Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sohih. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 11 Februari 2017

PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengucapkan selamat kepada Muslimat NU yang bakal menghelat Kongres XVII di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta Timur, 23-27 November 2016.

Sebagai forum tertinggi di Muslimat NU, kongres tersebut diharapkan menghasilkan keputusan-keputusan yang bermanfaat baik bagi Muslimat NU sendiri maupun bangsa dan negara. PBNU secara khusus juga mengingatkan agar terjadi regenerasi dalam kepemimpinan Muslimat NU yang selama tiga periode dipimpin Khofifah Indar Parawansa.

PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU: Harus Ada Regenerasi Ketum Muslimat

"Saya menyampaikan bahwa sesuai hasil rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah pada 27 Oktober, PBNU mengingatkan Muslimat NU agar kembali kepada Anggaran Dasar Nahdlatul Ulama Pasal 16 Ayat 3 yang menyatakan bahwa masa khidmah ketua umum pengurus badan otonom adalah dua periode, kecuali ketua umum pengurus badan otonom yang berbasis usia adalah satu periode," ujar Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf.

Gus Yahya, panggilan akrabnya, mengatakan, rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah meminta Muslimat NU untuk menegakkan aturan yang berlaku demi kemajuan dan kelangsungan kaderisasi di tubuh badan otonom NU yang beranggotakan kaum ibu ini.

Jalaludin Rumi

"Tanpa mengurangi rasa hormat, (rapat gabungan syuriyah-tanfidziyah) meminta Ibu Khofifah Indar Parawansa, saatnya pada kongres kali ini menyerahkan estafet kepemimpinan kepada kader lain," tambahnya.

PBNU, katanya, sudah menoleransi kepemimpinan Khofifah di Muslimat NU selama tiga periode. Namun, kali ini tidak, sebagai langkah mengantisipasi kemacetan yang lebih lama dalam proses kaderisasi.

Jalaludin Rumi

Imbauan agar ketua umum tak melebihi batas dua kali masa khidmah tersebut juga berlaku untuk sejumlah badan otonom NU lain, khususnya yang tidak bebasis usia, seperti Persatuan Guru NU (Pergunu), Pencak Silat NU Pagar Nusa, Ikatan Sarjana NU (ISNU), Serikat Buruh Muslimin Indonesia (Sarbumusi), dan lainnya. (Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/72844/pbnu-harus-ada-regenerasi-ketum-muslimat

Sabtu, 02 Juli 2016

Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam

Kudus, Jalaludin Rumi. Hampir semua stasiun televisi dinilai terlalu banyak menayangkan acara yang kurang mendidik dan tidak ramah anak. Sebagian besar tayangan televisi cenderung memberikan hiburan semata yang bisa memengaruhi perilaku keluarga terutama anak-anak.

Penilaian ini disampaikan Ana Shofawati yang pernah diamanahi sebagai Ketua IPPNU Kabupaten Kudus kepada Jalaludin Rumi, Kamis (28/7).

Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam (Sumber Gambar : Nu Online)
Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam (Sumber Gambar : Nu Online)


Tayangan Televisi Cenderung Tidak Mendidik, Pemerintah Jangan Diam

Ia prihatin atas tayangan televisi yang lebih menonjolkan hiburan tanpa ada unsur pendidikannya.

Ana Shofawati mengatakan bahwa dirinya resah terhadap tayangan hiburan televisi berupa sinetron dan film yang terdapat unsur percintaan, kekerasan dengan diwarnai kata-kata kurang sopan (umpatan). Hiburan semacam itu tidak baik bagi perkembangan anak.

Jalaludin Rumi

"Bayangkan, anak usia 4 tahun sudah kenal pacaran karena tayangan sinetron ada adegan percintaan. Anak tahu bagaimana caranya berkelahi, membentak dan berkata kasar juga berasal dari TV," ujarnya.

Jalaludin Rumi

Ana yang juga menjadi ibu rumah tangga ini menilai gaya hidup tayangan (sinetron) TV sangat jauh dari budaya timur. Ia mencontohkan anak sekolah maupun remaja berhura-hura nongkrong berpakaian mini dan memakai motor mewah.

"Bahkan kartun yang katanya untuk konsumsi anak-anak juga banyak mempertontonkan cerita kekerasan. Ini jelas bisa merusak moral anak-anak atau remaja," tegasnya.

Melihat kondisi demikian, ia mengajak para orang tua supaya selalu selektif dan mendampingi anak-anak menonton televisi. Bila memungkinkan, orang tua menyiapkan video-video islami yang berisi kisah-kisah Nabi dan sejenisnya guna mengalihkan perhatian anak dari hiburan televisi.

"Meskipun sangat susah, coba kita batasi anak menonton tv. Kalau sudah terlanjur menonton, arahkan pada tontonan yang mendidik," ujarnya.

Kepada pemerintah dan Komisi Penyiaran dan Informasi (KPI), Ana mengharapkan mereka menegur atau menindak stasiun televisi yang menayangkan acara-acara yang mengumbar kekerasan, percintaan, dan tidak ramah anak.

"KPI sebagai lembaga yang berwenang, jangan menunggu aduan atau laporan dari masyarakat, baru melakukan peringatan penindakan," harapnya. (Qomarul Adib/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70043/tayangan-televisi-cenderung-tidak-mendidik-pemerintah-jangan-diam

Jalaludin Rumi

Kamis, 26 Maret 2015

Menolak Kalimat Tauhid di Bendera RI Kok Langsung Kafir Musuh Islam

Jalaludin Rumi - Bukan kalimat atau ayat-ayat yang menambah imanmu, melainkan semata hanya Allah Swt. Bila kira nya kita menolak kalimat tauhid di bendera Indonesia lantas iman kita berkurang, kita tak bertuhan? Lantas kita tidak bertauhid, kita ini musuh islam? Lantas kita tidak menghormati memuliakan kalimat tauhid dan merendahkan kalimat itu?

Justru kita menolak itu karena memuliakan kalimat tauhid itu sendiri supaya tidak di bawa-bawa dalam kampanye khilafah kalian (makar), seperti ISIS punya kepentingan yang akan mendatangkan fitnah bagi kalimat itu sendiri dan seluruh umat islam.

Banyak sekali kita temui berbagai macam kalimat tauhid di topi, baju, bendera, jaket, kopiah dan stiker, sebelumnya apa kalian sudah berpikir terlebih dahulu nantinya kalimat itu digunakan sembarangan orang sehingga kalimat itu akan menjadi fitnah. Dan kalian juga tidak berpikr suatu saat nanti siapa tahu tanpa disengaja nemanin kalian jongkok b** bisa saja.

Salah jika cara menghormati dan memuliakan kalimat tauhid itu bukan dengan cara ditulis di bendera lalu di bawa kemana-mana. Cara terbaik menghormatinya adalah mengamalkan iman yang sempurna, yakni mengikrarkan dengan lisan, membenarkan dengan hati dan mengerjakan dengan anggota badan, juga dengan konsep 20 sifat yang wajib (mesti ada) bagi Allah Swt, 20 sifat yang mustahil (tidak mungkin ada bagi Allah swt), dan 1 sifat jaiz bagi Allah, serta yang wajib bagi Rasul 4 dan yang mustahil bagi Rasul 4 serta 1 yang jaiz bagi Rasul.

Ahlussunnah wal jamaah kita tidak mengenal konsep tri tauhid yang disyiarkan ustadz wahhabi atau HTI. Ahlussunnah wal jamaah menolak konsep yang dibawakan pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab itu, karena kita meyakini dan beriman, Allah itu ada tanpa tempat. Dan masih banyak qaedah lain lagi untuk kami mengenal, selain konsep yang kalian bawa. Semua itu wajib kita ketahui .

Dan jelas sekali apa yang kalian lakukan ini bukanlah memuliakan dan mengrhormati kalimat tauhid, melain kampanye khilafah yang sarat kepentingan, bukan syiar islam. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/menolak-kalimat-tauhid-di-bendera-ri-kok-langsung-kafir-dan-musuh-islam.html

Sabtu, 26 Desember 2009

Lakpesdam NU Tampung Gugatan Empat Pilar

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pengurus Pusat Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Nahdlatul Ulama (Lakpesdam NU) menampung gugatan pemikiran dan aplikasi terhadap proyek Empat Pilar yang belakangan disosialisasikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR RI).

Gugatan berasal dari sejumlah kalangan. Mereka antara lain kelompok akademisi, peneliti, dan elemen masyarakat.

Lakpesdam NU Tampung Gugatan Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)
Lakpesdam NU Tampung Gugatan Empat Pilar (Sumber Gambar : Nu Online)


Lakpesdam NU Tampung Gugatan Empat Pilar

Staf Peneliti Pusat Studi Pancasila UGM Kailani menilai penyejajaran Pancasila dalam empat pilar merupakan sebuah kekeliruan. Karena, masing-masing unsur yang dianggap sebagai empat pilar memiliki entitas yang sama sekali berbeda.

Bagaimana bisa Pancasila sebagai filosofische groundslag dasar filsafat hanya menjadi sekadar pilar? kata Kailani.

Jalaludin Rumi

Sementara Staf Peneliti Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro menggugat proyek empat pilar tidak berbanding lurus dengan perilaku pejabat publik yang kerap menyalahgunakan wewenang.

Pancasila hanya menjadi filsafat karena ia bersifat apliaktif. Karenanya, bagaimanapun pejaba publik harus memberikan contoh teladan yang bersifat Pancasilais, kata Siti Zuhro.

Jalaludin Rumi

Sedangkan Wakil Ketua MPR RI Lukman Hakim Saifuddin merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Pilar dalam KBBI mengandung sejumlah makna. Selain bermakna tiang penguat, pilar juga mengandung makna pokok, dasar, atau induk.

Forum publik yang diadakan Lakpesdam NU berlangsung di Kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) lantai delapan, jalan Kramat Raya nomor 164, Jakarta Pusat, Jumat (2/8) sore.

Penulis: Alhafiz Kurniawan

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/46306/lakpesdam-nu-tampung-gugatan-empat-pilar

Jalaludin Rumi

Sabtu, 31 Mei 2008

Waketum PBNU: NU Terus Bergerak Maju

Jepara, Jalaludin Rumi. Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali saat menghadiri Pelatihan Kader Penggerak NU (PKPNU) Cabang Jepara Angkatan I di Jepara, Jawa Tengah, Jumat-Ahad (4-6/10), menyatakan NU yataharrak ilal amam (akan terus maju ke depan).

Agar terus maju Asad berpesan kepada peserta kader NU untuk berjuang lewat gazwatul fikr (perang pemikiran). Jamal Al-Banna, sebutnya, pernah mengatakan jihad saat ini bukan mati di medan perang melainkan berani hidup di jalan Allah SWT. Karenanya, kader NU harus terus menggerakkan pikirannya untuk eksistensi NU.

Waketum PBNU: NU Terus Bergerak Maju (Sumber Gambar : Nu Online)
Waketum PBNU: NU Terus Bergerak Maju (Sumber Gambar : Nu Online)


Waketum PBNU: NU Terus Bergerak Maju

Pesan kedua, lanjutnya, kader tetap istiqamah. Orang yang istiqamah dalam berjuang lebih mulia daripada 1000 karamah, jelasnya, seraya mengutip salah satu hadits. Definisi istiqamah lain, tambahnya, ialah profesional dalam waktu, asas, logika dan spiritualitas.

Jalaludin Rumi

Pesan terakhir, kader harus berjuang tanpa lelah. Dalam berjuang, imbaunya, harus patuh dan taat pada petuah MWC, PC, PW maupun PBNU. Taat kepada sesepuh NU merupakan syarat dan rukun dalam berjuang. Sebab kita berjuang bukan diri pribadi melainkan untuk Jamiyyah, papar Asad di acara yang digelar di Pesantren Roudlotul Mubtadiin Balekambang, Desa Gemiring Lor, Kecamatan Nalumsari, Jepara itu.

Jalaludin Rumi

KH Masyhuri Malik, mewakili tim instruktur PKPNU PBNU usai penciuman bendera merah putih dan bendara NU, menegaskan dengan menghormat dan mencium sang saka, kader NU wajib menjaga dan memelihara keutuhan NKRI. Sedangkan mencium bendera NU perjuangan para leluhur harus diteruskan. Sehingga para pemuda sebagai penerus bangsa ajak kiai Masyhuri perlu memajukan NU maupun NKRI.

Atas nama PCNU, KH Asyhari Samsuri menyampaikan ilmu yang diperoleh dari pelatihan ditularkan kepada MWCNU maupun PRNU masing-masing. Dikatakannya al-ilmu bila amalin kasy-syajari bila tsamrin, ilmu yang tidak diamalkan laksana pohon yang tidak ada buahnya.

Ketua PCNU Jepara itu mengajak peserta menyeimbangkan kecerdasan emosional, intelektual maupun spiritual. Jika seimbang untuk melangkah kedepan menjadi sinergi dalam rangka membangun NU menjadi lebih baik.

Sementara itu, ketua panitia, Sholahuddin Muhsin Ali mengungkapkan kegiatan diselenggarakan berdasarkan rekomendasi tim kaderidasi PBNU. Tujuannya, untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan kader dalam mengidentifikasi, merencanakan, melaksanakan, memonitoring dan mengevaluasi kondisi organisasi.

Tujuan lain, untuk melakukan internalisasi nilai-nilai dasar perjuangan NU dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, mengenali, mengidentifikasi, mencatat dan mengggunkan data perkembangan jamaah dan jamiyyah di lapangan secara detail.

Selama 3 hari peserta menerima materi: Analisis Kawan-Lawan, NU Outlook 2020, Peta Pertarungan Pemikiran, Strategi Penggalangan Massa dan Pengorganisasian Masyarakat serta Membangun Kemandirian NU. Peserta didampingi tim instruktur PKPNU PBNU dinataranya Enceng Shobirin Nadj, Adnan Anwar, Abdul Munim Dz dan KH Masyhuri Malik. (Syaiful Mustaqim/Mahbib)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/47499/waketum-pbnu-nu-terus-bergerak-maju

Jalaludin Rumi

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock