Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Sanad. Tampilkan semua postingan

Jumat, 07 April 2017

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Ini adalah kisah Shohnun dan murid terdekatnya. Dikisahkan Shohnun adalah seorang tabib, ahli pengobatan. Berbagai macam penyakit, mampu ia obati. Mulai dari penyakit sepele, sekelas sakit gigi hingga penyakit organ dalam kelas kakap.

Dari keahliannya itu, banyak orang yang berduyun-duyun, datang kepada tabib Shohnun untuk meminta diobati. Nahas, tak selang berapa lama, Shohnun meninggal dunia.

Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)
Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin (Sumber Gambar : Nu Online)


Akibat Mengamalkan Ilmu Tak Berizin

Orang-orang pun kebingungan, akan kemana lagi mereka meminta pertolongan obat. Oh ya, mereka baru tersadar. Ternyata Shohnun memiliki murid terdekat. Ya, akhirnya orang-orang pun, bergegas menghampiri sang murid terdekat. Berharap sang murid mewarisi kehebatan gurunya.

Jalaludin Rumi

Setelah menerima kedatangan orang-orang yang sakit, sang murid pun mengiyakan permintaan mereka dengan begitu enteng dan semangat. Hal itu bukan tanpa sebab.

Ternyata, dahulu kala, semasa shohnun hidup, dalam terapi pengobatannya, shohnun hanya menuliskan huruf hijaiyah nun ( ) dalam cawan. Kemudian huruf nun tersebut ia hapus perlahan dengan air yang ia siramkan. Melalui secawan air hapusan huruf hijaiyah nun itulah, kemudian Shohnun meminumkannya kepada pasien. Dan, Manajur! Berbagai penyakit ia sembuhkan.

Tentunya, sang murid terdekat yang pada masa itu menjadi asistennya, dapat menghafal dengan mudah teknik pengobatan Shohnun. Dan atas dasar itu pula, bermodalkan pengamatan tak berizin, sang murid dengan yakin menerima permintaan pasien mendiang Shohnun untuk mengobati pasien.

Jalaludin Rumi

Satu persatu pasien pun telah ia obati. Masih dengan ritual sama, persis dengan yang dilakukan gurunya dahulu. Menuliskan huruf hijaiyah nun diatas cawan, menghapusnya perlahan dengan air, kemudian meminumkannya kepada pasien. Beres, dijamin manjur, karena tak ada satu pun langkah yang berbeda dari yang dilakukan gurunya. Batin sang murid.

Keesokan harinya, sang murid kaget bukan main. Klinik tabibnya dipenuhi keluarga pasien. Bukan apa, mereka datang berbondong-bondong untuk meminta pertanggung jawaban kepada sang murid. Ya, bukan kesembuhan yang pasien peroleh, malah penyakit semakin parah yang mereka peroleh.

Dengan gugup, sang murid pun meminta maaf. Memohon agar mereka beranjak meninggalkan klinik, untuk sementara waktu menunggu. Agar ia menemukan penyebab obatnya yang malah memperparah penyakit pasien.

Malam harinya, sang murid tertidur. Benar, ia mendapat petunjuk. Dalam mimpinya, ia dapati Hatif, suara tanpa rupa berujar:

Ini adalah (huruf) nun, namun dimanakah Shohnun?

Ia pun terjaga dari tidurnya. Ia pun tersadar, ia merasa bersalah. Betapa ia dengan berani mengamalkan "ilmu ilegal", ilmu tak berizin, ilmu yang hanya ia dapat dari hasil pengamatannya yang hanya seorang murid.

Ia abai terhadap sanad keguruan, ia tak peduli akan mata rantai keilmuan. Ia tak menghiraukan, apakah gurunya ikhlas akan ilmu yang ia curi? Dan, apakah cukup, ilmu yang sebegitu luhur hanya ia pelajari secara cur-curi lewat pengamatan tak berizinnya?

Ia pun tergugu, ia baru sadar, ada satu sisi yang yang terpenting dalam ilmu yaitu keberkahan. Dan sayangnya, keberkahan tak dapat ia peroleh melainkan dengan sanad. Ya, mata rantai keilmuan dari guru yang terpercaya, teruji kealiman serta keikhlasannya.

Maka tak mengherankan jika pasiennya bertambah parah. Adalah sebab keberkahan tak turun kepadanya. Karena sesuai definisi Ahlul Hukama, ulama-ulama ahli ilmu hikmah:

Keberkahan ialah tambahnya kebaikan.

Akhirnya, sang murid pun menyesal, tak sakali-kali lagi ia mengamalkan ilmu ilegal-nya.

Kisah ini memberi pelajaran kepada kita agar memilih guru yang terpercaya. Lebih-lebih dalam urusan agama. Karena jika salah beramal, bisa-bisa malah salah kejadiannya. Jangan hanya berguru pada syaikh google dan ustadz youtube saja. Hati-hati, di dunia maya.

(Ulin Nuha Karim)

Dikisahkan oleh Pengasuh Pesantren Sirojuth Tholibin Brabo, Grobogan KH Muhammad Shofi Al-Mubarok di sela-sela pengajian kilatan Bulan Rajab.

Dari (Hikmah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/77362/akibat-mengamalkan-ilmu-tak-berizin

Jalaludin Rumi

Senin, 13 Februari 2017

Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang

Jombang, Jalaludin Rumi. Pengasuh Pesantren Tebuireng Jombang, KH Salahuddin Wahid harus mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Jombang setelah mengalami kelelahan. Adik Presiden RI ke 4 KH Abdurrahman Wahid ini sempat disambangi menteri BUMN Rini Soemarno, Selasa (30/8).

"Tadinya hanya ingin periksa, karena kemarin tiba tiba lemas. Tapi oleh dokter diminta menginap, ya sudah, akhirnya sementara istirahat," tutur Gus Sholah saat disambangi Jalaludin Rumi di ruang VVIP Upaya Waluya RSUD Jombang.

Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)
Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang (Sumber Gambar : Nu Online)


Gus Sholah Kembali Dirawat di RSUD Jombang

Meski terlihat masih berbaring, Gus Sholah mengaku kondisinya kini sudah agak baik dari sebelumnya. Bahkan rencananya akan segera minta untuk pulang. "Doakan besuk sudah bisa pulang, sekarang sudah baikan," imbuhnya.

Jalaludin Rumi

Sudah beberapa kali, putra ragil dari KH Wahid Hasyim ini dirawat di rumah sakit, mengingat kondisi usia dan kesehatannya yang sudah melemah.

Saat menjalani perawatan, Gus Sholah sempat disambangi Menteri BUMN Rini M Sumarno.

Rini yang mengenakan baju putih datang bersama rombongannya setelah sempat mampir di pesantren Tebuireng. Dengan didampingi dokter Mahfudz, dan istri, Gus Sholah menerima sejawatnya itu. "Alhamdulillah kondisi saya sudah membaik. Hanya kecapekan saja," ujar Gus Solah sambil berbaring.

Jalaludin Rumi

Kepada Menteri Rini, Gus Sholah menceritakan, di ruang yang ditempatinya sekarang inilah sempat digunakan presiden Gus Dur saat dirawat sepekan sebelum meninggal. "Disini dulu Gus Dur pernah dirawat, sama yang nangani dokternya," tuturnya.

Sementara itu, Menteri Rini mengaku dirinya sengaja menjenguk Gus Sholah di RSUD Jombang setelah akan mampir di Pesantren Tebuireng untuk ziarah ke makam KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur usai me-launching kartu petani di PG Tjoekir. "Tadinya kepingin mampir di pesantren, namun mendengar beliau dirawat, kita langsung ke sini (RSUD). Alhamdulillah kondisi beliau sudah sehat, kita doakan segera pulih dan bisa beraktifitas kembali memimpin pesantren," ujarnya.

Rini mengaku dekat dengan Gus Sholah sejak lama, di samping sebagai senior dan tokoh NU yang sering diajak bertukar pikiran berbagai persoalan. "Beliau senior, kita sering berdiskusi jika ada persoalan, dan saya dekat sejak lama dengan beliau," pungkasnya. (Muslim Abdurrahman/Mukafi Niam)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/70858/gus-sholah-kembali-dirawat-di-rsud-jombang-

Jalaludin Rumi

Kamis, 01 Desember 2016

PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru

Bojonegoro, Jalaludin Rumi. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, mendesak Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) RSUD Sosodoro Djatikoesoemo bertaraf internasional yang baru rampung dibangun di Jalan Veteran, Bojonegoro, segera difungsikan.

Pasalnya, RSUD Sosodoro Djatikoesoemo Bojonegoro di Jalan Doktor Wahidin yang sudah lama beroperasi kini memiliki kapasitas terbatas dan kewalahan menampung pasien.

PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru (Sumber Gambar : Nu Online)


PMII Bojonegoro Desak Pemkab Fungsikan RSUD Baru

Dorongan itu muncul dalam diskusi terbatas di sekretariat PC PMII Bojonegoro, Senin (11/1),

terkait status RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang berada di Jalan Veteran yang masih belum difungsikan. Selain mahasiswa, forum ini juga dihadiri perwakilan Dinas Pekerjaan Umum (DPU) dan LSM Gempur.

Jalaludin Rumi

Ketua PC PMII Bojonegoro Ahmad Syahid mengatakan, bangunan yang sudah dibangun sejak tahun 2006 itu sampai saat ini masih terbengkalai. Pihaknya berjanji berada di garda terdepan dalam menyampaikan aspirasinya agar RSUD tersebut difungsikan. Terlebih saat ini bangunan itu telah menghabiskan ratusan miliar rupiah.

Jalaludin Rumi

"Tidak ada alasan yang rasional bila pemfungsian RSUD di Jalan Veteran ditunda lagi, sebab masyarakat sudah membutuhkan itu. Sedangkan RSUD (di Jalan Doktor Wahidin) saat ini sering overload," tutur pria asal Kabupaten Tuban itu.

Kader PMII lain, Khoirudin juga sangat menyayangkan kinerja Pemkab yang lamban mengoptimalkan anggaran. "Padahal DPU sudah menyatakan kalau pembangunan gedung sudah selesai dan siap dipakai. Maka Pemkab harus segera memfungsikan RSUD Sosodoro Djatikoesoemo yang ada di Jalan Veteran. Jangan hanya janji dan omong saja, tapi berilah kami bukti," harapnya.

Sementara itu, perwakilan DPU Kabupaten Bojonegoro, Frika Dedi Sufyan mengaku sependapat dengan PMII terkait segera pemfungsian RSUD di Jalan Veteran. Pihaknya menuturkan, pembangunan fisik RSUD di Jalan Veteran sudah selesai, meskipun kemarin terjadi putus kontrak dengan pihak kontraktor. "Tinggal penuntasan isi alkes (alat kesehatan) dan perlengkapanya," ujarnya.

Sedangkan Direktur LSM Gempur Sunaryo Abu Main meminta agar pembangunan RSUD tersebut bisa ditinjau dari aspek politik dan sosial. Sebab, bangunan ditelantarkan hampir 9 tahun yang berarti penyalahgunaan aset daerah.

"Terima kasih PMII masih peduli kondisi sosial ini. Kami selaku aktivis sosial selalu menyuarakan untuk mengusut dugaan korupsi pembangunan RSUD dan segera pemfungsiannya," ujar Mbah Naryo, sapaan akrabnya. (M. Yazid/Mahbib)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/64930/pmii-bojonegoro-desak-pemkab-fungsikan-rsud-baru

Jalaludin Rumi

Senin, 31 Agustus 2015

Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag

Jakarta, Jalaludin Rumi. Peringatan Hari Amal Bakti (HAB) ke-71 Kementerian Agama RI Tahun 2017 menyisakan sejumlah impian bagi para Aparatur Sipil Negara (ASN). Salah satunya ASN bernama Ahmad Damai, pegawai yang mengabdi di Pusat Kerukunan Umat Beragama (PKUB) Sekretariat Jenderal Kemenag.

Damai berharap mampu melahirkan atlet bulutangkis yang akan mengharumkan nama bangsa dan negara, khususnya keluarga besar Kemenag. Putri sulungnya, Aida Damayanti, kini tercatat sebagai siswi kelas XI SMA Plus Pembangunan Jaya Bintaro, Tangerang Selatan. Sebuah sekolah yang khusus mencetak atlet berbagai cabang olahraga.

Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)
Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag (Sumber Gambar : Nu Online)


Impian Damai di Hari Amal Bakti Ke-71 Kemenag

Kepada Aida, saya selalu memberi semangat untuk terus berlatih. Hormat kepada pelatih/guru dan orang yang lebih tua. Jangan putus asa, jangan tinggalkan shalat. Saya tekankan juga untuk selalu berdoa semoga apa yang dicita-citakan dikabul Allah SWT, ujar Damai usai mengikuti upacara HAB ke-71 Kemenag di lapangan banteng, Selasa (3/1).

Setiap malam, lanjut Damai, selain sholat malam ia juga menambah amalan membaca yasin, tahlil dan ratib al-Haddad. Ini semua demi keberhasilan anak saya yang ingin menjadi atlet internasional, tandasnya.

Jalaludin Rumi

Dukungan yang diberikan Damai kepada anaknya telah ia lakukan sejak Aida masih belia. Suatu ketika, ia pernah menyuruh anaknya berlari mulai dari GOR Ragunan hingga rumahnya di bilangan Kalibata.

Jalaludin Rumi

Hampir sepuluh kilometer anak saya lari. Agar fisiknya tetap sehat, ungkap Wakil Ketua LKKNU DKI Jakarta ini.

Sebagai aktivis Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama di Ibukota, Damai ingin memasyarakatkan olahraga dan mengolahragakan masyarakat. Sebab saya juga suka olahraga. Khususnya bulutangkis, ujarnya bangga.

Dikonfirmasi terpisah, Aida Damayanti mengatakan motivasinya masuk sekolah bulutangkis hendak membanggakan kedua orang tua dan menggapai impiannya sejak kecil, yakni menjadi juara dunia di cabang bulutangkis.

Sejumlah kejuaraan di berbagai kota baik di Jawa maupun luar Jawa telah ia ikuti. Mulai Sirkuit Nasional (Sirnas) Jakarta, Semarang, Magelang, Yogyakarta, Solo, Surabaya, hingga Bali, Manado, Makassar dan Palembang.

Gadis kelahiran Jakarta 29 Januari 2001 yang memiliki hobi mendengarkan musik, berenang, dan baca novel ini pada April 2016 silam, menyabet juara 2 di ajang Walikota Cup 2016 yang digelar di GOR Bima, Kota Cirebon. Saat itu, Aida turun di nomor ganda putri dengan pasangannya Dinda Dwi Nurcahya sukses masuki babak final.

Saat ditanya bagaimana perasaannya menghabiskan masa remaja di gelanggang olah raga, sementara anak-anak seusianya bisa leluasa bermain usai sekolah, Aida mengaku tidak masalah.

Soal kehilangan masa remaja sudah pasti yaa. Karena menghabiskan waktu untuk terus berlatih. Tapi buat saya, nggak masalah demi kebaikan dan untuk menggapai cita-cita saya ke depan, pungkas Aida. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/74350/impian-damai-di-hari-amal-bakti-ke-71-kemenag

Jalaludin Rumi

Jumat, 17 Oktober 2014

Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib

Jakarta, Jalaludin Rumi. Nahdliyin masih mengalami sejumlah krisis dalam hal pengelolaan masjid. Selain aspek kepengurusan, kualitas khatib dinilai belum banyak yang memenuhi standar yang diidealkan. Karenanya, berbagai langkah perlu diterapkan demi pemecahan masalah ini.

Kebanyakan masjid-masjid Nahdliyin terjadi krisis khatib yang berkualitas, ujar Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Tamir Masjid Nahdlaul Ulama (LTMNU) Ibnu Hazen, Jumat (20/7), di Jakarta.

Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib (Sumber Gambar : Nu Online)
Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib (Sumber Gambar : Nu Online)


Masjid Nahdliyin Perlu Tingkatkan Kualitas Khatib

Menurut Ibnu, memiliki sumberdaya khatib yang bermutu bagi masjid merupakan keniscayaan. Mutu tersebut meliputi keilmuan agama yang luas, keluhuran akhlak, sanggup memotivasi, membimbing, dan komunikatif.

Isi khotbahnya pun menyentuh dan menjawab problem umat sehingga menarik untuk didengar dan disimak. Jamaah tidak ngantuk dan tertidur ketika khatib sedang khotbah, tambahnya.

Jalaludin Rumi

Sebab itu, lanjutnya, PP LTMNU berharap masjid Nahdliyin dapat menyelenggarakan program pengaderan khatib. Program tersebut dibidani pengurus dewan kemakmuran masjid setempat dengan mengadakan pelatihan dakwah, seleksi dai potensial, atau lainnya.

Jalaludin Rumi

Dari khotbah para khatib diharapkan dapat meningkatkan tanggung jawab jamaah terhadap pemakmuran masjid, pungkasnya.

Redaktur : Hamzah Sahal

Penulis : Mahbib Khoiron

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/38870/masjid-nahdliyin-perlu-tingkatkan-kualitas-khatib

Jalaludin Rumi

Rabu, 13 Agustus 2014

KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat

Jakarta, Jalaludin Rumi. KH Maulana Kamal Yusuf, lahir Paseban Timur, Jakarta Pusat, 25 April 1949. Ayahnya, KH Muhammad Yusuf bin Adlin, seorang qori yang sering tampil di RRI Jakarta dan Istana Merdeka pada masa pemerintahan Presiden Soekarno. Ibunya Hj Siti Rohmah adalah putri H Thabbrani, seorang ulama terkenal pada masanya, atau yang dikenal dengan nama Muallimin Thabbrani Paseban.

KH Maulana Kamal Yusuf, menempuh pendidikan dasar di Perguruan Rakyat. Mulai tahun 1962, ia belajar di Pondok Pesantren Gontor, Jawa Timur, tetapi tidak sampai selesai karena memilih kembali ke Jakarta tahun 1965. Waktu itu orangtuanya khawatir setelah peristiwa 1965.

KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat (Sumber Gambar : Nu Online)


KH Maulana Kamal Yusuf, Sosok Pembelajar Sepanjang Hayat

Sekembalinya ke Jakarta dan menamatkan pendidikan SMA, ia menempuh pendidikan D3 Jurusan Usluhuddin di Universitas Ibnu Khaldun Jakarta yang saat ini tempatnya beralih menjadi Plaza Atrium, Senen.

Jalaludin Rumi

KH Maulana Kamal Yusuf adalah sosok ulama yang tidak pernah berhenti belajar. Rais Syuriyah PWNU DKI Jakarta periode 2011-2016 ini pernah menjadi santri dari Syekh KH Muhadjirin Amsar Ad-Darry, seorang ulama Betawi ahli Falak, pendiri dan pimpinan Pondok Pesantren An-Nida Al-Islam, Bekasi.

Setelah Muallim Thabbrani Paseban wafat, KH Maulana Kamal Yusuf meneruskan pengajian yang dirintis sejak tahun 1930 tersebut. Puluhan kitab peninggalan para ulama terdahulu dikaji di majelis yang berlokasi di Masjid Jami An-Nur, Paseban, Jakarta Pusat.

Jalaludin Rumi

Selain di Masjid Jami An-Nur Paseban, kiai yang pernah menjadi anggota GP Ansor pada tahun 1969 ini, juga mengisi pengajian di berbagai tempat. Saat ini, ada sekitar empat puluh tempat pengajian per pekan yang ia mengisi sebagai penceramahnya, termasuk di Masjid Universitas Indonesia, Salemba.

Terhadap golongan di luar NU yang terkesan bersikap keras, ia menyikapi bahwa bila memang hal yang disampaikan tersebut adalah kebenaran, memang seharusnya disampaikan dengan tegas. Apalagi di Jakarta ini, bila memerintahkan sesuatu harus konkret.

Kalau tidak menegaskan sesuatu dengan jelas, masyarakat akan kurang mengerti, terangnya.

Kiai yang sewaktu muda menggemari berbagai macam olahraga seperti sepak bola, bola voli, bulu tangkis, lempar lembing, bahkan atletik dan sekarang masih suka jalan kaki ini sempat menjadi Dewan Penasihat MUI DKI Jakarta, tetapi memilih mundur dari jabatannya pada 2015.

Kepada anak muda NU, ia mengharapkan agar tetap menjaga ajaran NU seperti yang dicetuskan oleh pendirinya yaitu KH Hasyim Asyari. Oleh karena itu dalam talim yang ia sampaikan terutama di hadapan generasi muda, ia mengupas ajaran Aswaja dengan cara yang mudah diterima dengan mendasarkan diri pada kitab-kitab karya ulama klasik. (Kendi Setiawan/Fathoni)

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/66740/kh-maulana-kamal-yusuf-sosok-pembelajar-sepanjang-hayat

Jalaludin Rumi

Senin, 20 Januari 2014

Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Jakarta, Jalaludin Rumi. Kegiatan bertajuk Ziarah Budaya di Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta, Jumat malam (28/9), melengkapi peringatan 1000 hari wafatnya KH Abdurahman Wahid, (Gus Dur).

Ziarah budaya menyajikan beragam penampilan. Ada doa lintas iman, orasi, kesaksian, hingga pentas seni mulai dari baca puisi, monolog, marawis, barongsai, dan musik kolaborasi.

Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)
Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur (Sumber Gambar : Nu Online)


Ziarah Budaya Lengkapi Peringatan 1000 Hari Gus Dur

Sebelumnya telah digelar bedah buku, tahlilan akbar, pentas wayang kulit, khotmil Quran, shalawatan, hingga taushiyah dari pada ulama. Tema umum peringatan 1000 hari Gus Dur adalah Menggerakkan Tradisi, Meneguhkan Indonesia

Jalaludin Rumi

Dalam kegiatan ziarah budaya di TIM Jumat malam itu Alissa Qatrunnada, putri tertua Gus Dur, mengungkapkan, ayahnya telah mencapai puncak-puncak pranata sosial tinggi. Dia pernah jadi Ketua DKJ, Ketua Umum PBNU, ketua dewan juri film, esais bernas, bahkan jadi presiden. Di samping itu, sebagai bawaan lahir, dia adalah cucu pendiri Nahdlatul Ulama (NU).

Tapi dia tidak gila hormat, ungkap Alissa mewakili ibundanya, Ny. Sinta Nuriyah Abdurahman Wahid.

Jalaludin Rumi

Dikatakan Alissa, memperingati seribu hari kewafatan, bukan untuk memuja-muja karena Gus Dur tak suka dipuja. Juga bukan orang yang suka membanggakan apa yang sudah diraih.

Tapi untuk mendoakan, untuk belajar dari kehidupan beliau. Dan yang utama, mengambil inspirasi dari kehidupannya supaya bisa meneladani, melakukannya dalam kehidupan sehari-hari, jelas puteri sulung Gus Dur tersebut.

Seribu hari yang lalu, sambung Alissa, jutaan orang mengantarkan jasad Gus Dur ke peristirahatan terakhir di Jombang, Tapi kata orang bijak, yang pulang bersama para peziarah, dan tidak ikut terkubur bersama jasad, adalah karakter dan potret perjalanan penuh inspirasi.

Gus Dur hanya pulang, tidak pergi! tegasnya.Ia masih tetap hidup bersama kita. Ketika melihat ketimpangan polah pemimpin, Gus Dur hadir. Melihat kekerasan dan penindasan, orang-orang mengingatnya.

Redaktur : A. Khoirul Anam

Penulis : Abdullah Alawi

Dari (Nasional) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/40015/quotziarah-budayaquot-lengkapi-peringatan-1000-hari-gus-dur

Jalaludin Rumi

Jumat, 23 Agustus 2013

Dari Maroko, Anak 14 Tahun Ini Terbang ke Indonesia Sendirian Demi Bertemu Kiai Maimoen Zubair

Jalaludin Rumi - Ibrahim, dia seorang anak tampan berkebangsaan Maroko yang pada tanggal 15-7-2016 sowan ke Mbah mun Sarang. Usianya masih 14 tahun dan dia baru saja lulus dari sekolah i'dadiyah (kalau di Indonesia mirip SMP) di Maroko.

Maroko, ayahnya memiliki beberapa rumah yang disewakan untuk tempat tinggal pelajar Indonesia yang sedang menempuh pendidikan di sana. Dan pelajar yang tinggal di sana tidak dipungut biaya sedikit pun.

Dari Maroko, Anak 14 Tahun Ini Terbang ke Indonesia Sendirian Demi Bertemu Kiai Maimoen Zubair - Jalaludin Rumi
Dari Maroko, Anak 14 Tahun Ini Terbang ke Indonesia Sendirian Demi Bertemu Kiai Maimoen Zubair - Jalaludin Rumi


Dari Maroko, Anak 14 Tahun Ini Terbang ke Indonesia Sendirian Demi Bertemu Kiai Maimoen Zubair

Nah, saat kelulusan kemarin bocah itu mendapatkan ranking dengan nilai tertinggi di sekolahnya sehingga membuat ayahnya senang dan mempersilahkan Ibrahim untuk mengajukan permintaan. Apa saja yang akan diminta olehnya akan dituruti.

Ternyata dia punya permintaan berkunjung ke Indonesia menemui Mbah Maimoen Zubair bersama orang yang ia kenal. Sebelumnya, Ibra -panggilan Ibrahim, mengenal Mbah Maimoen karena sering mendapatkan cerita dari salah satu pelajar yang tinggal di rumahnya, yang kebetulan juga pernah mondok di Sarang, Rembang.

Jalaludin Rumi

Di Maroko, Ibra mengenal KH Maimoen Zubair sebagai sosok sepuh yang alim, memiliki cakrawala luas dan menelurkan banyak santri yang kemudian hari jadi ulama'.

Dia pun dizinkan pergi ke Indonesia oleh ayahnya. Hebatnya, Ibra datang ke Indonesia sendirian. Hanya dijemput di bandara oleh kenalan yang pernah tinggal di rumahnya dan langsung sowan ke ndalem simbah Maimoen Zubair.

Ibra mengaku sangat senang saat melihat wajah Mbah Maimoen yang ramah. Mbah Moen pun kagum atas keberanian anak itu.

Jalaludin Rumi

Perbincangan mereka berdua terlihat asyik meski beda usia. Mbah Maimoen bercerita pernah berkunjung ke Maroko dan shalat di Masjid Al Hasan Tsani yang merupakan masjid terbesar di Maroko.

Beliau juga berkisah mengisi ceramah di beberapa institusi di sana. Rencananya, Ibrahim akan tinggal 1 satu bulan di Indonesia. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/07/dari-maroko-anak-14-tahun-ini-terbang-ke-indonesia-sendirian-demi-bertemu-kiai-maimoen-zubair.html

Selasa, 16 April 2013

Cerita Nyata Gus Dur Ketika Membelah Diri Jadi Dua (Ragasukma)

Jalaludin Rumi - Dunia kewalian adalah dunia yang memiliki banyak dimensi. Dunia kewalian seringkali tidak dapat diterima nalar sehat manusia normal. Karenanya dunia kewalian seringkali pula diidentikkan dengan dunia mistis.

Biasanya para santri (penganut agama yang taat), sejak zaman Hindu, Budha hingga zaman Islam di Indonesia membedakan kepemilikan dan perilaku keilmuan mistik ke dalam dua kategori, yakni kategori ilmu putih dan ilmu hitam. Sejak dahulu kala, ilmu hitam biasa disebut untuk mensifati (mengidentifikasi) keunggulan-keunggulan para tokoh penjahat. Sedangkan kemampuan dan keistimewaan-keistimewaan para tokoh kebaikan, para pahlawan dan para manusia suci.

Cerita Nyata Gus Dur Ketika Membelah Diri Jadi Dua (Ragasukma) - Jalaludin Rumi
Cerita Nyata Gus Dur Ketika Membelah Diri Jadi Dua (Ragasukma) - Jalaludin Rumi


Cerita Nyata Gus Dur Ketika Membelah Diri Jadi Dua (Ragasukma)

Kelebihan-kelebihan (maziyyah) ini ibarat “piranti lunak” yang wajib dimiliki oleh bukan hanya tokoh spiritual, namun juga para pemimpin di dalam masyarakat. Begitulah keyakinan masyarakat terpatri dengan kuat, dari yang masih berpola tradisional hingga mereka yang telah menjadi manusia modern.

Jalaludin Rumi

Mantan Ketua Umum PBNU tiga kali berturut-turut KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai salah seorang tokoh dan pemimpin bangsa, diyakini oleh banyak kalangan memiliki berbagai “piranti lunak” yang dapat dijadikan salah satu alasan untuk mengkategorikannya ke dalam lingkungan para wali. Salah satunya adalah kemampuannya untuk meraga sukma, yakni sebuah kemampuan berada di banyak tempat dalam waktu bersamaan.

Beberapa orang mengaku pernah membuktikan ilmu Raga Sukma Gus Dur ini. Berbagai cerita menyebutkan bahwa pada waktu yang sama, banyak orang mengaku bertemu dan bercengkrama dengan Gus Dur pada waktu yang sama. Salah satunya adalah cerita para Banser yang sedang menjaga Gus Dur ketika terbaring sakit di Rumah Sakit Koja Jakarta Utara.

Pada sekitar tahun 1994-an, kala itu Gus Dur Sedang dirawat di Rumah Sakit Umum Daerah Koja Jakarta Utara yang pada masa itu dipimpin oleh adik kandungnya, Umar Wahid. Gus Dur sedang terbaring di kamar dengan dijaga oleh dua orang Banser, seorang banser tampaknya bertindak sebagai komandan. Bila malam hari, kedua Banser ini berjaga bergiliran, salah satu tidur dan seorang lainnya terjaga.

Jalaludin Rumi

Hingga pada suatu ketika, seorang yang bertindak sebagai komandan berkata pada temannya, “Saya keluar sebentar, tolong jaga Pak Kyai dengan baik. Tidak lama, saya segera kembali.” Dia pun segera berlalu. “Siap!” Jawab sang Banser dengan bersemangat. Sepeninggal temannya, dia pun segera masuk ke kamar perawatan dan duduk di sebelah Gus Dur yang sedang terbaring di atas tempat tidur.

Tidak berapa lama, Gus Dur terbangun dari tidurnya dan mengajaknya keluar mencari udara segar. Dengan tertatih Gus Dur mengajaknya berziarah ke Makam Habib Husein al-Haddad di dekat pintu Pelabuhan Indonesia (Pelindo). Letak makam tersebut hanya berjarak sekitar 400 meter di seberang Jalan Raya Pelabuhan di depan Rumah Sakit Koja.

Sang Banser pun dengan setia mengikuti Gus Dur yang berjalan tertatih-tatih. Seusai berziarah dan memanjatkan doa, sang Banser pun mengiringkan Gus Dur untuk kembali ke kamarnya. Setelah Gus Dur kembali beristirahat dan tidur, dia pun keluar ruangan.

Namun alangkah kagetnya ketika dia keluar ruangan. Dia mendapati temannya yang tadi keluar sedang menunggunya dengan muka masam, laksana komandan yang menunggu laporan kekalahan dari bawahannya. Dengan menghardik, sang banser yang berlaku sebagai komandan ini berkata, “Dari mana saja kamu, disuruh jaga kok malah keluyuran seenaknya.”

Dengan gelagapan sang banser menjawab, “Siap Ndan. Dari Mengantar Pak Kyai berziarah.”

“Jangan buat alasan yang aneh-aneh. Saya hanya pergi sebentar, lalu kembali. Dari tadi saya lihat Pak Kyai tidur di dalam. Sementara kamu tidak ada.”

Mereka pun kemudian saling berdebat dan bersitegang tentang penglihatan dan pengalamannya masing-masing.

“Cerita ini adalah ceritanya nyata yang dialami oleh temen-temen Banser di Jakarta Utara,” tutur KH Mistakhul Falah salah seorang tokoh NU Jakarta Utara. [Jalaludin Rumi

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/cerita-nyata-gus-dur-ketika-membelah-diri-jadi-dua.html

Senin, 28 Januari 2013

Rusak Masa Depan, IPNU-IPPNU Kuripan Diminta Perangi Narkoba

Probolinggo, Jalaludin Rumi. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Kecamatan Kuripan Kabupaten Probolinggo masa bakti 2016-2018 resmi dilantik di Pendopo Kecamatan Kuripan, Kamis (8/9). Mereka dituntut untuk terjun secara aktif memerangi narkoba dengan penyuluhan dan sosialisasi di kalangan pelajar.

Narkoba ini merupakan musuh nyata yang akan menghancurkan masa depan generasi muda. Kalau tidak dicegah sejak dini, dikhawatirkan akan menjadi ancaman yang serius di masa mendatang, kata Ketua IPNU Kabupaten Probolinggo Babussalam.

Rusak Masa Depan, IPNU-IPPNU Kuripan Diminta Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)
Rusak Masa Depan, IPNU-IPPNU Kuripan Diminta Perangi Narkoba (Sumber Gambar : Nu Online)


Rusak Masa Depan, IPNU-IPPNU Kuripan Diminta Perangi Narkoba

Dengan dilantiknya pengurus baru ini Babussalam berharap akan menjadikan pemuda dan pelajar di Kecamatan Kuripan tertanam ghiroh ke-NU-an dengan wadah organisasi.

Jalaludin Rumi

Alasannya daerah ini berada di kawasan pegunungan yang mudah terprovokasi oleh paham lain di luar Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja). Karena itu, pengurus harus senantiasa membentengi pelajar dengan akidah Aswaja yang kuat, harapnya.

Jalaludin Rumi

Sementara Ketua IPPNU Kabupaten Probolinggo Nur Hakimah Ismawati berharap agar pengurus yang baru dibentuk dan dilantik dapat betul-betul menjalankan roda organisasi sesuai dengan tupoksinya dengan melanjutkan perjuangan pengurus sebelumnya demi memajukan IPNU-IPPNU di Kecamatan Kuripan.

Selamat bergabung dan berjuang bersama kami dengan rekan dan rekanita dari kecamatan lain untuk membina watak generasi muda. Kami juga memohon agar para ulama, pejabat serta tokoh masyarakat turut serta mendukung kegiatan kepemudaan, harapnya.

Berdasarkan hasil konferensi IPNU-IPPNU Kecamatan Kuripan, Muhammad Tholibin terpilih sebagai Ketua IPNU Kecamatan Kuripan dan Hanifah Parawansah terpilih sebagai Ketua IPPNU Kecamatan Kuripan. (Syamsul Akbar/Alhafiz K)

Dari (Daerah) Nu Online: http://www.nu.or.id/post/read/71127/rusak-masa-depan-ipnu-ippnu-kuripan-diminta-perangi-narkoba

Jalaludin Rumi

Senin, 17 Desember 2012

Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak

Jalaludin Rumi - Imsak berasal dari bahasa Arab amsaka yumsiku imsak yang berarti menahan. Secara istilah yang umum dipahami adalah saat seseorang sebaiknya memulai untuk berhenti makan sahur agar tidak terlewat hingga masuk Subuh.

Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak - Jalaludin Rumi
Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak - Jalaludin Rumi


Salah Paham Menafsiri Hadits Imsak

Telah menceritakan kepada kami ‘Amru bin ‘Ashim berkata, telah menceritakan kepada kami Hammam dari Qatadah dari Anas bin Malik bahwa Zaid bin Tsabit telah menceritakan kepadanya, bahwa mereka pernah sahur bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian mereka berdiri untuk melaksanakan shalat. Aku bertanya, Berapa jarak antara sahur dengan shalat subuh? Dia menjawab, antara lima puluh hingga enam puluh ayat. (HR Bukhari 541 )

Telah menceritakan kepada kami Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah mengabarkan kepada kami Waki’ dari Hisyam dari Qatadah dari Anas dari Zaid bin Tsabit radliallahu ‘anhu, ia berkata; Kami makan sahur bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dan sesudah itu kami beranjak untuk menunaikan shalat. Saya bertanya, kira-kira berapa lama jarak antara makan sahur dan shalat. Ia menjawab, kira-kira selama pembacaan lima puluh ayat. (HR Muslim 1837).

Hadis-hadits ini menunjukkan bahwa jarak menahan (imsak) antara bersahurnya Sayyidina Muhammad Shallallahu alaihi wasallam dengan sholat Subuh adalah sekitar pembacaan 50 ayat dan jumhur ulama sepakat sekitar 10 menit sebelum azan Subuh.

Mereka yang melarang atau mengharamkan waktu Imsak adalah akibat pemahaman mereka selalu dengan makna dzahir terhadap riwayat-riwayat sebagai berikut:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Janganlah kamu terhalang dari makan sahur karena adzan Bilal”. Padahal adzan Bilal bukanlah adzan Subuh.

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah, telah menceritakan kepada kami Yazid bin Zurai’ dari Sulaiman At Taimi dari Abu Utsman dari Abdullah bin Mas’ud radliallahu ‘anhu, ia berkata; Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Janganlah sekali-laki adzan Bilal menghalangi kalian untuk makan dan minum. Atau beliau bersabda: Adzan Bilal pada waktu sahur. Sesungguhnya ia adzan hanya untuk membangunkan kalian (HR Bukhari 4887)

Telah menceritakan kepada kami Ahmad bin Yunus berkata, telah menceritakan kepada kami Zuhair berkata, telah menceritakan kepada kami Sulaiman At Taimi dari Abu ‘Utsman Al Hindi dari ‘Abdullah bin Mas’ud dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: Adzannya Bilal tidaklah menghalangi seorang dari kalian, atau seseorang dari makan sahur nya, karena dia mengumandangkan adzan saat masih malam, supaya orang yang masih shalat malam dapat pulang dan untuk mengingatkan mereka yang masih tidur. Dan Bilal adzan tidak bermaksud memberitahukan masuknya waktu fajar atau subuh. (HR Bukhari 586)

Jelaslah makna “Janganlah kamu terhalang dari makan sahur karena adzan Bilal” adalah adzan pertama sebelum waktu Subuh untuk membangunkan mereka yang masih tidur.

Oleh karenanya, sebagian ulama berpendapat untuk menghilangkan kesalahpahaman, menggantikan adzan pertama sebelum adzan Subuh dengan pengingat waktu sahur atau sekedar pembacaan shalawat. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2016/06/salah-paham-menafsiri-hadits-imsak.html

Kamis, 14 April 2011

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

Jalaludin Rumi - Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulawesi Selatan (Sulsel) menolak Habib Riziq Shihab sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia. Hal ini disampaikan Ketua PW Ansor Sulsel, Muh. Tonang melalui rilisnya yang dikirim ke media.

Baca: Makin Dibenci, Habib Rizieq Lagi-Lagi Ditolak Hadir di Tanah NTB Lombok.

Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - Jalaludin Rumi
Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya - Jalaludin Rumi


Sebelum FPI Dihadang di Lombok, PW Ansor Sulsel Sudah Menolak Imam Besarnya

Dalam pernyataan sikap tersebut, Muh. Tonang menolak maraknya gerakan sebagian kecil kelompok atau ormas Islam di Indonesia yang bermaksud mengangkat Saudara Habib Rizieq Shihab (Imam FPI) sebagai Imam besar Umat Islam di Indonesia,

"Kami dari Pimpinan Wilayah Gerakan Pemuda Ansor Sulsel menolak dengan tegas saudara Riziq Shihab untuk diangkat/dijadikan/dinobatkan sebagai Imam Besar Umat Islam di Indonesia," katanya, sebagaiman dikutip Jalaludin Rumi dari Seputarsulawesi.com, Kamis (12/01/2017).

Menurutnya umat Islam di Indonesia tidak mengenal adanya Imam Besar. Sebagai pemegang kuasa atas umat Islam keseluruhan, konstitusi Indonesia telah menjamin umat Islam dalam memeluk agamanya serta menjalankan ibadahnya, termasuk menjamin kebebasan dalam mengikuti para ulama, kiai atau ustadz sebagai acuan atau panutan dalam menjalankan ibadah sehari-hari dan berinteraksi sosial.

Muh. Tonang juga mendukung pemerintah untuk menumpas ormas atau pihak-pihak yang bertindak intoleran kepada sesama umat manusia atas dalih nama agama, "mereka yang ingin mendirikan khilafah adalah tindakan makar di Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI)," tegasnya.

Ia pun menghimbau kepada seluruh kader Ansor Sulsel untuk senantiasa bertabarruk kepada para kiai dan ulama yang selama ini membina umat di pondok pesantren dan pengurus NU setempat dalam menjalankan kegiatan organisasi-termasuk aksi-aksi sosial keagamaan. [Jalaludin Rumi]

Dari : http://www.dutaislam.com/2017/01/sebelum-fpi-dihadang-di-lombok-pw-ansor-sulsel-sudah-menolak-imam-besarnya.html

Nonaktifkan Adblock Anda

Perlu anda ketahui bahwa pemilik situs Jalaludin Rumi sangat membenci AdBlock dikarenakan iklan adalah satu-satunya penghasilan yang didapatkan oleh pemilik Jalaludin Rumi. Oleh karena itu silahkan nonaktifkan extensi AdBlock anda untuk dapat mengakses situs ini.

Fitur Yang Tidak Dapat Dibuka Ketika Menggunakan AdBlock

  1. 1. Artikel
  2. 2. Video
  3. 3. Gambar
  4. 4. dll

Silahkan nonaktifkan terlebih dahulu Adblocker anda atau menggunakan browser lain untuk dapat menikmati fasilitas dan membaca tulisan Jalaludin Rumi dengan nyaman.


Nonaktifkan Adblock