Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sholawat. Tampilkan semua postingan

Senin, 23 Mei 2016

PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU

Jakarta, Jalaludin Rumi. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) memberikan tanda jasa kepada 37 tokoh yang dianggap berkontribusi besar dalam perjuangan NU pada malam puncak peringatahn hari lahir (Harlah) ke-88 NU di Jakarta, Jumat (31/1).

Prosesi penganugerahan dilakukan antara PBNU dan perwakilan keluarga sang tokoh. Ketiga puluh tujuh pahlawan NU itu terdiri dari berbagai latar belakang, mulai dari para pendiri, komandan perang, hingga budayawan.

PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU (Sumber Gambar : Nu Online)


PBNU Berikan Tanda Jasa kepada 37 Pahlawan NU

Di antara mereka adalah Hadratus Syekh KH Hasyim Asyari, KH Bisri Syansuri, KH Abdullah Faqih Maskumambang, KH Idam Kholid, Asrul Sani, Djamaludin Malik, KH Masum Lasem, KH Zainul Arifin, dan para pejuang NU lainnya. Plakat kehormatan diserahkan secara simbolis kepada 10 perwakilan keluarga tokoh yang hadir pada acara itu.

Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengatakan, kiprah para pahlawan yang menerima tanda jasa ini sangat besar tak hanya untuk NU tapi juga untuk bangsa Indonesia secara umum. Mereka berjuang total demi kemaslahatan bersama.

Jalaludin Rumi

Anita Hayatun Nufus, putri KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), yang juga mewakili keluarga untuk menerima pengharagaan tersebut, memberikan apresiasi tinggi kepada PBNU. Ini bukti bahwa NU enggak pernah lupa akan asal-usulnya. NU sangat menghargai orang-orang yang berjuang di organisasi, ujarnya.

Pada peringatan Harlah ke-88 bertema Setia Menjaga NKRI ini, Kiai Said berharap, NU bisa istiqamah dalam menjaga NKRI untuk tetap utuh. Tidak hanya utuh secara geografis tapi juga ekonomi, politik, ideologi, budaya, dan lainnya, katanya. (Mahbib Khoiron)

Jalaludin Rumi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/49866/pbnu-berikan-tanda-jasa-kepada-37-pahlawan-nu

Jalaludin Rumi

Rabu, 11 Februari 2015

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu

Malang, Jalaludin Rumi. Kebobrokan bangsa Indonesia dinilai sudah berada kondisi cukup akut yang memprihatinkan. Konstitusi tidak lagi menjadi pijakan. Korupsi menjadi tradisi yang tak terhindarkan. Cara berpikir dan prilaku bangsa dari level atas sampai pada level bawah sama sekali jauh dari fondasi nilai ideologi bangsa yang telah terbangun oleh para founding father bangsa.

Di sisi lain, generasi penerus masa depan bangsa, dari level pelajar sampai mahasiswa ternyata juga mengalami hal yang sama. Akibatnya, banyak kasus kekerasan, seks bebas, bahkan mental korup telah terjangkit dalam diri bibit-bibit pemimpin bangsa ini.

Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)
Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu (Sumber Gambar : Nu Online)


Indonesia Kritis, Tujuh PKC PMII se-Indonesia Keluarkan Petisi Batu

Demikian salah satu poin penting yang dihasilkan dalam pertemuan informal tujuh Pengurus Koordinator Cabang (PKC) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII), selama dua hari, pada hari Sabtu hingga Ahad (3-4/11) di Hotel Victori, Batu Malang.

Jalaludin Rumi

"Organisasi mahasiswa seperti PMII juga demikian. Kita harus diakui di tubuh PMII sekarang telah terjadi degradasi pemikiran, moral dan spiritual. Lakon aktivis PMII saat ini sudah tidak lagi mencerminkan PMII yang sebenarnya,"kata Ketua Umum PKC PMII Jatim Fairouz Huda, Ahad (4/11) malam.

Fairouz menjelaskan, pertemuan tersebut bertujuan untuk merefleksi diri atas kondisi internal PMII. "Seperangkat aturan dan nilai ideologis paradigmatik PMII tidak lagi menjadi pedoman hidup dan organisasi,"tandas Fairouz prihatin.

Jalaludin Rumi

Selain persoalan internal, pertemuan tersebut untuk merespon berbagai persoalan bangsa. Pasalnya kondisi bangsa Indonesia saat ini berada dalam kubangan keprihatinan yang mendalam.

Kami menyatakan bahwa Indonesia sedang berada dalam keadaan yang bobrok. Keadilan, kebhinekaan, penegakan hukum dalam kondisi yang memprihatinkan," kata pria kelahiran Madura ini.

Karena itu, Fairouz bersama 6 PKC PMII menyatakan, perlu dilakukan perubahan radikal di tubuh PMII. "Tentu saja dengan mendobrak PB PMII sebagai struktur yang memiliki tanggung jawab struktural atas semua ini,"tegasnya.

Dalam pertemuan yang diikuti tujuh PKC PMII se Indonesia yg terdiri dari Jawa Timur, Jawa Tengah, Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan Barat, dan Kalimantan Selatan tersebut menghasilkan lima rumusan pikiran.

Lima point pemikiran yang disebut dengan "PETISI BATU" itu adalah sebagai berikut. Pertama, mendesak pemerintah untuk meneguhkan kembali nilai-nilai luhur budaya bangsa.

Kedua, kondisi PB PMII dibawah kepemimpinan sahabat Adin Jauharudin sudah jauh banyak menyimpang dari tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII. Sehingga banyak menimbulkan kegelisahan di seluruh level struktur organisasi PMII.

Ketiga, menegaskan dan menghimbau kepada seluruh elemen keluarga besar PMII di seantero Nusantara untuk secara seksama dan bersama-sama menyelamatkan organisasi PMII.

Keempat, mendesak kepada sahabat Addin Jauharudin selaku pimpinan PB PMII untuk patuh terhadap segala tata aturan nilai dan produk hukum organisasi PMII.

Kelima, jika hal-hal di atas tidak diperhatikan oleh PB PMII, maka kami berkomitmen untuk menempuh langkah-langkah konstitusional demi penyelamatan organisasi PMII.

Lima Petisi Batu tersebut di atas ditanda tangani oleh tujuh pimpinan PKC PMII. Yaitu, Fairouz Huda (Ketum PKC Jatim), Muhammad Zuyyin (Ketum PKC Jateng), Edi Rusyandi (PKC PMII Jabar), Sahril Ishak (Ketum PKC Kalbar), Eka (Ketum PKC PMII Lampung), Taufik Hidayat (Ketum PKC PMII NTB), Radini (Ketum PKC PMII Kalsel).

"Konsolidasi PKC PMII se Indonesia seperti ini akan dilaksanakan secara berkelanjutan secara bergiliran, sebagai ruang kritik, otokritik dan penyikapan atas berbagai persoalan kebangsaan,"tegas Fairouz yang juga mantan Ketua Umum PC PMII Malang ini.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Kontributor: Abdul Hady JM

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40649/indonesia-kritis-tujuh-pkc-pmii-se-indonesia-keluarkan-quotpetisi-batuquot

Jalaludin Rumi

Sabtu, 28 September 2013

Pengarang Sholawat Nariyah Tidak Fiktif, Baca Ini Para Pembenci!

Jalaludin Rumi - Sebagian kalangan mempertanyakan dan bahkan menuding tak berdasarnya Shalawat Nariyah yang akan dibacakan warga NU pada malam peringatan Hari Santri Nasional 22 Oktober mendatang. Pokok persolannya, menurut mereka adalah tidak diketahui pengarangnya.

Dewan Pakar Aswaja NU Center Jawa Timur KH Ma’ruf Khozin mengatakan, jika beralasan karena ketidakjelasan siapa pengarangnya, maka Mufti Mesir, Syaikh Ali Jumah yang digelari Allamah Ad-Dunya, mendapat sanad yang sempurna dari gurunya Syaikh Abdullah al-Ghummar.

Syaikh Abdullah al-Ghummar, menurut Ma’ruf, adalah seorang ahli hadits dari Maroko, yang sampai kepada muallif (pengarang) Shalawat Nariyah Syaikh Ahmad At-Tazi al-Maghribi (Maroko).

Pengarang Sholawat Nariyah Tidak Fiktif, Baca Ini Para Pembenci! - Jalaludin Rumi
Pengarang Sholawat Nariyah Tidak Fiktif, Baca Ini Para Pembenci! - Jalaludin Rumi


Pengarang Sholawat Nariyah Tidak Fiktif, Baca Ini Para Pembenci!

“Kesemuanya secara musyafahah, menyampaikan bacaan shalawat tersebut dari guru kepada muridnya secara langsung,” katanya, Rabu (28/09/2016) melalui surat elektronik sebagaimana dilansir Nu Online.

Jalaludin Rumi

Sementara nama Shalawat Nariyah, ada kalangan alergi dengan ‘nar’ yang memang populer dengan sebutan Nariyah. Sebagian orang menganggap bahwa makna ‘nar’ adalah neraka, ‘iyah’ adalah pengikut, yang disimpulkan‘pengamal nariyah’ adalah pengikut ahli neraka.

Maka, hal itu sangat tidak tepat. Perhatikan dalam Al-Qur’an berikut ini:

إِذْ رَأَىٰ نَارًا فَقَالَ لِأَهْلِهِ امْكُثُوا إِنِّي آنَسْتُ نَارًا لَعَلِّي آتِيكُمْ مِنْهَا بِقَبَسٍ أَوْ أَجِدُ عَلَى النَّارِ هُدًى

Jalaludin Rumi

“Ketika ia (Musa) melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu". (Thaha: 10)

Menurut Syaikh Abdullah al-Ghummari, penamaan dengan Nariyah karena terjadi tashrif atau perubahan dari kata yang sebenarnya taziyah. Sebab keduanya memiliki kemiripan dalam tulisan Arab, yaitu النارية dan التازية yang berbeda pada titik huruf. Di Maroko sendiri, shalawat ini dikenal dengan shalawat Taziyah, sesuai nama kota pengarangnya.

Sementara dalam kitab Khazinatul Asrar, sebuah kitab yang banyak memuat ilmu tasawuf dan tarekat karya Syaikh Muhammad Haqqi Afandi An-Nazili, disebutkan bahwa Syaikh Al-Qurthubi menamai shalawat ini dengan nama Shalawat Tafrijiyah, yang diambil dari teks yang terdapat di dalamnya yaitu (تنفرج).

Demikian halnya Syaikh Yusuf bin Ismail An-Nabhani menyebut dengan nama shalawat At-Tafrijiyah dalam kitabnya Afdlal ash-Shalawat ala Sayidi as-Sadat pada urutan ke 63.

“Semua syubhat (propaganda) dalam shalawat Nariyah telah kita ketahui dalilnya sehingga boleh kita amalkan. Akan tetapi, jika penolakannya, keengganannya dan keberatannya karena kebencian kepada kami para santri, maka tak cukup 1000 dalil untuk memuaskan dahaga kebenciannya,” pungkas anggota LBM PWNU Jatim ini. [Jalaludin Rumidullah alawiJalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/pengarang-sholawat-nariyah-tidak-fiktif.html

Kamis, 08 Maret 2012

Allahu Akbar, Ustadz Sukino Masuk Nominasi Santri of The Year 2016

Jalaludin Rumi - Meski popularitasnya sedikit redup akibat kemunculan pendatang baru seperti Ustad Mukidi. Namun, ustad dari Solo yang berwajah konvensional ini masih tetap mempesona bagi sebagian makhluk yang lemah iman. Sejajar dengan AA Gatot, Eyang Subur, dan Taat Pribadi.

Saya sebagai satu dari kaum santri, sangat-sangat berharap agar Ustad Sukino bisa dimasukkan dalam daftar nominasi Santri of The Year 2016. Mengapa demikian?

Ustad Sukino memiliki banyak jasa kepada bangsa Indonesia, kaum santri, kiai, dan pesantren. Di antaranya adalah sebagai berikut:

Pertama, ustadz Sukino berhasil membuktikan bahwa Indonesia masih subur. Kemunculan Ustad Sukino dan MTA-nya telah melampaui ramalan Koes Plus tentang ‘Tanah Surga; tongkat dan batu jadi tanaman’.

Jalaludin Rumi

Ustadz ini membuktikan betapa apapun yang ditanam di negeri ini, akan tumbuh subur nan rimbun, jangankan tongkat dan batu, aliran sesat jika dengan sungguh-sungguh ditanam, pun akan subur, sesubur MTA.

Kedua, ustadz yang berwajah wagu ini, sungguh telah turut membantu para kiai dan ulama dalam program sensus intelektual umat muslim. Dengan MTA, ulama dan kiai tidak perlu repot mendata berapa jumlah umat Islam yang tolol dalam masalah agama. Kini, cukup dengan melihat data jumlah anggota MTA, kiai, ulama, dan dai sudah bisa tahu berapa jumlah orang-orang muslim buta agama.

Ketiga, fenomena fatwa halal daging asu, dengan alasan ketiadaan hadist, sungguh turut pula membantu mendewasakan kita dalam pengetahuan ilmu hadist. Tepatnya hadist Bukhari: “Hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan.”

Dengan munculnya MTA dan sejenisnya, tafsir hadist di atas menjadi gamblang dan jelas. Bagaimana? Beliau hebat to? Asu sekali to?

Saya kira tiga asalan ini cukup sebagai alasan mengapa kita wajib menghaturkan juta terima kasih keharibaan beliau. Dan sebagai penghargaan, tidak ada salahnya jika kita mengusulkan beliau sebagai kandidat Santri of The Year 2016.

Atau malah kita usulkan saja sebagai kandidat pahlawan. Semisal kategori Pahlawan Perintis Kebatilan Nasional, atau apa begitu? Piye? [Jalaludin Rumi/ lukman]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/allahu-akbar-ustadz-sukino-masuk-nominasi-santri-of-the-year-2016.html

Sabtu, 23 Juli 2011

Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir?

Jalaludin Rumi - Wahabi mengharamkan maulid Nabi Muhammad karena, salah satunya, menyebut tradisi maulid sebagai amalan bidah yang sesat. Maulid Nabi serupa dengan natal. Inilah dialog imajinernya, berdasarkan media wahabi yang ada.

Wahabi: “Selain tidak memiliki landasan agama, perayaan maulid Nabi juga menyerupai perayaan yang diadakan oleh orang nasrani yang merayakan hari kelahiran Nabi ‘Isa ‘alaihis salam sehingga dikategorikan sebagai bid’ah.”

Tanggapan: Orang Nasrani dalam Natal tidak merayakan kelahiran Nabi melainkan merayakan kelahiran Tuhan. Sedangkan Maulid Nabi Muhammad untuk merayakan kelahiran Nabi. Apa kalian anggap merayakan kelahiran nabi dan kelahiran tuhan adalah dua hal yang sama?

Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir? - Jalaludin Rumi
Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir? - Jalaludin Rumi


Apakah Maulid Nabi Muhammad Menyerupai Orang Kafir?

Wahabi: keduanya sama-sama merayakan kelahiran.

Jalaludin Rumi

Tanggapan: Monyet punya mata, hidung, telinga. Syeikh Al-Bani juga punya mata, hidung, telinga. Apakah kalian akan bilang: "oooo Syekh Albani serupa dengan monyet?"

===============

Jalaludin Rumi

Larangan menyerupai orang kafir adalah menyerupai sesuatu yang menjadi ciri husus orang kafir. Jika sesuatu itu telah umum dilaksakan oleh umat Islam, maka tidak bisa disebut sebagai tasyabbuh bilkuffar (menyerupai dengan orang-orang kafir). Salah satu web wahabi almanhaj.or.id menukil jawaban Utsaimin ketika ditanya tentang apa standarnya sehingga sebuah tindakan disebut menyerupai orang-orang kafir.

Jawabannya: Standar tasyabbuh (penyerupaan) adalah pelakunya melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas yang diserupainya. Menyerupai orang-orang kafir artinya, seorang Muslim melakukan sesuatu yang merupakan ciri khas mereka.

Adapun jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut, kecuali jika hal itu haram bila dilihat dari sisi lain. Inilah yang kami maksud dengan relatifitas maksud kalimat.

=================

Penulis buku Al-Fath (pada juz 10 hal. 272) menyebutkan : "Sebagian salaf tidak menyukai pemakaian 'burnus' karena merupakan aksesories para pendeta. Imam Malik pernah ditanya mengenai hal ini, beliau mengatakan ; 'Tidak apa-apa', 'Lalu dikatakan, bahwa itu pakaian orang-orang nashrani', Beliau menjawab, 'Dulu itu dipakai disini'.

Web lain milik wahabi muslim.or.id menukil fatwa ulama wahhabi Muhammad Umar Salim Bazmul. Pada point ke-enam tertulis "keenam: maksud menyerupai orang kafir yaitu menyerupai dalam hal-hal yang menjadi kekhususan mereka. Apabila suatu perkara bukan menjadi suatu ciri khusus mereka, maka kita disyariatkan untuk menyelisihi sifatnya saja".

Maulid Nabi Muhammad dan Natal Kesamaan antara maulid dan natal hanya satu yaitu keduanya sama-sama memperingati hari kelahiran. Merayakan hari kelahiran bukan ciri khusus orang kristen. Sebab Nabi Muhammad SAW juga merayakan hari kelahiran Beliau. Maka Maulid Nabi tidak bisa disebut menyerupai orang kafir. Meskipun maulid nabi dan natal sama-sama merayakan hari lahir, namun sifat keduanya berbeda. Dalam peringatan maulid nabi dibacakan al-Quran, sholawat dan kisah nabi. Sedangkan dalam natal tidak.

Di samping itu, maulid nabi telah umum dilaksanakan oleh umat Islam, maka kata Utsaimin jika hal tersebut telah berlaku umum di kalangan kaum muslimin dan hal itu tidak membedakannya dari orang-orang kafir, maka yang demikian ini bukan tasyabbuh (tidak tergolong menyerupai) sehingga hukumnya tidak haram karena penyerupaan tersebut.

Jadi Peringatan Maulid Nabi Muhammad tidak menyerupai Natal. Analognya: moyet punya mata, hidung, telinga. Syeikh Al-Bani juga punya mata, hidung, telinga. Apakah kalian akan bilang: O, Syekh Albani serupa dengan monyet? [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2015/11/apakah-maulid-nabi-muhammad-menyerupai.html

Kamis, 14 April 2011

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

Jalaludin Rumi - Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan (Sulsel) menolak Habib Riziq Shihab sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua PW Ansor Sulsel, Muh. Tonang melalui rilisnya yang dikirim ke media.

Baca: Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB Lombok.

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - Jalaludin Rumi
Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - Jalaludin Rumi


Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

Dalam pernyataan sikap tersebut, Muh. Tonang menolak maraknya gerakan sebagian kecil kelompok atau ormas Islam di Indonesia yang bermaksud mengangkat Saudara Habib Rizieq Shihab (Imam FPI) sebagai Imam besar Umat Islam di Indonesia,

"Kami dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulsel menolak dengan tegas saudara Riziq Shihab untuk diangkat/dijadikan/dinobatkan sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia," katanya, sebagaiman dikutip Jalaludin Rumi dari Seputarsulawesi.com, Kamis (12/01/2017).

Menurutnya umat Islam di Indonesia tidak mengenal adanya Imam Besar. Sebagai pemegang kuasa atas umat Islam keseluruhan, konstitusi Indonesia telah menjamin umat Islam dalam memeluk agamanya serta menjalankan ibadahnya, termasuk menjamin kebebasan dalam mengikuti para ulama, kiai atau ustadz sebagai acuan atau panutan dalam menjalankan ibadah sehari-hari dan berinteraksi sosial.

Muh. Tonang juga mendukung pemerintah untuk menumpas ormas atau pihak-pihak yang bertindak intoleran kepada sesama umat manusia atas dalih nama agama, "mereka yang ingin mendirikan khilafah adalah tindakan makar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegasnya.

Ia pun menghimbau kepada seluruh kader Ansor Sulsel untuk senantiasa bertabarruk kepada para kiai dan ulama yang selama ini membina umat di pondok pesantren dan pengurus NU setempat dalam menjalankan kegiatan organisasi-termasuk aksi-aksi sosial keagamaan. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/sebelum-fpi-dihadang-di-lombok-pw-ansor-sulsel-sudah-menolak-imam-besarnya.html

Kamis, 03 Februari 2011

Sedekah Atas Nama Orang Meninggal

 Jalaludin Rumi - Sedekah atas nama orang maninggal atau mayit, oleh sebagian kalangan wahabi salafi disebut bid'ah dan tidak ada anjuran dari sunnah. Padahal, ahli hadis bermadzhab Syafi'i, Imam al-Baihaqi, menulis 2 bab secara berurutan tentang anjuran bersedekah atas nama mayit dalam kitab As-Sunan dengan mengutip hadis-hadis sahih, yaitu:

ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻮﻟﻲ اﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ اﻟﺘﻌﺠﻴﻞ ﺑﺘﻨﻔﻴﺬ ﻭﺻﺎﻳﺎﻩ ﺑﺎﻟﺼﺪﻗﺔ ﻭﻏﻴﺮﻫﺎ

Bab anjuran bagi ahli waris mayit untuk segera merealisasikan wasiatnya dengan sedekah dan lainnya

ﻋﻦ ﻋﺒﺪ اﻟﻠﻪ ﺑﻦ اﻟﺸﺨﻴﺮ، ﻗﺎﻝ: ﻟﻤﺎ ﻧﺰﻟﺖ ﻫﺬﻩ اﻵﻳﺔ: ﺃﻟﻬﺎﻛﻢ اﻟﺘﻜﺎﺛﺮ ﻗﺎﻝ ﺭﺳﻮﻝ اﻟﻠﻪ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: " ﻳﻘﻮﻝ اﺑﻦ ﺁﺩﻡ ﻣﺎﻟﻲ ﻣﺎﻟﻲ , ﻭﻫﻞ ﻟﻚ ﻣﻦ ﻣﺎﻟﻚ ﺇﻻ ﻣﺎ ﺃﻛﻠﺖ ﻓﺄﻓﻨﻴﺖ , ﺃﻭ ﻟﺒﺴﺖ ﻓﺄﺑﻠﻴﺖ , ﺃﻭ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﻓﺄﻣﻀﻴﺖ ". رواه مسلم

Dari Abdullah bin Syikhir, Ketika turun surat (At-Takāthur): "Bermegah-megahan telah melalaikan kamu...", maka Nabi bersabda: "Manusia berkata: Hartaku adalah hartaku. Engkau tidaklah memiliki harta kecuali yang engkau makan lalu habis, pakaian lalu rusak, atau sedekah lalu akan kekal" (HR Muslim)

ﺑﺎﺏ ﻣﺎ ﻳﺴﺘﺤﺐ ﻟﻮﻟﻲ اﻟﻤﻴﺖ ﻣﻦ اﻟﺘﺼﺪﻕ ﻋﻨﻪ ﻭﺇﻥ ﻟﻢ ﻳﻮﺹ ﺑﻪ.

Bab anjuran bagi ahli waris mayit, berupa sedekah atas nama mayit, meski mayit tidak berwasiat

ﻋﻦ ﻋﺎﺋﺸﺔ، ﺭﺿﻲ اﻟﻠﻪ ﻋﻨﻬﺎ: ﺃﻥ ﺭﺟﻼ ﻗﺎﻝ ﻟﻠﻨﺒﻲ ﺻﻠﻰ اﻟﻠﻪ ﻋﻠﻴﻪ ﻭﺳﻠﻢ: ﺇﻥ ﺃﻣﻲ اﻓﺘﻠﺘﺖ ﻧﻔﺴﻬﺎ ﻭﺃﻇﻨﻬﺎ ﻟﻮ ﺗﻜﻠﻤﺖ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﻓﻬﻞ ﻟﻬﺎ ﺃﺟﺮ ﺇﻥ ﺗﺼﺪﻗﺖ ﻋﻨﻬﺎ؟ ﻗﺎﻝ: " ﻧﻌﻢ ". ﺭﻭاﻩ اﻟﺒﺨﺎﺭﻱ ﻓﻲ اﻟﺼﺤﻴﺢ

Seorang sahabat bertanya: "Ibuku meninggal mendadak, aku mengira jika ia dapat berkata maka akan bersedekah. Apakah ia dapat pahala jika aku bersedekah atas nama ibu?" Nabi menjawab: "Ya" (HR al-Bukhari)

Demikian hujjah sedekah atas nama mayit yang dari sei dalil syar'inya bisa dipertanggungjawabkan. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/10/sedekah-atas-nama-orang-meninggal.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock