siapa tahu itu senjata rahasia.

Yang berikut saya akan pakai bahasa sandi supaya telegram ini tidak bocor:

[Santoso.. So... Aku Suroto, so.. Nang arab ae jenengku Abu Bakar Al Baghdadi. Aku iki wong Jowo, podo karo awakmu so.. Yak opo kabare Birin? Sek ngangon kambing? Gabung ae karo awakmu, So.. Lumayan, de'e oleh penghasilan. Sakno, so... Emak'e wis mati..]

Semoga bahasa sandi itu tidak bisa diterjemahkan semisal telegram ini bocor.

Saya lanjutkan kembali, Susun kembali pola serangan dengan baik. Kemarin itu polanya 4-3-3. Coba 3-6-1 atau 3-5-2. Kurangi bek-nya, perkuat pertahanan di tengah. Gelandang kiri jangan selalu kosong. Tolong kode ini dipahami dengan baik.

Saya rasa cukup telegram ini dan kalau sudah selesai dibaca, telegram ini akan hancur sendiri. Iya, saya niru film Mission Impossible. Kalau gak hancur, bisa dibakar pake korek api. Tetap semangat berjuang saudaraku. Semoga cepat terlaksana janji Tuhan untuk memberikan kita 72 bidadari. Tegakkan khilafah! Tegakkan khilafah!

Big Hug and Love,

Abu Bakar Al Baghdadi NB: So, awakmu isok ngguyu karo split? Aku kok ora isok ya, so? Bokongku suwek. [ed]

#KamiTidakTakutTeroris #KamiLawanTeroris

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/01/ini-surat-ancaman-abu-bakar-isis.html

Kamis, 16 Agustus 2012

Terbongkar, Wali Ini Lari dari Hadapan Gus Dur

Jalaludin Rumi - Wali memang kekasih Allah, tetapi diantara wali sendiri terdapat tingkatan-tingkatan. Semakin tinggi tingkatan seorang wali, mereka yang posisinya lebih rendah akan lebih menghormatinya.

Kali ini, cerita salah satu karomah Gus Dur diungkapkan oleh Kiai Said Aqil Siroj saat menjalankan umrah Ramadhan, ketika Gus Dur masih menjadi ketua umum PBNU.

Terbongkar, Wali Ini Lari dari Hadapan Gus Dur - Jalaludin Rumi
Terbongkar, Wali Ini Lari dari Hadapan Gus Dur - Jalaludin Rumi


Terbongkar, Wali Ini Lari dari Hadapan Gus Dur

Kang Said menuturkan setelah sholat tarawih berjamaah, ia diajak oleh Gus Dur untuk mencari orang yang khowas (khusus), yang ibadahnya semata-mata untuk mendekatkan diri kepada Allah dan malu mengharapkan pahala, meskipun itu tidak dilarang. Mereka sudah berprinsip, manusia datangnya dari Allah, maka dalam beribadah, tak sepantasnya mengharapkan imbalan.

Berdua bersama Gus Dur, mereka mengunjungi satu per satu kelompok orang yang memberi pengajian, ada yang jenggotnya panjang, ada yang kitabnya setumpuk dan mampu menjawab segala macam pertanyaan, ada yang jamaahnya banyak, tetapi semuanya dilewati.

Lalu sampailah mereka di hadapan seorang Mesir yang sederhana, surbannya tidak besar, duduk di sebuah sudut. Kang Said selanjutnya diminta oleh Gus Dur untuk memperkenalkan dirinya sebagai ketua umum Nahdlatul Ulama dari Indonesia.

Jalaludin Rumi

Tak seperti biasanya, orang Mesir terkenal dengan keramahannya, biasanya langsung ahlan wa sahlan ketika menerima tamu, tetapi yang satu ini bersikap agak ketus ketika ditanya.

Jalaludin Rumi

Kang Said menyampaikan niat dari Gus Dur untuk meminta sekedar doa selamat dari orang tersebut. Setelah berdoa ia langsung lari, dan menarik sajadahnya sambil berkata “Dosa apa aku ya robbi sampai engkau buka rahasiaku dengan orang ini”.

Kang Said berkesimpulan bahwa orang tersebut merupakan wali yang sedang bersembunyi, jangan sampai orang lain tahu bahwa ia adalah wali, tetapi ternyata kewaliannya diketahui oleh Gus Dur, yang derajat kewaliannya lebih tinggi, dan ia merasa rahasianya terungkap karena ia memiliki dosa. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/08/terbongkar-wali-ini-lari-dari-hadapan-gus-dur.html

Kamis, 24 Mei 2012

Kembali Nyantri, Kiai Said Ngaji Hikam di Lirboyo

KH Said Aqil Siraj ikut Ngaji Hikam di Lirboyo Jalaludin Rumi - Banyak faktor yang membuat seseorang menjadi sombong karena kepintaran dan kecerdasannya. Orang pesantren menyebutnya sebagai 'alim'. Di antaranya adalah kekagetan dia menjadi alim karena keturunannya bukan dari orang orang alim.

"Dia tidak mampu menjaga hatinya saat jadi orang alim, yang dialaminya malah kaget, bangga, karena ayah, ibu, kakek neneknya, saudara saudaranya adalah orang biasa biasa saja," kata KH Said Aqil Siroj dalam pengajian Tasawuf di Ciganjur.

Kembali Nyantri, Kiai Said Ngaji Hikam di Lirboyo - Jalaludin Rumi
Kembali Nyantri, Kiai Said Ngaji Hikam di Lirboyo - Jalaludin Rumi


Kembali Nyantri, Kiai Said Ngaji Hikam di Lirboyo

Hari ini, Kamis (26/01/2017), Kiai Said Aqil kembali berkunjung ke almamaternya, yaitu Pondok Pesantren Lirboyo Kediri. "Beliau ikut Ngaji "Hikam" Kamis Legi di Masjid Agung Lirboyo," kata Nabil Harun, Sekjend Pagar Nusa yang mendampingi.

Kiai Said Aqil memang lekat dengan Lirboyo semenjak pamannya, KH Mahrus Ali, menjadi pengasuh di Ponpes tua tersebut. .

"Saya dulu di Lirboyo ngaji bersama banyak sekali putera kiai, termasuk almarhum Mas Abdul Djalil bin Abdul Djalil, saudara kandung KH Nawawi Abdul Djalil yang saat ini pengasuh Ponpes Sidogiri Pasuruan," katanya. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/kembali-nyantri-kiai-said-ngaji-hikam-di-lirboyo.html

Rabu, 31 Agustus 2011

Inilah Cara Komunikasi Antar Para Waliyullah

Jalaludin Rumi - Suatu hari, seorang kiai sowan ke almaghfurlah Habib Ahmad Assegaf. Saat itu kira-kira 20 menit menjelang Maghrib. Ketika terdengar adzan, beliau pamit dan Habib Ahmad mengatakan hingga 3 kali, "Insya Allah 3 hari lagi kamu ke sini," demikian dawuh Habib.

Pas 3 hari kemudian, kiai tersebut kedatangan tamu almaghfurlah Mbah Kiai Munawar Kudus. Beliau bercerita tentang Habib Ahmad Assegaf, kemudian Mbah Munawar mengajak ke rumah Habib Ahmad.

Ketika sudah dekat dengan rumah Habib Ahmad, Mbah Munawar berkata, "mengko yen tekan ngarep lawang kok ora dibuka, tak tendang lawange/ nanti kalau sudah sampai depan rumah kok tidak dibukakan, saya tendang pintunya".

Benar sekali, tepat di depan pintu, tiba-tiba pintu dibuka oleh Habib Ahmad Assegaf sendiri sambil mengucap, "Assalamu'alaikum!".

Setelah masuk dan berbincang laiknya tamu, Mbah Munawar hendak meminta peci Habib Ahmad Aegaff, namun tidak diperbolehkan oleh habib. Karena rebutan, beliau berdua mirip seperti anak kecil, yang satu ingin merebut peci, dan yang satunya mempertahankan.

Akhirnya Habib Ahmad berkata, "mintalah kepada Ibrahim Baraqba", lalu Mbah Munawar keluar dari rumah dan tangan beliau menunjuk ke langit. Setelah itu beliau berdua berpamitan Habib Ahmad.

Beberapa hari kemudian sang kiai sedang ngopi di warung depan masjid Kauman. Setelah lepas tengah malam, kiai melihat seseorang masuk masjid lewat pintu samping, yang sangat dikenal oleh kiai dengan nama Wan Ibrahim Baraqba.

Penasaran, kiai beranjak ke masjid ingin mengetahui apa yang sedang di kerjakan dan apa yang akan terjadi. Ternyata setelah sholat sunnah, Wan Ibrahim Baraqba membaca sedang Al-Qur'an di dekat mimbar dan menangis di sana. Begitulah orang-orang besar. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/12/inilah-cara-komunikasi-antar-para-waliyullah.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock